
Kenzo melihat punggung kecil itu dari kejauhan. Mencoba memikirkan cara meluluhkan keinginan keras wanitanya itu. Kenzo berdiri diluar jarak dengar, ia tidak ingin mengganggu Zahira yang sedang menenangkan diri.
Telfonnya berdering, ia menekan hand free di telingnya dan mendengarkan si penelpon. Sorot matanya menajam sesaat.
"Hubungi orang-orang terdekat dengan area rumah. Pastikan ibuku aman. Aku segera ke sana," ucapnya pelan.
Kenzo kembali menatap Zahira yang kini sudah berbalik. Berjalan ke arahnya namun tidak menatapnya. Saat sampai di depannya, Zahira melewatinya begitu saja. Membuat ia menghela nafsnya gusar.
"Za ... tetap di sini bersama Sadam. Aku harus pergi."
Zahira menghentikan jalannya dan berbalik. Ia sadar ada yang tidak beres. Meminta penjelasan lebih saat mata mereka saling beradu.
"Ayahku menemui ibu."
Gurat kekawatiran jelas terlihat meski Zahira tidak mengatakan apapun. Kenzo berjalan mendekatinya dan memeluknya. Matanya menatap Sadam jauh di teras gedung dan melirik pengawal Zahira yang selalu menyertainya. Memberi isyarat pada mereka untuk melindunginya.
"Aku akan kembali," bisiknya.
Kenzo menarik tangannya namun Zahira mempererat pelukannya. Dia mendongak dan memasang wajah memohon.
"Bisa saja ini hanya umpan, tetaplah disini. Jangan kemanapun, aku sudah menyuruh orang memeriksa ibumu dan memperketat penjagaan."
Alih-alih menurut, Zahira malah menggeleng keras.
"Aku ikut," finalnya.
Kenzo menatapnya sesaat, jelas dia tidak setuju.
"Aku akan tetap di sisimu, tidak akan jauh-jauh, aku tidak bisa menunggu dan diam saja di sini!"
"Za ...."
"Please ...," mohon Zahira lagi.
Akhirnya Kenzo mengangguk pasrah.
.
Maka, disinilah mereka. Terburu-buru memasuki sebuah rumah yang menjadi tempat aman ibunya. Kenzo merasakan amarah saat ayahnya berhasil melacaknya.
Pintu menjeblak terbuka, Kenzo masuk terburu-buru dengan Zahira disisinya. Beberapa pengawal berjalan di belakang dan sisi kanan kiri mereka. Memasuki ruang tamu, Kenzo bisa melihat ibunya duduk kaku di sofa sementara ayahnya di sofa sisi lain. Baik orang-orangnya maupun orang-orang ayahnya tampak saling waspada.
"Kamu datang, nak?" kata ayahnya sambil bangkit dari duduknya.
Melirik pada genggaman tangan Kenzo dan Zahira sesaat sebelum memasang senyum palsu.
"Aku dengar Susan melumpuhkan perusahaan pacarmu, bukankah dia sangat hebat? Orang hebat harus bersama orang hebat, Ken ...."
__ADS_1
Kenzo tidak menanggapi ayahnya. Ia berjalan ke arah ibunya dan berdiri di depannya. Memunggungi ibunya untuk menjadi tameng. Sementara Zahira tetap di sisinya.
"Pergilah, sebelum peluru bersarang di kepala anda, Tuan__"
Mendengar ancaman anaknya, ayah Kenzo tertawa terbahak-bahak. Ia duduk kembali dan menatap ke dalam mata Kenzo yang tampak sangat menyeramkan. Persis dirinya saat sedang marah. Namun aura Kenzo jauh lebih menyeramkan.
"Aku tidak akan melukai anakku sendiri. Harusnya kamu juga begitu. Aku ke sini ingin menyampaikan perjanjian denganmu. Bertemu denganmu sangat sulit hingga aku harus melakukan ini. Tenang saja ... aku tidak mungkin melukai istriku. Kalian hal yang berharga. Namun ... tentu saja jika menjadi penurut."
Tidak ada yang menanggapi, maka ayahnya melanjutkannya.
"Bagaimanapun aku tetap ayahmu, Lutfi tetap kakakmu. Kita masih satu keluarga. Aku harap bisa berdamai dengamu. Mengenai organisasi yang pastinya sudah kamu ketahui ... ayah masih berharap kamu ikut bergabung. Kamu akan menjadi pemimpin selanjutnya yang sangat kuat."
Ayahnya mengeluarkan sebuah undangan dan meletakkannya di meja. Selanjutnya, ia pergi begitu saja sebelum memegang pundak Kenzo sesaat. Berjalan angkuh keluar dari rumah diikuti oleh belasan pengawalnya.
Hening, Zahira yang masih berdiri di sisi Kenzo berbalik menatap ibu Kenzo yang tanpak terdiam menatap lantai. Perlahan, ia duduk, menatap kosong ke meja yang terdapat undangan itu.
Kenzo melepaskan tangan Zahira dan mengambil undangan itu. Membacanya sesaat sebelum memasukkannya ke dalam saku jasnya.
"Itu ... apa?" tanya Zahira yang penasaran.
"Undangan pesta perusahaan, bagaimanapun perusahaanku masih menjadi mitra salah satu perusahaan ayah."
"Jangan datang, itu bisa jadi jebakan untukmu," kata ibunya panik.
"Tenang bu, tidak semudah itu membuatku bertekuk lutut pada mereka. Meskipun mereka menangkapku, mereka tidak akan bisa membunuhku"
"Sebenarnya ... apa tujuan mereka ingin menjadikanmu pemimpin? mereka jelas tahu kamu ancaman organisasi. Kamu berusaha menghancurkan mereka. Sangat aneh ... hanya karena kamu anak salah satu anggota tertinggi ... juga masih ada kandidat kuat lainnya. Apa kamu ... kamu memegang rahasia penting?" tanya Zahira, entah mengapa pikirannya terbuka begitu saja mengenai hal ini.
"Tidak mungkin Dursley hanya terobsesi pada kemampuanmu ... apa ... apa ada sesutu?" tanya Zahira lagi. Kali ini ibunya juga menatapnya meminta jawaban.
Kenzo menatap kedalam mata itu lama sekali. Seperti tidak yakin apakah ia harus menjawabnya dengan jujur atau dengan alasan yang di buat-buat. Dia sesaat lupa, bahwa Zahira memiliki intelektual tinggi dan sangat jeli membaca wajah seseorang.
"Jangan kuatirkan apapun. Cukup tetap aman disisiku. Ada waktunya nanti aku akan menjelaskannya. Sampai saatnya tiba ... tetaplah aman."
Zahira terdiam, tidak berani mendesaknya saat ini. Perkataan Kenzo yang tegas dan tenang membuatnya yakin, memang ada sesuatu namun ia belum dioerbolehkan mengetahuinya.
"Hanya ... aku ingin meminta satu hal," kata Zahira akhirnya.
"Katakan, sayang ...." sahut Kenzo lembut.
"Meski dalam keadaan terpaksa, meski kamu dalam keadaan tidak punya pilihan ... tolong jangan lakukan kejahatan. Jangan terlibat dengan itu. Jangan biarkan tanganmu kotor."
Mereka saling beradu tatapan. Saling menyelami pemikiran dan perasaan satu sama lain.
Kenzo tersenyum, pada akhirnya ia berjalan dan meraih Zahira dalam pelukannya. Mencium puncak kepalanya dan sekikas tersenyum pada ibunya yang menatapnya penuh kekawatiran.
"Aku berjanji, tanganku akan tetap bersih." katanya.
__ADS_1
.
Pesta antar relasi tentu saja bukan hal yang asing bagi Kenzo. Zahira tentu saja ikut bersamanya bukan hanya sebagai pendamping pesta, namun juga relasi bisnis. Mereka berada pada satu lingkaran. Baik Dursley dan ayahnya, memiliki masing-masing bisnis. Para mentri hanyalah aktor mereka namun di masukkan ke dalam keanggotaan Red Wine untuk mengokohkan intensitas mereka.
Kenzo tahu, seseorang yang berada di balik ini semua hanya satu orang. Orang yang identitasnya belum di ketahui, orang yang memegang kendali atas ayahnya dan Dursley sendiri. Meskipun Kenzo akui, Dursley lebih sering bergerak sendiri karena ia memiliki kekuatan.
Zahira hanya berdiri kaku saat mereka mulai melangkahkan kaki memasuki area tengah pesta. Kenzo yang mengerti kecanggungannya memberikan senyuman menenangkan dan menggenggam tangannya dengan erat.
"Bertemu kembali, Kenzo."
Langkah mereka terhenti saat suara wanita yang terkesan anggun sekaligus angkuh menyapa. Keduanya menoleh ke samping dimana Susan berdiri di sana dengan dua wanita lain. Dia menatap Kenzo dan Zahira bergantian dengan senyum kecil.
Zahira yang memendam amarah padanya hanya menunjukkan wajah datarnya. Dia tahu saat ini bukan saatnya untuk meluapkan emosi. Sementara Kenzo sama sekali tidak menanggapi. Ia hendak membawa Zahira pergi sebelum Susan kembali menyela.
"Aku penasaran ... apa kalian akan keluar dari pesta dengan tangan masih bertaut."
Usai bicara begitu Susan melirik sesaat pada tangan mereka sebelum melenggang dengan senyum penuh kemenangannya.
Kenzo melirik beberapa pelayan yang tentu bukan pelayan biasa. Beberapa di antara mereka adalah orang-orang Dursley.
"Sepertinya ini memang jebakan," kekeh Kenzo.
"Apa maksudmu?"
"Tetap disisiku, jangan pergi meskipun aku seperti akan melepaskanmu."
Zahira total tidak mengerti. Namun ia menyimpan kalimat itu baik-baik di kepalanya. Dia tidak banyak mengenal orang-orang di sana. Berbeda dengan Kenzo yang bahkan sangat terkenal. Tidak ada yang tidak memberi sapaan padanya meskipun hanya dalam bentuk hormat atau penghargaan. Zahira sadar, betapa ia sangat kecil di bandingkan Kenzo yang seperti berlian. Siapapun melihatnya dengan kekaguman.
Mereka akhirnya duduk di tempat yang memang sudah di tetapkan masing-masing saat MC acara mulai membuka acara. Menghadap panggung kecil di depan. Dimana terlihat Dursley berjalan bersama Susan yang memegang lengan ayahnya dengan senyuman menawan ke atas panggung. Susan memang cantik, banyak mata menatapnya penuh kekaguman. Hanya saja semua itu tidak berarti karena kekejian yang ia lakukan.
"Pertemuan yang sangat di nantikan di penghujung tahun ... sangat menyenangkan melihat satu sama lain dalam kebahagiaan. Selamat menikmati pestanya. Kali ini aku akan mengenalkan anakku ... Susan. Yang akan menjadi presdir selanjutnya dalam grup D-XPay. Tentu saja ... dengan calon tunangannya juga. Mr. Kenzo ... bersama akan mengembangkan lingkaran kekuatan kita."
Bisik-bisik segera terjadi, karena setahu mereka Kenzo sudah lama mengumumkan hubungannya dengan Zahira. Penerus Adira grup yang kini bernaung di bawah perusahannya.
Kenzo menatap Dursley dengan mata tajamnya meski tampa ekspresi. Dia akhirnya bangkit dari duduknya dan berdiri. Semua mata tertuju padanya. Sementara Zahira hany diam. Dia tidak tahu apa yang ia lakukan saat mendengar perkataan Dursley. Perasannya campur aduk. Ia bahkan hanya diam saat Susan menyunggingkan senyum mengejek kepadanya.
"Menyenangkan sekali semuanya hadir!"
itu adalah ayah Kenzo, tiba-tiba berdiri dan mengeluarkan suara keras.
"Dengan ini sebagai orang tua ... aku turut senang. Pasangan yang akan menjadi kekuatan di masa depan. Mari bertepuk tangan!"
Banyak di antara tamu yang tidak paham hanya mengikuti arahan. Hanya beberapa yang tetap diam. Karena mereka tahu ada kejanggalan. Kenzo bahkan tersenyum, membuat Zahira semakin bingung dengan apa yang terjadi.
"Ken ... ayo beri sambutan!" kata ayahnya dengan semangat berlebihan.
Maka dengan gerakan ringan Kenzo berjalan ke podium meninggalkan Zahira di kursinya sendirian seperti orang bodoh. Zahira dengan wajah piasnya hendak bangkit dan berlari dari sana. Namun perintah Kenzo sebelumnya terlintas dikepalanya. Membuat ia sadar dan terdiam mengamati situasi, bahwa ia sadar terlambat untuk memahami bahwa ia berada di jurang kematian. Zahira akhirnya menyadari situasi, pelayan-pelayan itu berdiri mengarah padanya meski mereka terpencar. Juga pintu yang di jaga ketat. Bahkan Zahira tidak menemukan satupun pengawalnya yang mengawasi mereka tadi.
__ADS_1