Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Rahasia Carla


__ADS_3

Zahira masuk ke dalam apartement diikuti para pengawalnya. Ia duduk di sofa sementara salah satu pengawal mengambil belanjaan dan menyusunnya di dapur. Zahira meraih ponsel di tasnya untuk menghubungi Kenzo.


"Ini sudah jam makan malam, kamu tidak pulang?" tanya Zahira saat panggilannya diangkat.


Wajahnya muram dan berdecak malas. Entah kenapa sejak menikah Kenzo lebih sibuk dari sebelumnya. Zahira juga sibuk tentu saja, hanya saja perubahan Kenzo sangat terlihat setelah menikah. Tidak seperhatian sebelumnya. Bahkan Sadam yang sering memberikan kabar dimana mereka berdua berada.


"Apa yang dilakukan mereka?" gumamnya pelan.


Tidak ingin larut dalam pemikirannya, ia bangkit menuju kamarnya, keinginannya untuk memasak makan malam hilang. Ia hanya ingin tidur saat ini. Masa bodoh dengan Kenzo, dia tidak ingin menunggu dan berakhir ketiduran lagi di sofa yang dingin.


Pukul satu dini hari, Kenzo memasuki apartement. Para pengawal Zahira yang bertugas malam sedang duduk di ruang tamu. Mereka segera bangkit saat Kenzo datang, memberikan salam hormat sebelum izin keluar meninggalkan apartement.


Kenzo membuka pintu kamar perlahan, ia tahu Zahira sudah tidur. Tidak ingin mengganggu, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa menit, Kenzo tampak lebih segar. Ia sedang menggosok rambut basahnya sambil memasuki walk in closet. Tidak menyadari Zahira yang sudah terbangun dan menoleh padanya.


Usai memakai piama, ia keluar dan sedikit termangu melihat istrinya menatapnya tajam.


'Oh tidak, ini terlihat tidak baik' katanya dalam hati.


"Kenapa terbangun?" tanyanya dan berlutut. Mensejajarkan tingginya dengan Zahira. Ia menggenggam tangannya dan tersenyum membalas tatapan tajam itu.


"Apa yang sedang kamu kerjakan? kenapa selalu pulang larut dan terus saja mengabaikanku?"


Zahira memang tidak menaikkan nada bicaranya, ia berkata dengan sangat datar. Namun Kenzo tahu ada kemarahan luar bisa disana.


"Maaf,"


"Tidak butuh maafmu, jelaskan saja!"


Oke! ini jelas tidak baik. Zahira tampak diluar kepribadiannya saat ini. Kenzo jadi bingung sendiri.


"Menyelidiki sayang _ kami sedang membuat program baru yang tidak diketahui pihak Dursley. Mereka memiliki orang yang setara Sadam, kami harus berfikir keras untuk meretas data mereka. Itu satu-satunya jalan untuk menjatuhkan organisasi Red Wine. Jelas ... pak presiden kita terlibat di dalamnya. Mereka bukan lawan yang mudah."


Zahira menatap manik kelam itu lama sebelum meraih pipi itu dengan tangannya yang kecil.


"Kalau begitu kamu bisa berhenti,"

__ADS_1


"Tidak sayang! Kita tidak bisa berhenti. Lawan atau mereka akan memusnahkan kita."


"Aku hanya muak ... aku ... aku hanya ingin bebas kemanapun tampa kawatir."


Sadam bangkit dari duduknya dan duduk di samping Zahira. Meraihnya masuk kedalam pelukannya.


"Ini salahku, maaf."


Zahira diam saja, ia hanya merasa lelah. Ya, sangat lelah entah kenapa. Dunianya hanya perusahaan dan Kenzo. Dia juga tidak bisa kemanapun dengan bebas tampa pengawalan. Zahira mengangkat tangannya guna melepaskan diri. Menatap Kenzo dalam.


"Selesaikan dengan cepat ... dan libatkan aku."


"Za ... "


"Aku tidak ingin jadi idiot sendirian, Ken_" tekannya.


"Ini berbahaya!"


" Dan apakah aku terlalu lemah bagimu?"


"Bukan begitu, aku hanya tidak_"


Kenzo tentu saja tidak setuju, namun jika ia menolak. Zahira akan melibatkan diri tampa sepengetahuannya dan itu akan jauh lebih berbahaya. Maka ia hanya mengangguk pasrah.


Malam itu, mereka tidur dengan pikiran kalut masing-masing. Meski saling memeluk, baik Zahira maupun Kenzo tidak ada yang merasa tenang.


.


Dursley sedang duduk pagi ini bersama dua orang. Seorang mentri dan seorang yang selama ini identitasnya tersembunyi dalam organisasi mereka.


Dengan elegan ia meminum teh. Sudah lewat beberapa menit tampa bicara. Dursley yang selalu pongah tampak sedikit canggung.


"Aku dengar kamu memiliki orang bagus, seberapa bagus dia dalam memyembunyikan rahasia?"


"Dia masih muda dan hacker pintar. Diantara dunia gelap namanya cukup diperhitungkan," Dursley menghentikan perkataannya saat ia menangkap gelagat tidak puas dari sang presiden.


"Aku sudah selidiki latar belakangnya, tampaknya kamu melewatkan sesuatu," ucap sang mentri.

__ADS_1


Dursley mengerti mengapa ia ada disana, tampaknya ada sesuatu yang lakukan dan sang mentri yang mendapatkannya. Tentu saja, menjilat adalah keahlian mereka.


Sang mentri meletakkan sebuah foto atas meja. Itu adalah foto ketika Carla SMA bersama Sadam. Sebenarnya, satu-satunya foto yang berhasil di abadikan Carla dan pernah mengunggahnya di media sosial.


"Aku dengan kesulitan mendapatkannya karena gadis kecilmu itu sudah menghapus akun lamanya, bagaimana menurutmu? merangkul mata-mata lawanmu sendiri?" kata mentri dengan sinis.


Dursley mengalihkan tatapannya pada Presiden yang tampak acuh, wajahnya datar dan terus menikmati tehnya.


"Saya akan menyelidikinya pak, saya bisa menjamin tidak ada kebocoran data apapun. Mata-mata ... saya masih belum yakin. Karena saya menempatkan orang mengawasinya."


"Kalau begitu kamu bisa mencari tahunya untuk membuatku tenang. Kamu tahu aku tidak suka ada kesalahan. Kenzo itu ... mereka sudah tahu identitasku. Aku harap kali ini kamu tidak bersikap lunak hanya karena ia anak yang kamu inginkan. Meskipun dia anak salah satu anggota, musuh tetap musuh."


Dingin dan penuh ancaman. Perkataan presiden penuh penekanan akan perintah. Presiden yang sudah berdiri menatap Dursley sesaat sebelum meninggalkan mereka.


"Tampaknya kamu semakin tua, Tuan Dursley."


Itu adalah kalimat ejekan. Hendra nasir, mentri BUMN itu terkekeh sebentar sebelum ikut pergi. Meningglkan Dursley dengan pikirannya.


Bagi organisasi mereka, hacker adalah ancaman nyata. Karena jika informasi bocor sedikit saja, mereka akan kesulitan menangani opini publik. Karena karir mereka di pemerintahan harus bersih. Itulah yang selalu ditekankan oleh pimpinan mereka, tentunya Presiden negara ini.


Dursley sadar Kenzo semakin kuat. Dia bahkan sudah memulai langkahnya dengan cara membongkar kejahatan beberapa oknum organisasi mereka. Kasus perdagangan manusia hanya bisnis lama yang mereka geluti. Ada hal yang jauh lebih besar nilainya dari itu. Dengan menjadi buronannya Muzakir tentu saja ada andil mereka. Jika Muzakir tertangkap dan bicara, tentu saja mereka jug terkena imbasnya.


Dursley kembali ke perusahaannya dengan amarah. Segera menuju dimana kontrol pusat IT perusahaan berada. Membanting pintu terbuka. Semua yang ada diruangan segera berdiri dan memberikan hormat. Tidak terkecuali Carla.


"Tinggalkan aku dan Carla," desisnya.


Setelah 3 orang lain keluar, Dursley melemparkan bukti foto yang ia dapatkan dari Hendra.


"Apa tujuanmu? sebelum aku membunuhmu sebaiknya beri aku jawaban yang bagus."


Moncong pistol tepat berada di dahinya saat Carla bangkit dari mengambil foto itu. Menatap foto itu lalu bosnya dengan santai. Seperti sudah menduga ini akan terjadi.


"Biar saya beri tahu rahasia kecil pada anda. Kak Sadam adalah cinta pertama sekaligus orang yang menghancurkan hati saya. Karena itu saya masuk kesini. Tujuan kita sama,"


Dursley tentu tidak bodoh. Dia memiliki keraguan besar namun logikanya mengtakan kalau Carla tidak berbohong. Dia menarik pistolnya. Menatap Carla penuh intimidasi.


"Jangan mencoba bermain-main. Jika aku tahu kamu berpaling, bukan hanya nyawamu. Orang tuamu juga akan aku habisi. Mengerti?!"

__ADS_1


Carla mengangguk dan menurunkan pandangannya. Bukan karena merasa terancam atau takut. Melainkan menyembunyikan sorot matanya yang berkilat marah.


__ADS_2