Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
SS Guard


__ADS_3

Sudah seminggu ini Zahira tidak bertemu Kenzo maupun Sadam. Mereka berdua disibukkan dengan proyek rahasia mereka mengenai SS Guard yang sedang di sempurnakan. Kenzo memang sering menghubunginya dan sudah menempatkan beberapa pengawal lagi di dekat Zahira seperti dulu. Tidak diam-diam lagi seperti saat mereka sedang ada masalah.


Zahira juga tidak bisa mengunjungi mereka karena perusahaannya berada pada proyek besar yang menyita banyak waktunya. Meskipun masih ada Tomi yang tidak jadi di ambil Kenzo lagi, Zahira tetap harus lembur setiap hari untuk menyelesaikan banyak pekerjaan.


Pintu ruangannya di ketuk tiga kali, sekretaris barunya Diana muncul di depan pintu yang terbuka bersama dua orang pria di belakangnya. Zahira mengangguk dan menyuruh Diana kembali ke tempatnya.


"Sudah lama tidak bertemu, Za ... kelihatannya kamu sedang sibuk. Apa kami mengganggu?"


Zahira tersenyum tulus, hal yang membuat dua pria di depannya yang tidak lain adalah Wewen dan Anton bertukar pandang.


"Sejak kapan dia bisa tersenyum begitu?" gumam Wewen.


"Mungkin otaknya sudah bergeser akibat lama di dalam sangkar emas pacarnya," sahut Anton tampak tidak yakin.


Zahira mendengus dan bangkit dari kursinya, mengajak Wewen dan Anton duduk di sofa ruangannya.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Zahira tampa basa basi.


"Seperti biasanya tampa basa-basi. Zahira berhati dingin kembali?" ledek Wewen yang mendapatkan delikan malas.


"Aku ingin tahu apakah Sadam mendapatkan sesutu? Kami seperti kehilangan jejak melacak Dursley dan kelompoknya. Mereka seperti berhenti beraksi. Tidak ada transaksi perdagangan manusia, prostitusi terselubung, bahkan penjualan obat-obatan dan senjata juga seperti di hentikan. Atau kami yang tidak bisa membaca pergerakan mereka?" kata Anton panjang.


"Ngomong-ngomong di mana Sadam? dari yang aku dengar dia selalu di sini?" tanya Wewen.


"Sedang bersama Kenzo, Aku juga tidak tahu apa rencana mereka. Dursley juga beberapa waktu ini tidak mengintaiku lagi. Sadam bilang ini seperti bom waktu. Kami yakin mereka sedang merencanakan sesuatu. Sadam sedikit sibuk, dia tidak begitu mengurusi Dursley, Kenzo juga hanya menyuruh orang-orangnya selalu siaga. Memang belum ada pergerakan," kata Zahira menjelaskan. Wewen sudah akan bicara namun terhenti saat ponselnya berdering di atas meja.


Zahira bangkit dan mengambil ponselnya. Melirik sekilas dua pria yang sedang menatapnya sebelum mengangkat panggilan telepon.


"Halo_"


"Sedang apa mereka di ruanganmu?"


Zahira menghela napasnya, Kenzo sudah kembali ke sifat posesif dan mengekangnya seperti dulu. Bahkan Tomi yang sudah biasa bersamanya harus menjaga jarak darinya saat berbicara. Kenzo itu memiliki banyak mata di perusahaannya. Belum lagi dua pengawal yang selalu mengawasinya melaporkan apapun yang sedang di lakuakannya. Meskipun kesal, nyatanya Zahira tidak menolaknya ataupun beradu argumen seperti dulu. Zahira cenderung pasif dan menerima saja. Sepertinya efek cinta membuat tabiat kerasnya luluh begitu saja.


"Mereka hanya membicarakan tentang penyelidikan Dursley dan kelompok mafia itu ... tidak ada yang lain," kata Zahira. Wewen dan Anton bertukar pandang dan tampak memutar bola mata. Reaksi meremehkan Zahira yang aeperti tidak berkutik di hadapkan dengan kekasihnya.


"Suruh mereka datang padaku jika ingin tahu, kenapa datang padamu?"


Suara Kenzo mulai tidak bersahabat dan terdengar kesal.


"Aku akan menyuruh mereka, bolehkan aku tutup?"


"Kamu kesal? bukankah aku yang harusnya marah di sini?"


"Maaf, tapi Ken serius! mereka bukan orang yang harus kamu kawatirkan, Sungguh."


"Mereka laki-laki dewasa, suruh pergi sekarang juga sebelum aku memukul mereka."


Zahira memutar matanya dan menghembuskan napas pelan nyaris tak terdengar.


"Ya ... aku akan lakukan," pasrahnya.


"Sore ini aku jemput, apa Sadam ada menghubungimu?"


"Tidak, bukankah kalian selalu bersama dan tidak pulang-pulang?"


"Tidak juga, kami beberapa kali pulang untuk mandi,"


Zahira mendengus dan mengumpat dalam hati. Dengan kesal dia mematikan sambungan dan cemberut. Luar biasa tampak kesal.

__ADS_1


"Ada perlu lagi tidak? kalau tidak sebaiknya pulang sebelum beruang itu datang dan menggigit," kata Zahira masih dengan wajah merengut kembali duduk di sofa tadi. Ponselnya kembali berbunyi namun ia abaikan.


"Tidak ada, hanya saja kami ingin meminta bantuanmu untuk akses masuk ke gudang yang perusahaanmu miliki di jalan Serdadu, Kami harus menyelidiki sesuatu di sana, tenang saja ... ini kasus yang berbeda," kata Anton.


"Wewen ... kamu kembali ke kepolisian?" tanya Zahira.


Wewen mengusap tengkuknya dengan canggung dan tersenyum pasrah setelahnya.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Ibuku ... ibuku menjadi tertuduh kasus penyelundupan barang ilegal. Ibuku adalah investor dan dia bekerja sama dengan investor lain dalam pengadaan barang yang di pesan oleh pemerintah. Namun KPK melaporkan ada penyelundupan beberapa barang antik dan sebuah peninggalan sejarah yang di lindungi."


"Lalu kenapa dengan gudang kami?" tanya Zahira lagi.


"Karena salah satu karyawanmu yang bekerja di sana terlihat di CCTV saat barang datang di pelabuhan. Dia tertangkap kamera memasuki kapal. Masalahnya pria itu tidak terdaftar sebagai karyawan dari dua investor ini. Kami mencurigai bahwa ada barang lain yang disembunyikan di sana, kami juga meminta izinmu untuk memeriksa CCTV di sana diam-diam," kata Wewen lagi.


"Lalu ibumu ... di kantor polisi?"


Wewen mengangguk, Zahira memberikan anggukan singkat dan jelas dia kawatir melihat pria yang sudah di anggapnya teman itu berwajah sendu seperti itu.


"Lakukan apapun, selamatkan ibumu yang tidak bersalah," kata Zahira.


"Terimakasih," kata Wewen dengan senyum tulusnya.


Setelah mereka pergi, Zahira menatap ponselnya yang terus saja bergetar karena dia sudah mematikan nadanya. Dia memeriksa ponselnya dan menggeleng pelan.


"Beruang es menyebalkan ini, 21 panggilan dan 14 pesan ... menyeb_"


Belum selesai ia berbicara pintunya terbuka dan menampilkan dua pengawalnya yang tampak ketakutan. Salah satu menghampirinya dan segera menyodorkan ponsel yang masih terhubung dengan nama tuan besar di layar. Siapa lagi pemilik panggilan itu kalau bukan Kenzo. Zahira mendelik tidak suka namun tetap mengambil ponsel dan menempelkannya ke telinga.


"Apa!" katanya sewot.


"Menurutmu?"


Nah, kalau sudah begini Kenzo akan mati kutu. Semenakutkan apapun aura yang ia keluarkan ia akan seperti orang linglung saat Zahira marah dan dia tidak mengerti penyebabnya.


"Akan aku tutup kalau kamu diam saja!" kata Zahira tegas karena Kenzo hanya diam saja, tampaknya pria itu sedang bingung dan berfikir keras. Zahira bahkan mendengar suara tawa tertahan samar, ia yakin Sadam sedang mengejeknya.


"Hei ... aku kesana sekarang, ok. Tetap di tempatmu,"


Sambungan di matikan, Zahira menyerahkan ponsel pengawalnya dan menyuruhnya keluar.


Hanya lima belas menit, pria yang tadi menelfonnya sudah ada di hadapanya dengan seikat bunga mawar besar di tangannya. Zahira bersandar di kursinya dan menatap tajam pria di jadapannya.


"Cepat sekali, apa kamu menyingkirkan pengguna jalan lainnya?" sinis Zahira.


Kenzo meletakkan bunganya di atas meja dan memutari meja sehingga ia berdiri di samping Zahira yang sedang menatap malas bunga mawar itu. Dia tidak begitu suka bunga dan yang manis-manis memang bukan gayanya sama sekali.


Kenzo menarik tangannya sampai ia berdiri dan langsung memberikan pelukan. Membisikkan kata maaf yang sebenarnya dia tidak tahu salahnya di mana. Zahira tidak membalas namun tidak juga menolak. cenderung pasif dan tidak peduli.


"Jadi, apa salahku?" tanya Kenzo setelah melepaskan pelukan dan menatap lurus iris kelam di hadapannya.


Zahira tidak menjawabnya, dia hanya melepaskan diri dan mengambil tasnya. Berjalan duluan keluar dan berkata pelan.


"Ayo pulang."


Kenzo benar-benar bingung, dia bahkan tidak tahu apa kesalahannya.


"Ada apa dengannya," tanyanya pada diri sendiri.

__ADS_1


Sesampainya depan lift, Kenzo menarik tangannya menaiki tangga menuju rooftof. Zahira pasrah saja, tidak tahu apa lagi yang hendak di lakukan prianya itu. Saat membuka pintu rooftof barulah ia mengerti mengapa pria yang kini masih menarik tangannya itu bisa datang dengan waktu yang cepat. Di hadapannya terparkir helikopter yang masih menyala.


Setelah mereka menaikinya, helikopter kembaki mengudara. Zahira melirik pria di sampingnya yang sedari tadi sibuk memandanginya. Mendengus pelan sebelum melempar pandangan kepada hamparan gedung di bawah sana. Mereka terbang tidak terlalu tinggi, Sesampainya di atas gedung yang Zahira tahu adalah milik Kenzo, helikopter turun dan terparkir di sana.


Zahira dan Kenzo turun ke lantai di mana penyimpanan berkas dan data berada. Kenzo menekan tombol di dinding dan seperti biasa, dinding terbelah dan menunjujkan lift tersembunyi. Zahira hanya mengikuti saja saat lift mulai turun entah ke lantai berapa.


"Kalian sampai?"


Zahira mengernyit heran saat keluar dari lift di hadapkan dengan ruangan yang di batasi kaca satu sam lain. Tampak Sadam berada di tengah yang di kelilingi oleh ratusan monitor. Pintu terbuka begitu saja saat Kenzo mengatakan buka.


"Duduklah yang manis Za, kita akan menyaksikan sesuatu yang sangat seru," kata Sadam dengan kekehan senang di akhir.


Zahira menatap Kenzo meminta penjelasan, namun yang di tatap hanya menatapnya balik dengan seringai misterius sebelum menuntunnya duduk di sofa yang ada di sana.


"It's show time," bisik Sadam sebelum menekan layar sentuh monitor di hadapannya dimana hanya ada satu tulisan besar bertuliskan "STAR"


Sesaat ruangan menjadi gelap gulita, kemudian terdengar suara seorang laki-laki yang mirio seperti suara penerjemah di google namun lebih dalam dan tegas.


"Program di aktifkan, selamat datang di SS Guard tuan Kenzo, Tuan Sadam dan Nona Zahira."


Lampu di nyalakan dan semua menjadi berbeda. Ruang kaca tadi berubah menjadi dinding padat dan mereka seolah terkurung dalam suatu ruangan yang secara keseluruhan adalah layar monitor. Zahira bahkan sudah tidak tahu di mana pintunya.


"Tunjukkan padaku seluruh data keuangan Adira grup," kata Kenzo.


"Memulai pemindaian data," ucap suara komputer dan hanya beberapa detik saja. Semua data penjualan, keuntungan dan laporan seluruh keuangan perusahaannya terpangpang di layar.


Zahira melongo dengan takjub di tempatnya, bahkan tampa sadar menggumamkan kekagumannya.


"Kita akan memulai menghancurkan Red wine mulai sekarang," ucap Kenzo yang di angguki oleh Sadam. Mereka bertiga bertukar pandang sesaat sebelum pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan Zahira.


"Apakah ini yang kalian kerjakan sehingga kalian mengabaikan pergerakan mereka?"


"Benar" jawab Sadam.


"Lalu apa saja yang bisa di lakukan SS ini?"


"Apapun yang ingin kamu ketahui, dia di program untuk menjadi hacker handal dengn otak cerdas yang terus di sempurnakan. Dia akan mematuhiku dan Sadam," jawab Kenzo.


"Dia juga mengatur seluruh gedung, mulai penguncian otomatis sampai pemusnahan diri sendiri. Kami membuatnya menguasai gedung ini," lanjut Sadam.


"Ini lantai berapa?" tanya Zahira lagi.


"Ruang bawah tanah yang menjadi pusat kendali sekaligus." jawab Sadam.


"Tunjukkan padaku masa-masa remaja Zahira di sekolah," ucap Sadam dengan seringai jahilnya.


"Pemindaian di lakukan," jawab suara komputer.


Hanya butuh waktu satu menit beberapa foto dan datanya saat remaja yang tersimpan dalam data base sekolah tertera di sana.


"Dari dulu kamu sudah manis," puji Kenzo tampa sadar wajah Zahira yang sudah memerah.


"Bisa hentikan, kenapa dia bahkan mendapatkan foto yang di ambil oleh teman-teman saat aku latihan."


Sadam terkekeh pelan, berbeda dengan Kenzo yang mulai tampak terganggu.


"Sepertinya kamu banyak di sukai diam-diam, apa dulu kamu sangat galak sehingga mereka hanya bisa mengagumimu dari jauh begini?" kata Sadam dengan tawa mengejek.


"Hentikan, tutup semua kembali dan tunjukkan padaku anggota organisasi Red wine,"

__ADS_1


Baik Sadam dan Zahira menatap Kenzo yang mulai serius. Sadam tahu Kenzo hanya cemburu, namun Zahira yang merasakan aura yang mencekam mengira Kenzo sedang mulai mode seriusnya. Mereka bertiga akhirnya menatap satu persatu foto sekaligus profil para anggota organisasi gelap itu.


__ADS_2