
Zahira melirik dua bodyguardnya yang sedang memperhatikan sekitar. Sementara Jimi sedang memesan kopi untuk mereka. Zahira melihat dua orang anak SMA yang memiliki penampilan brandalan memasuki kafe. Dia tersenyum sinis dan mengambil asal minuman pelanggan lain dan sengaja menabrakkan diri kepada ke duanya. Membuat kopi itu tumpah mengenai salah satu diantara mereka.
"Oooh maaf, Aku tidak sengaja. " Kata Zahira namun dengan raut yang tidak menunjukkan penyesalan.
Kedua anak yang masih labil itu tentu saja tidak terima. Dia mendorong Zahira sampai menabrak meja. Bodyguard yang tadi melihat mereka dari pintu segera bertindak melindunginya. Maka saat mereka masih sibuk dengan kedua anak yang sibuk marah-marah dan menahan mereka, Zahira menyelinap keluar dan berlari secepatnya. Jimi yang jauh dari jangkauan mereka segera berteriak pada kedua bodyguard itu. Namun saat mereka tersadar Nona yang mereka awasi sudah kabur, sudah terlambat bagi mereka untuk mengejar. Didepan kafe elit itu sudah berjejer taksi yang sedang menunggu penumpang. Tentu saja Zahira sudah kabur entah kemana.
Keduanya segera melacak ponsel Zahira, namun sayangnya ponsel itu sudah dimatikan. Jimi mengusap wajahnya dengan gusar. Tidak kalah gusar dengan kedua pria disampingnya.
.
Kenzo sedang menatap botol kecil yang diletakkan Danu diatas meja kerjanya sebelum beralih kepada Danu lagi untuk meminta penjelasan.
"Tuan Bambang, Sepupu Tuan besar memberikan ini kepada pelayan untuk di berikan dua tetes didalam minuman Tuan dan Nyonya besar pagi dan malam. Pelayan diberitahu bahwa itu vitamin, tapi saya tidak percaya. Karena itu... saya memberikan ini pada anda. Tuan pasti punya koneksi untuk memeriksa zat itu diam-diam. Sa.. saya tidak berani kesana, saya juga sedang diawasi... "
Kenzo diam seaaat sebelum menanggapi.
"Lalu bagaimana kamu kesini? " Tanya Kenzo.
"Saya melewati jalan rahasia untuk keluar, mereka tahunya saya masih di area rumah. karena biasanya jam segini saya sedang mengerjakan taman nyonya dirumah kaca. Tidak ada yang kesana selain Nyonya dan saya. "
Kenzo tidak menanggapi lagi. Dia mengambil botol itu dan meletakkannya didalam laci mejanya.
"Lain kali hubungi aku, Aku akan menyuruh orang menemuimu didekat sana, Terlalu beresiko kamu kesini. Itu bisa membuat rencanaku gagal. sekarang cepat kembali sebelum mereka menyadari kamu pergi. "
Kata Kenzo dingin.
"Ba.. baik tuan. Tapi... Ba.. bagaimana kalau itu racun? Tolong lebih cepat bongkar kejahatan mereka, Saya sangat kawatir... "
Kenzo tersenyum sinis. Melihat itu Danu segera berlutut dan memohon maaf dengan tubuh bergetar.
"Maaf... maafkan saya, Saya tidak bermaksud mendesak apalagi memerintah. Tolong ampuni saya tuan! "
Kata Danu penuh ketakutan.
Kenzo diam saja, matanya memandang tajam pada Danu yang masih menunduk.
"Berani sekali lidahmu berkata begitu, Apa aku terlihat tidak melakukan apapun? " desis Kenzo, membuat bulu kuduk siapapun akan berdiri karena takut.
__ADS_1
"Sa.. saya_"
" Awasi saja bambang itu saat dia ada di rumah orang tua Zahira. Laporkan apapun yang mencurigakan. Sekarang keluar sebelum aku memotong lidahmu. "
Usir Kenzo penuh emosi. inilah ia sebenarnya, Kenzo adalah orang yang gampang tersinggung dan paling sulit menerima kesalahan. Hanya jika Zahira disekitarnya dia akan menjadi sedikit lunak.
Kenzo memeriksa jam tangannya setelah Danu keluar dari ruangannya. Sudah waktunya dia menelfon Zahira yang keluar dan menyuruhnya kembali. Namun keningnya memgerut tidak suka saat terdengar operator yang menjawab, menandakan nomor yang dihubunginya tidak aktif. Akhirnya dia menelfon Jimi yang dalam beberapa detik langsung diangkat. Kenzo langsung tahu ada yang tidak beres begitu mendengar nada ketakutan sekretarisnya itu.
"Kenapa ponsel Zahira tidak aktif? "
"tu.. tuan... nona Za ber... berhasil ka... kabur. "
jawab Jimi dengan takut-takut.
"Temukan dia atau kupenggal kalian!" bentak Kenzo dan segera mematikan sambungan.
Kenzo segera meraih kunci mobilnya dan segera keluar.
.
Seorang pria duduk di ayunan sebelahnya dengan memakan es krim yang sama dengannya. Tidak beberapa lama, pria itu menoleh kepada Zahira dan mengajaknya bicara.
"Apa yang dilakukan wanitanya Kenzo disini? "
Mendengar itu tentu saja Zahira terkejut. Ia segera menoleh dan memperhatikan pria disampingnya itu. Seorang pria yang mungkin lebih muda darinya. Memakai sepatu olahraga dan topi hitam. Memakai jaket putih dan Zania bisa melihat dua tindikan yang dipasangi anting ditelinga kirinya.
"Siapa kamu? Salah satu mata-matanya? jadi aku sudah ketahuan? " Sinis Zahira.
Pria itu tersenyum manis. Terlihat sangat polos tapi Zahira tahu aslinya tidak. Karena baginya semua yang mengenal Kenzo tidak ada yang polos.
"Aku hanya mengenalnya, Kamu belum ketahuan tenang saja. Aku hanya sedang olah raga disekitar sini. " jawabnya.
"Namaku Sadam, senang berbicara langsung denganmu. Sampai jumpa. " lanjut pria yang mengaku bernama Sadam itu sebelum beranjak dari sana.
Zania ikut bangkit dan segera pergi juga. Dia yakin jika Sadam itu akan menelfon Kenzo sebentar lagi. Karena itu dia harus pergi.
Kali ini Zahira ingin pergi kekantornya Wewen, ia ingin tahu sudah sampai mana Wewen berhasil menggali informasi dari Dona. Jarang-jarang dia bisa kabur begini. Namun baru saja taksi yang ia tumpangi sampai dia sudah melihat salah satu bodyguard yang biasa mengikutinya ada disana.
__ADS_1
"Aish! ternyata dia pintar juga. Pak kita lanjut saja. Tidak jadi berhenti disini." kata Zahira.
Akhirnya dia memutuskan pergi ke pantai. Zahira memesan es kelapa pada pedagang disana dan duduk menikmati angin pantai dan ombak yang membuat suasana hatinya sedikit membaik.
Sayangnya sesuatu yang tidak diharapkan mengganggu waktu santainya. Beberapa orang pria mengelilinginya.
"Ternyata benar, dia adalah wanita yang membawa kabur Dona waktu itu. "
Zahira menoleh kesumber suara. Dia mengenali wanita itu, Wanita yang menyiksa Dona dan memaksanya bekerja untuknya. Mereka ada berlima dengan si wanita. Meskipun Zahira bisa bela diri, jika dikeroyok begini dia juga akan kualahan.
"Serahkan Dona pada kami, manis. Kamu membuat masalah dengan orang yang salah. " ujar seorang pria yang tampaknya lebih dihormati diantara mereka.
"Aku tidak tahu kemana dia, Setelah bicara dia pergi entah kemana. Jadi percuma bertanya padaku. " jawab Zahira acuh.
Mereka tertawa meremehkan sebelum salah satu dari mereka melayangkan tendangan yang dengan cepat dapat dihindarinya.
"Aku sudah bilang tidak tahu!" ujar Zahira pura-pura kesal.
"Dan kamu pikir kami percaya! Tangkap dia! " ujar pria yang tadi bertanya padanya.
Mereka akhirnya menyerang Zahira secara bersamaan. Sebagian mereka tidak begitu pintar berkelahi sehingga tidak terlalu susah di lawan. Namun saat pria yang jadi pemimpin mereka itu turun tangan, Zahira beberapa kali terkena pukulan di lengannya dan yang terakhir di sudut bibirnya.
Seorang pria yang sedari tadi duduk tidak jauh dari sana menghela nafasnya. Ia adalah Sadam yang ternyata memilih mengikuti Zahira alih-alih menelfon Kenzo. Saat situasi sudah tidak terkendali seperti ini, barulah ia menelfon temannya itu.
"Aku sedang menonton wanitamu berkelahi di tepi pantai, Aku akan share lokasi jadi cepatlah datang sebelum dia babak belur."
Kata Sadam dan segera memutus sambungan, kemudian mengirim pesan setelahnya.
Sadam melihat ada tiga orang pria lagi datang dan menyerang Zahira yang sudah tampak kelelahan. Sadam meregangkan tubuhnya sebelum masuk kedalam arena perkelahian dan menendang orang yang sudah bersiap memukul Zahira dari belakang.
"Aah... aku sebenarnya malas berkelahi, ini bukan keahlianku. ck! " ujar Sadam dengan wajah malasnya. Zahira tidak menyadari kehadirannya karena hanya terus fokus pada lawannya. Membuat Sadam berdecak saat pria lain menyerangnya juga.
Hanya dalam waktu 10 menit, beberapa orang datang dan langsung mengelilingi Zahira. Membuat perkelahian menjadi seimbang. Zahira tidak akan bertanya lagi mereka siapa setelah melihat Sadam, untuk sesaat ia bersyukur mengenal Kenzo. Zahira sudah kehabisan tenaga. Orang-orang yang mengelilinginya tidak beranjak dari tempat mereka mekipun Zahira mendengar ada perkelahian lain di sana. Seseorang masuk kedalam lingkaran dan Zahira sadar, pria itu adalah Kenzo.
"Kenzo... " ujar Zahira sebelum kesadarannya hilang karena kelelahan dan kehabisan tenaga. Tubuhnya jatuh begitu saja dan segera ditangkap oleh Kenzo dengan cepat. Kenzo menggendongnya bridal.
"Aku mau mereka semua tidak bisa berjalan lagi, Kalian juga harus mematahkan jari-jari mereka yang sudah melukai Zahira. " ujar Kenzo dingin sebelum pergi menuju mobilnya, dimana Jimi sudah menunggu dan membukakan pintu mobil. Begitu mereka sudah masuk Jimi segera membawa mereka menuju rumah sakit.
__ADS_1