Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Hilang


__ADS_3

Setelah Endru menemukan sebuah mension di tengah-tengah padatnya perkotaan, seluruh keluarga Kenzo di jemput dengan pengawalan ketat. Zahira dan Sadam sendiri pergi bersama setelah Kenzo meninjau perusahaan yang di pegang Jimi untuk sementara.


"Bagaimana dengan Jey, Ken? apa kamu akan membawanya juga?" tanya Zahira saat mereka dalam perjalanan.


"Dia akan tetap di sana. Aku tidak ingin membawanya ke rumah."


"Tidak, dia akan bersamaku. Dia lari dari Jerman karena aku. Kita harus membuatnya patuh dan setia. Meninggalkannya hanya akan membuat dia marah. Itu tidak akan baik kedepannya." tolak Sadam.


"Aku pikir juga begitu," sahut Zahira setuju.


"Baiklah, dia akan tinggal bersama kita. Hanya saja ajari dia dengan benar. Aku tidak suka apapun mengenai dia." keluh Kenzo.


Sadam dan Zahira diam saja. Tidak baik melakukan pembelaan atau membantah mengenai ini. Sejak awal Kenzo memang tidak menyukainya karena latar belakang Jey yang merupakan anak musuhnya.


"Ough!" Sadam terantuk karena lupa memakai safetybelt ketika supir mereka mengerem mendadak.


"Sungguh berani." gumam Kenzo dengan sorot mengerikan. Dia mengeluarkan senjatanya lalu keluar begitu saja.


Diluar, belasan pengawalnya sudah pada keluar berhadapan dengan orang-orang yang menghadang mereka dari arah berlawanan.


"Mereka cukup berani ditengah jalan yang lumayan ramai." komentar Sadam, lalu dia memutar tubuhnya ke belakang. "Jangan mencoba keluar," katanya dengan nada perintah saat Zahira sudah membuka pintu mobil.


"Tutup!" suruh Sadam dengan tegas, jelas sekali tidak ingin berdebat.


Zahira menutup kembali pintunya. Dengan cepat Sadam mengunci pintu otomatis dari depan. Pengawal sekaligus supir yang duduk di sampingnya mengeluarkan senjata api. Bersiap jika ada yang lolos menuju mobil mereka.


Zahira panik melihat Kenzo berdiri di depan mobil mereka. Dengan dua orang yang menghalangi musuh di depannya, Kenzo dengan mudah melepaskan tembakan. Kali ini benar-benar senjata api, bukan senjata bius seperti kali lalu. Banyak mobil yang akan melewati mereka memutar arah karena takut akan suara tembakan. Mereka bahkan melihat warga sipil yang berani merekam di serang.


Suasana sangat mencekam, musuh mereka sangat banyak dan orang Kenzo kalah jumlah karena harus terbagi untuk mengawal keluarga Kenzo dari rumah sakit.


Sadam yang ikut panik melihat mereka yang hampir kalah ikut keluar setelah membuka kunci. Begitu juga pengawal yang menjaga Zahira. Sehingga kini Zahira hanya sendirian.


Tempat itu seperti arena tawuran bersenjata api maupun senjata tajam. Orang-orang bahkan tidak berani mendekat. Mereka akan menghindar sejauh mungkin. Beberapa sepertinya ada yang melapor pada polisi.


Sekelompok warga yang sedang bersembunyi beberapa ratus meter dari sana kebingungan. Karena mereka sudah memanggil polisi sejak 20 menit yang lalu, namun sanpai kini tidak ada satupun yang datang. Padahal kantor polisi terdekat hanya berjarak sekitar 7 menit dengan mobil.


Sementara itu, Kenzo yang marah akhirnya benar-benar mengamuk, dengan peluru yang habis dan lengan yang terluka, dia menyerang dengan membabi buta. Banyak dari pihak musuh yang mati karena pukulannya. Bantuan datang dari pihak Kenzo setelah banyak dari mereka yang terluka. Kedua pihak sama-sama kehabisan peluru. Ketika Endru datang bersama tim yang tadinya mengawal kekuarganya, barulah mereka bisa di lumpuhkan.

__ADS_1


Kenzo kembali ke dalam mobil. Namun tubuhnya menegang kala tidak menemukan Zahira di dalam. Dia memutar tubuhnya dan menyapu pandangannya ke segala arah, namun tidak menemukan istrinya itu. Darah terus mengalir dari luka sayatan senjata tajam di lengannya. Sadam menghampirinya yang terlihat panik itu.


"Ada apa? kenapa kamu__"


"Zahira... !" gumamnya dengan nafas yang kacau. Dia berlari kesana kemari mencari dari banyaknya orang yang bergelimpangan. Namun tidak menemukan Zahira dimana-mana.


"Sial! cepat temukan istriku!" teriak Kenzo dengan rasa frustasi.


Sementara itu, Zahira terbangun dalam sebuah mobil yang sedang melaju. Kedua tangannya terikat dengan tali sepatu. Dia mengintip sekelilingnya dengan panik. Menyadari dia tertangkap, Zahira berusaha tenang. Dua orang pria yang duduk di depan sepertinya belum menyadari dia sudah terbangun.


Zahira mengingat kembali bagaimana ia berakhir ada di dalam mobil ini. Dia ingat ketika keadaan berubah mencadi lebih kacau, Kenzo diserang oleh seseorang dari belakang. Zahira berusaha menolongnya, namun belum sempat dia melangkah seseorang membekapnya dari belakang. Orang yang sangat kuat sehingga Zahira tidak bisa melepaskan diri sampai efek obat bius yang dihirupnya melumpuhkan semua sarafnya.


'Aku harus bisa lolos dari mereka sebelum sampai ke manapun mereka akan membawaku.' monolog Zahira. Dia memikirkan suaminya. Ingin kembali dan memastikan Kenzo baik-baik saja.


Zahira meraba-raba saku di belakang celana kainnya. Dia ingat membawa pisau lipat kecil sejak dari rumah untuk berjaga-jaga. Masalahnya adalah Zahira kesulitan mengeluarkannya karena posisinya tangannya diikat di depan tubuhnya. Dengan memaksa tangan sebelah kanannya terulur sementara tangan kiri mengimbangi, Zahira akhirnya berhasial meraih ujungya. Namun naasnya, mobil tiba-tiba berhenti dan salah satu dari mereka menoleh kebelakang. Mereka berhenti karena salah satu dari mereka buang air kecil di pinggir jalan. Sungguh tak tahu malu memang.


Zahira buru-buru memperbaiki posisinya dan kembali menutup mata. Saat ia rasakan mobil kembali berjalan, perlahan ia mengintip dari sela-sela kelopak matanya. Melihat keadaan kembali aman, ia berusaha lagi meraih pisaunya.


Ketika berhasil, Zahira langsung berusaha memotong tali sepatu itu. Tidak terlalu sulit, karena pisaunya sangat tajam. Lalu setelah tangan dan kakinya terbebas, Zahira duduk dengan santai.


"Kalian akan membawaku kemana?" tanyanya.


Mobil seketika oleng dan melaju dengan sembarangan. Beberapa kali menyenggol pengendara lain sebelum menabrak pembatas jalan. Mereka semua terbentur karena tidak ada yang memasang safetybelt. Zahira sendiri terhempas kedepan dan berakhir terguling di bawah tempat duduk. Kepalanya terbentur namun dia masih sadar.


Dengan cepat dia membuka pintu mobil dan keluar dengan sempoyongan. Mereka berada di jalan tol. Sebelum kedua orang yang pingsan di dalam mobil bangun, Zahira segera turun dan masuk kedalam hutan. Berbekal pisau di tangannya, dia tidak ingin ditemukan oleh orang dan terlibat hal yang lebih rumit lagi.


"Ouh!"


Zahira meringis, dia merasakan perutnya sangat sakit. Ketika menyadari adanya darah yang merembes dari sela kakinya, Zahira total syok. Dia menangis dalam diam.


Zahira menyadari banyak suara dari arah jalan raya. Dia segera bangun dan berjalan dengan tertatih menuju arah kembali. Dia ingin lebih jauh dari tempat kejadian sebelum meminta pertolongan pada orang yang lewat.


Peluh membanjiri sekujur tubuhnya. Bukan hanya keringat karena lelah berjalan, namun juga keringat dingin karena menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Kepalanya terasa pusing dan pandagannya mulai menggelap. Zahira terduduk di bawah pohon. Dia mendengar suara langkah kaki, rungunya mendengar suara ibu-ibu dan anak kecil. Namun ia tidak bisa lagi tahu siapa yang datang kala kesadarannya hilang begitu saja.


.


Wartawan dari banyak media berkumpul di tengah aula sebuah gedung. Baik dari media pro pemerintah maupun oposisi. Hari ini adalah hari terpenting dalam partai terbesar di negri ini. Partai yang pengikutnya sangat fanatik karena citra peminpin tertinggi mereka yang sangat baik dimata masyarakat. Namun kontroversi yang ditimbulkan oleh berbagai vidio yang di unggah Sadam membuat banyak orang mulai memiliki pandangan berbeda.

__ADS_1


Acara tahunan ini adalah momentum yang mereka buat untuk mengembalikan nama mereka kembali. Meski begitu, bisik-bisik beberapa wartawan yang saling berbicara tampaknya tak sebaik harapan mereka.


Ketua partai berlambang matahari merah itu naik ke atas podium. Dia tersenyum sangat lebar dan mulai menyampaikan pidatonya. Dia juga mengumumkan akan menolong pemerintah dalam mewujudkan operasi sekolah gratis bagi pemegang kartu miskin. Menunjukkan beberapa bukti andil mereka dalam melakukan segala kebaikan-kebaikan demi memajukan negara.


Setelah turun dari podium, pria tua itu kembali turun ke singgasananya. Seseorang menghampirinya dan membisikkan sesuatu. Senyum diwajahnya tiba-tiba menghilang sesaat. Namun saat MC menyebutkan namanya, dia kembali melambai dan tersenyum lebar.


Dia turun dari panggung lalu meminta maaf kepada seluruh wartawan dan simpatisan yang datang. Memberi alasan bahwa dia harus segera pergi karena urusan yang sangat mendesak.


"Bodoh! bodoh! kalian semua bodoh! cari wanita itu dan temukan dia. Tetap pantau Kenzo apakah dia sudah menemukan istrinya atau belum!" dia mematikan telepon dan mengumpat dengan keras saat dia sudah berada di dalam mobil.


"Kita pulang sekarang. Aku butuh anggur untuk menenangkan pikiranku." katanya.


Asisten pribadi sekaligus pengawalnya mengangguk dengan patuh. Kembali membawa dia kerumahnya.


"Bagaimana menurutmu?" tanyanya pada sang asisten.


"Manfaatkan keadaan untuk menekannya Tuan. Sambil mencari istrinya, bukankah anda bisa berpura-pura? Setidaknya sebelum pemilihan ketua selesai, mereka tidak boleh membongkar rahasia anda."


Pria tua itu tertawa terbahak-bahak. "Tentu...tentu saja nak... itulah yang aku juga pikirkan. Kamu memang orangku yang paling bisa mengerti diriku." katanya dengan senyum lebar.


Asistennya hanya tersenyum seadanya. Wajah kakunya menggambarkan bahwa dia adalah orang yang amat berbahaya. Muda, pintar dan kejam. Tiga kata itulah yang menggambarkan sosok asisten yang melakukan apapun untuk tuan yang sudah membesarkannya. Dia seperti anjing yang sangat setia. Tidak peduli berapa nyawa habis ditangannya, asal tuannya senang. Dia akan melakukan apapun.


.


Seluruh orang Kenzo masih mencari keberadaan Zahira. Ditengah pencarian, Kenzo menemukan pisau dan bercak darah di tanah. Kenzo tidak bisa menduga apa yang terjadi. Dua orang yang membawanya Zahira, dibawa pergi setelah mereka sadar dari rumah sakit oleh pihak kepolisian. Mereka membawanya dengan alasan interogasi. Kenzo tahu dengan pasti itu hanya alasan agar dua orang itu tidak jatuh ke tangan Kenzo. Karena pihak kepolisian bekerja untuk orang yang menguasai mereka.


"Ada kemungkinan Zahira lolos. Tapi ada kemungkinan juga pihak musuh membawanya pergi." kata Sadam.


"Hubungi Wewen, minta dia mencari informasi diam-diam dari pihak kepolisian." suruh Kenzo, mereka masih menelusuri jalan-jalan sekitar tempat kecelakaan setelah memeriksa bagian hutan.


Ponsel Kenzo bergetar. Sebuah pesan chat masuk ke nomornya. Sekali baca dia sudah tahu siapa pengirimnya. Dia menggeram, wajahnya yang sedari tadi mengeras kini berubah gelap mengerikan.


"Beraninya dia, aku akan membunuhnya!" geram Kenzo dengan tubuh bergetar karena amarah yang memuncak.


Pesan itu adalah pesan yang di kirim oleh nomor baru. Mengatakan istrinya masih hidup. Namun jika dia berani membongkar rahasia mereka, mayat istrinya akan dikirim secara langsung.


"Tenanglah, itu hanya ancaman. Entahlah, aku merasa Zahira tidak ditangan mereka." kata Sadam setelah membaca pesan itu.

__ADS_1


"Tapi kita tetap harus waspada. Jangan gegabah sampai semuanya pasti." sahut Endru, "Wewen bilang dia akan melakukannya, tuan." lanjut Endru.


Kenzo tidak menjawab. Dia mendongak sambil bersandar ke kursi yang ia duduki. Matanya mulai memerah dan sungguh ia meneteskan air matanya. Kenzo merasa gagal. Sejauh ini Zahira adalah prioritasnya namun tadi dia malah melakukan kecerobohan. Meninggalkan istrinya saat tahu Sadam sudah keluar untuk membantu. Harusnya ia fokus melindungi Zahira saat itu. Bukan menuntaskan emosinya untuk menghabisi pihak musuh yang telah melukainya.


__ADS_2