
Kenzo sedang duduk di atas kursi kayu di tengah-tengah ruangan kosong dalam bangunan tidak di gunakan. Gedung tua yang merupakan miliknya juga. Seorang pria berlutut dengan wajah babak belur di bawah kakinya.
"Jadi ... siapa yang membayarmu?"
Pria itu bergidik dengan tubuh bergetar ketakutan saat suara rendah Kenzo mencapai rungunya. Dia memandang Kenzo dengan sorot penuh permohonan akan ampunan. Namun Kenzo hanya menatapnya tajam dengan rahang mengeras.
"Aku hanya suruhan ... dibayar, tidak pernah berniat mencari gara-gara denganmu," lirih pria itu.
Kenzo bangkit dari duduknya, pria itu reflek memundurkan tubuhnya karena takut. Namun Kenzo bisa melihat bahwa dia tidak menyimpan niat apapun kecuali hanya karena uang. Karena itu Kenzo berjongkok di hadapannya dan menatap langsung mata pria itu dengan sorot penuh intimidasi.
"Siapa ...?"
Sekali lagi Kenzo bertanya dengan nada rendah dan pelan, dimana membuat pria itu semakin ketakutan.
"Di ... dia ... setahuku bekerja pa ... pada pak Dursley, ma ... maaf! maafkan aku! aku tidak tahu apapun! ampun ...!"
Kenzo menatap ke bawah di mana pria itu sedang bersujud padanya. Kenzo bangkit dan menginjak tangan pria itu yang menghasilkan jeritan pilu.
"Aku akan mematahkan tanganmu suatu hari nanti, sampai saat itu tiba ... diamlah di tempatmu dengan aman,"
Kenzo menarik kakinya dan beranjak dari sana. Dua orang kaki tangannya tinggal untuk mengurus pria tadi dan seorang pria berpakaian hitam yang merupakan salah satu tangan kanannya membuntutinya sampai ke mobil.
"Lakukan tugasmu, jangan sampai dia lolos. Kita membutuhkannya nanti,"
"Baik tuan!" jawab pria yang bernama Endru itu.
Ia membungkuk dan membukakan pintu mobil. Setelah kepergian tuannya, dia kembali masuk ke dalam bangunan itu.
.
Sadam menatap kosong layar-layar di sekelilingnya. Dia belum bisa menggerakkan tubuhnya karena masih lemas. Rasa sakit juga langsung menggerogotinya saat ia mencoba mengangkat tangannya.
Di luar pintu, Jimi tampak sedang berdiskusi dengan dokter Yuan. dokter yang membantu Sadam memasuki SS Guard. Hanya Jimi dan dokter itu yang di izinkan Kenzo memasuki wilayah ini.
"Hah ... kemana mereka?"
Menanggapi gumaman Sadam, SS Guard bereaksi dengan suara robotnya yang datar.
"Mereka siapa?"
Sadam terkekeh pelan dan berbisik.
"Bedebah Kenzo dan si cantik Zahira?"
"Tuan Kenzo di belakang anda, Nona Zahira ... " Maka layar berubah menjadi ruang bagian HRD di perusahaan Adira group di mana di sana memang terpasang CCTV.
Sadam yang mendengar jawaban itu tertawa pelan, apalagi saat Kenzo sudah berjalan dan berdiri di sampingnya.
"Memata-matai kami?"
__ADS_1
"Siapa suruh meninggalkanku sendirian di sini!" sungutnya.
"Kami bukan pengangguran omong-omong," datar Kenzo yang dihadiahi lirikan mencela.
Jimi dan dokter Yuan sudah memasuki ruang kendali itu dan berdiri menghadap Kenzo.
"Tuan Sadam hanya perlu beristirahat beberapa hari sampai pulih, tuan. Perdarahan sudah teratasi dan sudah di lakukan transfusi. Jika tidak ada infeksi dapat di pastikan tuan Sadam akan sembuh dalam seminggu,"
"Itu terlalu lama ... " suara Sadam memecah pembicaraan.
"Lakukan yang terbaik, aku pastikan dia akan tetap di sini dan tidak kemana-mana," ucap Kenzo dan berlalu dari sana.
"Kamu kemana lagi, sih!" kesal Sadam, "Kunci akses pintu teman," lanjutnya memerintahkan SS Guard.
Kenzo memutar matanya dan berdecak, menoleh pada Sadam dan menatapnya dengan raut malas.
"Buka,"
"Kunci!"
Oke, Kenzo total jengah. Dia ada rapat namun Sadam dengan kekanakan menahannya di sini.
"Tuan Kenzo harus menghadiri rapat, tuan Sadam," kata Jimi dengan nada membujuk.
"Saya akan tetap di sini tuan Sadam, saya akan di luar mengawasi anda." dokter Yuan juga memberikan pengertian.
"Aku hanya kesal tidak melakukan apapun," gumamnya dengan nada lemah. Dia bosan dan jenuh. Sadam tidak terbiasa hanya diam saja karena itu hanya bisa di tempat tidur membuatnya tersiksa.
"Bersabarlah ... secepatnya aku akan kembali,"
Sadam berdecak malas, dia tahu Kenzo hanya membual. Dia juga paham bahwa sahabatnya itu sangat sibuk. Sadam bukan orang yang mudah terbuka, karena itu dia tidak terlalu suka bersama orang lain di ruangan yang sama.
Setelah kepergian semua orang kecuali dokter Yuan yang berjaga di luar pengendali, Sadam menghela napas berat. Mencoba bersabar dan bersahabat dengan keadaan. Dia memejamkan matanya sesaat sebelum mebukanya kembali dalam sorot yang berbeda. Kembali ke dirinya yang biasa.
"SS ... kunci akses masuk ke dalam ruang pengendali,"
Mengunci akses itu artinya orang yang ada di luar juga tidak bisa melihat atau mendengar apa yang terjadi di dalam. Dinding transparan tadi berubah gelap dari luar meski tampilan di dalam tetap sama.
Dokter Yuan yang tidak bisa melihat Sadam tentu saja panik, dia berusaha menggedor-gedor karena bahkan dengan keadaan itu ia tidak tahu pintunya di mana. Sayangnya Sadam tidak peduli.
"Di mana Zahira?"
Dalam beberapa menit, SS menunjukkan bahwa Zahira sedang berada di lobi sebuah hotel bersama Tomi dan beberapa pengawalnya seperti biasa.
"Aneh sekali ... kenapa Dursley menargetkanku? SS ... di mana Dursley?"
Sadam sedikit lama menunggu karena tampaknya Dursley berada diluar jangkauan CCTV. Dia berada di tempat yang tidak memiliki CCTV. Beberapa kali ia muncul namun hanya kilasan tidak jelas dan itu juga buram.
"Kenapa?" tanya Sadam.
__ADS_1
"Tampaknya Dursley sedang dalam pergerakan aktif, tuan."
Sadam mengerti, pergerakan aktif yang di maksud SS bisa bearti ia sedang dalam perjalanan. Baik menggunakan kendaraan atau berjalan kaki sehingga saat ia melewati CCTV entah di mana, wajahnya hanya muncul beberapa detik.
"Apakah para ibu aman?"
Sadam menunggu beberapa saat sampai sistem SS Guard menunjukkan bahwa keadaan apartement baik-baik saja dipantau dari setiap CCTV.
"Pantau terus keberadaan Dursley dan ayah Kenzo untukku,"
"Di laksanakan tuan!" jawab SS
Layar pojok atas khusus menunjukkan Dursley terlihat di mana saja. Layar pojok bawah menunjukkan keberadaan ayah Kenzo yang saat ini sedang memimpin di perusahaannya seperti biasa.
"Terlalu biasa ... tidakkah mereka heran suruhan mereka menghilang? Ah ... jadi rencana baru lagi?"
Sadam terkekeh pelan.
"Teman ... tunjukkan padaku transaksi bank anggota Red Wine dalam bulan ini."
Sadam butuh menunggu setidaknya tiga puluh menit sampai ia mendapatkan semua datanya. Saat ia memeriksa datanya, saat itulah sebuah E-mail masuk ke dalam alamat SS Guard yang membuat Sadam terpaku sesaat.
"Buka E-mail nya," bisik Sadam.
Saat itulah ia langsung mengatupkan rahangnya. Diam sediam-diamnya. Bahkan ia mengabaikan data yang tadi di periksanya, matanya masih tertuju pada satu titik. Yaitu kode nama si pengirim.
.
Zahira memijit kepalanya pelan saat Tomi memasuki ruangannya, dua map berada di tangannya dan dia segera duduk di depan meja Zahira.
"Karyawan yang kamu panggil kemarin tidak datang sama sekali, dia bahkan menghilang dengan beberapa berkas asli data gudang dan laporan tertulis bulanan. Semua karyawan di sana sudah di interogasi dan tidak ada yang mengaku. Beberapa barang juga menghilang,"
Zahira menatap Tomi sambil menopang kepalanya dengan wajah frustasinya.
"Apakah Wewen atau Anton menghubugimu?"
Tomi menggeleng dan segera membuka sebuah map merah dan menunjukkannya ke pada Zahira.
"Itu adalah daftar barang yang hilang, juga beberapa catatan bukti yang di temukan Wewen. Ini ia kirimkan baru saja. Dia menelfonmu tapi kamu sedang rapat, jadi dia mengabarkan padaku bahwa dia akan keluar kota mencari jejak karyawanmu yang menghilang. Dia butuh pria itu untuk membebaskan ibunya,"
Zahira membaca sekilas apa yang di kirimkan Wewen, banyak foto-foto dan catatan tangan. Zahira menghempaskan punggungnya ke sandaran kursinya.
"Aku harap Wewen bisa dengan cepat menemukannya sehingga perusahaan tidak terbawa dalam hal ini, kita juga membutuhkan pria itu untuk membuat opini publik membaik karena nama perusahaan menjadi rusak. Bahkan investor jepang baru saja membatalkan kerjasama gara-gara berita ngawur media."
Tomi menatapnya prihatin sebelum mengangguk.
"Akan aku usahakan menggunakan bantuan orang-orang__"
"Jangan libatkan orang Kenzo, aku ingin orang Adira sendiri yng menyelesaikan ini. Aku sendiri yang akan turun tangan," potong Zahira.
__ADS_1
"Tapi ... jika tuan Kenzo tahu ..."
Zahira memberikan pandangan tidak ingin melanjutkan pembahasan ini pada Tomi. Tomi yang mengerti akhirnya hanya pasrah dan meninggalkan Zahira sendirian dengan pikirannya.