Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Pertemuan pertama


__ADS_3

Zahira mengikuti Kenzo berjalan dibelakang pria tinggi itu dengan Jimi disampingnya. Ini sudah berjalan satu minggu sejak kejadian yang melibatkan pertarungan fisik itu. Zahira melirik dua orang bodyguard yang selalu mengikutinya kemanapun. Bukan untuk menjaganya, karena Zahira bisa menjaga dirinya sendiri, melainkan untuk menjaganya agar tidak pergi kemanapun bahkan kabur. Hal itu dilakukan Kenzo karena Zahira pernah berusaha kabur sehari setelah pembicaraan mereka. Zahira bahkan sempat melawan dua bodyguard itu dilobi apartemen yang disaksikan banyak penghuni yang akan keluar atau baru pulang. Membuat ia saat itu jadi pusat perhatian terutama saat Kenzo dengan santainya menggendong Zahira selayaknya karung beras.


"Kamu tahu kemana kita akan pergi? "


Tanya Kenzo memulai pembicaraan sejak pertemuan mereka tadi pagi.


"Mana aku tahu! " Ketus Zahira yang mendapat sikutan pelan dari Jimi yang berjalan disampingnya.


Kenzo berhenti tepat saat mereka sampai didepan dan sudah disambut oleh supir pribadinya dengan mobil sudah siap. Kenzo berbalik dan menatap kedalam manik kelam Zahira, ia penasaran.


"Kita akan ke perusahaan Adira, bagaimana menurutmu? ini pertama kalinya kamu akan kesana__ kamu akan bertemu wanita yang dijodohkan denganku. Jadi bersandiwaralah sedikit jika nanti diperlukan. Aku akan mengawasimu. "


Zahira tidak menjawab, ia lebih tertarik dengan pemilik Adira sendiri, atau apapun yang ada disana selain perjodohan yang dianggapnya tidak penting sama sekali.


Ponselnya berbunyi dengan notifikasi pesan, Zahira merogoh kantong bajunya dan membukanya segera. Tentu saja hal itu tidak luput dari Kenzo yang duduk disampingnya.


Zahira menatap pesan itu sedikit lama sebelum membalasnya. Pesan itu dari Wewen yang mengirim sebuah alamat. Zahira tahu alamat milik siapa itu, alamat dimana Dona bekerja atau mungkin tempat biasa yang ia datangi. Wewen juga mengirimkan sebuah nama yang membuat kening Zahira mengernyit bingung. Sebuah nama yang Zahira minta, sipengirim paket. Zahira jelas tidak mengenalnya. Selama hidupnya, sedikit sekali orang yang ia kenal.


"Siapa yang mengirimmu pesan? "


Zahira berdecak tidak suka. "Bukan siapa-siapa. " jawabnya asal.


"Jawab atau aku akan menghancurkan ponselmu!"


Jimi dan supir yang duduk didepan bergidik ngeri mendengar nada bicara Kenzo yang jelas sekali menahan amarah. Mereka jelas tahu bahwa Kenzo adalah pribadi yang tidak suka dibantah. Pertanyaan besar yang juga ada di kepala mereka, Kenapa bos mereka itu mencampuri urusan Zahira. Mereka jelas melihat ada sesuatu disini. Meskipun Jimi sudah menduga dari awal Zahira dipaksa bekerja dengannya sampai diberikan hunian mewah, Jimi hanya menduga itu karena alasan tuannya yang suka mengatur hidup orang sesukanya, selama ini ia tidak pernah melihat tuannya mencampuri urusan pribadi orang lain apalagi wanita.


"Wewen. " Jawab Zahira pelan.


"Mengabaikan perintahku lagi? "


"Kamu kan bilangnya tidak boleh menemui, dia hanya mengirim pesan!"


Protes Zahira dengan nada kesal.


"Berikan ponselmu. "


Zahira menatapnya sengit yang dibalas dengan tatapan tidak ingin dibantah khas Kenzo. Mendengus tidak suka, mau tidak mau Zahira memberikan ponselnya.


Kenzo memeriksa pesan masuk dan mendengus jengkel. Dengan santai dia membuka jendela dan membuang ponsel Zahira keluar. Tentu saja ponsel itu langsung terhempas ke aspal dan hancur. Zahira yang terkejut langsung melayangkan tatapan marahnya. Wajahnya bahkan sudah memerah.


Zahira tidak berkata apapun setelah itu, ia hanya diam dengan wajah dinginnya. Kenzo tahu gadis disampingnya itu marah padanya, bukan hanya kesal seperti biasa, kali ini benar-benar marah. Namun ia tidak peduli, baginya perintahnya adalah mutlak, dia tidak suka Zahira masih berhubungan dengan Wewen apapun jenis hubungan itu. Dia bahkan tidak mengerti mengapa ia sangat tidak menyukainya. Dia hanya akan langsung merasakan marah saat gadis disampingnya itu berhubungan erat dengan pria manapun.

__ADS_1


Sesampainya ditujuan, Kenzo keluar diikuti Jimi dan Zahira. Jimi yang mengajaknya bicara untuk menjelaskan keterkaitan dua perusahaan itu hanya diabaikan saja.


Bahkan pandangan aneh yang ditujukan kepadanya oleh karyawan disana dan beberapa orang yang mereka temui tidak diidahkan sama sekali. Meskipun penasaran, dia memilih abai. Mereka memperhatikan Zahira dengan raut penasaran karena selama ini Kenzo tidak pernah memiliki staf wanita dilingkarannya. Asistennya selama ini selalu laki-laki.


Memasuki ruang rapat, mereka disambut oleh pemegang saham yang sudah lebih dulu hadir. Kenzo memilih abai dan segera duduk di tempatnya.


"Terimakasih atas kehadiran anda, Saya sangat senang anda menginfestasikan saham anda disini."


Sambut pria tua yang Zahira perkirakan berumur mendekati enam puluh.


"Lanjutkan pembahasannya, Jangan bertele-tele. " jawab Kenzo dingin.


"Dia adalah Gunawan, Presiden direktur disini. wanita itu anaknya, Adel. " bisik Jimi pada Zahira yang kelihatan bingung. Zahira mengangguk sekilas sebagai jawaban. Dia melihat wanita itu yang sedari tadi berusaha menarik perhatian Kenzo meskipun tidak dilirik sama sekali.


"Maaf jika membuat anda tidak senang, Disini saya akan memperkenalkan sekaligus mengumumkan bahwa anak saya Adel gunawan akan menjadi penerus saya. Dia akan menggantikan saya memimpin bulan depan karena saya akan segera menjalani pengobatan intensif. Mohon anda semua memberi dukungan. "


"Bagaimana sampah sepertinya bisa memimpin perusahaan, Aku tidak menginfestasikan uangku untuk mendapatkan rugi." sahut Kenzo dengan nada menghina.


Seluruh orang disana menatapnya dengan pandangan tidak percaya, meskipun ada beberapa yang tampaknya setuju. Gunawan sendiri yang mendengar anaknya dihina seperti itu tampak menahan amarahnya, jelas sekali kedua rahangnya mengeras. Sementara Adel seperti mendapatkan penolakan dari cintanya alih-alih rasa malu.


"Apa maksud anda? bukankah anda setuju untuk hubungan yang lebih erat untuk menyatukan dua perusahaan?"


Kenzo tertawa sinis, ia menatap pria paruh baya lain yang duduk disamping adel dengan pandangan merendahkan. Dia adalah sepupu Gunawan yang tidak lain ayah kandung Adel seperti yang dikatakan Danu.


"Siapa? Aku? Apa anda sedang bermimpi? Aku tidak tertarik dengan perjodohan bodoh itu. Aku menginfestasikan sahamku bukan karena ayahku, tapi hanya karena peluang bisnis."


Terdengar bisik-bisik didalam ruangan itu setelah pernyataan Kenzo. Zahira bisa melihat Kenzo sangat menikmati suasana yang ia ciptakan. Zahira tidak peduli pada pembicaraan mereka, perhatiannya lebih kepada Gunawan yang sepertinya sedang menahan rasa sakit. Peluh berjatuhan dipelipisnya. Entah dorongan dari mana, ia berjalan kesamping Gunawan dan segera berjongkok.


"Anda baik-baik saja pak? Wajah anda pucat sekali dan anda mengeluarkan keringat. "


Semua orang disana mengalihkan perhatian kepada Gunawan yang memang terlihat tidak baik-baik saja. Kenzo akhirnya melirik Adel untuk melihat ekspresi gadis itu saat melihat orang yang berstatus sebagai ayahnya dalam keadaan buruk. Seringaian tipis muncul dibibirnya saat Adel terlihat tidak kawatir. Dia memang segera bangkit dan memeriksa ayahnya seolah sangat kawatir, tapi otak pintarnya bisa melihat bahwa wanita itu hanya bersandiwara.


Kenzo bangkit berdiri, menyuruh Jimi menelfon ambulan sebelum menarik tangan Zahira yang masih membantu Gunawan berdiri. Membuat pegangannya terlepas. Jimi yang cepat tanggap segera menggantikan posisi Zahira sambil berbicara dengan pihak rumah sakit.


Zahira yang tidak tahu kenapa hanya mengikutinya menuju parkiran mobil yang langsung disambut supir dan dua bodyguard yang sedari tadi memantau disana. Selang semenit berlalu Jimi sudah bersama mereka lagi. Sepertinya setelah menelfon dia segera menyusul mereka.


"Dapatkan ponsel baru untuk Zahira, Aku mau malam ini sudah ada padanya. "


kata Kenzo yang berbicara pada Jimi.


"Baik tuan. "

__ADS_1


"Ada denganmu? "


Kini pertanyaan ditujukan Kenzo pada Zahira yang masih diam saja. Meskipun tahu jawabannya, Kenzo hanya ingin melihat apa yang ada di dalam kepala Zahira saat ini. Apa yang mendorongnya terlihat peduli pada orang lain, tidak seperti dia yang biasanya cenderung acuh tak acuh.


"Aku hanya bersosialisasi seperti yang Jimi sarankan. Melihat orang lain kesakitan bukankah harus ditolong. " jawab Zahira datar.


"Jimi? "


Ternyata Kenzo hanya memangkap kata itu dari penjelasan Zahira. Tentu saja interaksinya dengan Gunawan tidak berpengaruh apapun, dia bertanya hanya untuk memeriksa sesuatu. Namun jawaban Zahira yang membawa nama sekretarisnya membuat hatinya tiba-tiba jadi panas.


Matanya beralih kepada Jimi didepan mereka yang sudah gusar. Jimi menelan ludahnya gugup sebelum memberi penjelasan.


"Kalian dekat? " Tuduhnya.


"Ti.. tidak tuan. Itu hanya pembicaraan biasa saat saya menjemput nona Zahira dikediamannya yang lama. " Kata Jimi gugup.


"Kamu konyol sekali! Apa baru saja kamu cemburu? Jangan membuatku ingin tertawa. Sikapmu ambigu tahu! " ketus Zahira.


"Kalau aku cemburu kenapa? "


Zahira tersedak ludahnya sendiri, dia terbatuk-batuk dengan wajah syok. Jimi yang juga terkejut hanya bisa diam tidak ingin kena lagi.


"Jangan mengada-ada. Aku tahu apa tujuanmu tuan Kenzo yang terhormat. Jangan membuat banyak orang mengnggap apa yang terjadi diantara kita sungguhan. " Kata Zahira dengan nada acuhnya.


"Memang bagian mana yang pura-pura? "


Sahut Kenzo tidak kalah acuh.


Zahira mendengus jengkel. Dia sadar dia tidak akan pernah menang melawan Kenzo untuk berdebat. Maka ia lebih memilih menutup mata dan menenangkan dirinya. Kenzo tersenyum senang. Perdebatan yang dimenangkannya dari wanita keras kepala disampingnya membuatnya sangat terhibur.


Senyum itu tentu saja tidak luput dari mata Jimi yang melihatnya dari kaca spion depan. hal langka yang ia lihat dari tuannya itu.


Di tempat lain, tepatnya dirumah sakit. Adel dan seorang pria paruh baya bernama Bambang duduk diruang tunggu UGD. Keduanya tampak gusar, namun jelas bukan karena seseorang yang sedang diperiksa didalam.


"Bagaimana dia bisa menolakku? Paman... lakukan sesuatu. " ujar Adel dengan wajah marah.


"Tenanglah, Aku akan memikirkan caranya, kamu hanya perlu meyakinkan si tua itu untuk mempertahankan keputusannya."


Adel dan Bambang segera bangkit ketika seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik datang dan langsung memeluk Adel dengan air mata yang sudah mengenang dikedua pipinya.


"Bagaimana dengan papamu? Apa dia baik-baik saja? "

__ADS_1


"Tenanglah mama... papa sedang diperiksa. Duduklah dulu. Mama juga harus memperhatikan kesehatan. " ujar Adel dengan manis dan penuh perhatian. Membuat wanita yang dipanggilnya mama itu kembali memeluknya.


Adel dan Bambamg bertukar pandang sesaat sebelum Bambang beranjak dari sana dengan diam-diam. Tampaknya, hubungan mamanya dengan Bambang tidaklah cukup baik.


__ADS_2