Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Sadam kembali


__ADS_3

Dursley duduk diatas bangku kayu dalam sebuah penjara bawah tanah. Tempat itu lembab dan sangat pengap. Hanya ada satu jalan keluar dan tangisan balita menghiasi tempat itu. Membuat Dursley beberapa kali mengumpat.


"Suruh anakmu diam ******, sebelum aku menembak kepala mereka!" bentak Dursley.


"Aku akan merobek mulutmu saat keluar dari sini." desis Lutfi, marah karena Dursley mengatai istrinya.


"Orang tua busuk! Setelah apa yang kalian lakukan, kalian pikir bisa lolos?" kata ayah Kenzo. Dari semua orang, dialah yang memiliki paling banyak luka dan memar.


Duraley tertawa terbahak-bahak. Dia mengambil rokok lalu menyalakannya. Mereka di tempatkan pada satu penjara sehingga saling berdesakan. Yang paling miris adalah mereka tidak memberi mereka makanan yang layak. Si kecil yang terus rewel juga menambah kegelisahan yang ada.


"Apa yang kalian harapkan? ini sudah 3 hari tapi lihat? Dia tidak mencari. Bahkan tidak menghubungi presiden untuk negosiasi." ejek Dursley. "Sangat disayangkan, pada awalnya aku benar-benar menyukai Kenzo, dia brilliant, tidak sepertimu. Aku jadi ragu apa dia benar-benar anakmu? kalian sangat jauh berbeda."


"Tutup mulutmu sialan!" bentak ayah Kenzo emosi. Tapi Dursley hanya terkekeh.


"Aku mengunjungi kalian karena ingin melakukan sesuatu," katanya, lalu mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang.


Sementara itu, Kenzo yang sedang berada di dalam kapal di tepi dermaga. Mereka sedang berdiskusi saat penyusup yang ditugaskan Kenzo sudah kembali dengan luka-luka di tubuhnya. Ternyata dia sempat ketahuan dan di kejar. Sehingga dia terlibat beberapa perkelahian brutal melawan tentara bayaran yang dikuasai oleh presiden.


"Timi, kamu oke?" tanya Gana, raut kawatir jelas terpancar dari wajahnya.


"Hanya luka kecil, tidak masalah. Tuan Kenzo... keluarga anda_"


Ponsel Kenzo berdering, Timi nama si penyusup menghentikan laporannya. Kenzo menatap layar ponsel beberapa detik sebelum mengangkatnya.


"..."


"aku penasaran kenapa kamu belum menjemput keluargamu, apa mereka tidak berguna untukmu?"


"Aku tidak akan bernegosiasi denganmu, ini bukan urusanmu." Terdengar tawa keras Dursley.


"Tentu, aku hanya merindukan calon menantuku. Apa kamu dengar itu? tangisan keponakanmu."


"Lakukan sesukamu, mereka tidak ada hubungannya denganku lagi."


Kenzo memutuskan sambungan telepon. "Kita bergerak malam ini, persiapkan semuanya. Endru... ikut aku."


"Tuan Kenzo, tunggu sebentar."


Kenzo berbalik, menatap Timi yang menyerahkan sesuatu. Sebuah rekaman suara di alat penyadap yang berbentuk pena.


"Saya rasa anda perlu mendengarkan ini."


Kenzo mengambilnya lalu berlalu dari sana. Gana merangkul Timi yang masih memegang perutnya. Memberikan jempol padanya akan kinerjanya yang sangat baik.


"Gana, bawa dia kerumah sakit." seru Kenzo sebelum benar-benar turun.


Mereka yang ada di kapal membungkuk hormat sebelum kembali masuk ke pusat kontrol. Dimana mereka bekerja.


Sementara itu Dursley mengeraskan rahangnya. Dia sangat kesal karena Kenzo sama sekali tidak menganggapnya. Dia menatap seluruh keluarga Kenzo dengan sinis.


"Kalian dengar kan? dia tidak peduli apakah kalian hidup atau mati. Jadi hanya tunggu sampai presiden muak. Dia akan mengirim mayat kalian satu persatu sebagai hadiah. Sayang sekali, padahal kita adalah rekan yang baik." kekeh Dursley di akhir.


Saat menelepon Kenzo, dia memang sengaja mengeraskan suaranya. Karin, kakak ipar Kenzo hanya bisa menangis. Dia menggeleng dan berkata tidak mungkin terus menerus. Lutfi juga tampak tidak percaya pada apa yang didengarnya. Dia sangat mengenal Kenzo, bagaimanapun dia adalah adiknya.


Satu-satunya yang mempercayai ucapan Kenzo hanyalah ayahnya. Dia menggeram marah danmengumpat berkali-kali. Mengatakan anak tidak berguna berulang-ulang. Kemudian, seakan tersadar akan nasibnya. Dia terdiam seketika, menyesali apa yang terjadi. Menyesali apa yang sudah ia lakukan pada keluarganya sendiri.


.

__ADS_1


Kenzo baru saja mengunjungi Muzakir, mendengar apa rahasia yang bisa ia dapatkan. Tentunya hal itu sangat membantu. Dengan bocoran informasi darinya, Kenzo bisa mengatur manuver pembalasan. Muzakir masih dalam masa tunggu persidangan ke dua. Sayangnya presiden yang tidak ingin rahasia busuknya semakin terbongkar, berniat membunuhnya di dalam penjara dengan alibi dibunuh sesama tahanan. Rencana itu gagal saat Muzakir berhasil menyuap sipir yang kebetulan sedang membutuhkan uang.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Kenzo mendengarkan rekaman yang Timi berikan. Itu adalah percakapan seorang pria dengan pria lain. Mereka sedang membicarakan langkah jendral mereka yang sepertinya terlibat dalam penangkapan keluarganya.


"Yah, seorang jendral yang merupakan kaki tangan, aku tidak begitu heran." gumam Kenzo. Endru yang sedang membawa mobil merespon dengan anggukan pelan. Mendukung penyataan sang atasan.


Sesampainya di rumah sakit, Kenzo dikejutkan oleh Sadam yang duduk di atas kursi roda. Saat pintu terbuka, dia menoleh dan menyeringai lebar. Kenzo menoleh pada Tomi yang memegang belakang lehernya dengan canggung. Membuang pandangannya kearah lain agar tidak berhadapan dengan tatapan tajam tuannya.


"Senang bermain sendirian?" tanya Sadam dengan cengiran khasnya.


Kenzo menghela nafas, melangkah ketempat Sadam, memeluk sahabatnya itu. Sadam terdiam, dia tidak menyangka akan respon yang Kenzo berikan.


"Jangan lakukan apapun sendirian lagi, kita adalah tim dan kamu satu-satunya saudaraku" kata Kenzo, dia memberi jeda sejenak. "Terima kasih telah bangun dengan cepat, setelah kamu sehat, aku pastikan akan memukulmu sampai babak belur." lanjut Kenzo, lalu mengurai pelukannya.


Sadam terkekeh pelan. Dia menatap Kenzo yang kini suduk di tepi ranjang. "Aku baru bangun pagi ini, sengaja memberi kejutan. Bagaimana kabarmu? kudengar mereka sedang di sandra."


"Kenzo mengangguk, lalu menatap Sadam sengit."


"Apa yang coba kamu lakukan sebelum pingsan malam itu?"


"Seperti yang kamu pikirkan, Ken. Penyerangan pertama."


Kenzo menatapnya, tahu ada yang Sadam sembunyikan. Melihat ekspresi Kenzo, Sadam tersenyum tipis.


"Apa Jey kesini? kamu mengurungnya?"


"Carla dibunuh, kamu sudah tahu itu?" Kenzo tidak menjawab malah menayakan hal lain.


"Carla... dia sudah tahu akan dibunuh. Aku memintanya pergi saat itu, tapi dia memilih untuk mencuri rahasia Dursley dan membuat dirinya dalam bahaya. Saat dia berhasil mengirim data itu padaku, saat itulah mereka berhasil mendobrak pintu. Aku mendengarnya karena kami melakukan panggilan telepon."


"Maksudmu... selama ini dia bergabung dengan musuh karena dia ingin membantumu?"


"Jadi seluruh data perusahaan yang terlibat dalam red wine... itu darinya?" Sadam hanya mengangguk sekali. Dia mengangkat kepalanya dan bisa Kenzo lihat mata Sadam yang memerah menahan tangis.


"Jey ingin bertemu denganmu," kata Kenzo, sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak ingin Sadam terlarut dalam rasa bersalahnya.


"Anak itu... apa yang harus kita lakukan?"


"Untuk saat ini, kamu masih harus disini untuk pemulihan. dr.Yuan yang akan mengawasimu 24 jam. Saat ini... penting untukmu kembali pulih."


"Aku bosan, ingin ke SS Guard saja." jawab Sadam. Kenzo memijit keningnya, sikap ini kembali lagi. Sikap menyebalkan saat dia sakit.


"Tomi... persiapkan segalanya untuk pemindahan Sadam sore ini."


Sadam tersenyum lebar, dia berusaha berdiri karena ingin kembali berbaring, tapi tampaknya kakinya masih lemah dan tak bertenaga.


"Sial, aku benci sakit!" kesalnya.


Kenzo berdiri lalu menggendongnya dengan mudah. Membaringkannya di kasur lalu memperbaiki selimutnya.


"Jangan bertingkah kalau mau cepat sembuh!" tegas Kenzo.


Sadam hanya mencibirnya. Mengejek bagaimana Kenzo kembali dengan bersikap berlebihan.


"Ceritakan padaku perkembangannya. Tomi sama sekali tidak bisa memberiku informasi yang bagus." keluhnya, melirik Tomi yang bermain ponsel. Seolah tak mendengar apapun. Sadam mendengus dan melempar bantal padanya. Sayangnya bantal itu bisa Tomi tangkap dengan mudah. Dengan sabar dia meletakkan kembali dibawah kepala Sadam.


"Aku juga akan memukul anda saat anda sehat tuan Sadam." Kata Tomi dengan tenang. Lalu kembali menuju tempatnya duduk tadi.

__ADS_1


"Lakukan maka aku akan mengadu pada kekasihku."


Keduanya mengernyit, menatap Sadam bingung. Sadam menyeringai dan menatap Kenzo dengan pandangan penuh arti.


"Jangan bicara macam-macam! istriku akan membunuhmu saat dia mendengarmu bicara begitu." kata Kenzo datar.


Tomi hanya menggeleng akan sifat Sadam yang sedang kekanakan. Lalu dia kembali fokus pada ponselnya. Memeriksa seluruh email dari seluruh divisi perusahaan Adira yang kini ia pegang. Setelah memeriksanya barulah ia akan melaporkan pada Zahira jika ada masalah.


"Saya rasa saya perlu memantau perusahaan secara langsung Tuan, saya mencurigai sesuatu. Bukan masalah besar tapi jika dibiarkan..."


"Aku tahu, mulai besok kembalilah ke perusahaan." potong Kenzo.


"Kamu sudah menemukan cara membebaskan keluargamu?" tanya Sadam. Dia sudah kembali serius.


Kenzo kembali mengalihkan atensi padanya. "Aku sedang menyusun rencana, tidak mudah menembus penjagaan ketat disana. Seluruh tentara terlatih akan menyusahkan tim kita."


"Bagaimana dengan kapal selam?"


"Mereka akan bisa mendeteksinya,"


"Tentu saja, kamu hanya butuh aku untuk mengacaukan sistem mereka." sahut Sadam enteng. "Alat mereka cukup jadul kamu tahu? anggaran untuk mereka selalu dikorupsi, mereka tidak secanggih SS milikku. Bahkan tampa SS aku dengan mudah mengacaukan mereka."


Kenzo menatapnya, menyadari bahwa sosok Sadamlah yang sudah banyak berkontribusi dalam membentuk kekuatannya selama ini. Tampa Sadam dia akan kesulitan karena dia tidak bisa menemukan orang seperti dia. Bukan tidak ada, tentu saja ada orang lain yang memiliki kemampuan seperti itu, tapi orang dengan tingkat kejeniusan berbeda seperti Sadam akan sulit. Yang terpenting dari semuanya, tentu saja kesetiaan. Tidak mudah mencari orang yang akan setia padanya.


"Jangan melihatku begitu, aku jadi merinding. Aku tahu kamu kagum padaku kan? tentu saja, aku ini jenius."


Kenzo berdecih, dia bangkit berdiri. "Aku harus pergi, menyiapkan segala sesuatu untuk misi malam ini. Tom..." Tomi bangun dan segera menyimpan ponselnya. "Urus pemindahan Sadam sekarang ke SS guard."


"Baik tuan!" jawab Tomi dengan cepat.


.


Kembalinya Sadam membuat Kenzo menjadi jauh lebih tenang dan kuat. Beban beratnya terasa ringan. Sadam adalah sosok penting yang saat berada di sisinya, Kenzo merasa jauh lebih mudah. Karena itulah Kenzo sangat melindunginya. Selain sudah menganggapnya seperti saudara, Sadam seperti otak kedua baginya.


Saat ini Kenzo sedang menanti kedatangan kapal selam yang ia dapatkan dari rekan bisnisnya dari Korea selatan. Perusahaan yang juga bekerja sama dengan pemerintah itu mau meminjamkannya karena Kenzo memberikannya ancaman. Rahasia mereka yang masih tertutup rapat bisa terbongkar jika Kenzo membukanya ke publik. Tentu saja mereka lebih memilih berhianat pada pemerintahan dari pada terancam bangkrut. Karena jika rahasia yang diungkapkan Kenzo keluar, bukan hanya presiden, perusahaannya juga terancam jika pihak korea selatan melakukan audit menyeluruh.


Kedatangan kapal selam itu ternyata cukup memakan waktu karena pihak perusahaan harus menyusun rencana membawanya dari kawasan yang di jaga ketat oleh militer Indonesia,karena sejatinya kapal itu sudah menjadi milik Indonesia meskipun masih dalam pengawasan perusahaan mereka. Malam itu Kenzo hanya memantau keadaan sekitar pulau. Bersama Sadam yang sudah di pindahkan ke SS Guard.


"Aku rindu Zahira. Kenapa dia tidak datang kesini?" goda Sadam saat mereka sudah selesai.


Endru hanya menggeleng melihat kelakuan Sadam yang suka sekali usil itu. Kenzo mendorong kursi roda Sadam menjauh darinya dengan kaki. Sehingga kursi rodanya meluncur dan berhenti saat Endru menahannya.


"Tutup mulutmu." kata Kenzo kesal. Dia tahu sebenarnya Sadam hanya menggodanya karena sejak tadi Kenzo memeriksa ponsel berulang kali. Menunggu balasan pesan dari Zahira. Entah apa yang dilakukan istrinya sehingga dia mengabaikan pesannya lebih dari satu jam.


"Pulanglah, wajahmu memuakkan. Kalau rindu temui sana! sejak pagi belum ada pulang, kan?" suruh Sadam.


"Tidak bisa, aku perlu bergerak cepat. Aku dengar presiden semakin menguatkan posisinya. Publik masih sangat mempercayainya karena dia menjadikan Muzakir dan dua lainnya kambing hitam."


"Hah, maksudmu dia dan Dursley mengambing hitamkan dua mentri lainnya?"


"Mantan mentri sekarang," sahut Kenzo cepat.


"Aku ingin sekali melihat wajah hancurnya. Saat keluargamu selamat, aku akan mulai mengungkap identitas Jey. Perlahan bom akan meledak dan segalanya akan selesai saat dia ditangkap."


"Tidak akan semudah itu, ada partai besar dibelakangnya. Anggota Red wine luar juga akan mulai bertindak. Kita tak bisa semudah itu mengungkapkan Jey. Harus perlahan dan lihat situasi."


"Kalau begitu kenapa kamu tidak mulai dari ketua partai itu?"

__ADS_1


Kenzo menatap Sadam. Mereka saling melempar senyum. Memikirkan rencana yang sama di dalam kepala mereka.


__ADS_2