
Sadam sedang mengintai melalui monitor yang ia pasang di mobilnya. Sementara Kenzo sedang mendengarkan laporan anak buahnya yang sedang mengintai di dekat rumah yang sedang mereka curigai tempat yang di jadikan markas penculikan ibu Kenzo. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar di sudut kota yang jalannya sudah banyak yang rusak. Sadam bahkan sempat kehilangan kesabaran akibat banyaknya lubang yang terpaksa mereka lewati.
"Seseorang datang dari arah belakang, " kata Sadam.
Kenzo melirik monitor yang menunjukkan peta menuju jalan rumah ini. Benar saja, ada pergerakan sebuah mobil dan dua motor.
"Kita harus menyingkir dari sini, ini jalan utama," lanjut Sadam dan diberi anggukan setuju oleh Kenzo. Mereka mengarahkan mobil pada gang sempit yang hanya cukup untuk satu mobil. Sehingga apabila mereka ingin keluar harus mundur. Bahkan pintu mobil tidak bisa dibuka. Itu adalah gang buntu yang merupakan pembatas antara satu bagunan rumah ke bangunan lainnya. Mereka sama-sama melirik kaca spion, berharap siapapun yang datang tidak melihat mereka.
"Mundur, ada yang datang."
Kenzo berbicara melalui alat komunikasinya kepada anak buahnya yang masih mengintai. Mereka berada di kawasan sepi penduduk. Dimana daerah yang mereka masuki seperti sudah lama di tinggalkan oleh pemiliknya.
"Mereka memasuki rumah itu," kata Kenzo dengan mata yang kembali fokus pada layar monitor.
"Kita bergerak sekarang?" tanya Sadam meskipun ia sudah pasti tahu jawabannya.
"Hmm,"
"Aku harap mobil baruku ini tidak membentur dinding ini,"
Kenzo berdecak sebelum menyahut.
"Aku akan membelikanmu selusin jika mau!"
"Hehehe ... aku juga kaya bung, aku tidak butuh uangmu,"
"Yakin uangmu halal?" sinis Kenzo.
"Tentu saja, kamu pikir aku apa? kriminal tidak cocok denganku yang tampan ini. Zahira bisa ilfeel padaku kalau aku mencuri," jawab Sadam dengan wajah tampa dosa.
Kenzo mengambil pistol yang sengaja ia bawa di saku jas kerjanya dan menodongkannya ke kepala Sadam dengan wajah datar dan masih menatap ke depan begitu mobil kembali berada di jalan utama.
__ADS_1
"Berani menggoda wanitaku maka kepalamu taruhannya."
Sadam tergelak dan tampa rasa takut sedikitpun ia mengangguk-angguk. Kenzo memasukkan kembali pistolnya dan mereka kembali fokus ke monitor. Sadam mengaktifkan alat komunikasinya dan berbicara ke pada anak buah Kenzo.
"Putari seluruh area luar dan cari celah masuk tampa melewati pintu."
Mereka akhirnya menunggu sekitar 5 menit untuk mendapatkan jawaban dari anak buah Kenzo yang berada di dalam area rumah.
"Baiklah, semua yang ada di area luar bersiap, tunggu kode dari kami. Kami akan masuk duluan sebagai umpan, ingat jangan bergerak sedikitpun sebelum aku perintahkan!" kata Kenzo tegas.
Keduanya turun dari mobil dan dengan wajah santai masuk melewati pintu gerbang. Baik Kenzo dan Sadam sadar akan adanya CCTV di depan gerbang, dimana otomatis kedatangan mereka akan langsung di sadari oleh musuh.
Benar saja, begitu mereka sampai di depan rumah, pintu segera terbuka dan mereka di sambut oleh 5 orang pria berbaju hitam dan masing-masing membawa tongkat besi.
"Ah ... sungguh kami datang dengan damai. Hanya tunjukkan di mana tawanan kalian dan kami akan pulang," kata Sadam dengan senyum ramah. Kenzo hanya memasang wajah datar seperti biasa akan acting sahabatnya itu. 5 orang itu menatap mereka tajam sebelum menyerang mereka membabi buta.
Baik Kenzo dan Sadam adalah orang yang terbiasa melatih kempuan bela diri mereka sejak kuliah dulu. Melawan 5 orang yang bahkan tidak bisa memegang tongkat dengan benar bukanlah pekerjaan yang berat. Hanya beberapa menit mereka sudah tumbang.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Hal yang pertama mereka temui adalah kekosongan. Dimana orang-orang yang tadi masuk ke dalam. Kenzo dan Sadam melirik satu sama lain sebelum mengangguk dan mereka berpencar. Kenzo ke area dapur dan Sadam naik ke lantai dua. Namun baru saja mereka Kenzo memasuki area dapur, ia segera memutar balik dan berlari menuju tangga di mana terdengar suara tembakan.
"Wah wah wah ... lihat anak berbakti datang menemui ajalnya. Aku tidak tahu seorang Kenzo yang sangat di inginkan tuan Dursley sangat ceroboh dan gegabah. datang hanya berdua?"
Dia adalah muzakir yang di belakangnya ada 4 pengawalnya menjaganya. Kenzo tidak menjawab, dia menatap mata ibunya yang juga menatapnya dengan air mata meleleh sedari tadi. Jelas sekali ketakutan terpancar di wajah tua ibunya. Kemudian dari arah dapur dan ruang samping masuk belasan anak buah Muzakir yang lain. Kenzo hanya melirik sekilas dari ujung matanya, tidak meneunjukkan keterkejutan sama sekali. Matanya menatap lurus musuhnya di atas sana dengan tatapan intimidasi khas dirinya.
"Bukankah kamu anjing mereka? bagaimana bisa kamu bergerak sendiri tampa perintah seperti ini?" tanya Kenzo dengan nada dinginnya.
"Anjing kamu bilang! Aku bahkan bisa membunuh ayahmu dengan posisiku di organisasi sekarang. Hahahaha ... bahkan ayah dan kakakmu tidak bisa menghentikanku padahal mereka tahu aku menargetkan ibumu! sekarang kamu bilang aku Anjing mereka?"
Lagi - lagi Muzakir tertawa keras.
"Hapus semua vidio di internet dan kembalikan nama baikku. Maka aku akan melepaskan ibumu. Aku tahu kamu mampu melakukannya dengan pria itu bersamamu," kata Muzakir sambil menunjuk Sadam yang kini sudah duduk nyaman di sofa.
__ADS_1
Kali ini Sadam yang tertawa terbahak-bahak. Kenzo hanya tersenyum remeh, jelas ia tahu apa yang ada di otak sahabatnya itu sehingga ia tertawa begitu keras.
"Sialan! berhenti tertawa atau ku tembak kepalanya!" murka Muzakir dengan wajah merah padam karena merasa harga dirinya di injak-injak.
Sadam berhenti tertawa dengan seringai mengerikan di wajahnya, persis seperti seorang psikopat yang senang bertemu mangsanya.
"Muzakir ... jangan melakukan hal yang sia-sia di masa tuamu. Lepaskan ibu dan aku akan mengampunimu," ujar Sadam dengan suara rendahnya.
"Lakukan apa yang aku perintahkan sebelum kupecahkan kepalanya!" tantangnya, menutupi rasa gentarnya akan ancaman Sadam.
Sadam duduk santai di atas sofa sambil memutar-mutar ponsel di tangan kanannya. Ia menatap Kenzo sesaat menunggu kode dari pria itu. Kenzo menelengkan kepalanya sedikit sebelum melirik Sadam dan ia berjalan maju dua langkah, sontak seluruh anak buah Muzakir segera antipasi dan mengangkat senjata mereka.
"Lepaskan ibuku dan akan aku penuhi keinginanmu," ujar Kenzo dengan raut serius. Kenzo memandang ibunya lembut, berusaha menenangkan wanita yang di sanyanginya itu agar tetap tenang.
"Jangan berani menipuku. Sekali tekan tombol hijau ini maka Dursley akan langsung tahu bahwa ibumu ada bersamaku. Aku yakin dia akan meminta lebih, jadi aku sarankan lakukan yang aku perintahkan!"
Muzakir memperlihatkan layar ponselnya yang meskipun Kenzo dan Sadam tidak bisa melihatnya, keduanya yakin bahwa Muzakir bukan hanya mengancam saja.
Kenzo tahu ini akan lebih rumit dari perkiraannya sehingga ia berbisik pelan dimana ia sedang terhubung dengan anak buahnya di luar. Sementara Sadam yang tadi menangkap kode sahabatnya segera menekan layar ponselnya dan terdengarlah suara ledakan dari arah belakang rumah yang membuyarkan semua orang.
Muzakir yang bingung di tengah asap yang masuk lewat jendela terbuka di belakang mereka segera kembali keposisinya dan hendak menodongkan senjata ke arah ibu Kenzo, namun momen beberapa detik ia terkejut tadi membuat ia kehilangan sandranya. Ibu Kenzo sudah berada di belakang Sadam sekitar 5 meter darinya. Sementara anak buahnya yang menjaga mereka sudah tumbang tertembak di dada.
Seluruh hiruk pikuk dan kekacauan terjadi ketika anak buahnya diserang oleh puluhan anak buah Kenzo yang sedari tadi sudah siaga di persembunyian.
"Sialan!" desisnya.
Muzakir menembak kesegala arah secara membabi buta tampa peduli siapa yg ia kenai sambil berlari menuruni tangga. Namun baru beberapa anak tangga ia sudah terjatuh karena tertembak di kakinya. Tubuhnya berguling sampai anak tangga paling bawah, tepat di bawah kaki Kenzo yang menatapnya dengan kemarahan.
"Bagaimana anjing sepertimu mau menggonggong ke tuanmu? kau __"
Perkataan Kenzo terhenti saat teriakan ibunya terdengar dari lantai atas. Kenzo segera berlari keatas dan mendapati ibunya sedang memeluk Sadam yang sedang memegangi perutnya.
__ADS_1
"Sadam tertembak!" teriak ibunya dengan air mata yang terus mengalir.
Kenzo segera mengangkat Sadam kepunggungnya dan berlari diikuti ibu dan belasan anak buah yang menjaganya. Sementara Muzakir sudah di tangkap oleh bawahan Kenzo yang merupakan tangan kanannya yang lain. Pergi dari tempat itu setelah membereskan beberapa kekacauan yang terjadi.