
Zahira biasanya hanya memakai pelembab wajah dan lipblam. Dia tidak pernah mau memakai yang lain. Sekarang mau menolakpun dia tidak bisa. Dia kapok melawan Kenzo tempo lalu. Meskipun bisa melawan preman biasa, Kenzo bukanlah tandingannya. Mau tidak mau ia dipaksa patuh.
Kenzo yang sudah siap dengan setelannya memandang Zahira yang baru saja keluar dari rungan istirahatnya. Kenzo yang biasanya melihat Zahira tampil alami, sekarang ia dipakaikan make up natural yang terlihat cantik diwajahnya. Membuat ia mengumpat didalam hati.
"Ada apa dengan ekspresimu?" Tanya Zahira karena ia seakan sedang menahan diri.
"Tidak! Aku hanya tidak suka, kalau semakin cantik begitu akan banyak pria yang melirikmu. "
Jika memaki orang diperbolehkan, maka Zahira sudah ingin memaki Kenzo didepan wajahnya karena kalimat absurd yang kini membuat kedua telinganya memerah. Wanita yang tadi meriasnya tampak menahan senyum. Dengan segera ia undur diri dan keluar dari sana.
"Mulutmu kenapa jadi manis begitu? Dasar aneh. Kamu punya kepribadian ganda ya! "
Kenzo menatapnya seolah sangat takjub dengan kepribadian gadis didepannya itu. Zahira bahkan tidak terpengaruh dengan rayuannya.
"Tuan, mobil anda sudah siap. Tuan besar meminta pertemuan di rumah utama bersama nyonya besar. Beliau bilang dia juga punya sesuatu yang ingin dibicarakan_"
Jimi terdiam ditempatnya, dia takjub melihat perubahan Zahira.
"Sudah bosan hidup? " Ketus Kenzo.
Zahira memutar matanya jengah, Jimi menggaruk tengkuknya salah tingkah. Dia juga segera meminta maaf dan buru-buru keluar.
"Aku rasa kamu perlu ke psikiater, kamu sepertinya punya gangguan. " Ujar Zahira sok tahu yang mendapat delikan tajam.
"Ayo berangkat, Aku yakin pak tua itu juga menyiapkan kejutan untuk kita. Aku tahu sekali gaya permainannya. "
Kenzo meraih jas digantungannya dan segera memakainya. Dia meraih pergelangan tangan Zahira dan segera berangkat. Jimi yang memang sudah menunggu segera berjalan di belakang mereka. Semua mata yang mereka lewati menoleh ke pada Zahira dan Kenzo. Zahira tampil lebih cantik dan Kenzo yang menggenggam tangannya. Segera saja mereka berbisik-bisik, saling bertanya karena penasaran.
Disebuah rumah sakit, seorang laki-laki yang terlihat lebih tua dari umurnya sedang duduk dikursi roda, segera bersiap untuk pulang. Ya, dia adalah Gunawan ditemani Istri dan anaknya Adel.
__ADS_1
"Orang tua Kenzo meminta kita datang kerumah mereka, katanya ada jamuan makan siang... apakah Papa bisa berangkat? Papa bahkan baru saja keluar. "
Tanya sang istri, Gunawan tersenyum dan menggenggam tangan istrinya lembut.
"Pah... biar Adel aja ya, Papa istirahat aja. Nanti adel kasih pengertian kepada mereka. " Bujuk Adel, nadanya penuh kekawatiran namun sebenarnya ada niat tersembunyi dari ide itu.
"Apa tidak masalah, Bagaimana kalau mereka nanti tersinggung? " Tanya sang ibu tampak kawatir.
"Tenang saja, Tidak akan ma... Sekarang biar Adel antar sampai parkiran, Adel akan segera berangkat agar tidak terlambat. "
Kedua orang tuanya hanya mengangguk pasrah, selain sang ayah yang semakin lemah, ibu nya juga mulai sakit-sakitan.
Setelah mengantrar kedua orang tuanya Adel segera memesan taksi dan berangkat ke kediaman orang tua Kenzo. Didalam mobil ia memperbaiki riasannya dan memakai parfum tambahan. Senyum cerah terukir dibibirnya. Ia sudah berharap pertemuan kali ini akan mempercepat pernikahannya, tampa mensuga ada kejutan yang akan ia dapatkan.
Sesampainya dirumah super mewah itu, Adel segera turun dan disambut oleh pelayan dan dipersilahkan masuk. Di meja makan, sudah ada Kedua orang tua Kenzo yang tersenyum menyambutnya.
"Siapa yang kamu bawa? " Tanya ayahnya tajam.
"Ibu belum cerita? Dia calon menantu ayah. Namanya Zahira. "
"Calon menantuku hanya ada satu dan dia adalah Adel. Bukankah aku sudah mengatakannya?"
Kenzo terkekeh, Adel yang duduk disampingnya menunggu jawaban Kenzo dengan taku-takut. Dia masih mengingat hal memalukan saat rapat kemarin.
"Ayah sudah tahu jawabanku. Dia bukan tipeku, Aku mencintai Zahira. Bukan yang lain. "
Ayahnya terlihat menahan amarahnya. Dia tahu tidak ada gunanya menyerang Kenzo disaat seperti ini. Maka ia mengalihkan pandangannya kepada Zahira yang duduk santai di tempatnya, tampak tidak terganggu.
"Kamu! Dari mana anakku memungut ****** sepertimu? Aku akan membayarmu lebih untuk meninggalkan anakku. Aku tahu kamu pasti wanita yang dibayarnya, bukan? "
__ADS_1
Ibu Kenzo tampak tidak suka dengan tuduhan suaminya. Adel terlihat tersenyum sinis. Sementara Kenzo menggeram marah. Dia sudah bersiap akan membalas perkataan ayahnya sebelum didahului Zahira.
"Tampa dibayarpun saya bersedia meninggalkannya. Memangnya siapa yang ingin menjadi menantu anda? Galak begitu. Anda jauh lebih menyebalkan dari anak anda ternyata. Katakan kepada anak anda untuk melepaskan saya maka saya akan pergi dengan suka rela. " Kata Zahira dengan nada cueknya, dia tahu perkataannya sedikit tidak sopan, tapi ia tahu menghadapi orang seperti ayah Kenzo tidak bisa dengan cara lembut.
Kenzo yang mendengar itu sontak langsung tertawa terbahak-bahak. Berbeda dengan ayahnya yang tampak terkejut. Tidak menyangka akan respon Zahira yang tadinya ia pikir akan tersinggung dan malu malah sebaliknya. Ia seperti tertampar dengan kata - katanya sendiri.
"Ayah memilih lawan yang salah. Aku memang yang memaksanya karena aku yang jatuh cinta. Jadi... berhenti mencampuri hidupku dan urus saja ****** yang sesungguhnya ini. " Kata Kenzo dingin menyindir Adel yang tampak sangat malu. ia segera bangkit dan meraih tangan Zahira. Menyeretnya pergi dari sana setelah sebelumnya mencium pelipis ibunya penuh sayang.
Zahira yang memang sudah kesal juga hanya mengikuti kemana ia dibawa. Dia juga sempat berpamitan dengan Ibu Kenzo sebelum diseret pergi.
Didalam mobil, Zahira melepas sepatu hak tinggi dikakinya dan segera bersandar.
"Ayahmu sebelas dua belas denganmu. Apa tidak masalah kamu membantahnya begitu? "
Tanya Zahira dengan mata tertutup.
"Menghawatirkanku? "
Zahira berdecak dan membuka matanya, menatap kosong kedepan.
"Aku hanya iri padamu, Meskipun begitu... kamu memiliki orang tua yang memperhatikanmu. "
Kata Zahira dengan nada pelan. Matanya yang biasanya dingin menjadi penuh kesedihan. Kenzo menepikan mobilnya dan menatap lama Zahira sebelum menarik gadis itu dalam pelukannya.
"Aku berjanji akan menemukan orang tuamu. Tunggulah, tidak akan lama. Aku bisa menjamin hal itu. " Kata Kenzo lembut.
Zahira yang masih syok dengan apa yang terjadi hanya bisa mencoba menerima, ia mengangguk pelan sebelum berusaha menarik diri. Ada yang berdesir di hatinya namun ia sama sekali tidak mengerti. Ia segera menormalkan ekspresinya kembali.
Kenzo kembali menjalankan mobilnya, tujuan mereka adalah mencari makan siang sebelum kembali ke kantor.
__ADS_1