
Zahira Ingin rasanya menghilang dari kehidupan Kenzo, namun saat memikirkan siapa saja yang bisa mati karena keputusan emosionalnya membuat ia mengurungkan niatnya. Kenzo itu tidak main-main dengan perkataannya. Dia tidak punya belas kasihan dan itu membuatnya tertekan sekarang.
Zahira sampai didepan apartemennya dan disambut seorang wanita yang sudah dikenalnya beberapa hari ini. Seorang yang hanya berani ia lihat dari jauh. Dia adalah ibunya, wanita yang melahirkannya.
"Zahira... "
Suara lembut itu memanggil namanya, tampa sadar ia meneteskan air matanya. Hatinya entah kenapa merasakan sakit. Bukan sakit hati karena dia tahu dia tidaklah dibuang, tapi sakit karena rasa bersalah selama ini menanamkan kebencian kepada orang tuanya sendiri.
"I.. ibu... "
Keduanya berpelukan dan menangis. Ibunya berulang kali meminta maaf padanya ditengah isakannya. Berulang kali mengatakan dia harusnya menemuinya lebih cepat saat tahu kebenarannya. Kedua bodyguard yang tadi mengantarnya diam-diam turun kebawah dan mengabari tuannya.
Zahira sedang berbaring dipangkuan ibunya diatas sofa. Lelah menagis membutnya mengantuk. Ibunya dengan lembut memintanya berbaring dipangkuannya. Namun nyatanya, kantuknya hilang meskipun dia sangat nyaman berada pada posisi itu.
"Jadi... selama ini kamu selalu juara satu? Waaah... ternyata otak pintar ayahmu menurun padamu. " ujar ibunya usai ia bercerita tentang masa sekolahnya.
"Senang mendengarnya, Ayah... bagaimana keadaannya tadi? "
"Ayahmu masih koma. Ibu tidak tahu kapan dia sadar. Ginjal dan livernya rusak akibat racun. Ibu... ibu rasa karena ibu suka memakan herbal pembuang racun karena itu efeknya pada ibu lebih ringan. Tapi ayahmu... dia terbiasa bekerja keras dan bergadang. Selalu memikirkan perusahaan yang semakin hari semakin terpuruk... itu membebaninya dan memperburuk keadaannya. "
Setetes air mata ibunya jatuh dan mengenai pipinya. Zahira bangkit dan menatap ibunya dengan iba.
"Ayah akan selamat, dia belum melihatku karena itu tidak boleh pergi begitu saja. Aku... akan membuat mereka membalas perbuatan mereka."
Ibunya menatapnya penuh kekawatiran.
"Ibu dengar kamu menjalin hubungan dengan anak teman ayahmu, anak Alex baron. Pria inggris yang pernah ditolong ayahmu saat kuliah dulu."
Zahira diam saja, karena sesungguhnya dia diikat dengan paksa dan dia bahkan yakin dia tidak menyukai pria itu. Pria licik yang sudah menipu dan memanfaatkannya. Meskipun sebenarnya dia juga mengambil manfaat pada kekuasaan yang dimilikinya, tetap saja dia diletakkan pada posisi yang membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
"Ibu mengenal betul watak Alex, Dia pria yang keras dan sesikit otoriter. Ibu tidak yakin... "
"Anaknya lebih otoriter sebenarnya bu, Tapi kenapa ayah menyetujui perjodohan itu? " potong Zahira dengan mimik wajah kesal.
"Kamu sepertinya tidak terganggu dengan sifat Kenzo, Apa anak ibu menyukainya? mau cerita bagaiman kalian bertemu? "
Zahira mendengus karena ibunya membuat kesimpulan yang jauh dari apa yang difikirkannya.
"Za tidak menyukainya! Dia penipu yang kejam. "
"Jadi aku seperti itu dimatamu? "
__ADS_1
Keduany terlonjak kaget. Kenzo entah sejak kapan berdiri disana. Zahira mendengus jengkel, memasang wajah dingin dan segera bangkit saat Kenzo berjalan menghampiri mereka.
"Ibu...Za sedikit pusing jadi ingin istirahat. Ibu bisa disini sampai malam? Za akan kekamar dulu. Nanti malam kita jenguk ayah." kata Zahira dengan lembut kepada ibunya sebelum cepat-cepat beranjak dari sana tampa menoleh sedikitpun kepada Kenzo.
Ibu Zahira menatap Kenzo yang masih terpaku ditempatnya menatap punggung Zahira yang menghilang ditangga menuju kamarnya.
"Sepertinya dia marah padamu? "
Kenzo memijit pelipisnya sebelum tersenyum ramah kepada ibu Zahira.
"Ini pertama kali kita bertemu secara langsung, Saya Kenzo... anak dari si tua yang menjodohkan anak anda yang ternyata bukan dengan saya."
Ibu Zahira tersenyum geli, entah kenapa dia metasa lucu atas perkataan Kenzo.
"Dan kamu menolaknya dengan sadis dirapat pemegang saham." kekeh ibu Zahira.
"Apa saat itu kamu sudah tahu dia bukan anak kami? "
"Ya, Saat itu saya sudah tahu."
"Lalu kenapa kamu mengulur waktu untuk membuka kebenaran? Apa berita diinternet dan televisi kamu yang merencanakannya? "
Kenzo mengangguk namun tidak menjelaskan lebih lanjut.
Kenzo terkekeh pelan, dia bisa melihat ketidaksukaan ibu Zahira padanya. Pada dasarnya dia tidak peduli, namun ia tetap harus menghormati dan mendapatkan restu. Hati kerasnya tidak bisa digertak dengan hal seperti tidak adanya restu. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.
"Saya minta maaf ibu tidak menyukai saya, tapi yang pasti_ Saya tidak akan melepaskan Zahira." jawab Kenzo dengan nada sesopan mungkin. Namun ada kesan memaksa dalam suaranya.
Dia menunduk dalam sebelum undur diri dari sana. Ibu Zahira menatap kepergiannya dengan perasaan campur aduk. Sebagian karena rasa terimakasih sebagian lagi ketidaksukaan. Bagaimanapun karena Kenzo ia dan suaminya bisa cepat diselamatkan. Yang lebih penting lagi bahwa dia secara tidak langsung membantunya membongkar penipuan keponakan dan sepupu suaminya sendiri, mempertemukan dia dengan anak kandungnya.
.
Ketika malam tiba, saat Zahira dan ibunya keluar untuk menjenguk ayahnya, saat itulah Kenzo juga keluar. Kenzo tampak rapi dengan setelan serba hitam dan dengan topi hitam. Penampilan seperti ini pertama kali dilihatnya. Kenzo menoleh pada mereka, lebih tepatnya Zahira yang masih menatapnya penasaran.
"Jika kamu ingin keluar, pastikan jangan terlalu jauh dari pengawalmu, Aku menambahkan mereka untuk ibu juga. Hati-hati dijalan. " Ucap Kenzo dengan datar sebelum mendahului mereka.
Zahira masih terpaku pada pikirannya saat punggung itu menghilang dibalik lift yang mulai turun. Sangat penasaran apa yang sebenarnya akan dilakukan Kenzo dengan penampilan seperti itu.
Dengan tergesa ia berlari kearah lift disebelah nya diikiti ibunya yang kelihatan bingung. Zahira ingin mengikuti Kenzo, entah apa yamg difikirkannya. Namun rasa penasarannya sangat besar. Sayangnya sesampainya diparkiran, Kenzo sudah masuk kedalam sebuah mobil. Zahira bisa lihat Sadam yang membawa mobil itu saat mereka berbelok.
"Za... Ada apa? "
__ADS_1
Suara ibunya yang sedang kepayahan mengatur nafas disampingnya dan empat pria yang baru saja berhasil menyusulnya berdiri dibelakang ibunya.
"Nona tolong berhati-hati. Jangan berada diluar jangkauan kami. " ucap salah satu diantara mereka. Zahira tahu ia adalah salah satu tambahan bodyguard dari Kenzo.
"Aku bisa melindungi diriku, kalian perhatikan saja ibuku. Jangan sampai dia terluka! "
Jawab Zahira dingin.
"Tentu Nona, " jawab mereka serempak.
"Mobil anda sebelah sini Nona. " ucap yang lain, menharahkan mereka.
Zahira dan ibumya mengikuti mereka, dua diantara mereka bersama Zahira dan ibunya sementara dua lagi mengikiti Mereka dengan mobil lain dibelakang.
"Apa ini tidak berlebihan? " tanya ibunya.
"Tentu tidak Nyonya, Tuan Kenzo bahkan memerintahkan pengawal bayangan untuk Nona jika terjadi sesuatu pada kami. Mereka selalu mengwasi Nona agar berada diwilayah yang aman. "
Ibu Zahira tampak gusar. Zahira yang menyadarinya tersenyum menenangkan dan menggenggam tangan ibunya.
"Tenang saja bu, Pria itu hanya sedikit gila dan berlebihan. Dia orang jahat jadi punya musuh banyak, mungkin_ " kata Zahira dengan nada cueknya. Tidak menyadari hal itu malah membuat ibunya semakin cemas.
.
Sesampainya dirumah sakit Zahira dan ibunya disambut oleh tim dokter yang mengelilingi ayahnya. Zahira dengan cepat menghampiri mereka.
"Apa yang terjadi? "
Salah satu dokter yang sedang memeriksa denyut nadinya menoleh. Ia meminta maaf karena belum bisa menjelaskan, dia sedang bersiap-siap melakukan prosedur RJP (resusitasi jantung paru). Yang Zahira tahu prosedur ini hanya dilakukan jika terjadi henti jantung atau paru. Sehingga dia sangat panik. Ibunya bahkan sudah jatuh terduduk dilantai.
30 menit Mereka menunggu dan melihat, namun tidak ada tanda-tanda dokter menunjukkan wajah lega. Bahkan semakin kesini dokter terlihat semakin frustasi. Alat monitor yang menunjukkan garis lurus membuat dokter menghentikan usaha mereka. Dengan lemas mereka menghampiri Zahira dan ibunya. Tiga dokter itu sudah bermandikan peluh. Zahira bisa lihat mereka tampak sangat menyesal.
"Maafkan kami, kami tidak bisa menyelamatkan Tn. Gunawan. Setelah ginjal dan livernya semakin rusak, jantungnya juga mengalami gangguan. Pada akhirnya mengalami gagal jantung. Kami sudah berusaha namun kami tidak bisa berbuat banyak. "
Ibunya sudah meraung-raung. Zahira masih terpaku pada tempatnya, tidak percaya pada apa yang didengarnya. Dia bahkan tidak menyadari bahwa kedua orang tua Kenzo baru saja tiba hendak menjenguk namun dikejutkan dengan kematian sahabat mereka.
Ayah Kenzo tampak terpukul. Dia bahkan terduduk ditepi kasur dan mengenggam tangan ayah Zahira. Ibu Kenzo memeluk ibunya untuk menenangkannya. Saat bodyguardnya menyadarkannya, barulah ia menyadari kehadiran orang lain. Ketiga dokter tadi sudah pergi. Kini ayahnya sedang ditangani perawat yang sibuk melepas semua alat yang melekat pada tubuh ayahnya.
Zahira berjalan pelan menuju tempat tidur ayahnya dan menggenggam sebelah tangannya yang lain. Ia menatap wajah tampa warna yang sudah terbujur kaku itu dengan air mata mengenang.
"Kenapa? Aku bahkan belum bicara dengannya. Ayah... aku bahkan belum memanggilnya begitu. Sialan itu harus membayar semua ini. "
__ADS_1
Zahira bangkit dengan mata yang berapi-api. Kedua tangannya mengepal erat sarat akan emosi.