
Seorang pria sedang duduk di depan kemudi saat taksi yang di tumpangi Zahira sampai di halaman panti. Mobil itu tepat berada di seberang jalan dari rumah panti.
Pria itu tersenyum dan segera merogoh ponsel di saku jaketnya.
"Dia sudah sampai di panti tuan."
"Saya akan segera kembali."
Mesin dinyalakan dan pria itu segera pergi dari sana.
Zahira yang yang begitu tiba di depan teras langsung disambut pandangan heran anak-anak yang sedang bermain disana. Tentu saja mereka tidak mengenalinya, dia sudah pergi cukup lama dan beberapa anak yang dulu bersamanya sudah pergi semua. Entah karena mereka sudah dewasa atau karena ada yang mengadopsi.
"Anak-anak, apa ibu Tuminah ada? "
Seorang anak perempuan bangkit dan langsung berlari kedalam rumah. Tidak lama berselang ia keluar lagi bersama seorang wanita tua yang memakai kerudung panjang.
Terakhir Zahira kesini sekitar 5 tahun yang lalu. Zahira tersenyum kecil dan langsung berjalan kearahnya dan memeluknya sebentar.
"Zahira ... sudah lama sekali kenapa baru muncul?"
Ya, dia adalah ibu panti sekaligus pengurus panti tertua di sini. Wanita satu-satunya yang bisa di ajak Zahira bicara tentang dirinya.
"Ayo bicara di dalam."
Tuminah masih menggenggam tangan Zahira saat membawanya masuk. Zahira anak yang sangat pintar di matanya, meskipun tidak bersosialisasi dengan anak lain. Zahira tidak pernah tidak sopan padanya. Tuminah adalah satu-satunya orang yang bisa berbicara dengan santai dengannya. Karakter Zahira yang tertutup dan cenderung menarik diri dari orang lain membuat anak-anak lain juga tidak bisa mendekatinya. Karena itu, ia tidak memiliki teman dekat ataupun anak yang dianggapnya saudara.
"Bagaimana kabar ibu? ibu semakin tua."
Tuminah tergelak, ia sangat hapal dengan karakter Zahira sehingga menganggap itu lucu. Zahira bahkan mengatakannya dengan ekspresi datar.
"Ya, ibu semakin tua dan kamu semakin cantik. Ibu baik-baik saja nak ... bagaimana denganmu?"
"Ada yang ingin Za tanyakan."
Zahira menunduk sesaat, tidak berniat mengabaikan perkataan ibu pantinya, namun dia sudah sangat penasaran.
"Hmm, ibu tahu apa yang kamu mau tanyakan, ibu sudah menduga kamu pasti akan datang setelah seseorang datang kesini baru saja."
Zahira mengernyit heran, jadi orang itu benar kesini. Jika saja dia tadi lebih cepat, mereka mungkin akan bertemu.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, dia meninggalkan surat untukmu."
Tuminah bangkit dan masuk menuju kamarnya. Tidak lama ia keluar dengan sebuah amplop surat. Tuminah segera menyerahkannya kepada Zahira.
Zahira menatap surat itu lama, dia merasakan saat memegang amplop itu bukan hanya kertas yang ada di dalamnya.
"Siapa orang yang kesini itu? akpa dia juga mengambil bedung bayi saya?"
"Dia seorang pria muda, sepertinya lebih muda darimu. Tapi bedongmu tidak ada yang mengambil, itu masih ibu simpan seperti permintaanmu. Seseorang sebelumnya memang ada datang... orang yang berbeda. laki-laki juga tapi lebih tua. Ibu ingat wajahnya tapi lupa namanya. Dia sangat tinggi dan tampan. Saat itu dia hanya melihat bedongmu, untuk memeriksa apakah orang yang dicarinya adalah kamu. Setelah itu dia mengucapkan terimakasih dan pergi. sepertinya orang yang dicarinya berbeda."
Zahira terdiam beberapa saat mendengar informasi itu. Dia sedang berfikir keras.
"Jadi apa yang membuat ibu yakin saya akan datang hari ini? "
"Ooh! itu karena yang menitipkan surat itu meminta nomor ponselmu dan katanya dia akan menghubungimu. Dia tidak bisa langsung menemuimu karena dia harus pergi jauh."
Zahira tersenyum kecut, dia tahu itu alasan terkonyol yang pernah ia dengar. Meskipun wanita tua dihadapannya mempercayai omong kosong orang itu, Zahira yakin sepenuhnya orang itu punya maksud lain.
Usai pamit dari sana, Zahira segera menelfon taksi online. Begitu taksi datang ia segera kembali ke rumahnya. Ia hanya ingin merebahkn diri. Dia cukup lelah karena pencariannya hanya berputar-putar ditempat. Seseorang seperti mengatur hidupnya. Amplop surat itu belum ia buka. Masih tersimpan didalam tas kecilnya.
Sesampainya dirumah, ia segera membersihkan diri. Mandi dengan air dingin membuat kepalanya sedikit lebih baik.
"Halo!"
"Bisakah kamu keluar, aku didepan pintumu."
Zahira segera mematikan sambungan dan langsung berpakaian. keluar dari kamarnya menuju pintu.
Begitu pintu terbuka, ia disambut dengan wajah angkuh dan dingin Kenzo. Seseorang berdiri di belakangnya dengan tentengan makanan.
"Dari mana kamu tahu rumahku? "
"Sambutanmu tidak menyenangkan sama sekali. Apa kita akan berdiri disini terus? "
Tampa dipersilahkan ia dengan seenaknya masuk dengan mendorong bahu Zahira agar menyingkir dari hadapannya. Tentu saja Zahira tidak terima. Dia tidak suka orang asing masuk kedalam rumahnya.
"Aku tidak menerima orang asing, tolong pergi dari sini!"
Kenzo tidak mengidahkannya, dia dengan santainya duduk dan menyuruh pria yang mengikutinya meletakkan bungkusan makanan itu dimeja.
__ADS_1
"Aku ingin mengucapkan terimakasih atas bantuanmu hari ini. Selain itu aku juga ingin membalasmu dengan menawarkan pekerjaan. Bagaimana?"
"Aku sudah bekerja kalau anda lupa Tuan besar!"
Zahira menekankan suaranya di akhir kalimat karena kesal. Semakin kesal karena ekspersi Kenzo yang tidak peduli.
"Aku sudah meminta kakakku untuk memecatmu. Sekarang kamu akan bekerja padaku sebagai asisten pribadi karena aku baru saja memecat yang lama."
Sesaat Zahira terkejut dengan fakta yang ia lupakan. Bahwa pria di depannya ini memiliki kekuasaan.
"Dipecat? meskipun aku dipecat kakakmu aku tidak akan mau bekerja denganmu."
"Sayangnya aku tidak menerima penolakan,"
jawab Kenzo terlalu santai.
Kenzo bangkit dan mengulurkan tangan kepada pria tadi, pria itu memberikan map yang sedari tadi di pegangnya.
"Ini adalah kontrak kerjamu. Tanda tangani dan bawa besok pagi padaku. Kamu pastinya tahu mencariku dimana. Nah, selamat menikmati makan malammu."
Kenzo meletakkan map itu diatas meja dan segera beranjak dari sana. Mengabaikan wajah tidak suka Zahira yang menatapnya penuh kebencian.
"Dia benar-benar! Apa sih yang diinginkannya! "
Zahira benar-benar merasa sangat kesal. Masalah orang yang mengiriminya bedong belum tuntas ia dihadapkan dengan masalah baru. Zahira menatap map dan juga makanan diatas meja. Tampa menyentuhnya, ia masuk kembali kekamarnya.
Zahira mengeluarkan amplop tadi dari tasnya dan segera duduk di pinggir kasurnya. perlahan ia merobek ujung amplop dan mengeluarkan isinya. sebuah surat yang hanya satu lembar kecil. Sebuah foto lagi, itu adalah foto bayi baru lahir yang diambil di sebuah ranjang bayi. sepertinya masih di rumah sakit.
Zahira segera membaca surat itu.
***Zahira, orang tuamu masih hidup tampa tahu kamu ada. Kamu harus masuk kesebuah perusahaan yang akan menghubungkanmu dengan mereka.
Aku akan menghubungimu saat waktunya tepat. Orang tuamu dalam bahaya. Kamu harus segera membantu dan menyelamatkan mereka.
Adira Group. Kamu harus bisa masuk ke perusahaan itu***.
Zahira menatap surat itu lama sekali. bertanya-tanya siapa pengirim surat ini. Apa dia juga orang yang mengiriminya foto-foto dan bedong?
"Aku tidak punya kualifikasi apapun untuk masuk ke Adira," katanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Zahira memang tidak pernah kuliah. Ia hanya mengikuti beberapa kursus untuk menambah kemampuannya. Selebihnya ia belajar dari membaca buku dan belajar otodidak. Zahira sangat pintar, ia bahkan mengerti dengan cepat meski tidak ada dosen yang mengajarinya. Dia bisa saja mendaftar untuk pelajar beasiswa, tapi dia tidak mau memasuki universitas manapun. Zahira tidak suka bersosialisasi. Ia benci dengan anak-anak kaya sombong dan kesenjangan sosial disekoalahnya dulu. Itulah alasan dia tidak mau kuliah.