
Karin berjalan dengan mengendap-endap di dalam rumahnya. ia bahkan sudah melepaskan sepatunya saat berada di depan pintu masuk dapur. Karin berhasil melewati penjagaan karena ia memiliki jalan rahasia di kebun belakang rumahnya.
Ketika ia hendak menaiki tangga untuk naik ke lantai dua di mana kamarnya berada, ruangan yang tadinya redup tiba-tiba terang benderang. Karin terdiam di tempatnya, perlahan ia berbalik dan mendapati suaminya berdiri tidak jauh darinya. Dia menelan ludah dengan susah payah, jantungnya berdegup kencang, apalagi kini mendapati sang pembantu yang membantunya di seret dari kamarnya dan di hempaskan ke lantai oleh pengawal.
"Darimana saja istriku? aku bahkan sampai cemas sekali saat kamu menghilang? pembantu setiamu bahkan ikut kena marah olehku. Aku ... sangat kawatir tadi," kata Lutfi sambil membelai wajah Karin dengan senyum yang Karin tahu memiliki banyak makna.
"Maaf ... aku mendengar ibu diculik dan dirawat di rumah sakit. Aku kawatir jadi ... buru-buru kesana." kata Karin dengan suara tenang meski jantungnya berdegup kencang karena takut. Seumur hidup, baru kali ini dia merasa takut dan terancam oleh suaminya sendiri.
"Hmmm ... lalu kenapa Kenzo bilang kamu tidak ada kesana?" pancing Lutfi, menatap mata istrinya dengan lembut namun terkesan mengancam.
"Aku tidak masuk, aku ... karena hubungan kalian yang buruk tidak berani masuk, hanya melihat dari luar saja," bohong Karin lagi.
"Begitu?" Karin mengangguk dengan sangat meyakinkan. "Kalau begitu masuklah ke kamar dan istirahat, lain kali katakan pada pengawal dan minta mereka mengantar. Jangan pergi diam-diam seolah aku tidak akan memberi izin." lanjut Lutfi, ia mencium pipi Karin sekilas sebelum beranjak dari sana. Kembali keluar rumah dan pergi. Karin bahkan bisa mendengar suara mobilnya menjauh meninggalkan rumah.
Karin terduduk di lantai dengan kaki lemas, ia tahu Lutfi hanya memberinya kesempatan. Jika dia melakukan kesalahan sekali lagi, dia yakin Lutfi tidak akan segan-segan menyingkirkannya.
"Nyonya ... maafkan saya yang ceroboh ... " kata pembantunya sambil terisak.
"Istirahatlah bi ... " kata Karin dengan lemah. Ia bangkit dari lantai dan berjalan dengan lemas menuju kamarnya.
.
Lutfi sampai di sebuah rumah lain yang tidak kalah mewahnya dengan rumahnya. Ia masuk kesana dengan tergesa dan langsung menuju sebuah ruangan di mana ternyata sudah ada ayahnya di sana dengan Dursley.
"Kenapa terlambat?" tanya Durley dengan nada tidak suka. Ayahnya ikut melemparkan tatapan tajam.
"Sedikit masalah dirumah, anak-anak terbangun dan berulang kali merengek ingin bertemu neneknya sejak kemarin," jelas Lutfi dengan nada meyakinkan. Jelas sedang berbohong menutupi tindakan istrinya. Ayahnya menarik sudut bibirnya sedikit yang tidak di sadari oleh siapapun.
"Ah ... aku terharu padamu yang menyayangi keluargamu, Jika belum menikah ... mungkin aku akan menjodohkan anakku denganmu, tetaplah hati-hati dengan segala tindakan istrimu ... aku tidak mempercayainya." ucap Dursley dengan senyum sarkas.
"Sebaiknya kita bicarakan masalah yang lebih penting," kata ayah Lutfi mengalihkan pembicaraan. Dusley mengalihkan atensinya dan menyandarkan tubuh gempalnya ke sandaran sofa.
"Muzakir sudah tamat, bukan bearti kita akan aman, berbahaya membiarkan Sadam bebas bergerak," lanjutnya.
__ADS_1
"Anakmu juga sama berbahayanya, hanya saja ... temannya memang sedikit merepotkan, membidiknya sepertinya akan menarik. Ini akan menjadi permainan menyenangkan saat Kenzo kehilangan sahabat sejiwanya," Dursley terkekeh sesudahnya.
"Sadam itu sama saja dengan Kenzo, mereka satu paket. Jangan meremehkannya," kata Lutfi angkat bicara, membuat Dursley tertawa kencang.
"Takut pada adikmu sendiri?" ejek Dursley. "Maka tugas ini aku serahkan padamu, aku ingin Sadam hidup atau mati, berada di hadapanku dalam keadaan tidak berdaya," lanjutnya dengan seringaian liciknya.
"Melumpuhkan Kenzo melalui Sadam sepertinya sedikit sulit, kenapa tidak pacarnya saja?" tawar ayah Lutfi, ia menyadari anaknya akan mengalami kesulitan jika menghadapi rubah licik yang selalu bersembunyi.
"Wanita itu? Kenzo menempatkan terlalu banyak pembunuh bayaran dan sniper di sekeliling wanita itu, sulit menggapainya saat ini. Sadam lebih mudah karena saat ia lengah kita bisa menangkapnya, ia adalah posisi yang aman karena suka bekerja sendiri." bantah Dursley. "Tapi ... tidak ada salahnya jika ada kesempatan, mendapatkan dua ikan sekaligus untuk memancing kucing bukankah lebih baik?" lanjutnya dengan senyum liciknya.
Lutfi dan ayahnya bertukar pandang sesaat sebelum mengangguk setuju.
.
Kini tinggallah Lutfi dan ayahnya yang masih setia duduk di ruangan itu, cahaya sudah mulai masuk dari celah jendela yang masih tertutup. Keduanya tampak lelah dan butuh tidur, namun tampaknya keduanya tidak berniat untuk tidur.
"Kebohonganmu akan terbongkar, kenapa kamu masih melindunginya yang bahkan menghianatimu?"
"Dia ibu dari anak-anakku, ayah."
Lutfi masih sangat mencintai istrinya, begitupun Karin, ia sadar istrinya tidak menghianatinya sepenuhnya. Ia tahu istrinya hanya ingin ia bebas. Namun entah kenapa kesenangan baru yang ia dapatkan membuat ia tidak mau melepaskan dunia gelapnya. Ia bahkn yerus terjerumus meski hati kecilnya menolak. Apalagi banyaknya sosok wanita cantik yang ayahnya sodorkan padanya, membuat pertahannannya runtuh pada kesetiaan. Ia menyesal, namun juga tidak bisa menolak. Lutfi masih berperang dengan hati dan jiwa iblisnya.
.
Sadam sadar dari pengaruh obat biusnya dan ia mengernyit kala cahaya silau dari sinar matahari yang memasuki ruang rawatannya melalui jendela yang gordennya terbuka. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan penglihatannya. Begitu ia sudah terbiasa, ia hendak bangkit untuk duduk, namun rasa nyeri di perutnya membuat ia meringis dan menyibak selimutnya.
"Akh! sialan perutku, akan ku cincang Muzakir sialan itu!" desisnya sambil kembali berbaring.
"Ckckck ... baru bangun sudah mengumpat!"
Sadam menoleh ke samping kirinya, dia baru menyadari ia tidaklah sendirian. Disana ia melihat Kenzo dan Zahira duduk di sofa ruang tunggu, Zahira adalah orang yang tadi menegurnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kenzo.
__ADS_1
"Pikirmu? ini lebih menyakitkan dari pukulanmu. Aku bahkan kesulitan bergerak," ujarnya dengan nada kesal.
"Dasar lemah!" ejek Kenzo. Zahira terkekeh pelan dan bangkit mendekati ranjang.
"Kata dokter lukamu akan membaik dalam beberapa hari, tenang saja. Apa kamu lapar? Aku akan menyuapimu," kata Zahira dan mengambil bubur sarapan di atas meja yang sudah di siapkan oleh rumah sakit.
"Hmm ... aku sangat lapar, tapi aku tidak suka bubur, yang benar saja? mereka pikir aku anak TK?!" kesal Sadam lagi.
Disini Zahira baru menyadari satu hal, Sosok sadam yang jahil dan dewasa akan berubah mengesalkan di saat ia sakit dan berada di rumah sakit. Sifatnya persis seperti remaja labil yang menyebalkan.
"Dasar manja! Aku akan membawamu pulang sekarang asal kamu menghabiskan buburmu!" kata Kenzo dan mengambil bubur itu dari tangan Zahira.
"Kamu janji?"
"Hmm ... " sahut Kenzo malas dan mengacungkan sendok berisi bubur ke depan mulut sahabatnya itu.
"Zahira saja ya, yang menyuapiku," pinta Sadam dengan senyuman yang di balas dengan wajah datar Kenzo.
"Apa kepalamu juga butuh di lubangi?" sarkas Kenzo yang mengundang tawa Zahira.
"Cepatlah makan, aku akan menemani ibu. Dia pasti bosan sendirian di kamarnya?" ujar Zahira dan beranjak dari sana.
Setelah Zahira menghilang di balik pintu, raut wajah kekanakan Sadam hilang begitu saja. Digantikan wajah marah luar biasa.
"Muzakir itu harus membaayar ini, Kamu harus membalasnya dengan cara yang sama!"
"Jangan kekanakan ... " nasehat Kenzo. Ia sebenarnya paham kenapa Sadam bicara begitu, Sadam tidak suka kekalahan. Dan ia terluka merupakan bentuk penghinaan baginya.
"Aku tetap akan membalaanya nanti!"
"Hmm ...lakukan saat kamu sudah sembuh, lagi pula kamu akan disibukkan dengan hal lain mulai sekarang, Muzakir nanti saja. lagi pula dia sudah tamat."
"Ah ... benar! Dursley dan atasannya pasti sedang merencanakan sesuatu pada kita,"
__ADS_1
"Karena itu kita harus secepatnya pergi dari sini, tempat ini tidak aman bagimu dan ibuku di saat aku tidak ada. kamu akan aku pindahkan ke SS Guard, disana lebih aman. kami akan merawatmu bersama dokter Yuan," kata Kenzo. dr.Yuan adalah dokter pribadi Kenzo dan termasuk orang yang setia padanya. Sadam hanya menghela napas, matanya menerawang jauh. ia paham situasi mereka akan semakin sulit mulai sekarang.