
Pagi harinya Zahira terbangun di kamarnya sendiri dengan sedikit bingung. Sedikit termenung dengan wajah bingung.
"Sudah bangun?" Zahira mengangkat wajahnya dan mendapati ibunya sudah berdiri di depan pintu dan berjalan mendekatinya.
"Kamu bingung kenapa bisa di kamarmu?" Zahira mengangguk.
"Dasar anak nakal! Beraninya kamu tidur sembarangan. Kalau Kenzo tidak menggendongmu ke kamarmu ibu tidak tahu apa yang anak gadis ibu lakukan!" kata ibunya galak sambil menjewer telinganya.
"Memangnya apa yang Za lakukan, bu ... Za cuma ketiduran di sana," kata Zahira sambil meringis.
"Cepat mandi dan turun, kita sarapan bersama. Mulai besok Kenzo dan ibunya akan kembali ke apartemen. Selain itu ... Karena Kenzo tidak ingin jauh dari mu dan bisa mrnjagamu, dia meminta kita pindah ke apartemen yang kamu tempati dulu," Zahira menghela nafas.
"Seperti biasa dia memutuskan sesukanya."
"Belajar dari kejadian kemarin ibu rasa Kenzo benar, gedung apartemennya memiliki tingkat keamanan lebih baik. Selain itu ... ibu ingin kalian menjaga jarak karena belum menikah. Tidak baik jika kalian berada dalam satu atap,"
"Memang siapa yang akan menikah dengannya?" sahut Zahira dengan wajah acuhnya. Membuat ibunya menggeleng heran.
"Ibu benar-benar tidak mengerti isi kepalamu. Kenapa kamu selalu menyangkal bahwa kamu tertarik dan sebenarnya nyaman dengannya?"
"Siapa bilang," elaknya lagi atas tuduhan ibunya.
"Tidak bilang juga ibu tahu, cepat mandi sana," kata ibunya dan bangkit. Meninggalkan anaknya.
Zahira termenung, kembali mengingat perkataan Kenzo tadi malam. Sesaat ada rasa senang dihatinya, namun juga rasa tidak nyaman dan menyesal karena membiarkan hatinya lemah pada pria egois itu. Zahira tahu dan sangat sadar kedepannya hubungan mereka tidak akan mudah. Karena itu dia selalu membangun dinding untuk membatasi hatinya jatuh terlalu dalam.
.
Setelah membersihkan diri, Zahira turun ke bawah menuju ruang makan. Di sana mereka sudah memulai sarapan. Hari ini adalah hari libur dan Zahira berencana ingin mengunjungi Wewen untuk membahas kasus yang di selidiki mereka. Zahira ingin tahu sampai mana mereka mendapatkan informasi. Jika Sadam benar, itu artinya mereka bisa bekerja sama dengan Wewen dan Anton untuk membuka kasus itu dan membawa pelakunya ke dalam penjara. Satu-satunya cara yang di pikirkannya saat ini untuk membantu keadaanya lebih baik. Jika Dursley bisa menghancurkan perusahaannya, Zahira harus melakukan pencegahan sebelum itu terjadi. Belum lagi masalah ancaman pria tua itu pada nyawanya karena ia meninginkan Kenzo. Itulah yang ada di pikirannya saat ini
tampa memikirkan langkah apa yang akan di ambil Kenzo saat pria itu mengetahui apa yang sedang dilakukannya.
"Setelah sarapan kita akan segera bersiap untuk pindah," kata Kenzo memulai pembicaraan.
"Tidak masalah, kami sudah setuju," jawab ibu Zahira sementara anaknya diam saja, dia sedang asik menikmati sarapannya.
"Ibu harap tidak terjadi apapun, ibu dengar tadi malam ada yang mengintai rumah ini lagi. Sepertinya mereka sedang mencari celah, ibu bahkan tidak berani keluar walau hanya ke halaman sekarang," kata ibu Kenzo.
__ADS_1
"Pengamanan akan di perketat saat kita dalam perjalanan. Sepertinya saat ini mereka menargetkan ibu karena tidak mudah mengatasi kelinci lincahku. Meski ada kemungkinan tentu saja."
Siapapun bisa menduga siapa yang sedang di juluki kelincinya. Karena itu Kenzo mendapatkan delikan tajam dari Zahira dan senyum geli dari kedua ibu mereka.
"Kamu benar, sepertinya ayahmu benar-benar sudah meninggalkan kita. Dia sangat ingin melenyapkan ibu. Bahkan Lutfi tidak berani menghubungi ibu," kata ibu Kenzo dengan wajah sendu.
"Jangan pikirkan mereka, Kita tidak membutuhkan mereka, Ibu," jawab Kenzo dengan dingin.
"Ibu harap kamu memaafkan Sadam, dia berbeda dan sangat melindungimu, karena itulah dia berusaha memisahkanmu dari perusahaan keluarga. Saat pertama kali mendengar apa yang kamu lakukan adalah ide temanmu itu, ibu sempat tidak menyukainya. Namun ibu realistis, ibu kira Sadam ingin kamu mandiri. Tapi setelah kejadian ini ibu baru tahu tujuannya. Ibu bisa memahaminya, kenapa dia menyembunyikan kebusukan ayahmu dari kita." Kenzo menatap ibunya sesaat, bertanya-tanya apa ibunya barusaja bertemu Sadam? tapi di mana?
"Ibu tahu dari mana kalau sadam__"
"Hanya kesimpulan ibu sendiri setelah mendengar pertengkaranmu dengan Lutfi, juga saat kamu dan Zahira berdebat di depan pintu, lagi pula gelagat Sadam juga sedikit aneh selama ini saat datang kerumah terutama berhdapan dengan ayahmu," potong ibunya.
"Ibu ... tidak tidur saat itu?" tanya Zahira polos.
"Mana bisa ibu tidur, bahkan saat kamu pusing mencari alamat Sadam ibu juga tahu," sahut ibu Kenzo cepat, Zahira mengangguk dan menatap Kenzo dengan mencibir.
"Apa!" kata Kenzo sewot.
"Karena tidak ada yang perlu aku kemas, Aku akan keluar sebentar. Ibu ... telepon jika terjadi sesuatu, Ok!" kata Zahira.
"Mau kemana?" Ibunya dan Kenzo bertanya bersamaan. Mereka tampak kawatir.
"Menemui teman," jawab Zahira singkat.
"Siapa?" sahut Kenzo cepat, membuat Zahira menatapnya malas.
"Jadi benar hanya bertahan seminggu ... bukankah kamu bilang aku boleh menemui Wewen, nah sampai jumpa siang nanti." Zahira pergi begitu saja tampa menghiraukan tatapan tidak suka Kenzo.
"Jangan jauh-jauh dari pengawalmu!" teriak Kenzo karena Zahira sudah berada di ruang tengah. Zahira menjawab dengan lambaian tangan.
Pengawal yang biasa mengikutinya menyusul Zahira dan mengambil alih kemudi seperti biasa. Dua pengawal lagi mengikutinya di belakang dan dua di depan. Sehingga ia di kawal oleh lima orang. Yang selalu berada di samping Zahira adalah yang memiliki kemampuan lebih baik dan lebih berpengalaman.
.
Sesampainya di kantor Wewen, Zahira mengernyit heran bahwa kantor itu masih tutup. Padahal ia tadi sudah memberikan kabar bahwa ingin bertemu.
__ADS_1
"Aku kira tadi ada gengster datang ke tempatku," sindir Wewen yang sudah berdiri beberapa meter dibelakang Zahira yang menghadap pintu. Sontak Zahira berbalik dan mendapati Wewen berdiri di sana.
"Cepat buka saja sebelum aku menghancurkan pintumu," jawab Zahira dengan nada datarnya.
Wewen mencibir sebelum melangkah menuju pintu dan hendak menyentil kening Zahira seperti biasa, namun tangannya tertahan di udara karena pengawal Zahira yang lebih cepat darinya. Membuat Wewen melongo dan menarik tangannya kembali dengan dongkol.
"Ckckckck ... ternyata tuan putri tidak bisa di ajak bercanda lagi," sindir Wewen sambil membika pintu.
"Mereka hanya menjalankan tugas ... jangan berlebihan. Kamu tahu siapa yang menyuruh mereka jadi jangan protes," kata Zahira sambil mengikutinya masuk. mereka duduk di sofa tamu. Pengawal Zahira dua berjaga di dalam dan tiga di luar.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Wewen saat matanya melihat penambahan jumlah pengawalnya.
"Ya, sedikit ... dan ini ada hubungannya dengan apa yang kalian selidiki juga. Aku meminta Sadam datang, Anton bagaimana?"
"Dia sedang melaksanakan tugas, mereka sedang menyelesaikan kasus tentang pamanmu itu. Besok adalah sidang pertama dan aku dengar kepolisian dan jaksa masih melakukan penyelidikan ulang terkait keterlibatan pamanmu dengan sejumlah pejabat."
"Tentu saja dia terkait ...."
"Kamu tahu sesuatu?" tanya Wewen menatap Zahira curiga.
"Kamu akan terkejut jika tahu siapa saja yang terkait dan apa yang mereka lakukan. Lalu apa yang kalian temukan? aku yakin penyelidikan kalian dihalangi," tebak Zahira.
"Seperti dugaanmu, kami tidak memiliki banyak koneksi. Meskipun ada mereka bungkam. Seakan tidak tahu apapun meski kami menunjukkan bukti. Mereka ketakutan,"
"Atau sudah di bungkam dengan segepok uang," Sahut Zahira cepat. Wewen mengangguk setuju.
"Kami mendapatkan bukti dari Dona berupa rekaman transaksi antara Mentri keuangan dengan kelompok gelap yang di beri nama Red wine. Di indonesia, Dona bilang mereka di pimpin oleh pria yang kemungkinan sudah tua. Dia hanya bawahan, sulit mendapatkan informasi utama," kata Wewen. Zahira menyeringai mendengar penjelasan Wewen. Tidak menyangka dia bahkan sudah pernah bertemu langsung dengan orangnya dan menembaknya di kaki.
"Kenapa denganmu?" tanya Wewen melihat ekspresi Zahira. Dia bahkan sedikit ngeri saat Zahira tersenyum padanya.
"Kamu tahu? aku bahkan pernah berbicara dengannya dan menembak kakinya. Jika pemimpin Red wine yang kamu bilang itu sama dengan pria tua yang datang ke rumahku kemarin,"
"Apa?!" sahut Wewen dengan wajah terkejut.
"Namanya Dursley tomson. Dia pemilik SQ grup, mengendalikan beberapa pejabat dan kata Sadam dia pemimpin sesungguhnya dari partai Indonesia Sejahtera. Partai terkuat saat ini," lanjut Zahira.
Keduanya menoleh ke arah pintu yang terbuka. Di mana Sadam masuk dan berjalan menuju mereka. Dia duduk di samping Zahira dan menunduk sekilas kepada Wewen untuk menyapanya.
__ADS_1