Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Usai pemakaman.


__ADS_3

Sadam dengan santai sedang berdiri diantara gorden di jendela. Gorden itu cukup tebal sehingga dengan mudah ia bersembunyi disana. Posisinya juga sangat pas sehingga memudahkannya untuk merekam apa yang terjadi didalam ruang tamu rumah itu.


Seorang lelaki paruh baya yang pernah beberapa kali dilihat olehnya ditelevisi. Seorang pemimpin partai yang sangat disegani dan berwibawa. Seingatnya ia memiliki pandangan yang baik dimata publik selama ini.


Sadam menyenderkan sisi tubuh sebelah kirinya kejendela


"Tuan, Saya sudah membawanya. Dia yang anda inginkan kemarin saat di pasar. " Ujar pria itu dengan wajah datarnya.


"Tentu, Kirim uang pada mereka dan katakan aku suka barangnya. " Jawab pria paruh baya.


Pria itu segera undur diri dan menyuruh rekannya membawa gadis belia itu kedalam kamar tuan mereka. Rekannya yang akan menarik tangan gadis itu terhenti saat pria paruh baya itu menahnnya. Ia menyentuh dagu gadis yang masih terikat itu dan mengelusnya.


"Cantik sekali. " ucapnya.


Sadam mual melihat cara pria itu memeta tubuh gadis itu. Ia merasa cukup untuk bukti yang ia dapat. Sadam segera menghentikan proses rekaman dan menyimpan ponselnya. Tangan kirinya merogoh kantong celananya dan mengeluarkan benda bulat sebesar jempol kaki. Ia dengan hati-hati berjongkok dan menggelindingkan benda itu yang menimbulkan suara, cukup mengusik 4 orang disana.


Seseorang mendekati benda yang kini berhenti disudut sofa. Sadam tersenyum dan menghitung mundur dari angka tiga. Sebelum pria itu mengambilnya, benda itu mengeluarkan asap tebal dan meledak.


Dengan kekacauan kecil itu, Sadam melemparkan sebuah lagi kearah mereka sebelum keluar dari jendela yang sudah dibukanya dengan paksa. Gadis belia yang menjadi korban pingsan karena menghirup gas yang keluar dari ledakan. Begitu juga keempat pria disana.


"Segera masuk dan bawa gadis itu keluar, letakkan saja pada masjid atau daerah yang aman yang pasti ditemukan orang. " kata Sadam saat ia sudah berada didalam mobil yang menjemputnya. Ia berbicara dengan dua pria yang berada diatas motor dengan masker pelindung diwajahnya. Kedua pria itu mengangguk sebelum masuk kedalam rumah.


.


Matahari sudah sedikit terik saat Zahira dan ibunya pulang kerumah mereka sepulang dari pemakaman. Kenzo sudah pergi seusai pemakaman karena ada masalah pada perusahaan yang ia tinggalkan.


Sesampainya dirumah, mereka disambut pelayan dan menyiapkan mereka minuman. Semua kerabat sudah pulang. Ibunya masih meneteskan air mata saat terduduk disofa sambil memandang foto pernikahannya yang ada dimeja sudut ruang tamu. Zahira bangkit dan duduk disamping ibunya. Berusaha menenangkannya.


"Perusahaan akan semakin hancur. Kamu harus mengurusnya mulai sekarang. Meskioun mungkin agak berat bagimu yang belum pernah terjun ke perusahaan, Ibu tidak ingin perusahaan yang ayahmu perjuangkan dari nol hilang begitu saja. " Ucap ibunya.


"Tenang saja bu, sudah ada Tomi yang memegang kepemimpinan sementara."


Ibunya berhenti menangis dan mentapnya heran. Dia belum pernah mendengar nama itu. Zahira tersenyum menenangkan melihat kebingungan ibunya.


"Dia salah satu orang kepercayaan Kenzo. " kata Zahira.


"Kamu mempercayainya? bagaimna kalau dia merebut perusahaan? "


Zahira tampak berfikir sesaat sebelum menjawab ibunya.


"Mungkin Tomi ini tidak, tapi Za percaya pada orang yang memerintahkannya. Jika Tomi ini bertindak diluar jalur, dia akan mengurusnya." kata Zahira, matanya menatap tangannya yang sedang menggenggam tangan ibunya.


"Kamu percaya pada Kenzo? bukankah kamu bilang dia jahat? "


Zahira menatap ibunya dengan ekspresi bingung. Tampaknya dia juga tidak mengerti kenapa dia mempercayai pria itu sementara dia juga membencinya secara bersamaan.


"Kamu tidak membencinya, kan? dasar anak muda. Kalau suka kenapa tidak mengakui. Keberadaanya kemarin juga membuatmu lebih tenang, kan?"

__ADS_1


Zahira mengernyit bingung, dari mana ibunya tahu. Bukankah kemarin dia pingsan?


"Ibu Kenzo yang cerita. Karena saat bangun ibu tidak melihatmu. Ibu hanya mengambil kesimpulan dari cerita itu. "


"Ibu, Za tidak menyukai pria arogan dan tukang paksa itu. Soal mempercayainya, Za hanya yakin dia orang yang bisa dipercaya. bukan bearti Za menyukainya. " Sangkalnya.


"Lalu kenpa kamu tidak menyangkal saat dia mengumumkan secara tidak langsung kalau kalian akan menikah kepada semua orang? "


"Kapan? "


"Dua hari sebelum ayahmu meninggal. Ibu melihat wartawan mewawancarinya terkait kasus penipuan itu, wartawan penasaran karena keberadaanmu disampingnya dalam waktu terakhir. Mereka menayakan apa hubungan kalian selain hubungan kerja. "


Zahira termenung. Kenapa dia sampai tidak tahu? Kenapa dia sampai tidak sadar Kenzo membahas hubungan mereka pada wartawan? Dia memang sudah jarang melihat berita karena fokus pada kasus yang menimpanya dan kedua orang tuanya.


"Apa wartawan tidak berusaha menemuimu meminta keterangan? " tanya ibunya.


"Orang itu pasti mengerahkan orang-orangnya untuk mencegah wartawan menemui Za dimanapun. Dia punya orang dimana-mana untuk mengawasi apapun yang Za lakukan. " kata Zahira dengan wajah kesalnya.


"Apa dia terlalu mengekangmu? "


"Sangat! Dia posesif sekali. Bahkan tidak mengizinkan Za berbicara dengan bodyguard Za sekedar berbasa basi saja. " adunya dengan sedikit manja.


Ibunya tersenyum dan membelai kepalanya.


"Kalau tidak nyaman bicarakan baik-baik. Jangan sampai menyesal. Ibu tahu dia memiliki segudang sifat buruk. Banyak yang mengenalnya dengan sikap dingin dan penuh arogansi. Tapi setelah bertemu ibunya dan berbicara dengannya. Entah kenapa pandangan ibu sedikit berubah."


Ibunya tersenyum hangat lagi sebebelum melanjutkan.


Zahira terkekeh pelan mendengar penuturan polos ibunya. Zahira jadi teringat ayahnya, Sepertinya sifat ini yang sangat disukainya. Karena ia juga menyukai pemikiran ibunya yang seperti ini.


"Ibu_ Sekedar informasi... dia itu orang aneh yang terkenal membenci wanita kecuali orang-orang tertentu. Dimatanya wanita yang menawarkan diri padanya hanyalah wanita murahan meskipun pada dasarnya mereka anak konglomerat. Za pikir otaknya agak kongslet karena pemikiran buruknya itu. " ujar Zahira.


Bel pintu berbunyi bersamaan ketika Zahira selesai berbicara. Pelayan membukakan pintu dan mendapati tiga pria berdiri didepan pintu. Pelayan itu segera berlari keruang tamu menghampiri Zahira untuk memberitahu kalau tamu itu mencarinya.


"Suruh saja masuk. " kata Zahira.


Pembantunya segera berjalan cepat kepintu lagi dan kembali keruang tamu dengan tiga tamu itu. Zahira menatap ketiganya bergantian dengan aneh.


"Kalian saling kenal? " Tanyanya dengan nada sangsi.


"Mana mungkin, Aku tidak suka dengan tipe seperti mereka." jawab pria yang paling muda, Sadam.


Ya, yang datang adalah Sadam, Wewen dan Anton. Karena mereka datang secara bersamaan tentu saja menjadi pertanyaan baginya. Tidak lama setelah mempersilahkan mereka duduk ponselnya berbunyi. Dia merogoh kantongnya dan melihat sipenelfon. Menarik nafas pelan sebelum mengangkatnya.


"Ada apa? " Tanyanya.


"Kenapa mereka datang kerumahmu? Kamu mengundang mereka? "

__ADS_1


Zahira ingin sekali memaki namun mengingat didepan tamu dan ibunya sendiri. Dia hanya memasang wajah kesal seperti biasa.


"Kamu gila ya? Aku masih berkabung ngomong-ngomong. Kemarahanmu tidak tahu tempat dan waktu ya! Kalau penasaran tanyakan saja sendiri kenapa menuduhku?!"


Sadam tidak bisa menahan tawanya mendengar Zahira berbicara dengan kasar pada temannya itu. Dia bangkit dari duduknya dan merebut paksa ponsel itu dari tangan Zahira.


"Hei kawan! Cepat sekali anjingmu menggonggong. Aku baru duduk sudah ditelfon. Tenang saja... aku akan menjaganya dari dua predator ini. Mereka kelihatan jinak jadi jangan kawatir. Lagi pula siapa yang berani mengambil betinanya singa? " Sarkasnya dengan santai.


"Cepat selesaikan urusanmu dan keluar dari sana. Jangan sampai lebih dari 15 menit atau aku akan menghajarmu. "


Ancam Kenzo sebelum mematikan telfon.


Sadam segera memberikan ponsel itu kepada pemiliknya sambil berdecak malas.


"Si sinting ini posesif sekali padamu. " katanya sambil duduk.


"Dan kamu berani padanya? Aku bahkan kena hajar saat Zahira hanya mengantar seseorang padaku. " tanya Wewen dengan wajah ngeri. Melihat cara bicara Sadam yang kelewat kurang ajar.


Sadam meliriknya sambil mengangkat bahu tampa berniat menjawab. Membuat dua pria itu memandangnya tidak suka.


"Tidak penting, mereka sama-sama sinting. Jadi kenapa kalian datang mengganggu?" potong Zahira yang mendapat pandangan protes dari ibunya.


"Tidak sopan. Kami datang untuk meminta keteranganmu sebagai korban dari kasus Keluarga Bambang." jawab Anton.


"Sekalian melihat keadaanmu tentu saja. Apa kamu baik-baik saja? Aku turut menyesal karena kejadian ini. Aku orang pertama yang kamu mintai tolong tapi tidak membantu apapun. " Tambah Wewen cepat karena tidak ingin disalahpahmi.


Zahira tidak menjawab langsung. Ia beralih pada ibunya dan meminta ibunya istieahat dikamar. Dia tidak ingin pembicaraan ini membuat ibunya banyak fikiran. Ibunya hanya mengangguk mengerti dan segera bangkit dan meninggalkan mereka.


"Bukan salahmu, Aku juga salah dalam hal ini. mengenai meminta keterangan.... "


Zahira menjeda dan beralih menatap Anton nyalang.


"Anda benar-benar tidak punya sosial ya, Aku akan datang lusa. Aku tidak mau membahas itu sekarang. Membahas mereka hanya membuat kepalaku sakit. " lanjutnya.


"Tidak apa, Maaf membuatmu tidak nyaman. Aku hanya melakukan perintah dan protokol yang resmi. Jika kamu tidak ingin sekarang aku akan buat keterangannya nanti untuk mengundur waktu. " jawab Anton.


"Bisakah aku bicara? karena Kenzo hanya memberi kita waktu 15 menit. Aku sih tidak masalah melanggar tapi tidak tahu jika kalian." kata Sadam sambil tersenyum sok polos


Wewen mendengus menatapnya. Jelas sekali dia kesal.


"Tidak apa, Kami juga memang harus ke suatu tempat setelah ini. " kata Wewen dengan datar.


"Kami harus pergi, jaga kesehatanmu dan kapanpun boleh menelfonku jika butuh bantuan. Oh iya_ " Wewen menggaruk hitungnya yang tidak gatal sebelum melanjutkan. "Dona itu kembali kepada mereka. Dalam status lain. Terimakasih kerjasamamu saat itu. Namun... sebenarnya kami butuh bntuanmu sekali lagi... hmm... hanya saja... sedikit lebih berbahaya. Kasus ini harus terungkap. Kami sudah mendapatkan beberapa bukti... " Wewen berhenti dengan wajah ragu.


"Tak apa, saat aku siap aku akan menghubungimu." Kata Zahira.


"Misi seperti itu tidak akan mendapatkan izin dari singanya. " celetuk Sadam. "Apalagi kalian membicarakannya didepanku. Jelas aku akan mengatkannya padanya. " kekeh sadam diakhir kalimatnya. meremehkan Wewen yang terkesan ceroboh.

__ADS_1


"Aku tahu kamu bukan orang yang akan mudah diusir jika kami ingin privasi. Lagi pula tipe sepertimu tidak akan suka bergosip. " ucap Wewen santai.


Sadam tertawa terbahak-bahak. Membuat tiga orang disana menatapnya jengah. Zahira bahkan sampai melempar bantal sofa padanya. Memintanya untuk menghargai orang lain.


__ADS_2