
Sadam terbaring lemah dilantai ruang pribadi Kenzo. Saat Jimi datang ia sudah tak sadarkan diri. Maka dia menelfon Tomi dan meminta bantuannya. Ia tidak bisa mengandalkan pihak keamanan gedung perusahaan karena selama ini keberadaan Sadam disana dirahasiakan.
Kenzo sedang memakai piyama tidurnya saat mendapat pesan chat dari Jimi yang melaporkan keadaan Sadam. Sehingga dengan panik dia mengambil asal jaketnya dan pergi.
Sesampainya dilobi kantor, pihak keamanan yang berpatroli tentu saja terkejut. Namun ia tidak berani bertanya alasan pemilik perusahaan itu datang kembali. Dia semakin bingung saat melihat seorang dokter datang dan masuk ke lift yang sama. Dengan sikap waspada, ia tampak mengambil ponsel dan mengirim pesan pada seseorang.
"Sepertinya infeksi dari lukanya semakin parah, kita tidak bisa menanganinya disini Tuan, kita harus membawanya segera ke rumah sakit." kata dokter Yuan.
"Bawa dia," perintah Kenzo. Mereka tidak punya pilihan.
"Tom, hubungi Endru dan Joe, perintahkan mereka mengawal depan dan belakang. Kita bisa pergi saat mereka tiba."
Maka dengan segera Tomi menghubungi mereka. Kemudian membantu Jimi yang membopong tubuh Sadam. Mereka memasuki lift menuju parkiran.
Sayangnya, disaat baru sampai diparkiran, sebuah tembakan dilepaskan oleh seseorang. dokter Yuan yang kebetulan bergerak menutupi punggung Sadam tertembak di bahunya. Ia tersungkur jatuh. Sontak Kenzo segera bergerak dan membantu Jimi memasukkan Sadam. Sementara Tomi membentengi mereka, mengeluarkan senjata yang selalu ia bawa. Melempar pisau ke arah penembak yang berlari dan mengenai lengannya.
"Jangan dikejar, naikkan dokter Yuan!" perintah Kenzo.
Dengan cepat Jimi segera melaju, mereka tidak bisa menunggu bantuan. Mereka harus bergerak karena musuh mengetahui keberadaan Sadam.
"Segera selidiki mata-mata yang berhasil masuk. Dimana Endru dan Joe!"
"Mereka dalam perjalanan, Tuan. Endru sudah akan menyusul tapi Joe membutuhkan waktu lebih banyak. " jawab Tomi.
Kenzo membuka dasboard dan mengambil dua pistol disana lalu memberikan satu kepada Tomi yang menjaga Sadam dan dr. Yuan dibelakang. Sadam masih pingsan dan dr.Yuan masih sadar. Ia menekan bahunya dengan jaket yang diberikan Kenzo padanya. Mencegah sebisa mungkin banyak darah yag keluar.
"Sial!" umpat Kenzo saat Jimi terpaksa mengerem mobil karena sebuah mobil datang dari arah kanan.
Dua orang dari mobil itu mengacungkan pistol keluar dan menembak ban mobil mereka. Saat mobil Kenzo berhenti, mereka semua keluar. Ada sekitar 4 orang bersenjata. Lalu tak lama datang dua motor lagi dan satu mobil. Mereka semua mengepung dari segala sisi.
"Tu...tuan..." lirih Jimi ketakutan. Sayangnya Kenzo tak melihatnya.
Kenzo menatap tajam kedepan dan memegang pistolnya erat. Ia mengantongi pistolnya disela celana. "Tetap didalam, kalian tidak ada yang boleh keluar apapun yang terjadi." katanya tegas.
"Anda tak bisa melakukan ini Tuan! biar saya yang__"
"Tom...tetap diam disamping Sadam. Dia harus tetap hidup!" tekannya, memotong perkataan Tomi.
Dengan cepat ia membuka pintu dan keluar. Dengan tenang menutup pintu kembali dan menatap seorang pria berbadan besar dengan kulit coklat gelap yang berjalan beberapa langkah kedepannya.
"Anda bisa pergi kalau menyerahkan teman anda yang sekarat pada kami. Tuan Kenzo." katanya.
"Siapa yang menyuruh kalian? ayahku? Dursley?"
__ADS_1
Pria itu tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ia hanya diam dengan wajah datarnya. Kenzo tahu harusnya Endru sudah tiba. Namun pria itu bersama pasukanya tak terlihat di jalanan sepi itu. Kemungkinan jalanan sudah diblokade. Entah oleh penyerang mereka atau Endru sendiri. Kenzo tahu mereka bergerak ditengah kegelapan sekarang.
Tersenyum remeh, Kenzo mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya pada pria dihadapannya. "Apa bos mu saat ini adalah presiden?" tanya Kenzo. Pria itu tak terlihat takut, Kenzo hanya bisa menduga satu hal. Dia bukan orang biasa. Satu-satunya yang terpikirkan olehnya adalah, pria ini bagian dari pasukan khusus militer yang dibayar untuk pekerjaan kotor sang presiden.
Pria itu menyadari ada yang tidak beres terjadi dibelakang punggungnya. Dengan segera berbalik dan melihat pasukan yang dibawanya jatuh satu persatu. Saat anak buahnya menembak ke segala arah, ia menatap Kenzo. Sepertinya baru menyadari orang didepannya bukanlah lawan yang mudah.
Begitu semua anak buahnya jatuh, Endru dan Joe keluar dari tempat mereka bersama puluhan anggota. Semuanya dengan pistol ditangan. Bukan jenis senjata api, tapi pistol bius. Hal itu agar tak menimbulkan banyak keributan. "Tangkap dia dan tinggalkan sisanya." kata Kenzo dingin.
Joe tinggal bersama beberapa orang untuk mengurus tawanan. Endrulah yang mengawal mereka menuju rumah sakit. Mereka melakukan perjalanan yang tidak mulus. Ada beberapa orang yang kembali mengikuti namun bisa diatasi. Jalanan seperti sedang dikuasai geng motor saat mengawal mobil mereka karena banyaknya motor memenuhi jalan.
Sesampainya dirumah sakit, Tomi Segera menghubungi direktur rumah sakit guna menjaga rahasia mereka. Tentu dengan sedikit ancaman dan bayaran mahal. Mereka ditempatkan dalam satu lantai khusus yang aksesnya tidak bisa dimasuki sembarang orang. dokter Yuan ikut berada dalam ruang yang sama. Kenzo tak akan mengambil resiko dia ditangkap dan dipaksa memberikan informasi.
Kenzo melirik jam ditangannya. Sudah pukul satu dini hari. Dia berharap istrinya tak mencarinya. Sayangnya, keinginannya tampaknya tak terpenuhi. Ponselnya berbunyi dan nama ibu mertuanya terpampang disana.
"Ya, ma?"
"Kamu dimana? Zahira terbangun dan mencarimu. Kamu tak ada dikamar jadi dia cemas."
"Tolong tenangkan dia se__" Kenzo terdiam. Suara Zahira tepat diujung sana. Tampaknya istrinya mengambil alih ponsel.
"Jawab aku, ada sesuatu yang terjadi kan?"
Kenzo masih diam, dia tidak bisa mengatakannya karena emosi Zahira yang saat ini tak baik.
"Aku pikir kita sudah membicarakan ini, Ken! Jangan membohongiku!"
Kenzo mengusap wajahnya. Ia lelah sebenarnya tapi tak berdaya kalau Zahira sudah marah. Dia menghela nafas dan akhirnya jujur.
"Sadam kritis, aku dirumah sakit."
"Kri...kritis katamu?! rumah sakit mana!"
Tidak, Zahira tidak boleh keluar atau dia akan menjadi incaran selanjutnya. Kenzo bangun dari duduknya dan mencari Jimi. Saat melihatnya duduk di tangga, ia menghampirinya.
"Tetap dirumah, Za! Aku segera pulang. Berbahya bagimu untuk keluar saat ini setelah apa yang terjadi barusaja!" tegas Kenzo nyaris membentak. Ia harus keras saat ini kalau tidak sifat keras kepala Zahira akan membahayakan dirinya. Kenzo menutup telepon sebelum Zahira mengatakan bantahan.
"Jimi, antarkan aku__" Kenzo mengernyit.
Perlahan menarik Jimi bangun namun pria itu malah kembali merosot. Nyaris terjungkal kebawah kalau saja Kenzo tak memegangnya. Seluruh tubuhnya bergetar dan dia menangis. Ternyata, ditengah ketakutannya tadi ia memaksakan dirinya tetap kuat membawa mereka semua sampai kerumah sakit. Kenzo terlalu fokus pada musuh sehingga ia tidak menyadari ketakutan asistennya itu.
"Jim! Jimi lihat aku!" kata Kenzo keras. Namun Jimi tudak merespon, ia tetap bergetar hebat. Tidak punya pilihan lain, ia memapah Jimi memasuki ruangan kosong dan menelfon Tomi. Menyuruhnya mencarikan Psikiater.
Setelah Tomi datang dengan psikiater, barulah Kenzo berlari kebawah menuju Endru yang memantau jalan masuk. Berbisik padanya untuk memberikan perintah. Setelah itu ia masuk kedalam mobil yang dibawa Endru untuk pulang kerumahnya.
__ADS_1
Tomi memegang Jimi yang sedang disuntikkan obat penenang. Ia terlihat sangat kacau. Setelah ia tertidur, barulah ia pergi untuk kembali menunggui Sadam yang masih dalam penanganan. Semua alat operasi bahkan dibawa dari ruang operasi. Segalanya diatur secepat dan seoptimal mungkin.
Sementara itu Kenzo sampai di apartemen. Memeluk Zahira yang langsung berlari ketika mendengar pintu terbuka. "Apa yang terjadi? Kenapa Sadam kritis?" tanya Clara, matanya sudah berkaca-kaca melihat raut sang suami yang terlihat tak baik-baik saja.
"Ayo tidur lagi, besok kita kerumah sakit." kata Kenzo.
Memberikan anggukan sopan pada mertuanya saat mereka melewati ibu Zahira yang juga mentapnya cemas. Memberitahu bahwa semua terkendali dalam diam.
Kenzo tidak bisa tidur, ia memikirkan banyak hal. Sadam yang tak sadarkan diri sangat berbahaya. Musuh bisa kapan saja menyerangnya. Kenzo menatap wajah terlelap istrinya. Mencium keningnya lama sebelum kembali pada pikirannya.
.
Di pagi hari, Kenzo dan Zahira mengunjungi rumah sakit. Menjenguk tiga orang sekaligus. Jimi sudah terlihat tenang, dia minum obat yang diresepkan kepadanya. Jimi ternyata memiliki trauma saat kecil dan ia sudah lama melupakan ketika mendapatkan pengobatan. Gejalanya muncul tadi malam dikarenakan ia mengalami kejadian yang memicu ingatannya dimasa lalu.
dokter Yuan juga terlihat lebih baik walau bahunya belum bisa digerakkan. Ia masih dalam penjagaan ketat. Sementara Sadam, pria itu belum sadarkan diri.
"Dia akan baik-baik saja. Dia harus bangun untuk menikmati permainan selanjutnya." gumam Kenzo.
Zahira menatap sedih kearahnya. Sadam memiliki ikatan kuat dengannya layaknya saudara. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Zahira bisa melihat banyaknya kesedihan dan penyesalan pada suaminya.
"Dia akan bangun, tenang saja." kata Zahira. Ia memeluk Suaminya dan membisikinya kata-kata penenang.
Kenzo mengatakan hal itu setelah dokter keluar. Mereka mengatakan Sadam mengalami syok dan serangan jantung. Ini karena Sadam selalu menyembunyikan keluhannya selama ini. Tidak ada yang tahu bahwa ternyata ia mengonsumsi obat anti nyeri lebih banyak dari pada yang diresepkan dr.Yuan. Bukan karena Kenzo yang teledor, tapi karena Sadam yang cerdik. Tidak ada yang tahu bagaimana ia mendapatkan obat itu tampa diketahui. Kenzo yakin Sadam juga sudah keluar beberapa kali tampa sepengetahuannya. Karena itu penyembuhannya tidak berjalan baik dan malam memperparah keadaannya.
"Tuan?"
Kenzo menarik diri dari pelukan Zahira. Ia menoleh dan bangun ketika Endru menghampiri mereka.
"Katakan." perintahnya.
"Penyerangan sudah dilakukan tadi malam oleh tuan Sadam sebelum ia pingsan. Dia melakukannya melalui ponselnya. Program baru SS aktif saat ini. Juga...juga..."
Kenzo yang masih terkejut menatap Endru dengam tajam. Kenapa pula dia tampak ragu?
"Endru!"
Endru tampak tak yakin, tapi akhirnya ia menatap kedalam mata Kenzo. "Ayah, kakak anda beserta istri dan anaknya menghilang." kata Endru.
Kenzo mengalami kekosongan sesaat. Belum lagi ketika Tomi masuk dan menyerahkan berita bahwa satu karyawan Dursley ditemukan tewas bunuh diri didalam perusahaan. Jenazah Carla tampak dimasukkan kedalam kantung mayat dan dibawa oleh polisi untuk otopsi. Hal ini semakin membuatnya bingung membaca situasi.
Kenzo menoleh, menatap kepada Sadam yang masih setia menutup mata. Jika saja Sadam sadar, dia akan menyeringai melihat ekspresi penuh kebingungan diwajah sahabatnya itu.
'Apa yang kamu lakukan dibelakangku? kamu bertindak sendirian lagi?"
__ADS_1