Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Sipengirim paket


__ADS_3

Zahira sudah kembali ke kediamannya sendiri. Tinggallah sepasang anak dan ibu yang saling pandang. Sang ibu yang minta penjelasan dan sang anak yang tampak enggan memberi penjelasan.


"Jadi kenapa barang-barangmu hancur-hancur begini? Apa kalian bertengkar dengan kekerasan? "


Kenzo tersenyum hangat dan menggeleng. Dari semua anggota keluarga, hanya kepada ibunyalah ia bersikap ramah dan hangat. Meskipun ia terlihat tidak memiliki perasaan kasih sayang, berbeda dengan ibunya, dia akan bersikap lembut dimanapun dan dalam keadaan apapun.


"Kami hanya berdebat kecil bu_tidak perlu kawatir_"


"Berdebat dengan kontak fisik brutal? Bahkan guci kesayanganmu pecah."


Kenzo melirik guci yang ia beli pertama kali saat ia mendirikan perusaannya yang sudah tidak berbentuk lagi dilantai. Ia terkekeh pelan dan hanya mengangkat bahunya acuh.


"Sepertinya dia sangat berharga bagimu. Apa anak ibu benar-benar jatuh cinta? Ini bukan sekedar caramu melarikan diri dari ayahmu kan? "


Kenzo terdiam sesaat, pada awalnya memang itu tujuannya. Tapi sekarang dia seperti sangat menikmati permainannya. Bukan karena ia bisa mempermainkan hidup orang lain seperti biasanya, ia menikmati bagaimana melihat wajah kesal Zahira yang terlihat lucu dimatanya. Euforia yang muncul saat bicara dengannya berbeda dan membantunya bersikap tenang menghadapi orang lain yang membuatnya kesal.


"Baiklah_Sepertinya apa yang dikatakan kakak iparmu benar, Kamu berubah dari sebelumnya. Lalu jika kamu sudah menetapkan wanitamu, kenapa kamu tetap membeli saham Adira seolah kamu memberi mereka harapan? "


Kenzo tersenyum pada ibunya, senyum tersirat yang hanya dimengerti oleh wanita yang melahirkannya itu. Tentu saja ibunya mengerti apa yang difikirkannya.


"Ibu berharap kamu tidak main-main dengan wanita yang bernama Zahira tadi. Dari sorot matanya ibu bisa melihat dia wanita yang baik." Kata ibunya menasehati.


Kenzo tersenyum hangat.


"Perlu diantar kebawah bu? " Tanya Kenzo saat tahu ibunya sudah bersiap pulang.


"Tidak perlu, Istirahatlah. "


.

__ADS_1


Selepas ibunya pulang, Kenzo meraih ponselnya. Menelfon seseorang yang berjanji akan menemuinya malam ini.


"Datanglah ke rumahku. "


Dalam waktu 30 menit, seseorang yang dimintanya datang itu tiba. Kenzo membukakan pintu dan membiarkan pria yang usianya seumuran dengan ayahnya itu masuk.


"Saya dengar anda mengirim beberapa paket yang ditujukan pada detektif bernama Wewen, pak Danu. "


Pria tua yang bernama Danu itu tampak terkejut, dia sedari tadi menunduk dan menggenggam tangannya diatas lutut. jelas sekali gusar dan takut. Kenzo menyeringai di tempat duduknya.


"Sa.. saya tidak berniat buruk. Saya hanya_ saya hanya ingin nona menyelamatkan orang tuanya."


"Siapa nona yang anda maksud?" Tanya Kenzo penuh intimidasi.


Danu menatap takut-takut kemata Kenzo sebelum cepat-cepat menurunkan pandangannya lagi, kembali menunduk.


Kenzo tersenyum miring, fakta baru yang ia dapati dari saksi kunci kejadian 26 tahun yang lalu. Dia seperti memenangkan jekpot. Dari mana dia mendapatkan Danu? Kenzo mengerahkan semua informannya dan akhirnya mendapatkan Danu yang dengan suka rela datang padanya dengan harapan menyelamatkan nyawa orang tua dari bayi yang dulu dibuangnya alih-alih membunuhnya seperti yang diperintahkan.


"Jadi siapa yang menggantikannya sebagai nona besar dirumah itu? "


Danu semakin berkeringat dingin, dia meremas tangannya sekarang.


"Dia... di.. dia adalah anak dari sepupu tuan besar. Anak dari orang yang memerintahkan saya membunuh bayi nyonya. Sa.. saya tidak punya pilihan saat itu. Anak saya harus operasi dan... dan... "


Danu terisak ditempatnya. Ia menjambak rambutnya sendiri.


"Tenangkan diri anda, Saya tidak terlalu suka berbicara dengan orang yang menangis. "


Kata Kenzo dengan suara datarnya, tampa simpati sama sekali.

__ADS_1


"Maaf... maafkan saya. Tolong... tolong nyonya dan Tuan besar. Saya tidak pernah hidup tenang setelah itu. Bertahun-tahun... bertahun tahun saya harus menutupi ini agar keluarga saya selamat. Tapi... tapi sekarang tuan dan nyonya juga akan dibunuh. Saya mendengar mereka. mereka merencanakannya karena Tuan belum menyerahkan kepemimpinan perusahaan kepada nona Adel."


Kenzo tertawa sinis didalam hatinya, tentu saja belum diberikan, wanita itu tidak memiliki kemampuan memimpin, dia hanya selalu mengacaukan perusahaan sehingga sekarang mereka mengalami kesulitan keuangan.


"Anda boleh kembali, Orangku akan melindungimu dan keluargamu sekarang. Yang harus kamu lakukan hanyalah memberikan informasi kepadaku."


"Tuan... tolong selamatkan mereka. Saya akan lakukan apapun untuk menebus kesalahan saya. Saya mohon!"


Danu berlutut memohon, Kenzo hanya menatapnya dengan wajah datar.


"Kesalahanmu tidak ada hubungannya denganku, Tapi Zahira adalah wanitaku sekarang, tentu saja aku akan menghancurkan siapapun yang mengganggunya, termasuk dirimu jika Zahira menginginkannya. Jadi memohonlah padanya nanti untuk meminta pengampunan." Nada bicara Kenzo terdengar mengancam dan mengerikan.


Danu terdiam, tubuhnya semakin bergetar takut. Dia sadar betul dengan siapa ia berhadapan sekarang. Menelan ludahpun terasa sangat berat baginya.


Kenzo bangkit dari duduknya setelah kepergian Danu. ia berjalan ke pojok dimana terdapat kamera tersembunyi yang ia simpan. sedang menyala dan sekarang sudah dimatikan. Kenzo menyadari satu hal, ia tidak perlu melawan ayahnya mengenai perjodohan. Dengan sangat iklas dia akan menurutinya, hanya saja dia harus menukar pemeran wanitanya terlebih dahulu.


"Kebetulan yang sangat menarik. " bisiknya kepada diri sendiri.


Ia menyusun rencana-rencana didalam kepalanya sebelum beranjak menuju kamarnya.


Sementara itu, Zahira didalam kamarnya juga sedang termenung. Dia tidak bisa menutup matanya. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu. Memkirkan cara agar bisa menemui Wewen dan melakukan apa yang mereka rencanakan sebelumnya tampa membuat Kenzo tahu apa yang dilakukannya. Meakipun kedengarannya mustahil baginya mengingat kemarin dengan cepatnya Kenzo mengetahui kemana ia pergi. Zahira yakin Kenzo memiliki orang-orang yang mengikutinya sekarang. Mengingat hal itu, ia jadi teringat si penguntit yang sekarang tidak terlihat lagi.


"Apa penguntit itu... jangan-jangan suruhannya? " bisiknya pada diri sendiri.


Tapi logikanya menyangkal karena mereka saling mengenal baru-baru ini. Apa mungkin Kenzo yang melenyapkan penguntitnya?


"Kepalaku jadi ingin pecah! Kenapa jadi sangat kesal begini. "


Zahira bangkit dari kasurnya dan keluar menuju balkon. Melakukan pemanasan sebentar sebelum melakukan gerakan-gerakan seni bela diri. Dia memang akan selalu berlatih seperti ini jika sedang banyak pikiran.

__ADS_1


__ADS_2