
Sadam menatap Jimi yang berdiri di hadapannya dengan datar. Tampak tidak terlalu tertarik. Jimi berdehem sebelum menghadapi pria di hadapannya itu. Selama dia bekerja dengan Kenzo, Jimi memang jarang berbicara pribadi dengan Sadam. Sadam hanya akan melewati mejanya begitu saja dan langsung masuk ke dalam ruang pribadi tuannya itu di kantor. Atau jika mereka pergi biasanya Jimi akan tinggal dan menyelesaikan pekerjaan tuannya. Karena itu, saat ini Jimi merasa sangat canggung sekali.
"Begini ... aku mencarimu karena sesuatu yang sangat mendesak," kata Jimi, mereka sedang berdiri di ruftoof gedung perkantoran dari perusahaan Adira grup.
Sadam diam saja, dia malah menaruh atensinya kepada jalan raya dan lalu lalang kendaraan yang tampak kecil dari tempatnya berdiri.
"Tuan Kenzo ingin anda_"
"Bukankah udara pagi ini cukup sejuk?" potong Sadam sambil menoleh dan menatap Jimi. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya lagi.
"Hmm ... ya cukup segar," jawab Jimi ragu - ragu, Sadam tersenyum kecil sesaat.
"Bukankah harusnya dia sendiri yang menghubungiku? kenapa tuanmu tidak sopan sekali?" katanya. Jimi tampak tidak tahu harus bersikap apa dengan reaksi Sadam yang jauh dari perkiraannya. Belum lagi dia tidak mengenal karakter Sadam dengan baik.
"Katakan pada siapapun yang dibayarnya untuk menembus JJ-ku, dia tidak akan berhasil. Saat JJ mulai disusupi aku akan langsung tahu. Itulah gunanya handphone pintar, Benar?"
Jimi menatapnya terkejut sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk.
"Ternyata dugaanku benar, kamu sangat jenius sehingga mampu menciptakan program sepintar itu. Sejak kamu pergi tuan tidak lagi menggunakan JJ karena kamu menguncinya. Dia sedang menciptakan SS Guard, dimana SS akan bisa membantunya mengakses data apapun tampa perlu menggunakan tangannya."
"Sistem pintar yang dapat berbicara selayaknya manusia, dia menginginkan hal yang luar biasa" Sadam tersenyum.
"Sayangnya aku tidak akan memberikan apa yang ia minta jika dia tidak mau menemuiku secara langsung."
"Tidak bisakah kami hanya membayarmu dan kamu menyerahkan programnya?"
Sadam tertawa mengejek dan menatap kebawah lagi, memperhatikan lalu lalang kendaraan.
"Aku punya banyak uang, kalau aku mau aku bahkan bisa menghancurkan perusahaannya," kata Sadam sengit, dia menoleh dan menatap Jimi tajam.
"Sayangnya aku tidak akan pernah melakukan itu, meskipun tuanmu itu sagat menyebalkan dengan otak dangkalnya. Pergi dan katakan padanya untuk menemuiku, kalau tidak SS Guard yang dia ciptakan bukan hanya akan gagal, tapi aku juga akan menghancurkan JJ," lanjut Sadam.
"Ba ... baiklah, kalau begitu aku permisi," jawab Jimi sedikit ngeri. Tampaknya ancaman Sadam tidak main-main dan tentu saja dia takut akan ancaman itu.
"Katakan juga padanya awasi ibunya baik-baik. Ayahnya melakukan hal yang mencurigakan." kata Sadam saat Jimi membuka pintu tangga darurat untuk turun. Jimi menoleh dan memberikannya anggukan sebelum menghilang di sebalik pintu.
Bebera menit kemudian Sadam kembali turun. Dia yakin Zahira sedang menunggunya dengan berita baru karena Jimi yang menemuinya.
Sesampainya di dalam ruangannya, Zahira tampak termenung sambil memutar-mutar kursi tempatnya duduk. Begitu menyadari Sadam sudah masuk dia menghentikan kursi yang akan berbalik dan langsung duduk tegak. Menatap Sadam dengan minat berlebihan.
"Kenapa dia datang?" tanya Zahira semangat.
"Bergosip sebentar, tanya-tanya kabar," jawab Sadam asal, menghasilkan cebikan kesal dari Zahira.
"Jangan bohong, cepat katakan padaku!"
"Semangat sekali, lagi pula tidak ada hubungannya denganmu tuh"
Teriakan Sadam membahana setelahnya karena cubitan super pedas dari Zahira yang kini bekacak pinggang dan menatapnya dengan mata tajamnya.
"Kenapa kamu galak sekali, pantas saja Kenzo menyerah," ejek Sadam dan hal itu membuat dia mendapatkan pukulan bertubi-tubi di lengannya.
"Iya ... iya ... berhenti memukulku," kata Sadam dengan gemas. Ia duduk dan mempersilahkan Zahira duduk di kursinya.
"Cepat katakan!"
__ADS_1
"Dasar tidak sabaran. Jimi datang karena suruhan Kenzo yang ingin aku menyerahkan sepenuhnya program yang aku buat bersamanya,"
"Program apa?"
"Program canggih yang aku beri nama JJ. JJ seperti anak bagiku, dia membantuku menelusup kemanapun aku mau tampa repot-repot memecahkan sandi dan menembus keamanan tampa diketahui. Itu seperti ... parasit yang tidak kelihatan dan tidak bisa di rasakan. Kenzo ingin membuat seperti anak buah namun dalam bentuk robot yang terprogram untuk menuruti perintahnya. Dan JJ bisa di gabungkan dengan program barunya sehingga dia bisa mengakses data apapun tampa diketahui bahkan data negara lain sesukanya."
Zahira melongo dengan wajah blank, seketika diam beribu bahasa karena terkejut dan juga kagum luar biasa. Terkejut karena ambisi luar biasa Kenzo dan terkejut karena kemampuan Sadam.
"Waaah ... kalau kamu menyetujuinya ... artinya dia seperti menguasai seluruh perangkat manapun dan bisa menghancurkan apapun?" kata Zahira setelah lama diam dan mendapatkan teguran dari Sadam yang melempar gumpalan kertas ke arahnya meski tidak benar-benar mengenainya.
"Tergantung digunakan untuk apa," Jawab Sadam.
"Lalu ... apa keputusanmu?"
"Menurutmu?"
"Hmm? bagaimana aku tahu?"
Sadam terkekeh pelan.
"Aku harus tahu tujuannya dulu, Kenzo kadang bisa berbuat gila tapi aku tahu dia bukan penjahat. Meskipun dia sedikit kejam dan sadis, setidaknya dia belum pernah membunuh orang atau mencelakakan orang lain karena ambisinya. Tentu saja terkecuali bagi siapapun yang mencoba mencari gara-gara dengannya,"
"Kenapa terdengar menyeramkan sekali," sahut Zahira dengan lugas.
Zahira juga sebenarnya tidak bisa memahami pemikiran Kenzo. Otaknya memang encer tapi masih kalah jika di bandingkan dengannya.
"Aku harap dia tidak membahayakan dirinya," gumam Zahira.
"Dia punya ratusan pengawal yang menjaganya jadi tenang saja, dia bahkan punya banyak mata-mata di sini asal kamu tahu. Kenzo itu selain pintar dia juga licik dan licin. Aku bahkan pernah masuk dalam rencana konyolnya, dia memanfaatkan orang dengan baik."
"Aku tahu, tidak perlu di jelaskan." kesal Zahira teringat saat dia juga pernah di manfaatkan dulu.
.
Jimi menemui Kenzo di sebuah hotel di mana tuannya sedang mengadakan penemuan dengan salah satu rekan bisnisnya. Saat sampai direstoran VVIP hotel, dia melihat Kenzo sedang duduk sendirian. Sepertinya pertemuannya sudah selesai.
"Tuan_"
"Bagaimana hasilnya?"
Kenzo memgangkat kepalanya dan menatap Jimi yang berdiri menunduk di hadapannya.
"Katakan!" perintahnya.
"Dia menolaknya, Sadam ingin bertemu langsung dengan anda," jawab Jimi. Kenzo berdecih sambil bangkit.
"Atur pertemuanku dengannya," kata Kenzo sambil bangkit dan meninggalkan tempat itu.
.
Setelah menyepakati waktu dan tempat, di sinilah mereka, duduk di dalam ruangan Zahira yang kebingungan dengan kedatangan Kenzo saat ia bersiap untuk pulang. Zahira hanya terdiam di tempatnya berdiri saat Kenzo masuk tampa permisi. Menggigit ujung bibirnya karena gugup. Dia jelas merasakan atmosfir udara menjadi sesak karena aura dua orang yang sedang perang dingin itu.
"Ka .. kalau kalian butuh ruang bicara aku akan pulang duluan." kata Zahira akhirnya memecah keheningan.
"Tidak masalah, ini tempatmu." jawab Kenzo datar namun matanya menatap lurus Sadam yang menyeringai padanya.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru ... bukankah kita janji pulang bersama?" kata Sadam sambil melirik Zahira sekilas dengan senyuman sebelum beralih pada Kenzo lagi.
Zahira tahu Sadam mulai lagi dengan sikap konyolnya yang sengaja mencari gara-gara, sangat hapal apa tujuan pria itu.
"Ck, aku duluan saja."
"Bukankah kamu juga ingin berbicara sesuatu dengannya? karena itu aku memilih ruanganmu untuk bertemu," kata Sadam.
Baik Zahira maupun Sadam tampak terkejut. Mereka bahkan reflek menatap satu sama lain sebelum memutus kontak mata itu dengan perasaan canggung. Zahira yang paling gugup tentu saja.
"A ... aku ... kapan aku ... "
"Aku akan memberikan waktuku selama 30 menit. Gunakan waktu dengan baik sementara aku membeli kopiku," kata Sadam dan selanjutnya segera melangkah keluar dari sana. Meninggalkan dua orang yang tampak salah tingkah.
Kenzo melirik Zahira yang hanya menatap meja kerjanya dengn bingung, dia menghembuskan nafasnya pelan dan akhirnya memilih duduk di kursi yang ada di depan meja, tepat di hadapan Zahira yang masih berdiri.
"Kenapa tidak duduk?"
Zahira mengngkat wajahnya dan pandangan mereka bertemu.
"Ah ... ya."
Keduanya kembali hening. Di sini keduanya sudah tampak mulai menguasai diri lagi. Kenzo dengan sikap dinginnya dan Zahira dengan sikap datar seperti biasa meski ada rasa gugup yang berusaha ia tutupi.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Zahira memulai.
"Menurutmu? bagaimana kabarku ketika sahabat dan orang yang aku sukai menghianatiku? mereka bahkan tampak sangat menikmati hidup mereka tampa rasa bersalah," sarkas Kenzo datar.
Zahira menghembuskan napasnya pasrah akan tuduhan dan anggapan pria di hadapannya itu. Zahira bisa melihat luka dibalik tatapan dingin yang di tujukan kepadanya.
"Aku tidak menghianatimu. Begitu juga dengan Sadam. Kamu bahkan mengenalnya lebih baik dari pada aku. Tidak bisakah kamu melihat dari sisi lain?"
"Dari sisi manapun aku tetap melihatnya begitu,"
"Dasar keras kepala," kesal Zahira.
"Jika hanya ini yang kamu ingin katakan lebih baik pulang sekarang," kata Kenzo. Zahira terdiam sesaat, dia menunduk dan menatap telapak tangannya yang ia letakkan di atas meja.
"Tidak ada yang ingin aku sampaikan secara khusus, Sadam hanya membual agar kita bisa bicara. Tapi karena sudah seperti ini maka aku akan mengatakan apa yang aku pikirkan dan rasakan." Zahira menjeda perkataannya dan menatap lurus ke dalam mata Kenzo yang juga menatapnya.
"Saat itu ... aku tidak berniat memihak Sadam sehingga membuatmu salah paham dan membenciku. Aku cukup peka atas perasaanku padamu. Meskipun aku memiliki ketakutan besar karena kamu diinginkan oleh Dursley dan aku tahu akan membahayakan perusahaan dan ibuku. Ketakutanku membuaat aku mengambil keputusan yang salah. Aku bahkan jadi ... jadi menyakiti diriku sendiri. Aku tidak suka tatapan kebencianmu. Aku ... aku ...."
Zahira menunduk, menggigit bibirnya. Entah mengapa ia merasakan bahwa hatinya menjadi sakit saat Kenzo hanya menatapnya datar tampa ekspresi. Seolah apa yang di katakannya tidak penting dan bearti sama sekali.
"Aku akan pulang sekarang," kata Zahira tiba-tiba bangkit berdiri. Ia menyambar tasnya dan berlari keluar menyembunyikan matanya yang mulai memerah dan mengeluarkan air mata.
Kenzo mengerjap pelan saat mendengar pintu terbanting tertutup. Baru menyadari bahwa dia baru saja menyia-nyiakan kesempatan membawa kembali Zahira ke sisinya.
Dengan cepat ia bangkit berlari mengejar, beruntung Zahira masih menunggu lift dan dia segera menarik tangan Zahira dan memojokkannya ke dinding. Membuat punggung Zahira terhempas pelan.
"Kenapa menangis?" tanya Kenzo dengan nada rendahnya. Mengusap air mata itu dengan kedua ibu jarinya.
"Aku tidak menangis!" elak Zahira dan berusaha mendorong Kenzo namun seolah tenaganya hilang begitu saja.
"Kamu menyukaiku? " Zahira diam, tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
"Tatap aku!" Suaranya penuh intimidasi dan dorongan kuat sehingga Zahira yang bahkan memiliki mental yang kuat tidak bisa menolak dan langsung menatapnya dengan mata merahnya.