Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Langkah awal Kenzo


__ADS_3

Zahira memilih naik taksi dari pada naik mobil yang di bawa pengawalnya. Setelah sampai di depan pahar rumahnya, ia menghembuskan napasnya dengan wajah lelah. Sesungguhnya ia mengantuk, namun beberapa kejadian tadi memaksa otaknya bekerja keras.


Sesampinya di dalam rumah, Zahira di sambut dengan wajah kawatir ibunya. Zahira memeluk ibunya sebentar sebelum naik ke kamarnya di lantai dua tampa mengatakan apapun.


Sesampainya di kamar, dia dikejutkan dengan Kenzo yang duduk di atas kasurnya dengan punggung bersandar ke kepala ranjang dan menatapnya tajam.


"Aku lelah, silahkan keluar," katanya sambil meletakkan tas dan melepaskan jaket.


"Aku baru saja menemui ayahku." Zahira terpaku sesaat di tempat sebelum menoleh.


"Lalu?"


"Ibu benar, tua bangka itu terobsesi padaku. Ingin menjadikanku penerusnya," kata Kenzo.


"Baguslah, setidaknya dia tidak akan membunuhmu," sahut Zahira asal.


"Kamu yang dalam bahaya."


"Tidak jika kamu pergi dari hidupku," Zahira sepenuhnya menatap Kenzo yang tidak berkedip. Pria itu mengeraskan rahangnya.


"Sepertinya kamu tidak menyetujuinya, meski nyatanya itu cara yang paling benar. Seperti biasa ... kamu akan mempertahankan keegoisanmu." Usai bicara begitu Zahira mengambil piama dan masuk ke dalam kamar mandi.


Saat keluar Kenzo masih di tempat semula, membuat Zahira berdecak kesal akan kelakuan pria dihadapannya itu.


"Kembalilah ... aku butuh tidur, ini sudah hampir subuh."


"Kenapa kamu tetap menemui Sadam saat aku melarangmu? apa yang kalian bicarakan? persekongkolan apa?"


Zahira menarik nafasnya dengan lelah. Ia tidak menjawab dan memilih berbaring di sisi lain tempat tidur. Menarik selimut dan membelakangi Kenzo, tidak peduli pria itu menatapnya dengan kekecewaan terpendam.


"Apa kamu membenciku?" Zahira membuka matanya lagi saat mendengar kalimat itu. Namun ia memilih tidak menjawab.


"Benarkah kamu ingin lepas dan pergi dariku?" Zahira masih memilih bungkam. Karena ia tahu Kenzo belum selesai bicara.


"Kamu tahu, aku benci penghianatan. Saat orang yang aku percaya pergi dariku, rasa benci akan langsung memenuhi otak dan hatiku. Aku tidak pernah memaafkan mereka. Tapi ... entah mengapa aku tidak bisa membencimu. Aku merasa marah, tapi aku tidak bisa membencimu. Tidak apa jika kamu benci padaku. Maaf ... aku akan tetap egois dengan mengikatmu."


Zahira merasakan pergerakan di belakangnya. Kenzo berjalan ke sisi sebelah ia tidur dengan memutar dan berjongkok di hapannya. Menatap matanya dari dekat sebelum mencium keningnya lembut.


"Selamat malam," katanya sebelum keluar dan menutup pintu.

__ADS_1


"Dasar egois," umpat Zahira.


.


Pagi-pagi Zahira sudah pergi tampa pengawalan. Dia berhasil pergi dengan memesan taksi. Kenzo memerintahkan semua orang untuk mencarinya, namun 30 menit kemudian Tomi meneleponnya. Mengabarkan bahwa Zahira ada di rumah sakit. Tomi sudah memerintahkan pengawal lain melindunginya sampai pengawal Zahira yang biasa sampai.


"Aku cukup terkejut kamu masih bisa pergi dari rumah. Sepertinya aku meremehkanmu," kata Sadam sambil merapikan pakaiannya. Ia sudah boleh pulang pagi ini usai di periksa dokter untuk terakhir kali. Namun ia menolak dan ingin pulang pagi itu juga.


"Aku belum menyerahkan flasdisnya," kata Zahira.


"Aku tahu, kalau sudah kamu tidak akan ada di sini."


Sadam sudah selesai berkemas dan memasukkan semua barangnya dalam tas yang dibawakan Tomi pagi ini sebelum dia bekerja.


"Jadi ... kenapa mencariku pagi-pagi sekali?" Zahira tidak langsung menjawab. Dia mengusap tengkuknya dengan canggung, membuat Sadam mengernyit heran.


"Hmm ... itu ... Sepertinya kamu pandai dalam meretas ... itu adalah hal yang sudah lama ingin aku pelajari. Aku sudah belajar otodidak tapi__ "


"Kamu ingin aku mengajarimu?" potong Sadam yang di jawab anggukan semangat olehnya.


Sadam memandangnya sesaat sebelum tertawa kecil.


"Tidak, Aku ... sudah lama tidak menulis setelah buku pertama."


"Kalau begitu datanglah ke tempatku saat kamu luang. Kamu tahu aku tidak mungkin ke rumahmu, semua pengawal akan mengusirku."


"Sekarang," kata Zahira yang mendapatkan pandangan heran.


"Sekarang?" tanya Sadam meyakinkan. "Apa kamu ingin menghindarinya?" lanjut Sadam lagi.


"Aku__"


"Nona ... Tuan sedang menunggu anda di mobil." Keduanya menoleh ke arah pintu dimana pengawal Zahira yang sudah datang mengintrupsi mereka.


"Katakan padanya aku akan pergi dengan Sadam," kata Zahira. Sadam menggaruk tengkuknya dengan canggung, merasa serba salah.


"Sebaiknya kamu mendapatkan izin darinya, kalau tidak aku bisa masuk rumah sakit lagi," bujuk Sadam. Zahira menatapnya tajam sebelum dengan kesal menghentakkan kakinya pergi dari sana. Sadam terkekeh di tempat, merasa lucu akan tingkah Zahira.


Sadam berjalan di belakang Zahira yang lebih dulu keluar, ia bisa melihat Kenzo yang menatap mereka dari dalam mobil. Ketika Zahira sudah masuk ke dalam mobilpun, tatapan tajam itu tidak lepas untuknya. Seolah dia sedang di beri peringatan. Sadam malah tersenyum dan melambaikan tangan, membuat Kenzo mengumpat dalam hati.

__ADS_1


Dalam perjalanan ke kantor, Zahira tidak mengatakan apapun, bahkan saat Kenzo bertanya padanya dia diam saja. Sesampainya di depan lobi perusahaan, Kenzo melirik Zahira yang diam saja dari kaca spion depan, menarik napas pelan sebelum keluar.


Zahira ikut keluar dan berjalan di belakangnya dalam diam. Jimi menyambut mereka saat pintu terbuka. Memberi hormat kepada keduanya.


"Jim ... umumkan bahwa Zahira bukan asistenku lagi. Dia calon istriku. Juga ... mulai sekarang kamu akan kembali memegang dua posisi. Zahira akan belajar mengenai perusahaan darimu dan aku. Dia akan ikut dalam rapat bersamaku. Dia akan bersiap memimpin Adira mulai sekarang," kata Kenzo saat mereka ada di dalam lift.


Tentu saja itu mengejutkan ke duanya terutama Zahira sendiri. Kenzo pernah mengatakan bahwa dia tidak akan di izinkan memegang Adira dan akan mengikatnya. Zahira menatap punggung lebar itu, sedang berpikir apa yang sedang di rencanakannya.


"Baik Tuan," jawab Jimi.


Sesampainya di dalam kantornya, di mana Jimi sudah meninggalkan mereka menuju meja kerjanya di luar, Zahira berdiri duduk di kursinya dan menatap Kenzo.


"Aku tahu kamu pasti ingin tahu apa rencanaku, Kan?" kata Kenzo tampa menatapnya. Senyum kecil tersungging di bibirnya.


"Lihatlah caraku memimpin, analisa seperti apa aku bekerja dan pelajari manajemen dari Jimi. Tanyakan apapun padanya saat kamu tidak nyaman berbicara langsung denganku, hanya saja aku akan minta maaf untuk ini ... kamu akan setiap hari berada di dekatku, pagi ... siang ... dan malam," kata Kenzo dan menoleh di akhir kalimatnya.


"Aku tidak tahu apa rencanamu tapi ... aku punya satu permintaan," kata Zahira.


"Katakan," jawab Kenzo, mereka masih belum melepas pandangan satu sama lain.


"Aku ingin waktu sepulang kerja ke tempat Sadam." Kenzo tidak berekspresi apapun dalam beberapa detik. Dia juga tidak bertanya apapun atas permintaan itu, membuat Zahira merasa was was sendiri.


"Aku izinkan, ada lagi?"


Zahira mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha meyakinkan diri bahwa dia tidak salah dengar.


"Kamu ... memberikanku izin?" Kenzo mengangguk singkat.


"Ada lagi yang ingin kamu lakukan?" tanya Kenzo.


"Aku ... juga boleh membantu Wewen menyelesaikan kasus yang di tanganinya?"


Kenzo masih menatapnya intens, tampa berpikir dia mengangguk.


"Lakukan jika kamu memiliki waktu lebih," jawabnya. "Ada lagi?" tanyanya, Zahira menggeleng dan menunduk.


"Kalau begitu temui Jimi di luar dan mulailah belajar selagi aku menyelesaikan pekerjaanku. Dua jam dari sekarang kita akan menemui para pemegang saham," perintah Kenzo dengan nada datarnya. Tidak ada ekspresi berlebihan, tidak ada nada mendominasi dan intimidasi seperti biasa. Kenzo bersikap seperti dia bersikap kepada orang lain secara umum.


Zahira yang masih merasa bingung hanya bangkit seperti orang linglung dan keluar dari sana. Setelah Zahira menutup pintu, barulah ekspresi Kenzo berubah. Dia mencengkram penanya dengan kuat sampai tangannya memerah. Dia sedang menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di hatinya.

__ADS_1


"Bertemu dengan Sadam? lihat saja ... aku tidak akan melepaskanmu, aku bersumpah akan melakukan apapun," bisiknya pada diri sendiri. Mata tajamnya menatap pintu yang tadi di lewati Zahira seakan ia bisa menghancurkannya kapanpun ia mau.


__ADS_2