Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Rencana selanjutnya


__ADS_3

Zahira merasa terkepung. Namun dia bukan wanita lemah yang akan langsung panik begitu saja. Dia takut, namun ia menutupinya dengan ketenangan. Matanya tertuju pada podium tapi fokusnya sudah mengarah ke sekeliling.


Dengan gerakan pelan dan seolah hanya memperbaiki gaunnya, ia mengambil ponselnya dan mulai mengirim pesan pada Sadam. Dia yakin Sadam akan tahu apa yang harus dilakukan.


Sekarang, ia hanya harus fokus pada apa yang akan di lakukan Kenzo di hadapan semua orang. Kenzo sudah berdiri di hadapan ayahnya, namun ia tidak menaiki podium. Ia hanya menatap mereka bertiga seolah melalui tatapannya ia sedang menyampaikan sesuatu.


"Berikan sambutan, nak_" ucap ayahnya dengan senyum palsunya.


Kenzo mengulurkan tangan pada MC, meminta mikropon. Setelah ia mendapatkannya, ia berbalik begitu saja. Matanya langsung tertuju pada Zahira yang juga menatapnya. Kemudian, dengan gerakan pelan, ia menglihkan pandangannya dan menatap para pengunjung pesta yang lain.


"Tidak ada yang bisa aku katakan lagi, terima kasih atas kehormatan yang di berikan ke padaku. Semoga pertunangan ini berjalan lancar dan semua mendapat kebahagiaan, Terima kasih."


Kenzo menyerahkan kembali mikropon dan melangkah duduk kembali ke mejanya semula. Dimana Zahira masih duduk diam di sana. Menatapnya dalam diam, tampa ekspresi apapun. Setelah Kenzo duduk, mata Zahira beralih pada tiga orang yang menuju ke arah mereka. Ya, baik Dursley, Susan maupun ayah Kenzo berjalan menuju mereka dan duduk di bangku kosong yang memang pas sekali untuk mereka berlima. Bahkan Susan sengaja duduk di samping sisi Kenzo yang lain.


"Apa sekarang aku menjadi pengganggu di sini?" sindir Zahira.


"Kenapa bicara begitu ... duduk manis saja. Kamu juga salah satu tamu. Apa lagi kamu anak mendiang sahabatku," ucap ayah Kenzo santai.


Zahira menatapnya sesaat sebelum matanya beralih pada tangan Susan yang saat ini mengapit lengan Kenzo. Bahkan Kenzo tidak berusaha melepaskannya. Hal itu tentu saja membuatnya muak, meskipun ia menduga Kenzo hanya tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini.


Namun hanya sepersekian detik setelah senyum kemenangan mereka, terdengar bunyi alarm kebakaran yang memekakkan telinga. Tentu saja hal itu membuat panik semua orang. Kecuali lima orang yang masih duduk tenang. Kenzo, dengan tenang menyunggingkan senyum kecil pada ayahnya. Kemudian dengan gerakan matanya, ia memberi isyarat apa yang terjadi pada Dursley yang sedang menatapnya dengan tersenyum pula.


Semua orang sedang berlari keluar di saat alarm kebakaran terdengar, bahkan asap sudah terlihat dari luar pintu masuk aula pesta. Seluruh pelayan yang merupakan anak buah Dursley maupun ayahnya sudah menghilang. Digantikan dengan kedatangan orang-orang Kenzo.


"Kalian tahu siapa yang lebih licik bukan?" kata Kenzo tenang.


Susan segera bangkit dengan emosi dan mengambil pistol di balik gaunnya. Dengan marah ia mengarahkannya kepada Zahira yang juga menatapnya. Sayangnya, ia kalah cepat dengan pengawal Zahira yang sudah berdiri di belakangnya dengan tiga pistol mengarah ke kepalanya.


"Turunkan senjatamu, nak_" ucap Dursley tenang, namun jelas dari pancaran matanya tersimpan kemarahan.


"Tidak, Jika aku mati maka jalang ini juga harus mati!" ucap Susan keras kepala. Namun detik berikutnya tangannya bergetar mendengar tawa mengerikan Kenzo.


Dengan tatapan mengerikannya, Kenzo menatap kedalam mata Susan, mengancam.


"Aku akan mencincang dan memberikan dagingmu pada peliharaanku jika kamu menggores sedikit saja kulitnya. Bahkan, jika hanya sehelai rambut."


"A ... aku tidak takut!" bentak Susan, dia menarik platuk dan akan menembak sebelum pengawal Zahira melumpuhkannya dengan menembak duluan tangannya.


"Akh! "


Susan menjerit dan otomatis pistolnya jatuh. Ia memegang tangannya yang tembus oleh peluru itu. Meneteskan banyak sekali darah.


"Aku salah menilai, aku pikir anakmu cukup pintar ternyata jauh lebih bodoh," sarkas Kenzo pada Dursley yang masih duduk di kursinya.


Susan yang terluka meneteskan air mata dalam diam namun matanya memancarkan kebencian. Baik pada Zahira maupun ayahnya yang masih santai melihatnya terluka.

__ADS_1


Kenzo bangkit dan meraih pergelangan tangan Zahira. Namun Zahira yang tampak syok masih mematung memandangi genangan darah di lantai. Dengan gerakan lembut, Kenzo mengangkatnya bridal dan membawanya keluar dari sana. Seluruh pengawalnya mengikuti mereka dari segala sisi. Meninggalkan kekacauan pesta.


"Itulah kenapa aku benci anak perempuan!" sarkas Dursley tampa melirik Susan yang masih mematung, meringis pelan memegang tangannya.


"Sama sekali tidak bisa di andalkan," lanjutnya tampa belas kasihan.


Dursley bangkit dari sana sambil menelfon seseorang. Memerintahkan bawahannya segera datang dan membawa Susan ke rumah utama dan di panggilkan dokter keluarga alih-alih ke rumah sakit.


Ayah Kenzo masih duduk di sana. Tampa mengatakan apapun, setelah suruhan Dursley datang dan membawa Susan pergi, barulah ia ikut bangkit dan keluar dari sana.


.


Sadam duduk di depan kedua sejoli yang masih memakai pakaian pesta mereka. Tubuhnya sudah tampak jauh lebih baik. Mereka kembali ke apartemen dengan pengamanan ketat. Sadam sudah di sana ketik mereka sampai.


"Hmm ... Za ... kamu oke?"


Zahira mengangkat kepalanya dan mengangguk dengan wajah kosong. Ia perlahan bangkit dan menarik tangan yang sejak tadi di genggam oleh Kenzo.


"Aku ingin ganti baju dan istirahat."


"Masuk ke kamarku, jangan kembali ke apartemenmu. Seseorang akan membawakan pakaian untukmu," perintah Kenzo.


Zahira hanya mengangguk tampa menoleh.


Kenzo mengusap wajahnya dengan wajah frustasi. Sadam bahkan belum pernah melihatnya seperti itu sebelumnya.


"Dia mengirimiku pesan, menjelaskan keadaan meskipun pada dasarnya kamu sudah menguasai keadaan. Sepertinya dia tadi cukup panik,"


"Hmm ... Aku melihat ketakutan di matanya sesaat, maksudku ... dia biasa berkelahi tapi tidak menimbulkan cidera berlebih. Melihat tembakan dan darah di depan matanya membuatnya terkejut. Aku tahu yang dia takutkan adalah bahwa dia sadar, bahwa dia seperti dikelilingi oleh psikopat gila tampa belas kasihan."


"Dursley memperlihatkannya untuk Susan? dia benar - benar ayah yang payah!" umpat Sadam.


"Ngomong - ngomong .... aku mendapatkan E-mail lagi."


Kenzo menatap Sadam, menunggu kelanjutan perkataannya.


"Dia mengetahui apa yang terjadi padaku. Dia seperti ... penguntit dan aku ketahuan. Untuk sementara aku akan membekukan SS Guard, beresiko sementara aku tidak tahu dia di pihak siapa," lanjut Sadam. Kenzo bisa melihat sahabatnya itu cukup frustasi.


"Bagaimana dengan penyelidikanmu? sudah menemukan pimiliknya?" tanya Kenzo mengalihkan pembicaraan. Sadam menatapnya sesaat sebelum mengangguk.


"Cukup sulit tampa SS tapi ada dua orang yang memiliki sepatu seperti itu di Indonesia."


"Siapa?"


Sadam memberi jeda sesaat sebelum kembali bersuara.

__ADS_1


"Pramuja bagaskara ... presiden kita tercinta. Satunya lagi ... seorang aktor papan atas, Samuel jordan. Samuel ini memiliki latar belakang yang sedikit mencurigakan. Dia ... memiliki beberapa pertemuan dengan presiden. Mereka pernah bertemu di suatu pameran seni dan tampak cukup akrab. Tapi belum bisa di pastikan apakah mereka memiliki hubungan atau hanya sapaan ramah tamah. Namun jika kita dengar dari suara si pria ... sudah di pastikan dia adalah pak presiden."


Keduanya terdiam, tentu saja ini akan menjadi lebih rumit dan berbahaya. Melawan penguasa negri tentu saja bukan hal yang bisa di anggap remeh. Bahkan dia bisa kehilangan segalanya jika gegabah.


"Apa mr X itu dia?" bisiknya, namun Sadam bisa dengan jelas mendengarnya.


"Kita tidak memiliki bukti," sahut Sadam.


"Endru !" panggil Kenzo.


Endru yang sedari tadi berdiri di dekat pintu keluar segera berlari ke padanya.


"Jemput ibuku dan ibu Zahira, Bawa keduanya menuju tempat aman."


"Baik Tuan!" jawab Endru dan segera beranjak.


"Tempat aman?" ulang Sadam.


"Tempat itu ... berada di dalam sebuah hutan, aku membangun bunker di sana. Hanya Endru yang tahu tempat itu. Karena itu harus dia sendiri yang pergi kesana."


"Bahkan Endru itu lebih tahu rahasiamu dari pada aku?" protes Sadam dengan nada kesal. Menghasilkan kernyitan di dahi Kenzo yang tampak merasa aneh dengan kecemburuan sahabatnya ini.


"Jangan kekanakan!"


"Oh ayolah! mulai dari pusat senjatamu, pelatihan orang-orangmu. Sekarang tempat aman yang tidak aku tahu. Apa lagi yang kamu rahasiakan?"


"Kamu tahu aku, Sadam ... jangan seperti anak 5 tahun yang di rebut mainannya,"


Komentar menohok yang membuat Sadam semakin kesal. Sadam sudah menganggap Kenzo saudara dan memahaminya lebih dari apapun. Mengetahui Kenzo memiliki rahasia yang tidak dibagikan padanya membuatnya seperti di buang.


"Jadi ... apa rencanamu selanjutnya?" tanya Sadam setelah mengesampingkan perasaan kesalnya. Namun nada bicaranya jadi sedikit ketus.


"Menikah," jawab Kenzo singkat.


"Heeh?" Sadam seperti salah dengar sehingga ia mengorek telinganya.


"Minggu depan, tepatnya 3 hari lagi. Aku akan menikahi Zahira. Membuatnya selalu di sampingku dan mengumumkan pada dunia. Untuk sementara ... resepsi akan di tunda. Kamu tahu situasi sangat berbahaya. Pernikahanku tentu saja diam-diam. Namun kamu harus menyebar rekamannya setelah ijab kabul. Dengan begitu Dursley akan sangat terhina," lanjut Kenzo.


Sadam menatapnya dengan wajah kosong beberapa saat sebelum akhirnya terkesiap dan memperbaiki ekspresinya.


"Ide gila macam apa itu?"


"Hmm ... ide gila yang sangat aku sukai," sahut Kenzo, ia tersenyum dengan sangat manis. Membuat Sadam geli dan melemparnya dengan bantal sofa.


Namun ia ikut tertawa pada akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2