Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Kenzo


__ADS_3

Sadam menatap langit-langit ruang kendali di mana ia sedang berbaring, matanya menatap kosong. Bahkan saat Kenzo masuk dengan tergesa bersama dr.Yuan ia tidak bergeming sama sekali. dr. Yuan yang melihat layar dengan kening berkerut karena tidak paham data-data orang terkenal di sana langsung menundukkan pandangannya saat ia menangkap pandangan mata Kenzo.


"Tutup data yang terbuka, SS ... tampilkan keadaan perusahaan bagian biasa,"


Maka satu persatu semua data yang sedang di periksa Sadam kecuali Email tadi tertutup. Kenzo beralih pada Sadam yang masih berada dalam dunianya sendiri.


"Periksa dia!" perintah Kenzo.


dr.Yuan segera memperhatikan layar monitor, memeriksa luka jahitan yang tampak baik-baik saja dan memeriksa nadi Sadam yang juga baik-baik saja.


"Kondisinya stabil,"


"Otakku yang bermasalah sekarang," sahut Sadam tampa menoleh.


Kenzo memberi gekstur untuk menuyuruh dr.Yuan keluar sebelum menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Sadam.


"Ada apa?"


"Tutup akses," gumam Sadam.


Setelah akses tertutup dan hanya mereka yang bisa mendengar satu sama lain, bahkan SS sendiri tidak bisa merekam pembicaraan mereka.


" Ingat Carla?"


Kenzo menatapnya sesaat, tampak berfikir. Dalam ingatannya Carla hanyalah sosok anak SMA yang saat mereka kuliah sangat menyukai Sadam namun sahabatnya tidak tertarik padanya. Pada akhirnya selama perjalanan panjang mengejar Sadam sampai ia lulus, Carla menghilang dengan misterius bahkan orang tuanya menanyakan keberadaannya kepada mereka.


"Setahuku dia menghilang, aku tidak begitu peduli saat itu. Kenapa? apa dia ditemukan polisi?"


"Dia mengirimiku E-mail."


Kenzo diam saja dan menunggu, karena dia belum menangkap apa yang sebenarnya terjadi.


"Dia menyabotase data yang aku minta SS mencarikannya. Dia mengacaukan datanya dan menantangku untuk menemukannya. Yang lebih parahnya adalah ... " Sadam menoleh dan menatap Kenzo, "Dia masuk ke dalam sistem SS tampa di ketahui oleh otak SS sendiri, bukankah ia sangat hebat?"


Hebat yang dimaksudkan Sadam tentu saja bearti sangat berbahaya untuk mereka. Terutama jika Carla berada di pihak musuh.


"Apa yang ia inginkan?"


Maka gelengan dari Sadam yang Kenzo dapatkan. Keduanya diam beberapa saat sibuk dengan pikiran masing-masing sebelum suara ponsel Kenzo memecah keheningan.


"Kenapa aku tidak bisa masuk?"


"Sadam menutup akses, tunggu sebentar."


Kenzo menjauhkan ponsel dari wajahnya dan mentap Sadam. Menyuruhnya membuka akses lewat mata.


"Zahira?" tanya Sadam dan mendapati anggukan dari Kenzo.


"SS ... buka akses dan segera tutup kembali saat Zahira sudah masuk ke ruangan ini."

__ADS_1


SS memang di buat untuk mematuhi tiga suara, namun hanya Sadam yang bisa menutup akses keseluruhan termasuk menghancurkan sistem yang ia buat.


Setelah Zahira masuk keruangan, Kenzo segera bangkit dan memeluknya. Menyalurkan kerinduan meskipun saat ini keduanya memiliki kekawatiran masing-masing.


"Hentikan itu dan cepat duduk, ya ampun!" protes Sadam kesal.


Keduanya terkekeh pelan dan duduk di kursi masing-masing di sisi kanan dan kiri Sadam.


"Untuk sementara aku akan melumpuhkan sistem SS dan menutupnya,"


"Kedengarannya kita tidak punya ide selain itu, sayangnya kamu akan kehilangan tempat aman," sahut Kenzo.


"Kenpa? apa sesuatu terjadi?" itu adalah Zahira yang kebingungan dan juga tampak kawatir.


"Nanti sayang," kata Kenzo lembut. Meminta menunda pertanyaan. Sadam Berlagak akan muntah mendengar nada bicara sahabatnya yang terkenal dingin itu.


"Dasar bucin!" ledeknya.


"Menurutmu mengapa mereka menargetkanku?" tanya Sadam.


"Kamu paling gampang diserang karena kamu selalu menolak pengawalan, Lutfi dan ayahku tentunya sudah memberi mereka bocoran bahwa kamu adalah sebagian otak dalam semua rencana dan tindakanku,"


"Ah ... tentu saja. Aku sangat berharga. Hanya saja sepertinya mereka memiliki rencana lain saat ini."


"Semacam pengalihan?" tanya Zahira


"Hmm ... bukan ... lebih seperti ke rencana tersembunyi yang selama ini sudah ada. Mereka tidak menargetkan orang terdekat lagi tapi orang yang berbahaya di dekat orang yang paling mereka inginkan, semacam menghilangkan pengganggu. Jika aku mati maka Kenzo akan kehilangan satu kaki, itu pendapat mereka. Tidak tahu saja bahwa Kenzo memiliki banyak kaki cadangan,"


"Lalu ... Sadam akan di istirahatkan di mana?"


"Terlalu berbahaya membawanya keluar saat ini, beberapa orang mereka sedang mengintai di luar gedung seperti parasit." jawab Kenzo.


"Tidak masalah di sini, sistem manual bisa di aktifkan untuk memasuki ruangan ini. Hanya saja pengawalan tentu saja harus di perketat. Jika mereka masuk, aku bisa dengan mudah mengaktifkan sistem SS,"


"Tetap saja__"


"Aku punya cara lebih baik," potong Kenzo, melirik Zahira dan Sadam sesaat sebelum menelfon salah satu tangan kanannya selain Endru.


"Kazuki, menyamarlah menjadi Sadam dan susun rencana bersama tim mu. Pemindahan Sadam ke villa di puncak. Pengawasan ketat dan kerahkan anggota jalananmu."


Setelah menghubungi Kazuki ia menatap Sadam dan Zahira dengan datar. Membalas tatapan mereka dengan alis terangkat.


"Itu membahayakan orang lain, kan?" ujar Zahira.


"Kazuki tahu apa yang di lakukannya, dia punya banyak sumber bala bantuan saat terjadi sesuatu di jalan nanti, selain itu dia bukan awam dalam hal ini, dia salah satu kaki tangan Kenzo yang paling berpengaruh, bahkan aku tidak bisa mengalahkannya dalam perkelahian satu lawan satu."


Zahira menatap Sadam serius. Namun tidak berkomentar lagi setelah mendapat tatapan penuh perintah agar tidak melanjutkan dari kekasihnya. Rasanya Zahira dipaksa bungkam meski banyak pertanyaan muncul di kepalanya.


"Orang seperti apa sebenarnya dirimu?" Keras kepala adalah nama tengah Zahira.

__ADS_1


Keduanya menatap satu sama lain, Kenzo dengan sorot tidak ingin di bantah dan Zahira yang penuh keraguan padanya.


"Jangan keras kepala Za ... tidak baik untukmu," ucap Kenzo menyudahi perang dingin sesaat mereka.


"Apa? apa ada hal yang lebih menyeramkan lagi tentangmu? kenapa kamu selalu menyembunyikan segala sesuatu?"


"Aku tidak menyembunyikan apapun!" bantah Kenzo dan melirik Sadam sesaat meminta bantuan.


"Tidak apanya? aku bahkan tidak tahu berapa banyak orang yang kamu kendalikan dan kamu terlibat pada apa saja? bahkan aku tidak mengerti saat kalian sudah berada didalam dunia kalian!"


Zahira bangkit, ia kesal karena selama ini ia memang selalu di atur dan harus menuruti Kenzo dan hanya mendapat informasi sedikit. Dia selalu merasa asing jika kedua sahabat itu masuk ke dunia yang ia tidak diajak kedalamnya.


"Buka pintunya," ucap Zahira, menatap Sadam.


"Dengarkan dulu Za ..." bujuk Sadam yang di balas dengan gelengan pelan.


"Aku lelah, mau istirahat!"


Maka Sadam segera melirik Kenzo dan mendapat anggukan.


"SS ... buka akses," gumamnya.


Zahira menggumamkan kata buka ketika berada di depan pintu dan keluar dari sana. Mengabaikan sapaan dt. Yuan dan segera masuk ke dalam lift. Begitu sampai di lobi ia mengernyit, menatap para pengawalnya yang kini bertambah dua kali lipat. Ia mendesis jengkel dan berlalu begitu saja diikuti belasan pengawal di belakangnya.


"Lihat wajah kesalnya, kamu berlebihan menambahkan pengawal," kata Sadam melihat layar yang menunjukkan ke adaan lobi melalui cctv.


"Aku tidak mau gegabah, meski sepertinya mereka mengincarmu, tidak bisa dipastikan Zahira aman. Mereka bisa merubah rencana kapan saja," sahut Kenzo.


"Benar, jadi bagaimana menurutmu?"


"Apanya?" bingung Kenzo.


Sadam menaikkan alisnya, ia bisa melihat bahwa sahabatnya sedang tidak fokus.


"Kejar dia kalau kamu kawatir dia marah."


Kenzo menoleh pada Sadam dan mengusap wajahnya frustasi.


"Apa aku terlihat menutupi banyak sesuatu darinya?"


Sadam mengangguk. "Jelas sekali, sangat banyak malah."


"Aku tahu, tapi aku pikir dia akan lebih aman jika tidak banyak tahu," kata Kenzo.


"Tentu, hanya cari cara untuk membujuknya."


"Bersiaplah, setelah akses di tutup seperti ini ... kamu akan pindah ke ruang rahasia di dalam kantorku, bahkan dokter Yuan tidak diizinkan mengetahuinya. Kamu akan seolah-olah istirahat di kantorku,"


Sadam mengernyit, menatap Kenzo lurus. Ia tidak pernah tahu ada ruangan lain di dalam kantornya. Apa itu semacam ruang rahasia?

__ADS_1


"Jangan terkejut seperti itu, kamu tahu aku seperti apa,"


Sadam terkekeh pelan dan mencoba menggerakkan tangannya, ia kesal bahkan dia yang mengenalnya sejak lama tidak di beritahu setelah sekian lama. Ada rasa kesal tentu saja, namun Sadam mengerti. Kenzo memang memiliki banyak rahasia dalam hidupnya.


__ADS_2