Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Kebenaran yang lain


__ADS_3

Saat ia sampai dilobi depan, kedua bodyguard nya seperti biasa segera menghampirinya. Sejak kejadian dirumah sakit, Zahira baru melihat mereka lagi setelah Kenzo menghajar mereka habis-habisan. Zahira menatap keduanya bergantian dengan pandangan meminta maaf.


"Apa masih ada yang sakit? "


Tanya Zahira pelan.


Keduanya menunduk hormat, tidak berani menatap matanya secara langsung. Hal itu karena Kenzo yang memerintahkan mereka.


"Sudah tidak apa-apa Nona, Mohon jangan kawatirkan apapun." Jawab salah satu diantara mereka.


"Boleh aku tahu nama kalian? Apa kalian lebih muda dariku? "


Keduanya tidak menjawab, Zahira yang mengerti akhirnya tersenyum penuh pengertian.


"Aku mengerti, Sekali lagi aku Minta maaf karena aku kalian jadi dapat masalah. Sekarang antarkan aku kekantor polisi. Aku harus menemui seseorang. " Ucap Zahira.


Keduanya mengamgguk dan salah satu diantara mereka segera menghubungi Kenzo untuk melapor. Kenzo sepertinya memberikan izin karena mereka tidak menahan langkah Zahira.


Sesampainya dikantor polisi, Zahira berpapasan dengan Anton yang hendak keluar.


"Ooh... kenapa kamu kemari? " Tanyanya heran. Melirik sekilas dua bodyguardnya.


"Saya ingin Berbicara dengan pak Danu, Paman, bibi dan sepupuku. " Jawab Zahira.


"Kamu bisa menemui mereka, tapi tidak bisa sekaligus, mereka diletakkan disel yang terpisah. "


Zahita mengangguk, kemudian Anton memanggil salah satu polisi yang lewat dan memberikan perintah padanya. Zahira segera mengikuti polisi itu menuju ruang pertemuan napi dan pengunjung.


Zahira duduk di dinding transparan sebagai pembatas dengan lubang-lubang kecil ditengahnya. Dia melihat Danulah yang pertama dipanggil. Danu tampak merasa sangat bersalah saat matanya menangkap Zahira yang juga menatapnya datar. Disini, Danu juga ditangkap karena konspirasi penipuan yang dilakukan Bambang padanya.


"Nona muda..."


Zahira tidak menjawab, lama ia menatap wajah tua dihadapannya. Sedang berfikir dan berusaha mengendalikan kemarahan terpendamnya.


"Anda yang mengirimkan saya surat? Atau anda juga yang mengirimkan saya bedong? dari keterangan yang saya dapati, itu dua orang yang berbeda. " Tanyanya.


"Saya mengirim paket kepada detektif itu, dan Foto serta surat kepada panti. Masalah bedong saya tidak mengirimkannya Nona. Saya rasa masih ada dipanti jika Nona tidak membawanya. " Jawab Danu tampak bingung.


Zahira paham sekarang, benar dugaannya ada dua orang yang mengiriminya paket, Keduanya bergerak sendiri-sendiri.

__ADS_1


"Apa anda juga yang membayar orang untuk membuntuti saya? Atau paman yang memerintahkan anda untuk membuang saya? "


Danu tampak terkejut, dia tidak mengetahui perihal pemguntit dan Zahira bisa lihat itu.


"Tuan bambang tidak memerintahkan saya untuk membuang anda Nona. Dia memerintahkan saya untuk membunuh Nona saat baru lahir. Saya tidak tega dan saya sangat menghormati kedua orang tua Nona. Karena itu saya berbohong dan meletakkan anda dijembatan, berharap ibu panti yang setiap subuh lewat kesana mengambil anda. Saya sengaja menunggui anda diambil seseorang dan memastikan anda selamat. Saya mohon maafkan saya, saat itu saya tidak punya pilihan lain. Saat itu saya... saya... " Danu tidak melanjutkan perkataannya, dia terisak dalam tangisannya.


Zahira melirik petugas yang berdiri diaudut ruangan dan mengangguk tanda ia sudah selesai. Petugas polisi membawa kembali Danu yang masih menagis menuju sel nya.


Zahira sekarang harus tahu siapa yang menguntitnya dan mencari orang yang mengiriminya bedong. Zahira yakin penguntit itu yang mengirim bedong dan bermain-main dengannya. Danu jelas tidak berbohong padanya, Dia tidak mengetahui si penguntit. Selain itu, Danu mengawasinya dari jauh sejak ia diletakkan dijembatan. Penguntit itu baru beraksi dua bulan terakhir dan berakhir saat malam dimana penguntit itu pertama kalinya berbicara dan terang-terangan kepadanya. Sejak ia bekerja dengan Kenzo, dia tidak pernah lagi merasa diikuti.


Seseorang duduk dihadapannya lagi, disebalik dinding transparan. Seorang pria tua yang ia lihat saat rapat di Adira dulu yang ternyata adalah pamannya sendiri. Dalang dibalik penderitaannya hidup seorang diri dan selalu merasa dibuang.


"Bagaimana keadaan penjara? Apa anda nyaman? Saya harap anda mulai beradaptasi. Tempat tinggal anda disana mulai sekarang. "


Kata Zahira dingin.


Bambang tertawa, dia terlihat sama sekali tidak merasa bersalah dan tidak takut sama sekali.


"Kamu pikir anak ingusan sepertimu bisa melawanku? Kamu bahkan tidak tahu siapa aku gadis kecil. Aku akan keluar dari sini secepatnya. "


Jawab Bambang dengan sangat yakin.


Zahira tersenyum meremehkan sebelum melayangkan tatapan menusuknya.


Keduanya melayangkan tatapan membunuh. Zahira bangkit dari duduknya dan pergi dari sana. Dia kehilangan minatnya untuk menemui bibi dan sepupunya. Saat ini dia hanya ingin bertemu Kenzo untuk mengkonfirmasi sesuatu. Kecurigaan yang entah mengapa tiba tiba muncul dikepalanya setelah pembicaraannya dengan Danu.


"Antar aku kekantor tuan kalian. " Kata Zahira dingin kepada dua pria yang selalu mengikutinya itu.


.


Kenzo sedang rapat umum dengan seluruh managernya ketika Zahira datang dan tidak mendapati seorangpun diruangannya. Jimi juga tidak ada dimejanya. Karena itu dia memilih menunggunya diruang kerjanya. Zahira mengedarkan pandangannya kesetiap sudut kantor namun tidak menemukan apapun yang menarik. Akhirnya dia mengeluarkan ponselnya dan memilih membaca berita-berita terkini.


Jimi yang kembali karena harus mengambil berkas dimejanya terkejut saat melihat dua bodyguard Zahira sudah berdiri diluar pintu ruangan tuannya. Mereka saling memberi sapaan sebelum Jimi kembali keruang rapat.


Sesampainya disana, dia berdiri disisi Kenzo dan membisikinya sesuatu. Memberitahu bahwa Zahira datang. Kenzo mengangguk sekilas sebelum merapikan jasnya dan bangkit dari sana.


"Aku mau kalian sudah mendapatkan ide saat aku kembali. " Katanya sebelum keluar.


Sesampainya didepan pintu kantornya, pengawal Zahira dengan sigap membukakan pintu. Hal yang dilihatnya pertama kali adalah Zahira yang sedang fokus pada layar ponselnya.

__ADS_1


"Jadi kamu langsung kesini setelah menemui mereka? Dua hal yang kufikirkan. Ada yang mengganggumu dan kemungkinan kedua adalah kamu rindu padaku. Jadi alasanya yang mana yang aku dengar?"


Zahira mengangkat kepalanya. Memandang sengit pria yang sekarang duduk diatas meja tepat didepannya. Mendengus kasar sebelum menggeser kursi sedikit kebelakang untuk memberikan jarak.


"Siapa yang rindu padamu! Kemana kamu semalam? Kamu sedang berbuat kriminal? "


Kenzo menatapnya dalam sebelum tersenyum.


"Aku tahu bukan itu yang ingin kamu tanyakan bukan, Tapi aku akan tetap menjawab. " Kata Kenzo menjeda perkataannya, menunggu apakah Zahira akan menyela. "Aku mengurus tikus yang menggigitku diam-diam. Kamu akan terkejut siapa saja yang terlibat. Tapi itu bukan apa yang kamu ingin bicarakan, bukan? Sekarang katakan kenapa kesini?"


Zahira menatapnya, menimbang-nimbang apakah ia akan mendapatkan jawaban yang jujur dari pria ahli berkelit dihadapannya ini.


"Aku memiliki penguntit sebelum bekerja denganmu."


Kenzo mengangguk sekilas.


"Dia berhenti saat aku mulai terlibat denganmu. " Kata Zahira mulai memancing.


Kenzo tampak tidak terpengaruh, dia hanya mengangguk dan menyuruh Zahira melanjutkan.


"Apa mungkin kamu yang menyuruh mereka?"


Kenzo tidak menampilkan ekspresi apapun. Matanya menatap mata Zahira yang dia tahu sedang berusaha mencari kejujuran.


"Aku akan minta maaf untuk itu. Aku sedang menyelidikimu dan sedikit bermain-main sebelum membawamu masuk kedalam kehidupanku. Seperti yang kamu tahu, niat awalku padamu untuk melawan ayahku. "


Zahira mengumpat dalam hati. Dia jelas sangat kecewa dan marah namun tidak bisa melakukan apapun. Harusnya dia sudah curiga sejak awal. Namun beberapa kejadian membuatnya tidak memikirkan penguntit itu lagi.


"Jadi kamu sengaja mengirim bedong itu saat menyelidikiku untuk mempermainkan aku? "


"Oh... itu kerjaan Sadam sebenarnya. Dia yang iseng padamu saat aku memintanya menyelidikimu. " jawab Kenzo dengan santai.


Sama sekali tidak kelihatan merasa bersalah.


"Dengan santainya kamu mengakuinya tampa rasa bersalah?! Waaah... Aku baru tahu kamu lebih ******** dari yang terlihat. Bagaimana kamu menipuku, berpura-pura melindungiku dari penguntit dan menyuruhku pindah."


Zahira berhenti, suatu kesadaran masuk dibenaknya dan dia terkekeh sinis setelahnya.


"Apa pertengkaran kakakmu juga settingan untuk bisa mengelabuiku agar ikut denganmu? licik sekali. Membawaku masuk dalam kehidupanmu dengan cara rendahan begitu. Apalagi tipuan yang kamu lakukan, Brengsek! " Maki Zahira dengan wajah sudah merah padam.

__ADS_1


Kenzo tahu cepat atau lambat Zahira akan menyadari akal liciknya. Zahira gadis yang pintar dan memiliki insting yang kuat. Karena itu ia memilih untuk langsung memgakui alih-alih berdalih dan menciptakan kebohongan yang lain.


Zahira beranjak dari sana meninggalkan Kenzo yang tidak beranjak dari tempatnya. Kenzo bahkan hanya diam saat Zahira memakinya sebelum keluar. Membanting pintunya dengan keras.


__ADS_2