
Aku baru saja sampai dirumah dan si gila itu menelfonku lagi. Menyuruhku datang ke rumahnya. Tentu saja aku menolak, ini bukan jam kerjaku lagi. Tapi lihat apa yang dilakukannya, menyuruh Jimi datang menjemputku.
"Maaf Za... Ini diluar kendaliku. Mmm... sebentar lagi orang-orang akan datang kesini mengemasi barang-barangmu. Aku dengar kamu memiliki penguntit. Tuan ingin kamu pindah ke tempat yang memiliki keamanan yang lebih baik. "
Lihat kan! dari awal aku tidak mengerti jalan pikirannya. Dia suka sekali mencampuri urusanku. Dan aku semakin kesal saat aku tidak bisa membantahnya. Saat ini aku sudah berada didalam mobil Jimi dan mulai meninggalkan kontrakanku. Aku melihat kiri dan kanan, siapa tahu melihat penguntit itu, tapi sepertinya dia memang sudah berhenti. Aku sudah tidak melihatnya sejak saat itu.
"Tuan biasanya tidak seperti ini. Aku dengar kamu juga orang yang tidak suka bersosialisasi. Apa itu benar? "
Kalau benar kenapa? Aku meliriknya saja sekilas. Tidak berniat menjawab. Kalau sudah tahu untuk apa dia masih bertanya-tanya.
"Aku tidak tahu ini berguna atau tidak. Tapi aku akan tetap memberimu saran. Mulailah bersosialisasi, bekerja dengan tuan tidak mudah. dia terhubung dengan banyak orang. Jika kamu bersikap acuh pada rekan bisnis kita itu akan membuat masalah pada perusahaan."
"Bukankah aku hanya harus melakukan perintah si gila itu? kenapa harus menghadapai orang-orang. Lagi pula dia yang memaksaku bekerja padanya."
"Maaf...si.. si gila... maksudmu... TUAN? KAMU MEMANGGILNYA SI GILA!! "
Ah... ngomong-ngomong dia yang menyuruhku tetap kurang ajar dan tidak perlu formal. Kenapa si Jimi ini begitu terkejut?
Telingaku sakit mendengar suara menggelegarnya. Apa tenggorokannya tidak sakit?
"Dengar! Aku mohon jaga juga sopan santunmu. Selain dia atasan kita, dia juga lebih tua darimu. "
Aku tidak mengidahkannya. Ponselku bergetar, Wewen menelfonku.
"Aku sedang dalam perjalanan, Temui aku di taman pusat kota saja satu jam lagi. Aku malas ke tempatmu."
"Apa maksudmu malas, kenapa malah memutar ke taman kota yang lebih jauh."
"Aku pindah! bertemu disana saja. Aku tutup."
Aku memutus sambungan dan menaruh kembali ponselku. Aku lirik Jimi yang tampak masih kesal. Dia benar-benar mengagungkan bosnya ya?
"Maaf! Aku akan memperbaiki cara bicaraku."
Kulihat Jimi tampak terkejut di awal. Ia bahkan sampai menoleh sesaat sebelum fokus lagi ke jalan.
"Oh! Ok... itu lebih baik."
Kami memasuki kawasan gedung apartement dan aku mengenali tepat ini.
"Kenapa kita ke sini? "
"Apa maksudmu? bukankah tadi sudah kujelaskan? "
"Ya! Tapi kenapa ke tempat yang sama di mana si gi_ maksudku bosmu itu tinggal?"
Jimi tampak tidak yakin juga, dia memperlihatkan ekspresi aneh. Dia kenapa sih?
__ADS_1
"Tuan...ingin kamu tinggal di sebelah unitnya."
"Itulah kenapa aku memanggilnya si gila! dia pikir dari mana aku harus membayar sewanya?"
Jimi tersenyum dan membuka sabuk pengamannya saat mobil sudah mati.
"Tidak perlu pusing, Gedung ini miliknya."
Aku tergelak, benar-benar sulit diterima. Pantas saja dia seenaknya menyuruhku pindah. Apa lagi yang menjadi miliknya selain gedung ini?
Kami sampai di lantai paling atas gedung ini. Unit paling atas yang hanya ada tiga unit apartemen.
"Lantai ini khusus tidak dijual atau disewakan. Tuan tidak suka punya tetangga."
"Dan sekarang dia punya."
Jimi tertawa pelan dan mengangguk setuju. dia menekan kode pintu masuk. Begitu pintu terbuka, ia mempersilahkan aku masuk.
"Aku akan meninggalkanmu, barang-barangmu akan sampai sekitar dua jam lagi."
Jimi keluar setelah meletakkan kunci manual dan kode pasword masuk sebelum pergi. Aku memperhatikan sekeliling rumah ini. Mewah sekali, bagaimana aku bisa tinggal disini tampa membayar? apa mungkin dia akan memotong dari gajiku?
Dua kamar tidur. Dapurnya juga mewah. Aku membuka kulkas dan lihat apa yang aku dapatkan? Apa Jimi yang mengisi kulkas ini?
Perlengkapan memasak, perlengkapan makan semuanya jelas sudah disiapkapkan sebelum aku pindah. Jika begini apa aku harus berterima kasih? rasanya aneh sekali.
Aku punya janji dengan Wewen. Aku harus siap-siap ke taman kota sebelum orang yang mengantarkan barangku datang. setidaknya aku punya waktu satu jam lebih. jarak dari tempat ini kesana sangat dekat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Kalau aku punya penyakit jantung pastinya aku sudah masuk rumah sakit. Bagaimana dia bisa-bisanya sudah ada dibelakangku saat aku menutup pintu akan keluar. Dia bahkan tidak beranjak saat aku harus lewat. Si gila ini!
"Aku punya janji"
Kenapa aku jadi tidak bisa menatapnya, sebenarnya apa yang terjadi padaku?
"Dengan siapa? "
"Teman."
"Kamu tidak punya teman."
"Jangan sok ta__"
Aku mendongak untuk menatapnya dan lihat, lidahku langsung berhenti saat tatapan tajam penuh perintah itu membungkamku. Kenapa aku selalu kalah darinya.
"Wewen! aku harus bertemu dengannya. Dia detektif yang aku sewa."
"Kamu juga menyewa detektif amatiran? Sekarang masuk dan beristirahat! Besok aku punya jadwal pagi yang padat."
__ADS_1
"Aku sudah bilang aku punya janji!"
"Aku yang akan menemuinya!"
Dia sudah gila! Aku benar-benar tidak bisa waras menghadapinya. Aku berbalik dengan kesal dan menghempaskan pintu didepan wajahnya. Kenapa aku jadi terlibat dengan orang seperti dia. Dia mengacaukan hidupku.
Aku berjalan kembali menuju ruang tamu, berbaring disini sepertiny nyaman. Wewen pasti akan terkejut bertemu dengan si gila itu. Tapi biar saja, aku mau lihat seperti apa reaksi Wewen. Apa dia akan memarahiku seperti bapak-bapak lagi?
Apa aku baru saja tertidur? kulihat ponselku yang bergetar di atas meja. Aku segera meraih dan mengangkatnya.
"Kenapa orang lain yang menemuiku?"
"Maaf... si gila itu yang memaksa, aku tidak punya pilihan! "
Wewen terdengar kesal tapi juga kawatir.
"Kenapa kamu bisa terlibat dengan penerus CG grup? kamu harusnya tidak berurusan dengnnya Za, dia... dia orang yang akan membuatmu susah."
"Apa yang dia katakan padamu? "
"Dia bilang aku tidak perlu mencari tentang orang tuamu lagi, dia bilang dia yang akan mengurusnya selaku pacarmu. Sejak kapan kamu pacaran dengannya? setahuku kamu bahkan tidak punya teman dekat! "
Kali ini aku tidak bisa tidak terkejut. Aku langsung bangkit dari acara berbaringku.
"Apa-Apaan si gila itu! Dengar! Aku bukan pacarnya?! "
"Dia memaksamu? "
Aku terdiam. Bukan karena pertanyaan Wewen, tapi lebih ke nada bicaranya yang terdengar sedih.
"Ada apa denganmu? Apa yang dia lakukan padamu? "
"Tidak ada, Aku hanya kawatir, aku tahu siapa dia. Dia sudah terkenal diantara para detektif seperti kami. Dia cukup ditakuti karena... dia sedikit aneh. Tidak bisa ditebak. Aku harap kamu berhati-hati dengannya."
"Jangan terlalu kawatir, aku bisa menjaga diri."
"Ini tidak sesederhana yang ada dikepalamu, Za. Sudahlah, istirahat saja. Anton tadi menelfonku. Aku sudah bilang padanya kamu tidak mungkin membantunya. meskipun kamu mau itu tidak mungkin lagi. Kabari aku jika ada sesuatu. "
"Kenapa harus mengabarimu? kamu bukan waliku. "
"Kamu ini! pokonya kabari aku jika terjadi sesuatu, Ok! "
Wewen masih menghawatirkan aku ternyata. Aku hanya bergumam pelan sebelum mematikan sambungan.
Mengingat Kenzo aku jadi berfikir panjang. bagaimana aku bisa sebodoh ini jatuh dalam permainannya?
Aku tahu tidak ada apapun diantara kami. Aku membencinya, yang aku tidak mengerti apa yang ia inginkan dariku?
__ADS_1
Aku tahu ini bukan masalah cinta atau semacamnya. Kenzo itu tidak punya hati, aku bisa melihatnya. Pasti ada sesuatu yang aku tidak ketahui.
Aku membuka surat yang dikirim orang tak dikenal itu sekali lagi, juga menatap satu persatu foto yang sekarang aku tempel di kaca. ini sangat membingungkan, apa hubungan orang yang membuangku dengan grup Adira? Atau... orang yang mengirim foto-foto dan surat ini hanya menipuku?