Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Penculikan


__ADS_3

Ada 7 foto yang tertera disana. Namun yang membuat mereka bingung adalah wajah terakhir yang tidak di kenali sedikitpun. Bahkan data dirinya tidak ada sama sekali kecuali namanya saja.


"Anggota pertama sekaligus yang memimpin organisasi di Indonesia, Gusti Maherman. Pemimpin Mafia dunia gelap. Memiliki satu perusahaan yang bekerja sama dengan pemerintah. Perusahaan gelap dan bisnis ilegal mereka tersebar rata di seluruh Indonesia."


Baik Kenzo maupun Zahira hanya diam dan menyimak penjelasan terperinci yang di katakan oleh Sadam.


"Kedua, tentu saja si tua Dursley tomson. Ketiga Ayah Kenzo, Keempat mentri keuangan kita Muzakir Laoli yang sangat bergantung ke pada Dursley. Secara materi dia lemah, namun memiliki otak yang licik. Anggota ke lima Mentri BUMN kita yang masih sangat muda dan bersemangat Hendra nasir. Keenam ... aku juga baru mengetahuinya, Lutfi. Seperti yang kita tahu. Yang ke tujuh ... aku juga tidak tahu siapa dia. Jika SS tidak bisa memindai datanya, artinya semua datanya sudah di hapus dari benda elektronik manapun,"


"Bagaimana dengan KTP elektronik, datanya juga tidak ada? Paspord dan identitas lain ...."


Zahira terdiam saat dia mengerti jawaban dari pertanyaannya sendiri.


"Benar, dia bisa memakai identitas palsu saat membutuhkannya. Tapi ... bukankah sedikit aneh kenapa dia membiarkan satu foto dan namanya terpampang di deretan keanggotaan Red wine?" lanjut Zahira lagi.


"Itu juga yang menjadi pertanyaanku," gumam Kenzo. Kemudian ia menatap Sadam yang tampak sedang berfikir.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Sadam. Keduanya saling bertatapan beberapa saat sebelum Kenzo mengangguk yakin.


"Apa? kalian tahu sesuatu kan?" kata Zahira dengan nada menuntut. Sedikit tidak terima karena sepasang sahabat itu berbicara hanya lewat telepati.


Kenzo melirik Zahira dan tersenyum tampan, membuat Zahira mengernyit heran.


"Kami juga masih menduga. Aku akan mencari bukti lain terlebih dahulu."


Zahira mengangguk, sesaat dia terpaku pada foto ayah dan kakak Kenzo. Begitu juga Sadam yang duduk tidak jauh darinya.


"Apa yang akan kamu lakukan terhadap mereka? menghancurkan Red wine artinya menghancurkan mereka juga," tanya Sadam dengan wajah sendu, menatap sahabatnya.


Zahira menatap sesaat Sadam yang akhirnya membahas topik sensitif ini sebelum beralih ke pada Kenzo yang masih menatap layar. Mendengar pertanyaan Sadam membuat ia mendecih dan menatap Sadam dengan air muka menahan amarah.


"Mereka tidak ada hubungannya denganku lagi, keluargaku hanya ibuku saja. Kenapa? kamu ingin berbaik hati kepada mereka?" sarkasnya dengan mata menyala-nyala.


"Bagaimana dengan ibumu?" tanya Sadam lagi, mengabaikan sindiran Kenzo padanya.


"Ibuku akan mengerti, dia juga di buang oleh suaminya."


Zahira melihat ada kesedihan di wajah keras itu meski Kenzo menutupinya dengan baik. Dia tidak tahu harus mengatakan apa untuk memberikan penghiburan. Rasanya otaknya buntu untuk mengatur kata-kata. Kenzo bahkan menolak menyebut kata ayah untuk menyebut ayahnya sendiri. Artinya ia sudah diliputi amarah dan kekecewaan mendalam.


"Kita akan mulai dengan konspirasi pertama untuk memancing anggota terembunyi ini keluar," kata Sadam mengalihkan pembicaraan. Membuat Zahira terkesiap dan menatap dua pria itu bergantian.


"Apa rencanamu?" tanya Kenzo kembali dengan nada santai. Sadam menyeringai.


"SS ... mulai sebarkan di internet vidio nomor 1," perintahnya.


Hanya hitungan detik mereka bertiga di suguhkan dengan seluruh dinding dipenuhi layar dari berbagai cenel berita. Baik TV nasional maupun TV kabel, juga berbagai media sosial.


"Itu ... " Zahira tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Terlalu jijik dengan apa yang dilihat dan di dengarnya meskipun sebagian besar gambar di sensor. Namun di sana sangat jelas wajah mentri keuangan mereka Muzakir laoli. Sedang membeli gadis di bawah umur dan menilainya dengan kata-kata vulgar sebelum melkukan aksi tidak senonoh di depan anak buahnya yang tampak sudah terbiasa.


"Menjijikkan!" umpat Zahira dengan wajah marahnya.

__ADS_1


"Tunjukkan aku area rumah Muzakir," perintah Kenzo.


Salah satu sisi dari semua monitor itu menunjukkan area di depan rumah Muzakir. Masih tampak sepi, belum ada wartawan yang mencarinya ke sana.


"Dipastikan dia tidak akan tidur nyenyak malam ini," ujar Sadam dengan wajah senang.


"Di mana dia sekarang?" tanya Kenzo lagi.


"Muzakir tidak terlihat di area publik manapun. Sedang dilakukan pemindaian seluruh CCTV." Itu adalah jawaban SS dengan suara robotnya.


"Apa dia sekarang sudah tahu mengenai vidio dirinya?" tanya Zahira.


"Bisa iya dan bisa tidak. Ini baru saja di mulai. Saat ini di manapun dia berada itu tidak penting, dia akan keluar dengan sendirinya begitu sarangnya di ganggu," jawab Sadam.


Zahira mendapat telepon dari Wewen yang membuat Kenzo langsung mengambil alih dan mengaktifkan loadspeaker. Membuat Sadam berdecak remeh sementara Zahira terlihat pasrah.


"Halo," sapa Zahira.


"Za ... maafkan aku tapi kami perlu melakukan penggeledahan data juga, namun beberapa orang di sini menghalagi, aku juga menemukan barang selundupan di gudangmu dan mengamankan penjaga gudang yang sedang bertugas saat ini," ujar Wewen di seberang.


"Biarkan aku berbicara dengan kepala cabang,"


"Ha ... halo Presdir ... saya minta maaf tidak mengetahui ini yang begitu tiba-tiba sehingga kami menghalangi mereka. Mereka tidak memiliki surat perintah kare__"


"Biarkan mereka melakukan pekerjaan mereka, berikan semua yang mereka minta. Besok pagi temui aku di kantorku. Ada hal-hal yang ingin aku ketahui langsung darimu. Bawa semua data laporan selama sebulan terakhir. Laporanmu akan menentukan apakah aku akan menendangmu atau tidak. Aku harap kamu melakukan hal yang benar," potong Zahira dan memutus sambungan begitu saja.


"Waaaw ... savage Zahira" ejek Sadam dengan cengiran jahilnya.


"Aku juga sedang menunggu, Wewen mencurigai beberapa karyawanku, sepertinya kecurigaannya benar. Besok aku akan tahu. Bisa minta SS kirimkan datanya pada emailku? laporan asli cabang itu?"


"Meski begitu kamu tetap harus mencari secara manual, data di komputer bisa saja dimanipulasi."


Zahira mengangguk, Kenzo benar dan dia juga menyadari hal itu.


"Perlu bantuanku?" tanya Sadam dengan senyum menawannya. Membuat Zahira tersenyum geli dan mendapat dengusan jengkel dari Kenzo.


"Wewen sudah melakukannya, aku akan bekerja sama dengan mereka,"


"Kamu mempercayainya? bagaimana kalau dia hanya manfaatkanmu?"


Zahira memutar matanya dan kembali fokus ke ponselnya. Mengabaikan Kenzo yang masih menatapnya dengan tatapan cemburunya.


Ponsel Kenzo berdering pelan, mengalihkan fokus mereka ke sana. Kenzo memutus pandangannya dan memeriksa ponselnya. Ibunya meneleponnya dan dengan segera menjawab panggilan tersebut. Namun saat mendengar suara diseberang sana, wajahnya langsung berubah dingin dan penuh kekawatiran. Sadam dan Zahira yang melihat itu berdiri dan menunggu dengan gelisah.


"Apa yang kamu inginkan?"


Kenzo tersenyum sinis mendengar jawaban lawan bicaranya, ia mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras.


"Aku tidak tahu kalau anjing sepertimu bisa menggigitku, tapi kamu salah alamat. Aku tidak melakukan apapun yang kamu tuduhkan," kata Kenzo, terlihat berhati-hati dan tidak terlihat panik sama sekali. Hanya ada kemarahan tertahan di sana.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Sadam dan Zahira bersamaan saat Kenzo menurunkan ponsel dari telinganya.


"Ibuku di sandera oleh tua bangka itu, ibuku sepertinya pergi sendirian tampa pengawalan__"


Lagi-lagi ponsel Kenzo berdering. Ia segera mengangkatnya.


"Aku sudah tahu, dimana kalian sekarang? Aku akan melacak ponsel tua bangka itu dan mengirim alamat ke kalian. Segera temukan ibuku," perintah Kenzo sebelum mematikan sambungan secara sepihak.


Sadam segera mengetikkan nomor ponsel yang di tunjukkan Kenzo padanya dan segera mengirim langsung ke server utama agar SS lebih mudah melacaknya.


Titik segera di temukan dan SS segera mengirimkan pada seluruh anak buah Kenzo yang di tugaskan setelah SS melacak sendiri data pada ponsel Kenzo dimana semua nomor ponsel tersimpan.


"Siapa? " Zahira yang masih bingung bertanya siapa penculiknya.


"Muzakir, dia menebak aku yang membocorkan rekaman karena sebelumnya mereka memang mencurigaku karena tim pengintaiku sedikit ceroboh. Ibuku sepertinya melonggarkan kewaspadaan karena tidak ada penyerangan selama beberapa waktu ini, dan Muzakir sepertinya sudah lama mengintai ibuku sebagai alat. Saat vidio tersebar ia langsung memerintahkan orangnya untuk menculik ibu."


Zahira menggenggam tangan Kenzo, tidak tahu harus mengatakan apa saat ia tahu Kenzo lebih kawatir darinya.


"Mereka menuju luar kota, mobil mereka tersistem manual sehingga kita tidak bisa mengambil alih mesin," kata Sadam yang sedari tadi fokus pada komputer dan layar monitor.


"Kita harus menyusul mereka," kata Kenzo yang di angguki oleh Sadam.


"SS akan terhubung dengan ini, pakailah." Sadam melempar alat komunikasi GPS pada Kenzo dan memakainya untuk dirinya juga.


"Aku ikut!" kata Zahira cepat. Kedua pria itu bertukar pandang sebelum menggeleng secara bersamaan.


"Pulang bersama pengawalmu, mereka pastinya sudah menunggu di parkiran," kata Kenzo tegas.


"Aku tidak mau!" Kenzo menatap Zahira yang tampak keras kepala.


"Aku bahkan bisa melawan puluhan orang saat di pantai, ingat!" lanjut Zahira meyakinkan.


"Dan berakhir pingsan," sahut Kenzo datar.


Zahira mengerucutkan bibirnya, kesal karena Kenzo tidak mempercayai kemampuannya. Akhirnya ia membuang pandangnnya kearah lain dengan wajah kesal.


Kenzo menangkup kedua pipinya dan menatapnya lembut sebelum mencium kupu-kupu bibir Zahira, membuat wanita itu melotot padanya.


"Aku percaya padamu, sayang. Tapi aku tidak mempercayai diriku sendiri yang tidak akan fokus karena terus kawatir padamu," bujuk Kenzo dengan suara lirih dan dalam. Membuat Zahira tidak bisa membantah lagi.


"Aku ... akan menunggumu di rumah." katanya akhirnya. Kenzo tersenyum dan mengecup keningnya penuh sayang.


.


Zahira menatap ponselnya yang masih diam di atas meja di dalam ruang kerjanya di rumah. Setelah mereka berpisah di parkiran, Zahira tidak berhenti kawatir.


"Belum ada kabar darinya?"


Zahira mengangkat kepalanya saat ibunya masuk dan duduk di hadapannya. Zahira menghembuskan napasnya dan menggeleng pelan. Sesampainya di rumah Zahira memang menceritakan kejadian penculikan karena ibunya terus bertanya melihat wajah kusutnya.

__ADS_1


"Sudah satu jam ... apa mereka baik-baik saja?" gumam Zahira.


__ADS_2