
Zahira malah semakin menangis, entah kenapa perasaannya menjadi sangat sensitif saat mendengar pertanyaan yang sudah pasti ia tahu jawabannya. Zahira sadar dia membohongi dirinya sendiri selama ini.
"Tolong jangan hanya menangis dan jawab pertanyaanku," kali ini Kenzo sedikit lunak dan melembutkan nada bicaranya.
Zahira tidak menjawab melainkan melingkarkan tangannya di pinggang Kenzo dan menyenderkan kepalanya di dada Kenzo.
"Maafkan aku ... aku tidak bisa memihakmu saat kamu mengambil keputusan yang salah meskipun aku menginginkannya. Otak dan hatiku tidak memyetujuinya. Tapi aku tidak ingin dibenci olehmu. Aku ... aku ingin tetap seperti dulu ... hik hik tolong jangan menjauhiku lagi."
Kenzo tersenyum dalam diam, entah kenapa dia merasa lega luar biasa saat mendengar kejujuran wanita yang saat ini sudah ia rengkuh dalam pelukannya. Menepuk pelan punggungnya untuk menenangkannya.
Tidak jauh dari mereka berdiri, Sadam berdiri di depan lift dengan 3 kopi di tangannya. Memandang dua orang yang masih berpelukan dengan pandangan yang sulit di artikan. Separuh tampak lega namun separuhnya tampak tak rela. Namun dia memilih menghampiri keduanya dengan senyum seperti biasa dirinya.
"Sudah baikan?"
Zahira menarik diri dan menusap wajahnya yang berantakan. Menunduk dalam karena malu dengan wajah bengkaknya. Kenzo menepuk kepalanya lembut dan membawanya masuk kembali ke dalam kantor. Mengabaikan Sadam yang hanya bisa menghembuskan nafas dan mengikuti mereka.
"Sudah baikan? kalau malu peluk saja aku dan sembunyikan wajahmu," goda Sadam yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Kenzo. Saat ini mereka sedang duduk di sofa di mana Zahira duduk di samping Kenzo dan Sadam di hadapan mereka.
"Minumlah sebelum dingin," kata Sadam acuh.
"Katakan apa maumu? Aku akan memberikan apapun untuk mendapatkan kerjasama dengan program JJ," kata Kenzo tampa basa basi.
Sadam menarik sudut bibirnya dan tersenyum lembut. Kali ini tidak ada seringaian jahil apapun, wajahnya tampak lelah dan dia menatap Kenzo dengan ketulusan.
"Jangan begini kumohon ... aku ingin maafmu, hanya itu. Maka kerja sama apapun akan aku lakukan," ucap Sadam tulus.
Kenzo tentu saja tertegun, Zahira menggenggam tangannya dan memberikan tatapan memohonnya juga. Namun tampaknya Kenzo masih dengan hati kerasnya. Karena selanjutnya ia mendengus dan melepaskan genggaman Zahira begitu saja.
"Kalian merencanakan hal ini agar aku mau dibodohi lagi begitu?" tuduh Kenzo penuh selidik.
Zahira sudah mulai menagis lagi dan sungguh tampak putus asa. Berbeda dengan Sadam yang menunjukkan kekecewaannya. Tersenyum miris mengasihani diri sendiri. Dia bahkan tidak mengatakan apapun lagi selain menatap cangkir kopinya dengan tatapan kecewa nyaris putus asa.
"Aku hanya mengetes ngomong - ngomong," kata Kenzo lagi sambil mengambil gelas kopi dan meminumnya dengan santai.
Zahira dan Sadam sontak menatapnya dengan wajah penuh harap. Membuat Kenzo mendengus remeh.
"Kalian pikir aku tidak bisa lihat mana pura-pura dan sungguhan? Aku hanya menguji saja mana tahu kalian menipuku. Tapi tampaknya kalian sungguh-sungguh," lanjutnya dengan wajah tampa rasa bersalah sedikitpun.
Zahira dengan wajah bengongnya hanya mengerjapkan matanya, masih mencerna keadaan. Berbeda dengan Sadam yang kini segera bangkit dan langsung duduk di samping Kenzo, langsung melayangkan pitingan ke lehernya dan berusaha mencekiknya main-main sambil tertawa.
"Sialan, kamu! Aku sudah lelah dan frustasi dengan sikap keras kepalamu! Aku hampir putus asa memanas manasimu agar kamu mau bertindak! Aku benar-benar nyaris putus asa untuk meyakinkanmu!" kata Sadam masih dengan kepala Kenzo di antara ketiaknya.
"Lepas atau aku mematahkan tanganmu!" ancam Kenzo main-main. Nada suaranya sudah kembali seperti dulu lagi.
"Coba saja kalau bisa!" tantang Sadam.
Namun hanya beberapa detik, Zahira yang jengah melihat mereka mencubit sekuat tenaga lengan Sadam sehingga ia mengaduh dan melepaskan pitingannya.
__ADS_1
"Kenapa mencubitku sesakit itu?" protes Sadam sambil mengusap lengannya yang sudah dipastikan membiru.
"Kamu tidak lihat wajahnya jadi jelek karena memerah!" sahut Zahira asal.
"Ck, apa-apaan! bilang saja tidak suka pacarmu aku siksa!" sungutnya dan kembali ke tempat duduk semula. Kembali ke mode serius.
"Mau mendengar penjelasanku?" tawar Sadam.
"Bicara saja," sahut Kenzo.
"Aku merahasiakannya seperti yang aku katakan sebelumnya, karena aku menyayangimu. Saat itu kamu masih belum stabil. Aku sangat tahu dan yakin kamu akan langsung melakukan hal yang berbahaya jika dalam keadaan labil seperti dulu. Aku tidak ingin bibi juga bersedih. Karena itu sebisa mungkin aku melindungi kalian dalam diam dan berpura-pura tidak tahu bahkan di depan ayahmu. Namun akhirnya aku ketahuan oleh kak Lutfi. Sayangnya saat itu dia berhasil membujukku untuk tutup mulut. Kak Lutfi sudah menjadi kaki tangan ayahmu sejak SMA. Kak Lutfi tidak bisa membantah karena dia mencintai bisnis, dia punya tujuan dan ayahmu dengan lancar membantunya. Tentu tidak dengan perselingkuhan, kakakmu juga menentangnya. Bahkan semakin hari membenci ayahmu dengan permainan kotor dan nafsu bejatnya. Namun saat akan melawan, kakakmu mendapat ancaman akan istri dan berlanjut sampai ke anaknya. Kak Lutfi tidak punya kejeniusan dan kekuasaan seperti dirimu. Dia lemah ... ayahmu memanfaatkan hal itu. Foto yang kamu dapatkan saat itu adalah saat Lutfi mencoba membujukku lagi, selain itu ... Dursley bukan satu-satunya yang berkuasa dalam organisasi gelap itu. Ada satu yang menguasai pasar gelap dunia bawah, mafia yang sangat kuat. Dialah orang di belakang Dursley di Indonesia ini. Jaringan mereka tentu sampai ke luar negri. Hanya saja seperti halnya orang-orang kotor. Jika rekan mereka di salah satu negara terbongkar, mereka hanya akan diam dan mencari jaringan baru lain."
"Itu artinya kita hanya perlu melenyapkan yang ada di sini?" sahut Zahira.
"Tidak semudah itu sayang ... meskipun itu benar," sahut Sadam.
" Ku potong lidahmu memanggilnya begitu lagi," desis Kenzo penuh ancaman.
"Posesifmu itu ... ck ck ck!" Kenzo tidak mengidahkan ejekan Sadam, dia memang selalu tidak suka melihat keakraban Zahira dengan pria manapun terutama Sadam sendiri. Sesungguhnya hal itu juga yang membuat kemarahannya kepada Sadam menjadi dua kali lipat.
"Aku sedang mengamati, mereka masih sibuk dengan bisnis kotor mereka. Selagi kita belum mengusik, kita hanya saling mengawasi sampai saat ini." lanjut Sadam.
"Aku tahu, karena itu aku menciptakan SS Guard, Aku akan menghancurkan mereka diam-diam sebelum muncul terang-terangan,"
Sadam menatap Kenzo sesaat sebelum tertawa pelan.
"Jadi itu rencanamu? Tapi SS Guard ... akan jadi bumerang juga bagimu,"
"Singkirkan siapapun yang kamu bayar untuk SS Guard saat ini. Programnya cacat apa kamu tidak sadar? aku sudah melacaknya melalui JJ. Dia sangat pintar menipu tapi tidak denganku. Bersikap seolah programnya sudah hebat dan berusaha menerobos JJ untuk keuntungan pribadi. Kamu terlalu mudah mempercayainya. Singkirkan dia dan program SS yang sekarang."
"Maksudmu dia merencanakan menghancurkanku?" Sadam mengangguk sebagai jawaban.
"Wajah polosnya itu tidak bisa menipuku karena aku tidak menilainya seperti dirimu. Aku menilainya melalui pekerjaannya, Aku tidak tahu siapa yang membayarnya karena kamu memiliki banyak musuh. Jimi bukan orang cekatan dalam menilai orang meskipun dia setia kepadamu."
Kenzo tampak menggeram dan murka sesaat sebelum mengendalikan ekspresinya seperti biasa.
"Temui ia besok dan tunjukkan apa yang kamu katakan, aku mau dia bersujud di kakiku sebelum mati," geramnya.
"Dengan senang hati." sahut Sadam riang.
"Tunggu ...." Zahira mengintrupsi. Menatap Kenzo was was.
"Kamu tidak akan membunuh, Kan?" lanjutnya dengan kawatir.
"Aku ingin sekali, ini akan jadi yang pertama, bagaimana?"
"Jangan!" sahut Zahira keras. Membuat Kenzo terkekeh dan mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Tenang saja, aku bukan penjahat. Aku hanya akan sedikit memberinya hukuman."
Zahira lega mendengarnya.
"Ayo pulang, aku akan mengantarmu," lanjut Kenzo sambil menarik Zahira untuk bangun.
"Bagaimna denganku?" Tiba-tiba Sadam bangkit juga, pura-pura kesal meskipun dia tahu jawaban apa yang akan di dengarnya.
"Jangan mengganggu dan menjauh darinya!"
Zahira memberikan tatapan meminta maaf sebelum di seret pergi.
"Selamat kembali ke dalam penjaramu!" teriak Sadam sebelum pintu tertutup.
"Kamu menganggapku penjaramu?" Tanya Kenzo saat di dalam lift untuk turun.
"Tidak," jawab Zahira cepat.
"Apa sekarang kamu menyukaiku?"
Zahira tidak menjawab secara langsung, dia malah menatap tangannya yang sedang di gemggam.
"Kapan aku mendapatkan jawabanmu?" tanya Kenzo lagi.
"Hmm ... Aku ... aku tidak tahu. Aku ... hanya tidak suka kamu menjauhiku. Tidak suka membenciku dan mengabaikanku ... apa itu yang di sebut suka?"
"Itu cinta,"
"Cinta?"
"Hmm ... Cinta. Seperti saat aku benci menjauhimu, sakit melihatmu dekat dengan pria lain. Itu cinta."
Keduanya saling bertatapan sampai lift terbuka. Zahira yang memutus duluan. Ia menarik tangan Kenzo keluar dan menghampiri Jimi yang sudah menunggu mereka di parkiran dengan siaga. Tersenyum ramah saat Jimi juga tersenyum ramah padanya dan tampak luar biasa lega melihat tuannya kembali dengan wajah sumringah.
"Silahkan Tuan dan Nona ... saya akan mengantar anda," kata Jimi dengan senyum lebar sambil membukakan pintu.
Zahira tersenyum malu dan segera masuk disusul Kenzo yang hanya bersikap santai.
"Pulang ke apartemenku? ibu pasti senang bertemu denganmu. Dia selalu menanyakanmu setiap aku pulang," kata Kenzo.
"Aku ingin ... tapi ibuku juga menunggu," jawab Zahira dengan ragu.
"Bagaimana jika kita menikah dan tinggal serumah, jadinya tidak susah begini."
mendengar hal itu sontak membuat Zahira memukul lengannya.
"Kenapa memukul?"
__ADS_1
"Aku malu, bodoh. Cepat antar aku kerumah."
Kenzo terkekeh dan mengusak kepala Zahira sebelum kembali menggenggam tangannya. Menikmati keheningan dengan perasaan bahagia. Menikmati irama jantung yang memompa begitu cepat dan suasana senja yang mulai turun.