Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Rencana


__ADS_3

Sadam mengeluarkan tablet yang sedang memutar vidio transaksi beberapa gadis belia yang ia dapatkan beberapa minggu lalu saat pengintaiannya bersama Kenzo. Menunjukkan keterlibatan elit politik yang berada dalam lingkaran organisasi yang saat ini mereka sebut Red wine itu.


Wewen tentu saja sangat terkejut. Dia bahkan memandang Sadam dan Zahira dengan ekspresi tidak percaya. Wewen menghormati salah satu di antaranya. Dulu dia adalah panutannya sebelum keluar dari kepolisian.


"Ap ... apa itu benar-benar pak Gatot? ti ... tidak mungkin ...." Wewen bahkan tampak terlihat sedih dan kecewa sekaligus.


"Ada apa denganmu?" tanya Zahira.


"Beliau adalah orang yang paling aku hormati. Dia sangat religius, sangat menjaga diri ... saat di kepolisian aku bahkan tidak pernah melihatnya merokok. Dia ... panutan banyak orang," kata Wewen. Mengusap wajahnya sekali dan bangkit untuk mengambil air putih.


Zahira dan Sadam saling melempar pandang. Tidak menyangka bahwa Wewen sangat dekat dengan salah satu dari mereka yang terlibat. Zahira menggaruk keningnya yang tidak gatal, sedikit merasa bersalah membuat temannya itu tampak kecewa. Berbeda dengan Sadam yang tampak acuh.


"Tapi ... aku tidak mengenal salah satu di antara mereka. Kelihatannya masih sangat muda." Wewen sudah duduk kembali di tempatnya tadi.


"Itu adalah asisten pribadi ayah Kenzo," jawab Zahira dengan lancar.


"Apa?" Wewen terkejut lagi.


"Maksudmu ayah pacarmu itu terlibat juga?" tanyanya dengan mata melebar. Sadam tertawa geli melihat raut wajah Zahira yang berubah jadi merah.


"Dia bukan pacarku!" bantahnya yang sama sekali tidak di tanggapi oleh Wewen.


"Intinya, Jendral kita yang sekarang menjadi Kapolri, berada di bawah perintah Dursley. Mentri keuangan adalah rekanan mereka, Mentri BUMN yang baru saja di lantik adalah bawahan Duraley yang lain. Upaya mereka memgambil alih pemerintahan dengan memasukkan orang-orang mereka satu persatu ke kursi yang memiliki kekuasaan adalah tahap awal untuk mengatur negri ini. Sebenarnya ini sudah berlangsung lama. Mereka terorganisir oleh badan yang lebih besar dari luar negri. Mereka di sokong oleh pihak asing." Penjelasan Sadam membuat mereka termenung sesaat. Menyadari tidak mudahnya menghadapi mereka.


"Dan Dursley menginginkan Kenzo," lirih Zahira.


"Apa maksudmu?" tanya Wewen.


"Dursley ingin Kenzo menjadi pemimpin selanjutnya karena tidak memiliki penerus laki-laki. Dia ingin menjadikannya boneka dengan menikahkannya dengan anak perempuannya," jawab Zahira.


"Tenang saja, tidak semudah itu mengendalikan Kenzo. Dia punya otak yang jauh lebih licik di bandingkan Dursley. Dursley tomson mungkin pria bertangan dingin, tapi sejauh pengamatanku ... Kenzo jauh lebih mendominasi. Kamu bahkan tidak akan sadar dia sedang berpura-pura atau sedang bersungguh-sungguh," kata Sadam dengan senyum penuh arti.


"Karena itulah ... tetaplah dalam kondisi aman karena keselamatanmu akan menjadi poin pentingnya. Kenzo tidak akan semudah itu jatuh kecuali kamu atau ibunya tertangkap," lanjut Sadam serius.


"Aku bisa melindungi diriku," sahut Zahira masih dengan keras kepalanya.


Tangan Wewen sudah akan terangkat untuk menjitak keningnya namun pergerakan pengawal di dekat pintu masuk yang menatapnya membuatnya urung.


"Jangan keras kepala dan sebaiknya kamu menuruti perintahnya," kata Wewen tegas.


"Sekarang ... tugas kita adalah mengumpulkan banyak bukti. Bergerak diam-diam dan jangan sampai mereka menyadari kita sedang memyelidiki mereka. Hati-hati dengan orang-orang sekelilingmu. Hentikan penyelidikan kalian sementara. Buatlah seolah-olah kalian menyerah," kata Sadam.


"Akan aku lakukan," jawab Wewen.


"Segera keluarkan mata-matamu kalau tidak mau dia mati konyol. Mereka tidak semudah itu di kelabui. Cepat atau lambat mereka akan sadar," kata Sadam. Wewen dan Zahira menatapnya terkejut.


"Bagaimana__"

__ADS_1


"Aku meretas komputer miliknya. bahkan semua data penyelidikannya ada padaku," potong Sadam santai.


"Wah ... Sadam kamu benar-benar," kagum Zahira sambil mengangkat kedua jempolnya. Kemudian memandang Wewen mengejek.


"Itu dia saja yang sangat pro, bukan pengamanan dataku yang jelek," kata Wewen sewot, merasa harga dirinya sedikit tercoreng.


"Jadi kamu tahu apa saja yang kami lakukan selama ini?" tanya Wewen.


"Hmm ... bisa dikatakan begitu."


"kgkdjdhgk!" umpatnya dalam bahasa yang hanya dirinya yang mengerti. Membuat Zahira tertawa lepas.


"Kamu sangat manis saat tertawa," ceplos Wewen santai. Membuat Zahira tersadar dan bersikap biasa lagi.


"Harusnya aku rekam dan mengirimnya pada Kenzo, dia pasti sangat menyukainya. Kamu tertawa bersama dua pria yang tidak disukainya," kata Sadam datar tampa rasa bersalah. Zahira mendelik tajam padanya sebelum meninju lengannya main-main. Kemudian tertawa bersama-sama membayangkan kemarahan Kenzo karena cemburu.


.


Di rumahnya, Kenzo dan kedua ibu mereka sedang menunggu Zahira. Kenzo menelfonnya namun tidak di angkat. Akhirnya dia menelfon pengawalnya.


"Di mana kalian?"


"Masih di tempat detektif Wewen Tuan."


"Segera bawa dia kembali," perintahnya.


"Baik Tuan."


Sementara Zahira yang masih berbicara dengan Wewen dan Sadam di hampiri pengawalnya yang tadi berbicara dengan Kenzo, pengawal yang merupakan pemimpin dari empat lainnya.


"Nona, anda sudah di tunggu Tuan," katanya dengan nada tegas namun sopan.


"Aku ikut mengantar," kata Wewen ikut bangkit.


"Aku juga," sahut Sadam. Membuat Zahira menatap keduanya dengan aneh.


"Ada apa dengan kalian?"


"Keselamatanmu tentu saja, selain itu ... aku suka melihatnya panas," ucap Sadam dan segera menarik tangan Zahira keluar.


Pengawal Zahira sudah mengenal Sadam, karena itu mereka tidak bisa bertindak lebih jauh. Mereka membiarkan Sadam membawanya masuk ke dalam mobilnya. Wewen ikut masuk ke dalam mobil yang sama. Pengawal utama mereka akhirnya menyuruh yang lain membawa mobil yang dibawanya tadi sementara dia ikut masuk ke dalam mobil Sadam dan mengambil alih kemudi.


"Kenapa rasanya ini sangat berlebihan," gumam Zahira.


"Santai saja dan nikmati pertunjukannya," kata Sadam santai.


"Asal dia tidak menghajar kita tidak begitu masalah, aku suka melihat Zahira jadi panik karena prianya. Selama ini dia cuek sekali," sahut Wewen dengan kekehannya.

__ADS_1


Zahira hanya menggeleng dan menghembuskan nafas karena pemikiran kekanakan mereka. Seolah membuat Kenzo marah adalah hiburan. Wewen yang dulu takut juga kelihatan sudah bersikap biasa, apa itu karena pengaruh keberadaan Sadam?


Sesampainya mereka di depan rumah Zahira, Sadam tertawa sinis melihat ke luar jendela. Memperhatikan beberapa orang yang tadi mereka lewati saat berbelok jalan masuk perumahan.


"Kenapa?" tanya Zahira saat mobil mereka memasuki halaman.


"Banyak sekali pengintai di luar sana, mereka belum bergerak karena kamu di kawal ketat, atau mungkin hanya menunggu perintah," kata Sadam dan membuka pintu duluan.


Kenzo sudah berdiri di depan rumah saat mereka tiba bersama kedua ibu mereka. Matanya menyipit dan rahangnya mengeras saat melihat Sadam dan Wewen keluar dari mobil yang sama. Tatapannya seolah ingin membunuh keduanya.


Zahira yang menyadari aura tidak enak segera berjalan mendekatinya dan menghalangi pandangannya.


"Menyingkir, aku ingin bicara dengan dua temanmu itu," kata Kenzo dengan nada menyindir.


Ibu Kenzo berjalan mendekati Sadam dan memeluknya, menanyai kabarnya dan segera membawanya masuk. Ibu zahira juga menyurih Wewen masuk, memberi waktu untuk Zahira dan Kenzo bicara.


"Lihat, ibu bahkan menyukai mereka," kata Zahira tenang.


"Aku tidak!"


"Jangan berlebihan,"


"Berlebihan? Mereka sengaja membuatku marah, mereka berani menantangku dengan datang ke sini denganmu ... menurutmu aku harus diam saja?" kata Kenzo dengan sewot, mata tajamnya menatap Zahira jengkel. Jelas sekali dia sedang cemburu dan seperti anak yang barang berharganya di ambil, marah sekali.


Zahira tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Dia bahkan mengutuk Sadam dan Wewen dengan ide mereka yang kini menyulitkannya. Menghadapi Kenzo yang cemburu lebih sulit dari pada kemarahannya karena hal lain.


"Mereka temanku, tolong tenanglah. Mereka tidak akan melakukan apapun," kata Zahira.


"Mereka bisa mengambilmu," pancing Kenzo.


"Mengambil apa ... aku sudah menjadi milik__" Zahira segera bungkam begitu menyadari apa yang akan keluar dari mulutnya.


"Milik siapa?" tanya Kenzo dengan seringaiannya.


"Kamu menjebakku dengan kemarahan palsumu?" tuduh Zahira yang pada dasarnya benar. Namun karena ini Kenzo dengan mudah ia berkelit dan memutar balikkan keadaan.


"Sekarang kamu menuduhku," katanya datar.


"Bukan menuduh, kamu baru saja__"


"Apa?"


"Me ... menyeringai jadi aku pikir__"


Zahira membulatkan matanya saat Kenzo manarik pinggangnya mendekat, memeluknya dengan sebelah tangan dan mencengkram dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya.


"Tentu saja kamu hanya milikku, kamu hanya milik Kenzo," bisik Kenzo di depan wajahnya.

__ADS_1


Zahira segera melepaskan diri. Dengan wajah memerah dia masuk ke dalam rumah meninggalkan Kenzo yang sedang tersenyum manis karena berhasil menggodanya.


"Sadam ... Wewen ... beraninya kalian," desisnya sebelum menyusul masuk ke dalam rumah.


__ADS_2