Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Bahagia ditengah masalah


__ADS_3

Dua polisi duduk di hadapan Kenzo. Mereka menunjukkan beberapa foto cctv yang memang sengaja tak di hapus Sadam. Foto bukti penculikan ibunya.


"Maaf untuk mengganggu waktu anda pak Kenzo, tapi mantan mentri Muzakir seperti yang anda tahu berada dalam pelarian. Setelah insiden ini, bisakah anda memberi kami keterangan?"


Seharusnya Kenzo yang mendatangi kantor polisi, dia sudah mendapat 3 kali panggilan sebagai saksi namun diabaikan. Kenzo beralasan tak memiliki waktu.


"Saya tak punya apapun untuk dikatakan,"


Jelas para polisi ini kesal dan jengkel, namun mereka memilih menampilkan sikap profesional. Selain itu, mereka juga sadar sedang berhadapan dengan siapa.


" Maaf pak Kenzo, bisakah anda ceritakan awal mula penculikan ini sampai anda melakukan penyelamatan tampa bantuan polisi? Kami perlu keterangan anda untuk mengusut tuntas kasus Muzakir."


"Jim," panggilnya pelan.


Jimi yang ada yang berdiri di sampingnya segera mempersilahkan para polisi itu untuk keluar.


Meskipun jengkel mereka tidak punya pilihan. "Jangan menggangguku lain waktu, kalian harusnya mengerti untuk tak menyeretku." kata Kenzo dengan dingin. Nada suaranya penuh intimidasi. Membuat bulu kuduk polisi itu berdiri. Dengan gemetar mereka segera meninggalkan ruangan itu.


Setelah kepergian mereka Sadam keluar dari ruangan pribadinya. Mengunyah cemilan ditangannya. Dia bersandar dengan santai dimeja Kenzo. Dengan tangan penuh remahan mengambil foto dari polisi tadi lalu tertawa setelahnya.


"Apa yang akan kamu lakukan pada mereka?" tanyanya dengan suara tak jelas.


Kenzo memundurkan kursinya dan menatap Sadam tidak suka. "Telan makananmu dulu!" ketusnya. Sadam hanya mencibir dan melempar asal bungkusan makanan pada tong sampag di belakang kursi Kenzo. Menepuk-nepuk tangan ke celana kainnya sambil duduk di kursi.


Kenzo kembali mendekati meja dan melanjutkan pekerjaannya. "Programnya kita aktifkan sore ini."


"Sekarang juga tidak masalah," sahut Sadam.


"Aku harus keluar, selain itu Zahira akan mengabaikanku lagi kalau tidak mengajaknya."


"Cih, bucin!" sinis Sadam. "Polisi itu, apa yang akan kamu lakukan?"


Kenzo menatapnya sejenak sebelum kembali menatap berkas di meja. "Lakukan sesukamu!" Kenzo berhenti sejenak, sebuah ide tampak muncul dikepalanya. "Buat mereka menjadikan teman istriku menanganinya. Lebih mudah mengendalikan mereka dari pada orang baru." lanjutnya.


"Si wewen itu memang berhutang padamu pada kasus ibunya. Dia mungkin akan membantu karena Zahira. Tapi Anton cukup sulit, dia memegang prinsip kolot," Sadam terkekeh diakhir perkataannya.


"Untuk saat ini lakukan saja, kalau dia menghalangi aku akan pikirkan cara memaksanya patuh."


"Oke bos! Aku akan pergi sekarang."


Kenzo mendongak, menatapnya datar. "Siapa yang mengizinkanmu pergi? lakukan itu dari sini. Tomi bisa melakukannya untuk menemui atasan mereka." kata Kenzo tegas.


"Oh ya ampuuun Ken! Aku bisa melakukannya! Lagipula Tomi pergi siapa yang berada disamping Zahira?"


"Jangan coba-coba mencari alasan!"


Raut wajah Kenzo mengeras. Menatap Sadam dengan raut tak ingin dibantah. Sejak insiden dirumah sakit, Kenzo memang lebih protektif pada sahabatnya itu. Bukan lebih penting dari istrinya, hanya saja ia tahu Sadam belum pulih total. Meskipun Sadam tampak baik-baik saja, diwaktu-waktu dia kelelahan akan ada saatnya ia demam. Kenzo juga tahu Sadam hanya menahan perih bekas operasinya. dr.Yuan mengatakan ada kemungkinan infeksi. Karena itu pemulihannya berjalan lambat. Mereka tidak bisa kerumah sakit tampa resiko diserang lagi.


.


Tomi meninggalkan Zahira dengan setumpuk laporan bulanan. Jika bukan perintah Kenzo Zahira tak akan mengizinkannya. Meninggalkan dia sendirian dengan banyaknya pekerjaan.


Satu jam sejak kepergian Tomi, Zahira menerima telepon dari Wewen. Menanyakan maksud dari dipindahkannya kasus Muzakir kepada mereka. Apa lagi dalam kasus ini, ibu Kenzo ikut terseret.


"Tidak bisa, Kenzo tidak mengizinkan aku keluar dari gedung perusahaan tampa pengawalan ketat dari dirinya sendiri. Kalian saja yang datang." tolaknya saat Wewen ingin bertemu diluar.

__ADS_1


Lirikan tajam Tomi dapatkan saat dia masuk kembali kedalam ruangan bosnya itu. Duduk dengan ragu saat Zahira mendengus setelah menutup panggilan telepon.


"Kamu dari kantor polisi?"


Mendapatkan pandangan galak seperti itu membuat Tomi serba salah. Kenzo dengan caranya dan Zahira dengan ketidak sukaannya pada setiap keputusan suaminya. Siapapun yang berada pada posisinya harus siap mental.


"Nyonya...anda tidak bisa marah pada saya." katanya kalem, membuat ia mendapat delikan tajam. "Tuan mendapatkan masalah karena polisi itu mencoba melibatkan kasus penculikan. Anda tahu Tuan tidak ingin langkahnya dibaca lawan. Kepolisisan jelas akan memihak lawan karena anggota red wine bagian dari pemerintahan." lanjut Tomi.


"Lalu memaksa si tua Anton dan Wewen akan menghalangi penyelidikan begitu? Aku rasa Kenzo sudah tidak waras. Wewen dan Anton itu lebih gigih!"


Tomi berdehem karena kalimat untuk tuannya yang sedikit kasar dan mengangguk membenarkan pernyataan Zahira tentang kedua orang itu.


"Anda benar, tapi saya rasa mereka akan mempertimbangkan anda__"


Tomi bergidik ngeri ditempatnya. Dalam hati merutuki diri sendiri. Dia merasa Zahira ketularan sifat suaminya yang penuh dominasi dan intimidasi. Saat marah keduanya sama-sama membuat bulu kuduk merinding.


Zahira sudah akan membombardir Tomi dengan kata-kata pedas sebelum ia merasakan perutnya terasa diaduk-aduk. Dia merasa seluruh yang ia makan tadi pagi naik keatas. Kepalanya juga terasa berputar-putar.


"Nyonya! Nyo__!"


Tomi tidak sempat melanjutkan perkataannya . Ia ikut bangkit mengikuti Zahira yang berlari ke westafel di dalam kamar mandi. Memuntahkan seluruh isi perutnya.


Cukup lama Zahira berada disana. Dia terus merasa mual dan pusing ketika akan beranjak. Tubuhnya sudah lemas dan nyaris ambruk kalau saja Tomi tidak menahannya.


"Anda harus berbaring dulu, Nyonya. Saya akan panggilkan dokter!"


Tomi memapah Zahira menuju ruang pribadinya, tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk istirahat. Tangannya dicengkram kuat sebelum ia keluar.


"Kenzo! aku mau suamiku!" lirihnya.


Tomi meraih kotak tisu dan mengeluarkan isinya disamping Zahira. Memberikannya sebagai wadah jika ia ingin muntah lagi. Mengambilkan air di gelas dan meletakkannya diatas meja samping kasur. Pengawal yang berjaga diluar masuk bersama Anton dan Wewen yang baru mendapat izin dari Tomi. Menghampiri Zahira yang sesekali masih muntah.


"Kamu baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba?" tanya Wewen. Jelas dia sangat kawatir.


"Tidak tahu! Maaf untuk kalian. Kita tunda pembicaraan tadi. Aku__Huek!"


Anton tampak memahami apa yang terjadi. Dia tampak santai kembali duduk di sofa dalam ruangan itu. Mengabaikan pengawal yang tampak waspada padanya.


Tomi mondar-mandir karena panggilannya tak dijawab oleh Kenzo. Dia mencoba menelfon Jimi tapi tak ada jawaban juga. Maka pilihan selanjutnya ia menelfon Sadam.


'Ada apa?'


"Sadam, Nyonya Zahira muntah parah dan keadaanya melemah. Dokter sedang dalam perjalanan. Nyonya ingin Tuan datang."


'Sial!"


Tomi mengernyit, ada apa sebenarnya. Suara Sadam terdengar tidak baik.


"Ada apa?"


'Tak apa, aku tersandung. Kenzo sedang keluar, rapat kurasa. Aku akan menghubungi pengawalnya. Jaga Zahira baik-baik!"


Sambungan terputus. Tomi jelas bisa mendengar suara Sadam yang tak baik-baik saja. Dia terdengar seperti menahan sakit. Namun karena mendengar panggilan lemah dari Zahira, Tomi mengabaikan rasa penasarannya. Dia segera berlari untuk menghampiri.


.

__ADS_1


Sementara itu, Kenzo sedang makan siang sekaligus rapat bersama rekan bisnisnya dari jepang saat seorang pengawalnya menghampiri Jimi yang duduk di sampingnya. Melihat wajah Jimi yang berubah pucat, tentu ia tak bisa tenang.


Jimi segera membisikinya. Seketika Kenzo segera meminta izin kepada rekan bisnisnya dengan wajah tak enak hati. Menjelaskan situasi yang tentu saja ia karang sebelum meninggalkan restoran itu.


Raut wajahnya seketika berubah panik saat sudah memasuki mobil. "Jim! kembalilah ke kantor dan jaga Sadam!" perintahnya.


"Baik Tuan."


Jimi segera turun dari kursi kemudi dan masuk kedalam taksi. Tempatnya digantikan oleh salah seorang pengawal Kenzo.


"Perintahkan seseorang mengawal Jimi, Joe!"


Joe, pemgawal yang bertugas saat itu mengangguk dan memanggil salah satu yang ada di mobil belakang. Dengan cepat satu diantara mereka menggunakan taksi lain mengikuti Jimi.


.


Sesampainya di kantor Zahira, Kenzo melihat istrinya yang berbaring dengan selang infus ditangannya. Ia segera menggengfam tangannya dan memberikan kecupan di dahi. Lalu, menatap dr.Yuan yang berdiri di sisi Zahira, terlihat keringat didahinya. Jelas ia berlari cepat menuju kemari setelah menerima panggilan Tomi.


"Apa yang terjadi?"


"Belum bisa dipastikan tuan. Tapi saya mencurigai sesuatu setelah berbicara dengan Nyonya Zahira. Kecurigaan saya akan terbukti saat hasil tes urinnya__" belum sempat ia menyelesaikan penjelasannya, dr.Yuan menerima pesan. Ia tersenyum dan memberikan hasil test dalam bentuk PDF itu kepada Kenzo.


"Tom, suruh dr.Anita memeriksa istriku. Kita akan membawanya pulang."


Dengan senyum bahagia, Kenzo memeluk Zahira dan mengucapkan terima kasih. Menjelaskan dengan bisikan yang membuat Zahira membalas pelukannya. Mereka bahkan mengabaikan siapapun dengan berciuman mesra. Seolah dunia milik berdua dan bahagia hanya milik mereka.


Kenzo menggendong istrinya dan dr.Yuan yang memegang infusnya. Tomi mengikutinya dari belakang bersama Wewen dan Anton yang terlihat bingung.


"Apa yang terjadi? kenapa mereka senang sampai mesra-mesraan begitu?" tanya Wewen, nadanya lebih kepada kesal dari pada kawatir.


"Ini dugaanku saja, sepertinya Zahira hamil,"


Wewen menoleh cepat dan menghentikan Anton. Membiarkan rombongan yang kini jadi pusat perhatian itu berlalu begitu saja.


"Sungguh? Wah...aku akan punya ponaan sebelum menikah?" keluhnya tak terima.


Anton berdecak malas. Memilih meninggalkan Wewen. Mereka punya banyak pekerjaan. Proses pada pemindahan kasus membuat mereka bekerja dari awal lagi. Anton bahkan mengumpat dalam hati saat menarik rekannya itu untuk pergi dari sana.


Ini baru dua bulan setelah pernikahan yang menghebohkan saat vidio pernikahan mereka beredar didunia maya. Ayahnya bahkan mengamuk namun tak bisa berbuat apa-apa. Dia tentu mengacaukan rencana mereka. Akibatnya adalah, Kenzo harus super protektif pada orang yang berharga baginya. Bekerja keras selama dua bulan ini untuk menciptakan program baru dengan tetap JJ sebagai dasar mereka. Mengabaikan istrinya yang selalu sudah tidur saat ia pulang larut malam.


Sesampainya di apartemen, Ibunya yang berada di rumah aman segera dibawa menuju apartemen untuk menjaga Zahira. Karena ia bahkan tidak mengerti mengenai kehamilan.


Zahira sudah bangun dan tubuhnya sedang dibersihkan oleh ibunya. Sementara ibu Kenzo memasak di dapur.


"Aku merepotkan banyak orang." keluh Zahira dengan wajah sedih.


"Siapa bilang, kamu sakit jadi jangan berfikir seperti itu..." kata Kenzo menenangkan.


Ibunya memakaikan piyama untuknya dan segera mengelus kepala Zahira penuh kasih. "Ini kebahagian sayang, ditengah masalah yang kita hadapi, ada setitik kebahagiaan itu sebuah anugrah. Jaga dirimu baik-baik. Calon bayi kalian harus sehat."


Zahira menarik tangannya dari sang suami dan memeluk ibunya. "Za mau tidur sama ibu malam ini," katanya manja.


"Lalu aku?" protes Kenzo tidak terima.


Zahira meliriknya lalu mendusal dipelukan ibunya. "Tidur sendirianlah, aku tidak mau tidur denganmu. Pria sibuk yang terus mengabaikanku!" ketusnya.

__ADS_1


Ibu Zahira memberikan tatapan yang mengisaratkan untuk menurut. Kenzo yang mengerti karena Zahira yang sedang terbawa mood wanita hamil segera mengangguk. Dengan berat hati ia memyetujuinya. Setelah menikah Kenzo terbiasa tidur memeluk istrinya. Ia harus siap untuk kesulitan malam ini karena ketergantungan yang ia ciptakan sendiri.


__ADS_2