
Zahira masih terbaring diruang rawat kamar sebuah rumah sakit. Luka-lukanya sudah diobati dan sudah menjalani pemeriksaan radiologi juga.
"Jimi, Ambil sebuah botol didalam laci kerjaku dan berikan kepada Sadam, dia tahu apa yang harus dilakukan. Jangan sampai siapapun tahu kamu membawa benda itu."
Suruh Kenzo.
"Baik tuan... "
"Perintahkan dua pecundang yang sudah membiarkan Zahira kabur menghadapku sekarang. " Lanjut Kenzo dengan wajah datarnya, namun Jimi tahu ada kemarahan disana.
Jimi segera undur diri dan segera melaksanakan apa yang diperintahkan. Tidak berapa lama kedua bodyguard yang memang sedang berada di luar masuk. Kenzo menatap keduanya dengan tajam. Dia duduk di sofa tunggu dan kedua bodyguard itu berdiri dihadapannya. Keduanya tampak tegang dan waspada.
"Apa yang harus aku lakukan pada kalian? "
Katanya memulai.
Kedua pria itu saling lirik satu sama lain tapi tidak berani bersuara. Membuat Kenzo semakin berang. Dia bangkit dari duduknya dan menendang perut salah satu diantara mereka. Kemudian meninju yang lainnya. Keduanya jatuh tersungkur, namun segera kembali berdiri dengan menahan sakit.
Kenzo masih menatap mereka dengan penuh kemarahan, secara bergantian dia menghajar keduanya membabi buta sampai salah satu memuntahkan darah dari mulutnya. Kenzo kehilangan kendali, dia mengambil kursi disamping tempat tidur dan mengangkatnya tinggi-tinggi sebelum sebuah tangan menahannya.
"Ap... Apa yang kamu lakukan? "
Itu adalah Zahira yang sudah siuman, begitu melihat Kenzo berjalan kearah kursi didekatnya tampa menyadari dia sudah sadar. Zahira memeluknya dengan erat dari depan untuk menghentikan Kenzo yang sudah hilang kendali. Kenzo menurunkan tangannya dan melepaskan kursi itu sehingga terbanting ke lantai. Kedua tangannya memegang bahu Zahira dan menyentaknya hingga pelukannya terlepas.
"Lihat apa yang akan terjadi jika kamu membuat ulah. Aku akan membunuh mereka jika hal seperti ini terulang lagi." Kata Kenzo dengan napas memburu dan menatap tajam Zahira yang tidak berani menatapnya.
"Ma..maafkan aku. Aku... aku hanya ingin jalan-jalan, hik.. hik! "
Zahira berbicara sambil menahan isak tangisnya, Air matanya turun begitu saja. Meskipun dia wanita yang kuat dan tegar, Selama ini ia tidak pernah membuat orang lain dipukuli karena kesalahannya. Zahira benar-benar merasa bersalah kepada kedua orang yang selama ini selalu melindunginya itu.
Kenzo menutup matanya berusaha mengendalikan diri. Ia melepaskan Zahira dan memanggil perawat via intercom karena infus Zahira tercabut saat dia reflek menahan tindakannya tadi. Kedua bodyguardnya yang tadi hampir pingsan sudah duduk berlutut dilantai menahan sakit.
Perawat yang ketakutan saat masuk kedalam melihat apa yang barusan terjadi segera memplester luka bekas infus di tangan Zahira dan berkata akan memasang yang baru sebentar lagi sebelum cepat-cepat keluar dari sana.
"Pergi dan obati luka kalian, kembali kesini besok dan suruh Sadam mencari pengganti kalian. " Kata Kenzo dingin.
Kedua orang itu segera bangkit dan dengan tertatih-tatih berjalan keluar dari sana. Kenzo beralih kepada Zahira yang masih terisak dalam diam dikasur rawatan. Zahira bahkan terus menunduk sedari tadi.
"Inilah aku saat marah, Denganmu mungkin aku bisa menahan diri. Tapi tidak untuk orang lain." Kata Kenzo datar. Dia segera keluar dari sana, perasaanya tidak karuan setelah melihat Zahira menangis. Ia merasa kecewa juga marah secara bersamaan. Karena itu ia lebih memilih menghindar agar tidak berkata lebih menyakitkan lagi.
__ADS_1
.
Sadam baru saja keluar dari sebuah laboratorium dengan sebuah amplop di tangannya. Berjalan menuju motornya diparkiran sambil memasukkan amplop itu kedalam kantong jaketnya. Dia segera pergi dari sana memacu motornya menuju kantor Kenzo.
Sesampainya disana, tampa permisi Sadam masuk keruangannya. Jimi yang sudah mengenalnya dengan baik tentu saja membiarkannya. Bisa dikatakan Jimi dan Sadam adalah tangan kanan Kenzo mesti di dunia yang berbeda. Jimi didunia bisnis dan pekerjaan yang sifatnya bersih, sementara Sadam sebaliknya. Sadam adalah orang yang akan mengurus semua kekacauan yang dibuatnya sekaligus menjadi pedangnya. Sadam adalah seorang yang memiliki banyak bakat dan sangat jenius. Hanya saja dia tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, tidak suka diatur dan suka kebebasan. Kenapa dia bisa bekerja untuk Kenzo? itu karena dia memiliki hutang budi.
"Kamu benar, Itu adalah racun."
Ucap Sadam sambil duduk dikursi yang biasa Zahira tempati. Berhubung si pemilik masih dirumah sakit jadi dengan santai duduk disana meskipun mendapat delikan tidak suka dari Kenzo. Kenzo itu posesifnya bukan hanya pada orangnya, namun milik Zahira juga tidak boleh disentuh orang lain. Dan Sadam yang tahu itu mencoba menggodanya.
"Apa itu? " Tanya Kenzo.
"Kamu bisa baca sendiri detailnya, Jenis racun yang sudah diperlemah sekian rupa dan sudah melalui proses pengolahan. Pernah dengar botulinum? racun ini yang terkandung didalamnya. Racun yang dihasilkan dari bakteri itu sangat berbahaya. hanya saja karena sudah melalui proses perubahan dan pengolahan khusus, Zat itu bisa membunuh secara perlahan. Aku yakin yang meminunnya sekarang sedang dalam keadaan sekarat jika tidak segera dihentikan."
Kenzo tampak gusar meski dengan wajah datarnya, itu artinya ia harus bergerak cepat.
"Laksanakan rencana B, Kita harus cepat kalau begitu. " ujar Kenzo.
Sadam terkekeh dengan nada mengejek.
"Sudah berhenti bermain-main dengan mereka? bukankah tidak asik jika langsung terbongkar? "
"Kita bisa bermain jika orang tua Zahira sudah aman. Tenang saja, ini akan tetap mengasikkan melihat mereka ketakutan setelah publik tahu kebusukan mereka. Untuk sementara, hanya biarkan Bambang dan istrinya masuk penjara. Adel akan hancur jika mereka tidak ada. Wanita bodoh itu tidak punya apapun dikepalanya. Dapatkan juga hasil tes DNA keduanya. Aku ingin itu dipublikasikan bersamaan. "
Kata Kenzo.
Sadam menyeringai sebelum bangkit.
"Aah, Bagaimana jika aku mengerjakannya di ruang rawat Zahira? Aku harus menghiburnya saat ini kan? "
Kata Sadam menyindir.
Sejak kemarin setelah ia meninggalkan ruang rawat Zahira, dia memang tidak datang lagi kesana. Hanya Jimi yang ditugaskan memeriksa keadaannya dan melaporkannya. hari ini dia memang tidak ingin menjenguknya meski sore ini ia sudah diperbolehkan pulang. Jimi yang menurus semunya termasuk mengantarkannya ke apartemen.
"Dia akan pulang sore ini. " Kata Kenzo acuh. memilih tidak terpancing.
"Kalau begitu aku akan kerumahnya, dia pasti sangat kesepian. "
"Berhenti bercanda dan segera pergi dari sini!" Kata Kenzo menjadi jengah. Dia segera mengambil berkas dihadapannya dan mulai melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Sadam menyeringai, dia tersenyum penuh arti sebelum keluar dari sana.
.
Zahira sudah berada diruang tamu apartemennya diantar oleh Jimi. Dia sudah membaik meski bekas kebiruan disudut bibir dan matanya masih terlihat samar. Jimi sudah pulang 5 menit yang lalu setelah menjelaskan bahwa Kenzo tidak bisa menjenguknya hari ini karena pekerjaannya. Zahira tidak bodoh untuk mengetahui bahwa Jimi sedang berbohong. Dia tahu Kenzo masih marah padanya karena itu dia tidak ingin menemuinya.
Bel apartemennya berbunyi, Zahira menatap kearah pintu, menduga-duga siapa yang datang. Hanya Kenzo dan Jimi yang diketahuinya tahu keberadaannya disini selain keluarga Kenzo. Tapi mana mungkin ibu atau kakaknya kesini, mereka tidak sedekat itu untuk saling bertamu.
"Hai! Aku datang menjenguk. "
Zahira memandang pria yang ada didepan pintunya dengan datar. Mendengus karena dengan seenaknya masuk tampa permisi dan langsung duduk di ruang tamu.
"Bagaimana kamu tahu aku tinggal disini, Sadam? "
Tanya Zahira memastikan meskipun dia sudah menduga jawabannya. Benar, Sadam adalah tamu yang menekan bel meskipun sebenarnya dia bisa tahu dengan mudah pasword pintunya.
Sadam meletakkan kantung yang dibawanya diatas meja dan mengeluarkan laptop yang ada didalam tas ransel yang dibawanya. Kemudian dengan santai duduk disofa dengan kaki bersila.
"Bisa ambilkan aku minuman dingin? "
Kata Sadam dengan senyum polosnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan? " Tanya Zahira, mengabaikan permintaannya.
"Sedang bekerja tentu saja, Aku kesini karena aku ingin yang pertama melihat ekspresi terkejutmu. Aku punya kejutan besar..."
Perkataanya terhenti saat ponselnya bergetar, dia merogoh kantong celananya dan tersenyum penuh kemenangan saat melihat siapa yang menelfonnya.
"Apa yang kamu lakukan disana? "
"Cepat juga anak buahmu melaporkanku. hahahaha! Aku hanya menjenguk wanitamu kenapa kamu sensi sekali. " Jawab Sadam sambil memperhatikan ekspresi wajah Zahira yang datar-datar saja. Ya, yang menelfonnya adalah Kenzo.
"Pergi dari sana sebelum aku mematahkan kakimu. "
Sadam tidak menjawab melainkan terkekeh senang. Dia mematikan sambungan secara sepihak dan menonaktifkan langsung ponselnya.
"Mau main taruhan? Sebentar lagi priamu akan kesini dengan kecepatan kilat meski sedang marah padamu. " kata Sadam masih dengan cengiran cerianya.
Zahira menarik nafas pelan sebelum berjalan kedapur mengambilkan minuman. Meskipun tidak mengenal Sadam sebelumnya, tapi dia bisa melihat bahwa pria itu pria yang tidak berbahaya. Apapun yang sedang dilakukannya Zahira yakin untuk meruntuhkan gengsi Kenzo yang tidak ingin menemuinya saat ini. Zahira tersenyum dalam diamnya, entah kenapa dia merasa senang.
__ADS_1