
Dursley sudah bersiap di tepi dermaga. Rencana yang telah dia dan asistennya susun atas bantuan kaki tangan presiden, adalah menyeberang dari batam ke negara tetangga. Setelah itu baru mereka akan pergi menuju negara tujuan mereka.
Dursley disambut oleh dua orang dari dalam kapal barang. Keduanya mengajak dia dan sang asistent untuk naik ke kapal. Sesampainya di atas kapal, mereka dipersilahkan masuk ke dalam ruang penyimpanan barang. Kapal barang ini adalah kapal milik BUMN. Sehingga presiden bisa bermain disana.
Dursley mengumpat dan melontarkan sumpah serapah saat menyadari kapal mereka di kelilingi speed boat. Dia melirik asistennya dan memarahinya karena hanya berdiri diam.
Asistennya tersenyum, ketika itu juga Dursley sadar bahwa orang-orang yang datang ini bukanlah orang-orang Kenzo yang ia duga dari awal. Melainkan orang-orang presiden sendiri.
"Kamu ... kamu menghianatiku?" tanyanya, sekujur tubuh Dursley bergetar karena marah. Ia menatap asistennya dengan penuh pertanyaan dan amarah.
"Aku penyelamatmu, aku yang membuatmu tumbuh kuat dan apa ini?"
"Tuan ... anda menyelamatkan saya sekali. Tapi saya sudah menyelamatkan anda berkali-kali dengan nyawa saya. Melakukan apapun dengan taruhan nyawa. Sudah lama saya tidak menghormati anda seperti dulu. Sayap anda telah patah. Dia tidak bisa lagi saya topang. Saya terpaksa berdiri sendiri karena saya sudah bisa berlari." Pria itu kembali tersenyum, namun senyum dingin dan mengerikan. Membuat Dursley mengerut karena merasa terganggu. "Saya sudah bisa berlari sendiri sekarang." katanya pelan. Mata mereka yang beradu sejak tadi terputus karena kedatangan orang-orang yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Asistennya pergi begitu saja. Menaiki speed boat meninggalkannya bersama beberapa pria berbadan besar.
"Aku akan membayar kalian asal kalian mengikuti perintahku." katanya, berusaha membuat negosiasi.
"Kami sudah dibayar mahal, Tuan. Sayang sekali." jawab salah satu di antara mereka.
"Aku akan membayar lebih, berapa yang kalian inginkan?"
Mereka semua hanya tertawa sinis dan menatap satu sama lain. "Dengan apa anda akan membayar? Perusahaan anda diambang kehancuran. Properti? Saya dengar sedang di sita oleh beberapa bank." ejek yang lain.
Lalu salah satu di antara mereka menembakkan sesuatu padanya. Sebuah suntikan menancap di lengannya. Dursley mencabutnya dan mengumpat dengan kasar ketika menyadari itu adalah suntikan bius. Dia perlahan merasa pusing. Pandangannya mulai kabur dan dia terjatuh di lantai kapal dengan tubuh yang mulai tidak bisa digerakkan.
Dursley belum pingsan sepenuhnya, matanya masih terbuka meskipun sayu. Dia bisa merasakan kalau tubuhnya di angkat. Orang-orang ini melempar tubuhnya begitu saja kedalam laut. Dursley yang langsung tenggelam berusaha menahan nafas, mencoba menggerakkan tangannya namun tidak bisa. Perlahan matanya tertutup dan dadanya dipenuhi air. Seluruh kejahatan yang ia lakukan berputar dikepalanya, lalu dia teringat anak perempuannya yang sama sekali tak pernah ia anggap.
Dursley merasakan rasa sakit tak tertahankan ketika nyawanya dicabut. Dia mati ditengah luasnya lautan. Sendirian tampa ada keluarganya yang tahu.
Setelah melihat Dursley mati tenggelam dan memastikan tidak ada kapal manapun yang lewat dan melihat, mereka pergi dari sana.
Di tempat lain, asistennya menepi di sebuah pantai sepi. Setelah sampai di daratan dia mengeluarkan ponselnya. Mengirim sebuah pesan pada kontak yang ada di ponselnya. Itu adalah nomor presiden.
Lalu, dia tersenyum saat ada notifikasi bahwa saldonya bertambah miliaran rupiah. Kini dia pergi untuk mencari tempat tinggal baru. Membuat identitas baru dan menjalani kehidupan yang dia inginkan.
.
Kenzo menemui Jeykey yang baru pulang dari sekolah barunya. Mengajaknya bertemu berdua dalam ruang kerjanya. Menatap anak itu yang sejak tadi hanya diam dan menunduk.
"Sudah bertemu dengan saudara tirimu?" tanya Kenzo.
"Lalu apa maumu sekarang? Bukankah kamu ingin mengungkapkan dirimu? Tapi dari yang aku dengar seminggu ini kamu hanya menangis diam-diam saat melihat adikmu. Kamu bahkan tidak berani mengajaknya bicara. Jey, kamu tidak bisa selamanya tinggal denganku."
"Kenapa tidak?" tanya Jeykey. Memberanikan diri mengangkat kepalanya, mempertemukan netra mereka.
Kenzo memberikan tatapan datarnya. "Karena aku tidak menyukaimu sejak awal. Bukankah kamu tahu itu?"
__ADS_1
"A...aku akan berusaha tidak terlihat. Aku akan makan dikamar mulai saat ini. Tidak muncul di antara anda. Aku akan ada di tempat berbeda..."
"Itu tidak berguna. Aku hanya tidak suka mengurus anak musuhku."
"Kalau begitu aku akan segera pindah."
"Tidak akan ada yang pindah." Kenzo menoleh ke arah pintu yang terbuka.
Zahira berdiri disana dengan tangan bersedekap. Perlahan ia masuk dan berdiri di samping Jeykey. Melirik anak itu yang kini menangis dalam diam.
"Jey, kembalilah kekamarmu. Nanti kita akan bicara, oke?" perintah Zahira lembut.
Setelah Jeykey keluar, Zahira duduk di tempatnya tadi. Menatap suaminya yang juga menatapnya dengan ekspresi siap berdebat.
"Berhenti menaruh kebencian padanya Ken, dia hanya seorang anak kecil. Bagaimana kamu bisa sekasar itu? Perkataanmu bisa merusak mentalnya. Aku! Aku bisa melihat beratnya menjadi dia, jadi jangan terlalu kejam hanya karena dia anak musuh. Dia bahkan membenci ayahnya sendiri." kata Zahira dengan nada penuh tekanan.
"Ayahnya menyuruh orang membunuh Sadam. Menculikmu dan membunuh anak kita." marah Kenzo.
"Kita tahu jelas bahwa yang menculikku adalah orang Prakoso."
"Mereka satu kubu pada awalnya jika kamu lupa. Sekarang kembalilah ke kamar kita, aku tidak ingin berdebat lagi mengenai ini." tegas Kenzo.
Zahira menghena nafas namun tidak beranjak dari tempatnya. Dia melunakkan ekspresinya sebelum kembali bicara.
"Ken ... kumohon..."
Kenzo keluar, dia berhenti di depan pintu ketika mendapati Sadam berdiri di sana. Bersandar pada dinding dengan tangan bersedekap.
"Kalian sudah selesai? Aku punya kabar mengenai Dursley."
Zahira yang mendengr hal itu segera keluar, berdiri di samping suaminya. "Ini 5 hari sejak dia kabur, kemana dia? Dimana dia sekarang?" tanya Zahira.
Sadam tidak menjawab, namun dia menyalakan ponselnya dan menunjukkan laporan berita di sebuah vidio yang saat ini sedang menjadi topik utama.
"Dia mati, diduga bunuh diri karena depresi. Namun aku tidak percaya hal itu. Pastinya pihak kepolisian dan tim forensik telah di atur oleh seseorang. Seorang Dursley tidak mungkin depresi dan bunuh diri." kata Sadam.
"Kemungkinan besar ada yang menghianatinya. Pria yang selalu menjaganya itu, tidak mungkin semudah itu dikalahkan. Apapun itu, aku tidak peduli. Dia mati itu lebih baik. Sekarang hanya sisa satu orang lagi yang harus masuk ke dalam jeruji besi." sahut Kenzo dingin. Dia berlalu dari sana begitu saja.
"Mengenai Jeykey ... Aku pikir Kenzo tidak akan mau mengalah. Jika dia hanya ingin diam saja, maka aku terpaksa mengirimnya kembali ke Jerman. Tidak mudah bagiku mengurusnya disamping Kenzo."
"Tapi dia masih anak-anak, dia membutuhkan orang tua. Setidaknya, carikan orang tua asuh untuknya." kata Zahira dengan nada memohon.
.
Hari-hari berlalu begitu saja, keinginan Kenzo tidak bisa diganggu gugat. Karena itu dengan terpaksa Sadam mengembalikan Jeykey ke Jerman sembari mencarikannya orang tua asuh.
Sementara itu, presiden yang masa jabatannya masih tersisa 3 tahun lagi. Bersikap tenang dan tidak mengganggu Kenzo lagi. Organisasi Red Wine juga sudah di bubarkan meskipun anggota diluar negeri selalu berusaha membentuk aliansi baru. Presiden tampaknya tidak memberi celah untuk mereka. Atau dia hanya sedang berusaha menahan sementara waktu, tidak ada yang tahu. Yang pasti, dia sepertinya menjaga agar tetap berada pada koridor yang benar.
__ADS_1
Sadam melanjutkan pekerjaannya dengan santai seperti dahulu. Pergi kemanapun dengan bebas tampa takut di serang lagi. Sementara itu semua yang tertangkap di adili dengan hukuman penjara seumur hidup.
Zahira kembali memimpin perusahaannya bersama Tomi. Kenzo juga terus memperluas jaringan bisnisnya dan menciptakan jaringan yang berpusat padanya. Perusahaanya yang semakin kuat dan besar, membuat pebisnis lain, bahkan pejabat yang ingin menyerangnya tidak berkutik.
"Za, bukankah aku bilang kamu harus ada di sini saat makan siang?" gerutunya melalui telepon saat istrinya tidak ada di ruangannya.
'Ken, ada masalah oke, aku akan keluar kota untuk mengecek pabrik yang ada di_'
"Tidak ada keluar kota tampa izinku, cepat putar arah dan biarkan Tomi menyelesaikannya. Aku tidak akan makan tampamu!"
Sambungan diputus oleh Kenzo, dengan wajah kesal dia menatap Jimi yang meneguk ludahnya dengan takut-takut.
"Tu ... Tuan, saya tidak tahu apapun."
Kenzo diam saja, perutnya lapar dan dia sungguh membenci makan sendirian tampa mengobrol dengan Zahira. Sejak keadaan mulai membaik beberapa bulan ini, Kenzo memang bersikap sangat manja seperti balita yang sedang tantrum pada Zahira. Dia akan langsung kesal pada semua orang jika Zahira mengabaikannya karen pekerjaan. Dia berulang kali mengancam tidak akan mengizinkan Zahira bekerja jika masih mengabaikannya.
Pintu menjeblak terbuka dengan Zahira sebagai pelakunya. Endru yang bertugas menjemputnya segera undur diri dari sana. Diikuti Jimi yang wajahnya sudah pucat.
Zahira menatap Kenzo dengan kesal. "Ken, berhentilah bersikap seperti anak kecil. Kita sama-sama sedang memimpin perusahaan. Bagaimana aku selalu menyerahkan pekerjaan pada Tomi dan malah bersantai denganmu?" protes Zahira.
Kenzo tidak menjawab, wajahnya yang tadi terlihat kesal kini melunak dengan senyum cerah. Dia bangkit dari duduknya dan segera memeluk Zahira. Mencium seluruh wajahnya berulang kali lalu menyeretnya ke sofa dimana dimeja sudah tersedia menu kesukaan mereka.
"Kamu selalu seperti ini, tidak bosan ya?" tanya Zahira, masih menggerutu namun tangannya dengan sigap mengambilkan Kenzo makan.
"Aku selalu merindukanmu, bagaimana bisa hanya makan siang tidak ada waktu untukku. Kamu tidak rindu suamimu?"
"Tidak, kita bertemu setiap hari, tidur bersama satu ranjang, sarapan bersama bahkan saat kamu perjalanan bisnis." jawab Zahira dengan nada sebal.
Kenzo memang akan memaksanya ikut jika dia harus kelur kota atau keluar negeri. Meninggalkan setumpuk pekerjaan pada Tomi. Bahkan kakaknya, Lutfi kini di pekerjakan di sana untuk membantu memimpin perusahaan. Zahira hanya seperti memantau saja disana karena itulah perintah Kenzo. Dia tidak ingin istrinya lelah dan stres.
"Kejam sekali, tapi aku semakin mencintaimu." Gombalan manis itu membuat Zahira tertawa. Dia menyerahkan piring yang sudah berisi lauk ketangan Kenzo lalu mendaratkan ciuman kupu-kupu.
"Makanlah." katanya.
Mari tinggalkan pasangan ini menuju Sadam yang beberapa hari ini senang sekali mengganggu seorang barista di kafe yang langsung menjadi langganannya. Sebulan ini dia selalu datang kesana setiap hari. Mengajak wanita manis itu berbicara. Masalahnya, meskipun manis dia sangat galak pada Sadam. Hal itulah yang membuat Sadam jatuh cinta padanya.
Apakah Sadam akan berhasil mendapatkannya?
*TAMAT*
...................
Terima kasih untuk semua dukungannya. Ini Novel pertama yang saya selesaikan. Semoga kedepannya saya bisa membuat yang lebih baik.
Mampir ke karya aku yang lain ya, Sampai jumpa di karya lain dan....
I LOVE YOU SO MUCH Gaeeeyyyysssss! 😁😁😁😁😁😁😁😁🤗🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1