Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Terungkapnya rahasia


__ADS_3

Zahira melihat ayah mertua dan abang iparnya sedang berbicara bersama Kenzo. Zahira sedang berada di lantai dua. Dia melihatnya melalui jendela kaca di lorong menuju tangga darurat menuju area belakang rumah. Penasaran, Zahira ingin mendekati mereka. Dia turun melalui tangga dan sampai di tepi kolam renang. Ia berjalan melewatinya lalu memilih ke arah kiri, dimana ada sebuah bangunan lagi. Tempat dimana dijadikan area latihan bela diri.


Beberapa pengawal yang melewatinya memberinya hormat. Zahira tidak begitu memperhatikan sampai pada satu suara teriakan menghentikan langkahnya. Zahira berlari masuk ke dalam arena latihan dan mendapati Jey yang terlempar jatuh dari arena tanding.


Beberapa orang tampak membntunya berdiri. Zahira menghela nafas, dia memperhatikan betapa gigihnya Jey menjalani latihan. Bahkan dia melupakan sekolahnya di Jerman. Melihat kedatangan Zahira, seluruh orang disana termasuk Jey memberi hormat mereka sebelum melanjutkan latihan.


"Dia sangat gigih." Sebuah suara mengalihkan perhatian Zahira, Sadam muncul di sampingnya entah dari mana. Dia juga memakai baju latihan.


"Pernahkah dia mengatakan apa tujuannya? Dia terlihat ingin melakukan sesuatu." tanya Zahira.


"Dia ... hanya tidak suka diremehkan."


Zahira menoleh pada Sadam, "Tidakkah dia ingin menemui ayahnya?" Sadam menoleh, menatap Zahira yang penasaran.


"Aku pikir ... dalam lubuk hatinya. Orang pertama yang ingin ia lawan adalah ayahnya sendiri. Dia menyimpan dendam begitu lama untuk kematian ibunya. Kalaupun ingin, alasan dia menemui ayahnya pastilah untuk balas dendam."


"Bagaimanapun juga ... ayah tetaplah ayah kan?" sahut Zahira.


Dia mengjembuskan nafas lalu meninggalkan tempat latihan. Tujuan awalnya adalah menemui dua orang yang sedang berbicara dengan suaminya. Namun sesampainya di tempat yang ia tuju, ketiganya sudah pergi. Zahira kembali menghela nafas. Dia akhirnya memilih duduk di salah satu bangku kayu di bawah pohon. Menikmati suasana taman belakang yang cukup indah dan asri.


"Akan memyenangkan kalau tidak ada pertumpahan darah." gumamnya.


"Aku mencarimu dan ternyata kamu disini." Zahira menoleh, mendapati Kenzo datang dari arah rumah.


"Apa yang kamu bicarakan dengan ayah dan kak Lutfi tadi?" tanya Zahira tampa basa basi.


"Ini dan itu, tidak ada yang penting."


Zahira bangkit lalu menatap Kenzo dengan tangan dilipat. "Lihat kan? kamu kembali merahasiakan segala sesuatu." Kenzo menatap mata istrinya, dia melepaskan tangan Zahira dan menariknya agar memeluk pinggangnya. Lalu tangannya beralih membelai wajah Zahira sebelum memeluknya.


"Jangan tunjukkan wajah itu sayang, aku tidak bisa menerimanya lebih lama. Aku merindukan istriku yang manis." kata Kenzo dengan lembut.


Zahira menghembuskan nafas, dia juga tidak ingin marah namun dia tidak bisa menerima diperlakukan seperti anak bayi yang tidak boleh lecet. Kepribadian Zahira itu keras dan mandiri, sehingga diperlakukan seperti putri membuatnya muak. Dia juga ingin ikut terlibat dengan apa yang dilakukan Kenzo.


"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Zahira, suaranya sudah tenang.


"Hanya mengikuti alur, bergerak saat mereka bergerak. Aku sedang menunggu ... menantu dan mertua saling serang satu sama lain. Dengan begitu, kita akan masuk dan menembakkan peluru pada keduanya saat mereka lengah." Clara mendongak, dia tidak begitu mengerti namun ia paham intinya.


"Jadi, kalian akan membuat mereka pecah?"


Kenzo menunduk, mencium puncak hidung Zahira dan tersenyum. "Ya, rahasia mereka akan terbongkar sedikit demi sedikit. Maka aku hanya perlu meluncurkan serangan terakhir."

__ADS_1


"Lalu ... penculik lain yang kamu kirim pada Prakoso?"


"Oh, dia sudah ditarik kembali. Aku mengubah rencana karena sesuatu datang. Aku akui kemarin terlalu gegabah. Dia dalam tawananku bersama Muzakir. Saat yang tepat, keduanya akan menjadi saksi untuk kehancuran mereka bersama." jawab Kenzo.


"Dia akan dilaporkan sebagai orang hilang jika kamu menyekapnya."


"Lalu apa? membiarkan dia bebas setelah semua yang dia lakukan? Lagipula polisi tidak akan bisa menggeledah bangunan itu."


"Kenapa?" tanya Zahira dengan raut curiga.


"Karena mereka tidak punya alasan untuk itu. Kalaupun ada, mereka harus melewati pengamanan tingkat tinggi yang dibuat Endru."


"Endru? Tempat itu dibuat olehnya?"


Kenzo memberikan senyum penuh makna, "Endru adalah pembuat strategi yang baik, dia membuatnya bersama Sadam." Kenzo mengurai pelukannya lalu menggenggam tangan Zahira untuk pergi dari sana.


"Kapan aku mulai bekerja lagi?" tanya Zahira saat mereka melewati pintu masuk.


"Kamu bisa bekerja dari rumah, Tomi akan menanganinya dengan baik, berbahaya untukmu saat ini. Mereka sangat ingin menyerangku. Mereka tidak boleh menyentuhmu lagi."


Zahira mendengus, dia benci diperlakukan seperti bayi, dan Kenzo lagi-lagi melakukannya.


.


Prakoso bangkit dari kursinya, dia menelfon seseorang. "Dursley, datang ketempatku sekarang." katanya. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia menyimpan rencana.


"Beraninya dia ingin menusukku dari belakang setelah aku memungutnya. Sampah tetaplah sampah sampai akhir." desisnya tajam.


Dalam waktu 20 menit, Dursley masuk ke dalam ruangannya. Duduk di hadapan Prakoso yang menampilkan wajah penuh amarah.


"Ada apa anda memanggil saya?" tanya Dursley.


Prakoso menunjukkan vidio yang dikirim padanya. Setelah Dursley menontonnya, dia melirik Prakoso. Dia terlihat berhati-hati ketika akan bicara.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Prakoso.


"Dari mana anda mendapatkan vidio itu? saya harap kita tidak terburu-buru mengambil sikap, pak. Anda tahu Kenzo dan orang-orangnya ingin mengungkapkan kita kepermukaan." kata Dursley, dia terlihat sangat ingin menenangkan Prakoso. Sangat tahu bahwa Prakoso mudah terhasut.


"Meskipun itu dari musuh, vidio itu asli. Bagaimana orang yang aku pungut menjadi menantuku malah ingin menebas leherku, ini tidak bisa dibiarkan!"


Dursley juga tidak mengerti apa yang dipikirkan presidennya. Bagaimana dia bisa ingin menyelamatkan dirinya sendiri sementara mertuanya bisa masuk ke dalam penjara?

__ADS_1


Di dalam vidio berdurasi 40 detik itu, ada perintah dari presiden kepada dua anggota Red Wine untuk menutup mulut mereka saat kasus terungkap. Selain itu, ada sebuah vidio yang diberikan presiden pada salah satu dari mereka. Mengatakan bahwa itu adalah bukti yang bisa meringankan mereka bertiga. Mereka ingin menyerahkan itu pada polisi sementara sidang Muzakir masih menggantung karena dia diketahui melarikan diri.


"Dapatkan bukti itu dari tangan mereka. Aku ingin melihat apa yang mereka miliki. Sampai aku menemukan cara melengserkannya, tetaplah berpura-pura bahwa kita tidak tahu apapun. Dua orang itu, tarik mereka dengan cara apapun untuk memihak padaku." perintah Prakoso.


"Akan saya lakukan, Pak." jawab Dursley.


Setelah pembicaraan itu, Dursley kembali menuju perusahaannya. Di dalam mobil, supir sekaligus asisten yang sangat setia padanya, meliriknya sekilas. Melihat ekspresi tuannya yang tampak gelisah.


"Apa yang salah, Tuan?"


Dursley menatap bagian belakang pria muda yang audah dibesarkannya itu. Anjing setianya yang akan melakukan apapun untuknya.


"Sesuatu berjalan tidak baik, pak tua itu ingin menyerang menantunya. Menantunya juga merencanakan menyelamatkan diri sendiri. Bagaimana menurutmu?" tanya Dursley.


"Poinnya Tuan?"


"Dapatkan bukti yang ada pada jaksa agung. Sebuah vidio yang memberatkan pak tua itu di persidangan. Lakukan diam-diam, jangan gunakan kekerasan."


"Selain itu ... aku ingat seorang pria tua yang dulu menjadi rekan presiden sebelum dia menikahi ibu negara saat ini. Dapatkan dia untukku, temukan keberadaannya."


Pria muda itu menarik senyum tipis. Terlihat sangat memahami apa yang akan dilakukan tuannya. Dia memgangguk patuh kemudian.


.


Tengah malam, asisten Dursley benar-benar menyusup kedalam rumah jaksa agung. Dia masuk dengan lancar dan mulai menggeledah ruang kerja sang tuan rumah. Sayangnya dia tidak menemukan apapun. Karena itu, dengan berani dia memasuki kamar utama. Dimana jaksa itu sedang istirahat bersama sang istri.


Ditengah malam yang gelap, dia menggunakan senter dan bergerak sehalus mungkin. Benar-benar sangat terlatih dan ahli. Dia sama sekali tidak menimbulkan suara apapun.


Pria itu memeriksa lemari, disanalah dia menemukan tas kerja si jaksa. Dengan wajah santai dia membukanya dan mencari apa yang sang tuan inginkan. Ketika dia menemukan benda itu tersimpan dalam map merah, dia tersenyum kecil.


Saat ia merapikan kembali isi tas yang berantakan, saat itulah ia melihat sebuah berkas. Juga sebuah foto yang amat ia kenali. Seorang anak berumur 6 tahun. Pria itu mengingatnya, mereka berasal dari desa yang sama.


Pria itu melihat berkas lain, lalu biodata anak itu. Seketika ia terkejut saat melihat salinan akta lahirnya. Dengan sigap dia mengambil semua berkas mengenai anak itu lalu menyimpannya di dalam saku jaketnya. Dia segera keluar dari sana setelah mengembalikan tas itu pada tempatnya.


Dalam perjalanan pulang, asisten Dursley terus memikirkan identitas si anak. Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam. Dimana dia yang saat itu sedang menjalankan misi yang diperintahkan Dursley. Dia bertemu anak itu di sebuah persimpangan gang. Saat itu dia terluka parah di kakinya. Anak ini menyelamatkannya dengan mengalihkan perhatian dari musuh yang mengejarnya saat itu.


Mereka sempat tinggal bersama selama satu minggu sebelum anak ini menghilang. Saat itu dia tidak begitu peduli, dia hanya berpikir anak itu telah menemukan keluarganya. Karena saat ia bertanya, anak itu berkata bahwa ayahnya menjualnya. Dia sedang melarikan diri dan mencari paman dari pihak ibunya.


"Jadi ... presiden itu memiliki anak dan istri sebelum menikah dengan anak Prakoso?" gumamnya, lalu dia tersenyum sinis. "Dunia begitu sempit, jadi dimana anak dan istrinya saat ini?" tanyanya pada diri sendiri.


"Jadi ini adalah misiku berikutnya bukan?" Dia tersenyum lebar. Sangat senang dengan apa yang ia temukan.

__ADS_1


__ADS_2