
Sadam baru keluar dari ruang rawat inapnya ketika ia melihat ada seorang dokter keluar dari lift di ujung lorong dan berjalan ke arahnya tampa menghanpiri meja perawat terlebih dahulu. Ia berdiri di sana karena bosan menunggu Kenzo yang masih di kantor sementara Zahira di ruang rawat ibu Kenzo, membantu sang ibu berkemas.
Dokter itu memakai masker dan sarung tangan, berdiri di hadapan Sadam saat ini.
Sadam hanya menatapnya datar, Ia masih berdiri dengan selang impus dan memegang perutnya dengan tangan lain. Dua pengawalnya di depan pintu masih mengawasi mereka.
"Kenapa anda bangun tuan? Silahkan kembali ke tempat tidur karena saya akan melakukan pemeriksaan terakhir pada luka anda," ujar dokter itu.
Sadam berdecak malas sebelum masuk ke ruangannya, ia sebenarnya sedikit mencurigai dokter itu karena suaranya berbeda dengan dokter sebelumnya. Namun kecurigaannya terlambat saat pintu di kunci dari dalam dan sang dokter menyeringai padanya saat Sadam berbalik.
"Ah ... jadi aku target kalian sekarang?" kata Sadam dengan santainya.
Sadam melirik pintu yang di gedor dari luar karena pastinya pengawalnya sudah curiga karena pintu yang tiba-tiba di kunci. Sadam tersenyum sebelum menghindari dokter gadungan yang hendak menusuknya kembali.
"Akh ... ssstt..."
Sadam meringis karena rasa perih. Tubuhnya menabrak tiang impus dan berakhir impusnya tercabut. Tetesan darahnya mengotori lantai dan ia memegang perutnya yang terasa sangat sakit.
Laki-laki itu tidak memberinya istirahat, tubuhnya di tendang dari belakang sehingga ia tersungkur. Gedoran di pintu berubah menjadi dobrakan namun mereka belum berhasil.
Laki-laki itu menghampirinya dengan pisau di tangannya, berjongkok dan menginjak perut Sadam yang terluka. Sadam berteriak nyaring sebelum matanya melotot pada pisau yang sudah melayang ke arah jantungnya. Dengan sekuat tenaga Sadam menahan tangan laki-laki itu meskipun pandangannya sudah berkunang-kunang. Bekas jahitan di perutnya kembali mengeluarkan darah yang banyak.
"Siaal...!" geram Sadam.
Sekuat tenaga ia mendorong tangan laki-laki itu dan mendorong tubuhny ke samping. Sadam bangkit dengan tergopoh-gopoh sebelum kembali di tendang di perutnya sehingga ia kembali tersungkur. Saat tangan laki-laki itu kembali melayangkan pisau, pintu menjeblak terbuka dan pengawalnya segera menendang tangan laki-laki itu. Laki-laki yang terpojok itu akhirnya melompat keluar jendela dan lari melewati balkon luar menuju kamar sebelah dan lari. Pengawal lain yang berjaga di pintu ruang ibu Kenzo segera mengejarnya.
Zahira yang sudah masuk ke dalam ruang inap segera membantu Sadam kembali ke ranjang dengan dua perawat yang segera melakukan pertolongan pertama sebelum rombongan dokter masuk ke dalam ruang rawat Sadam dan kembali mendorongnya ke ruang operasi.
Zahira dan ibu Kenzo di hadang dua pengawal ketika akan mengikuti Sadam yang di bawa.
"Tetap di kamar Nyonya ... Nona ... anda akan dalam bahaya jika berada di luar pemantauan. Sebagian besar pengawal sedang mengawal tuan Sadam. Tolong jangan kemana-mana sebelum tuan Kenzo tiba."
Zahira tentu saja frustasi. Dia menghawatirkan Sadam yang penuh luka dan nyaris kehilangan kesadarannya. Ibu Kenzo bahkan sudah menangis. Zahira akhirnya berbalik dan membawa ibu ke ranjang dan menenangkannya.
__ADS_1
"Ken ... " lirihnya saat panggilan di telfon ia angkat.
"Aku dan ibu tidak apa-apa. Tapi Sadam ... "
Zahira hanya mengangguk saat Kenzo menenangkannya dari sana. Ketika telfon di matikan ia menatap pintu yang terbuka. Di sana berdiri dua pengwalnya yang biasa. Salah satu mendekati mereka dan memberikan sekaleng minuman dingin.
"Terima kasih," ujar Zahira.
Ia membukakan minuman itu untuk ibu Kenzo yang sedari tadi diam saja, tampaknya masih terkejut dan ketakutan.
"Ibu ... jangan kawatir, Za di sini dan kita akan baik-baik saja. Sadam juga akan baik-baik saja." ujar Zahira dan menyodorkan kaleng minuman.
"Ibu hanya syok melihat banyaknya darah Sadam ... jika terjadi sesuatu padanya ... Kenzo akan membenci ayah dan kakaknya seumur hidup."
Zahira tersentak dengan jawaban ibu Kenzo. Itu artinya ia masih mengharapkan suami dan anaknya kembali padanya. Tapi Zahira bahkan tidak yakin dengan begitu banyaknya hal yang terjadi bahkan ayah Kenzo tidak peduli istri dan anaknya hidup atau mati.
Perasaan cinta memang rumit. Meskipun ada kemarahan dan kebencian namun sepertinya cinta lebih mendominasi perasaan ibu Kenzo. Tentu saja tidak mudah menghapus perasaan seseorang, namun melihat penderitaan ibu Kenzo yang di campakkan dan di hianati seperti ini membuat hatinya sakit. Tampa sadar air matanya jatuh begitu saja dan memeluk ibu Kenzo sambil terisak.
"Ibu ... ibu maafkan Za yang tidak mengerti ... hik hik!" isaknya.
"Maaf karena Za tidak mengerti perasaan ibu. Kami ... kami bahkan tidak memahami perasaan ibu. Malah sibuk dengan dunia sendiri ..."
Ibu Kenzo malah tersenyum, ia mengerti apa maksud perkataan calon menantunya.
"Tolong jaga Kenzo dengan baik, setidaknya ibu masih memiliki kalian. Kenzo yang lebih berwarna dan lebih hangat ... ibu justru berterima kasih padamu,"
Zahira melepaskan pelukan itu dan menatap ibu Kenzo dengan mata berair dan hidung merahnya.
"Ya ampun ... untung ibu yang di hadapanmu, kalau Kenzo sudah pasti akan memakanmu dengan wajah lucu ini," goda ibunya untuk mengalihkan suasana.
" Apanya ... dia__"
Obrolan mereka terhenti saat pintu kembali terbuka dan Kenzo segera memeluk Zahira dengan erat. Mengabaikan ibunya yang menggeleng dan berdecak malas.
__ADS_1
"Bucin!" kata ibunya.
"Lepas Ken ... aduh aku sesaak!" kesal Zahira.
Kenzo melepaskannya dan menatap wajahnya dengan kening berkerut. Namun sebelum mengintrogasi kekasihnya, ia beralih pada ibunya.
"Ibu baik-baik saja?" tanyanya dengn nada kawatir.
"Tentu, mereka tidak menargetkan kami."
Kenzo menghela napas mengangguk sebelum atensinya kembali pada wajah Zahira yang habis menangis. Dengan masih berlutut ia menangkup wajah itu dan menatapnya intens.
"Kenapa menagis?" tanyanya tajam.
"Tidak ada apa-apa ... lepas Ken ..."
Zahira berusaha melepas tangan Kenzo namun cengkraman tangan besar itu sangat kuat di kedua sisi kepalanya.
"Ku tanya sekali lagi ... kenapa menangis?"
Zahira tidak menjawab, dia malah kembali berkaca-kaca. Teringat penyebab ia menangis. Namun ia tentu saja tidak akan mengatkannya. Hal yang paling ia kawatirkan sampai sesedih itu adalah perasaan Kenzo dan ibunya yang tersakiti oleh orang yang mereka percayai.
"Nanti Ken ... nanti aku akan cerita, sekarang ayo lihat keadaan Sadam, kami sangat kawatir sedari tadi," bujuk Zahira.
"Sadam dalam perjalanan menuju SS Guard,"
"Tapi ... dia terluka dan butuh operasi kembali kan? Dia tadi perdarahan Ken ...!"
Kenzo menarik kedua tangannya dan berdiri, menatap bergantian ibu dan Zahira yang menunggu jawaban.
"Tim dokter menanganinya di perjalanan, Aku tidak bisa menunggu. Sadam bisa saja di serang di dalam ruang operasi. Di tengah perjalanan hanya satu dokter saja yang akan ikut setelah penanganan selesai. Itu yang teraman sekarang,"
"Bagaimana melakukanny di dalam ambulan?" tanya ibunya.
__ADS_1
"Ibu tenang saja, aku sudah mempersiapkan segalanya, Sekarang ayo pergi dari sini,"
Zahira dan ibunya bertukar pandang sebelum bangkit berdiri. Kenzo menggenggam tangan ibuny di kanan dan Zahira di kiri. Saat mereka keluar, mereka segera di kelilingi oleh pengawal bersenjata. Pengawal bersenjata adalah tingkat pengawalan tertinggi milik Kenzo dan tentu saja sudah mengantongi surat izin.