
Zahira datang dan segera naik ke lantai 2 dimana ruang operasi berada. Lima pengawalnya mengikutinya dari samping dan belakang. Ibunya tidak ikut karena malam sudah larut dan ia tertidur saat Zahira berhasil menghubungi Kenzo.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Zahira saat ia sudah berada di depan Kenzo yang duduk menunggu di luar ruang operasi.
Dengan lembut Kenzo menarik tangannya dan menuntunnya duduk di sampingnya. Menggenggam tangan Zahira lembut sebelum meletakkan kepalanya di bahu wanita yang dicintainya itu.
"Ibu di mana?" tanya Zahira lagi.
"Ibu aku suruh istirahat di kamar VVIP rumah sakit ini, dia butuh bertemu psikolog setelah apa yang terjadi. Dia cukup syok melihat aksi brutal Muzakir."
"Sadam ...."
"Dia kehilangan banyak darah, dia akan baik-baik saja," potong Kenzo.
Zahira tidak berkata apa-apa lagi, dia hanya menunduk dan memperhatikan tangan besar Kenzo yang masih memaikan jari-jarinya layaknya anak kecil yang sedang bosan. Zahira tahu Kenzo hanya kawatir namun ia tidak ingin di lihat oleh siapapun.
Kenzo nyaris menutup matanya karena mengantuk saat ruang operasi terbuka dan dokter keluar menghampirinya. Baik Kenzo dan Zahira keduanya segera berdiri.
"Bagaimana dia?" tanya Kenzo tegas.
"Tuan sadam dalam keadaan baik Tuan Kenzo, dia akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap biasa. Mohon anda menunggu selagi kami mempersiapkannya," ucap sang dokter dengan penuh hormat.
"Aku mau dia di tempatkan di lantai yang sama dengan ibuku," perintahnya sebelum meninggalkan sang dokter yang mengangguk dan sedikit membungkuk memberi hormat. Kenzo adalah salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit itu sehingga siapapun akan menghormatinya dan melakukan yang terbaik untuk melayaninya.
Kenzo menarik tangan Zahira dan pergi dari sana menuju ruang rawat ibunya. Seluruh pengawalnya menjaga mereka sehingga meskipun susana sudah sedikit sepi namun tetap menjadi pusat perhatian oleh seluruh karyawan dan juga pengunjung di sana.
"Hubungi Tomi dan suruh dia datang pagi ini," suruhnya pada salah satu tangan kanan dari sekian banyak pengawalnya.
Sesampainya di ruang rawat ibunya, Kenzo dan Zahira mendapati tempat tidur yang kosong. Hal itu tentu saja membuat keduanya panik. Kenzo bahkan sampai berteriak kepada pengawal yang berjaga di luar sehingga semua berkumpul di dalam kamar.
"Di mana ibuku? kenapa__"
Belum selesai Kenzo berbicara suara pintu kamar mandi yang terbuka mengalihkan perhatian semua orang. Ibunya keluar dari sana dengan wajah bingungnya.
"Kenapa teriak-teriak? Ibu hanya buang air kecil Ken ...," ujar ibunya dengan senyum menenangkan.
"Dia hanya panik karena ibu tidak ada, bagaimana keadaan ibu?" tanya Zahira sambil menuntun sang calon mertua ke kasur lagi.
"Yah, tadi sudah mulai membaik, tapi mendengar teriakan langka anakku entah kenapa kepala ibu jadi pusing lagi," ujar ibunya dengan sedikit bumbu drama.
Kenzo memutar bola matanya sambil memberi intruksi dengan tangannya kepada para pengawalnya agar kembali keposisi mereka. Zahira terkekeh kecil dan mengambilkan air putih untuk ibu Kenzo.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Sadam?"
"Dia akan segera di pindahkan ke ruang rawat biasa, ibu jangan kawatir."
Kenzo sudah berbaring di sofa mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Zahira menuntun ibu Kenzo agar istirahat kembali karena masih dini hari dan pastinya mereka sangat lelah.
Setelah semua tertidur, Zahira mengambil ponselnya dan membuka situs berita terkini. Melihat dimana-mana bahwa Muzakir sudah di laporkan atas kasus penculikan dan penggunaan senjata api ilegal. Banyak artikel yang menunjukkan respon masyarakat yang menghujat. Tidak sedikit pula yang mempertanyakan alasan di balik penculikan yang melibatkan istri dari pengusaha besar negri ini. Tentunya nama Kenzo juga ada dalam daftar berita, dimana satu korban dari peristiwa itu adalah Sadam yang masih di rawat di rumah sakit. Hanya dalam beberapa jam setelah kejadian beritanya sudah menyebar.
Zahira mendengar ketukan di luar pintu dan seorang pengawal memberi hormat padanya. Zahira melirik Kenzo yang masih terlelap dan hendak bangkit agar tidak mengganggunya. Namun tangannya di tahan, saat ia menoleh Zahira bisa melihat mata pria itu sudah terbuka sepenuhnya. Dengan sigap Kenzo menurunkan kakinya dan duduk menghadap anak buahnya.
"Siapa di luar?" tanyanya dengan nada dingin.
"Kakak ipar anda tuan."
Kenzo dan Zahira saling pandang sebelum Kenzo mempersilahkan ia membawa kakak iparnya masuk.
Karin masuk dengan linangan air mata, ia segera berlutut dan mengenggam tangan Kenzo yang hanya memandangnya dengan datar.
"Ken ... kakakmu ... kakakmu kenapa jadi begini? tolong bebaskan dia kumohon__"
Karin terisak-isak sehingga Zahira segera bangunn dan menuntunnya untuk duduk di sofa, namun Karin menggeleng keras dan tetap pada posisinya sambil memohon.
"Kenapa bisa disini, kak?" Karin mengangkat kepalanya setelah akhirnya Kenzo bersuara.
"Ka ... kamu tahu bahwa Dursley mengancam kami?" Kenzo tidak menjawab, namun pandangan matanya seolah sudah menjawab.
"Kakakmu sudah melakukan banyak pekerjaan kotor untuk mereka, tidak bisakah kamu membantunya lepas?" mohon Karin dengan suara seraknya.
Kenzo melepaskan tangannya dan menuntun Karin untuk duduk di sofa sebelum ia kembali duduk di samping Zahira. Ibunya sudah terbangun dan menoleh kepada sumber suara. Begitu menyadari Karin ada di sana, ia segera bangkit dan menghampirinya. Mencengkram kedua pundak Karin sehingga Karin kembali berdiri.
"Dimana anakku dan cucuku? Apa mereka baik-baik saja? huh ... kenapa kamu di sini sendirian?"
"Ibu ..."
"Apa yang dilakukan Lutfi? Kenapa kamu tidak mencegahnya mengikuti pekerjaan kotor ayahnya? kenapa kamu diam saja! kamu istrinya dan dia selalu mendengarkanmu! ibu mohon ... ibu mohon__"
Kenzo merengkuh ibunya dan memeluknya. Ibunya menangis dan bergetar hebat. Ia terlalu stres dan tampak sangat terguncang.
"Ibu ... ayo berbaring dan istirahat," bujuk Zahira dan berhasil meraihnya dan menuntunnya duduk di sampingnya.
Sekarang mereka sudah duduk tenang dan saling berhadapan. Zahira dan Kenzo duduk di kiri dan kanan ibunya yang duduk dengan pandangan kosong dan wajah lelahnya.
__ADS_1
"Ibu ... maafkan Karin. Karin bahkan tidak bisa melakukan apapun, Karin yang bersalah karena tidak berhasil membujuk Lutfi, bahkan sekarang Lutfi dan ayah jarang pulang. Rumah di jaga ketat,"
"Lalu bagaimana kakak bisa keluar?" tanya Kenzo.
"Aku mengelabui mereka dengan bantuan salah satu pembantu. Aku harus pulang sebelum subuh. Ini ... " Karin mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. "Itu kartu memori ponselku, aku sudah menyalinnya dan di sana ada bukti percakapan yang aku rekam saat Dursley mengancam kami. Bukti itu setidaknya bisa membantunya jika terjadi sesuatu. Selain itu ... ada satu vidio percakapan ayah dan Dursley di ruangan ayah. Berisi pemimpin mereka yang saat ini Lutfipun tidak tahu siapa. Ayah belum percaya sepenuhnya kepadanya. Mereka bilang jika pemimpin mereka diketahui, mereka akan tamat. Tolong cari tahu siapa Ken ... aku tahu kamu mampu melakukannya."
Kenzo meraih memory card itu dan segera memasukkannya ke dalam kantung celananya.
"Berhati-hatilah, dilihat dari pergerakan mereka ... Lutfi tidak lagi melakukan semua pekerjaan kotor itu atas ancaman keselamatan kalian," kata Kenzo.
Karin tersenyum tipis dan berkata dengan lirih. "Aku tahu, dia juga pernah pulang dengan bau parfum wanita di bajunya. Bukan hanya sekali, aku takut sekali ... takut dia akan menyingkirkan kami."
"Karena itu kakak nekat kemari?" tanya Zahira yang di jawab dengan anggukan.
"Cucu cucuku ...," lirih ibu Kenzo.
"Mereka sehat bu, Karin akan jaga mereka dengan baik," kata Karin dengan air mata yang kembali tumpah.
"Aku harus kembali sebelum mereka menyadari kepergianku."
"Orangku akan mengantar kakak, tenang saja ... mereka akan menjaga dari jauh," ujar Kenzo.
Setelah kepergian kakak iparnya, Kenzo mendapat panggilan telepon dari Lutfi. Hal itu tentu saja membuatnya panik luar biasa. Kenzo segera mengangkatnya namun tidak berbicara, dia menunggu Lutfi yang berbicara lebih dulu.
"Kakak iparmu ... apa dia kesana? aku kawatir karena dia tidak ada di rumah saat aku pulang."
Kenzo melirik Zahira dan ibunya sebelum menjawab.
"Aku tidak tahu kemana kakak ipar, bukankah kamu suaminya? ibu diculik dan sekarang di rumah sakit apa kamu tidak tahu? Sepertinya ibu kandungmu tidak penting lagi untukmu."
Hening beberapa saat. Kenzo tahu Lutfi hanya berpura-pura tidak tahu, dia hanya terkejut bagimana suara kakaknya sangat berubah saat berbicara kepadanya. Tidak ada lagi kesan lembut dan takut seperti dulu. Perkiraannya benar, Lutfi berubah dan sudah terpengaruh oleh ayah mereka.
"Aku akan segera menjenguk ibu, bagaimana ia bisa di culik? bagaimana keadaan ibu?"
"Bukankah Muzakir adalah bagian dari kalian, bagaiaman kamu tidak tahu?" sinis Kenzo.
"Aku tidak tahu dia, apa yang kamu bicarakan? aku akan mencari kakak iparmu dulu, sampai jumpa."
Sambungan di putus dan Kenzo menurunkan ponselnya dengan tangan mengepal kuat. Ia benar-benar merasakan kemarahan bagaimana bisa kakaknya berubah begitu jahat. Apa uang dan wanita sudah mencuci otaknya?
"Ibu akan istirahat kembali, kalian juga istirahatlah," kata ibu Kenzo tampa memandang mereka.
__ADS_1
Baik Kenzo dan Zahira tahu ibunya hanya tidak ingin membahas mengenai Lutfi. Zahira memberikan anggukan singkat agar Kenzo kembali istirahat.