
Sadam duduk di depan layar, lima belas menit setelah ia menyalakan sistem SS Guard, ia menerima panggilan vidio. Kini, ia berhadapan dengan wanita yang sudah berhasil membobol sistemnya. Wanita yang dulu ia anggap bocah nakal yang selalu menggagu, kini berubah menjadi sangat cantik dan terlihat dewasa.
"Apa tujuanmu, Carla. Kenapa tidak pulang ke ibumu dan jadi gadis baik?"
Carla diam saja, ia hanya menatap Sadam dengan wajah datar. Sadam yang tidak mendapat respon menyandarkan duduknya. Matanya masih menatap layar dimana Carla masih menatapnya. Ia sama sekali tidak merasa terintimidasi meskipun Carla menatapnya tajam.
Perlahan Carla menundukkan pandangannya, detik berikutnya ia sudah merubah ekspresinya menjadi tersenyum. Hal ini tentu saja membuat Sadam bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang di rencanakannya. Meskipun dulu mereka sempat dekat, namun Sadam sadar bahwa Carla tentu saja sudah berubah banyak.
"Senang bisa melihatmu lagi, kak Sadam."
Hening cukup lama. Baik Sadam maupun Carla tetap diam.
"Ayo bertemu."
"Tidak mungkin kak Kenzo memberikan kelonggaran padamu, karena aku bisa saja melukaimu." Sadam mendengus.
"Jadi kamu memilih menjadi musuh?"
"Tidak juga," sahut Carla cepat.
"SS Guard sudah akan di ketahui oleh Dursley jika aku di pihaknya__" Carla menjeda sesaat melihat ekspresi Sadam yang tidak berubah. "Kakak tidak penasaran kenapa aku bisa mengetahui SS Guard dan membobolnya?"
"Gadis pintar sepertimu pastinya selain menggangguku saat itu juga sedang belajar dariku diam-diam, tidak masalah bagiku kamu di pihak siapa, aku tetap percaya kamu bukan ancaman."
Mendengar perkataan itu Carla tertawa, tawa yang sumbang dan memiliki nada kesedihan.
"Tentu saja, sejak dulu kamu selalu percaya bahwa aku menyukaimu lebih dari apapun. tapi sayangnya waktu terus berjalan,"
"Ya, dan di mataku hanya penampilanmu yang berubah, kamu tetap gadis kecil yang sedang lari dari ibumu," balas sadam dengan tenang.
Carla tampak terganggu, namun ia menutupinya dengan wajah sinis.
"Apapun penilaianmu ... tunggu saja kejutan dariku."
Sambungan di putus olehnya dan Sadam hanya menghembuskan nafasnya pelan.
Ia menoleh saat pintu terbuka. Kenzo masuk dan langsung duduk di sampingnya.
"Anak itu menghubungimu?"
Sadam mengangkat kedua alisnya sebelum menjawab. Ia mengangguk sedikit sebelum mendengus.
"Anak itu sedikit berubah, dia sepertinya sedang merencanakan sesuatu padaku, apa dia saat itu sakit hati karena perkataanmu?"
Mendengar hal itu Kenzo menatapnya dengan sinis. Seolah mengatakan bahwa dalang dari kepergian Carla saat itu adalah Sadam sendiri.
__ADS_1
"Aku rasa anak itu hanya memiliki dendam khusus padamu. Lacak Emailnya dan beritahu ia bahwa aku ingin berbicara."
Setelah mengatakan hal itu Kenzo memerintahkan SS Guard untuk mencari data perusahaan Dursley dan berusaha menembus pertahanan perusahaan mereka. Butuh waktu lama untuk SS Guard bekerja sampai Sadam memyadari ada penyerangan dari pihak lawan dan mereka terpaksa menghentikan pelacakan.
"Sepertinya Dursley memiliki orang jenius juga di perusahaannya."
Kenzo tidak menjawab. Dia sangat tahu jika Sadam sudah memiliki dugaan. Pandangan keduanya bertemu, berkomunikasi dalam diam sebelum keduanya memutuskan satu hal. Segera mengambil tindakan.
.
Sementara itu, di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar di dalam perusahaan Dursley, duduk seorang wanita muda cantik yang sedang memakan permen lolipop. Memakai topi dan rambut panjangnya ia biarkan tergerai. Di sekelilingnya dipenuhi komputer dan seperangkat alat komunikasi. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
Ia melirik sekilas ke arah pintu saat pintu itu terbuka. Menampilkan seorang pria dewasa memakai kaca mata tebal. Pria itu berdiri saja di depan pintu dengan wajah serius.
"Ada yang berusaha mencuri data perusahaan, kamu sudah mengetahui pelakunya?"
"Tidak, seperti yang anda lihat pak tua, dia terlalu cepat. Aku bahkan tidak sempat melacak lokasinya," jawab wanita itu.
Pria itu memasang ekspresi kesal karena panggilan 'pak tua' dari wanita itu. Matanya memicing sedikit sangsi, sejak awal tampaknya ia tidak begitu mempercayai wanita di hadapannya.
"Carla ... jangan mencoba bermain api. Bahkan jika aku tidak terlambat menyadari aku sendiri pasti tahu alamat IP penyerang! Kamu sejak pagi di sini!"
Ya, wanita itu adalah Carla. Tersenyum sinis tampa terlihat oleh rekannya itu sebelum menjawab dengan santai.
Detik berikutnya ia mendengar umpatan kasar bersamaan dengan pintu yang tertutup. Carla segera memperbaiki duduknya begitu ia mendapatkan Email. Membukanya dengan cepat dan membacanya. Dia menghapus segera Email tersebut sebelum bangkit berdiri dan keluar dari ruangannya.
Carla berjalan dengan santai memasuki area utama gedung perusahaan karena ruangannya berada di bagian belakang. Melewati beberapa area divisi pemasaran sebelum berbelok menuju lobi. Langkahnya terhenti begitu saja saat ia berpapasan dengan Susan.
Keduanya saling lempar tatapan dingin. Susan tampak jelas tidak menyukainya. Begitupun Carla yang seakan memandangnya dengan wajah menantang.
"Jelata sepertimu harusnya membungkuk hormat pada majikannya," sindir Susan.
"Yang membayarku hanya ayahmu, bos ku hanya dia. Tapi ... jika kamu mau kamu bisa bicara padanya untuk menyingkirkanku. Itupun ... jika dia mau mendengarkanmu," jawab Carla dengan nada meremehkan.
Susan sudah mengepalkan kedua tangannya, hal itu tidak luput dari pandangan Carla. Seorang pria menghampiri mereka, dia adalah asisten sekaligus bodyguard Susan.
"Apa saya perlu mengambil tindakan nona?" tanya pria itu.
"Tidak perlu meladeni sampah, ayo pergi."
"Sayangnya sampah ini lebih berharga dari nyawamu," sahut Carla.
Susan yang tadi sudah melewatinya berhenti dan berbalik. Dengan emosi ia menghampiri Carla dan melayangkan tamparan keras ke pipi kanannya.
Hal itu tentu saja menarik perhatian beberapa orang yang sedari tadi lalu lalang. Mereka mengenal anak atasan mereka dengan pembawaan yang tenang dan elegan. Tidak menyangkan ia akan melakukan tindakan yang menyakiti orang lain.
__ADS_1
Carla melirik dua sosok yang muncul dari arah kanan melalui sudut matanya. Ia menyeringai sesaat sebelum meringis dan mendramatisir suasana.
"Jangan pernah membandingkan dirimu denganku!" desis Susan dengan wajah memerah dan rahang mengeras.
"Nikmati harimu nona besar," balas Carla sebelum ia memutar arah tubuhnya dan memberi sapaan kepada Dusrsley yang baru saja sampai di antara mereka.
Susan menatap Carla dengan masih menahan amarah sebelum ikut menghadap ayahnya dan memberikan sapaan. Sayangnya ayahnya tidak menanggapinya.
"Aku dengar ada penyusup."
Carla mengangkat kepalanya dan menatap dengan berani atasan yang selalu ditakuti seluruh karyawannya itu.
"Ya, sayangnya lokasi dan alamat mereka hilang begitu saja. Itu artinya ... pelakunya bukan sembarangan. seperti sudah terrncana, pelakunya juga mengenali sistem keamanan perusahaan yang dipakai sejak dulu."
"Itu bukan alasan untuk menutupi kecerobohanmu!" potong Susan.
"Kecerobihan? bahkan jika aku tidak menggunakan otakku, mereka sudah berhasil mencuri data perusahaan." sahut Carla dengan santai.
"Aku akan kirimkan perintah lewat pesan, lanjutkan pekerjaanmu!" kata Dursley dan berlalu tampa memperdulikan putrinya.
Susan menatap kepergian ayahnya dengan mata terluka, namun ia menyembunyikannya dalam ekspresi angkuhnya. Hal itu tentu saja tidak luout dari perhatian Carla. Namun ia diam saja dan pergi begitu saja.
.
Zahira sedang berada di supermarket bersama satu orang pengawal di sebelahnya dan 5 lainnya berpencar di sekelilingnya. Dia sedang memilih buah saat tidak sengaja seorang wanita yang lebih muda darinya menjatuhkan ponselnya didekatnya.
Zahira segera mengambil ponsel itu dan menepuk pundak wanita itu. Wanita dengan rambut panjang dan memakai topi bermotip garis. Wanita itu menatapnya bingung sebelum Zahira memperlihatkan ponselnya.
"Ponselmu terjatuh," kata Zahira
"Oh ... terima kasih. Aku selalu saja ceroboh."
Zahira menanggapinya dengan anggukan pelan. Saat hendak berbalik, ia mematung sesaat setelah wanita itu memanggilnya dengan nama yang benar.
"Kamu ... mengenalku?" tanya Zahira.
"Tentu, wajah kakak beberapa kali muncul di televisi. Aku juga mengikuti kasus pembunuhan orang tua kakak, dan ... turut berduka."
Keduanya saling pandang beberapa saat sebelum Zahira tersenyum sedikit untuk memberi tanggapan. Dalam hati tentu saja ia tidak sepenuhnya mempercayai wanita di hadapannya itu.
"Kenalkan, aku Carla asmiranda sean. Kakak bisa memanggilku Carla saja."
Carla mengulurkan tangannya dan di sambut dengan enggan sebelum pengawalnya menyuruhnya untuk segera bergegas. Mereka berpisah di sana.
Carla yang saat ini masih berdiri melihat kepergian Zahira, menyunggingkan senyum misterius. Seakan dari senyuman itu tersimpan rencana-rencana.
__ADS_1