
Zahira sedang menyelusuri lantai paling bawah, dimana sebuah perpustakaan besar berada. Juga banyak ruang terkunci yang tidak bisa di masuki. Ia yakin Kenzo menjaganya dengan sangat baik dan hanya dia dan orang kepercayaannya yang bisa membukanya. Ia mengambil sebuah buku tua dan membaca sampulnya saat sebuh tangan melingkari pinggangnya dan sebuah dagu bersandar di kepalanya.
"Kenapa kesini sendirian?"
Zahira melepaskan tangan Kenzo dan berbalik, menatap ke dalam mata prianya.
"Kenapa membawa kami kesini?"
Kenzo hanya tersenyum lembut dan kembali menarik Zahira dalam pelukannya.
"Rindu sekali." Zahira tahu itu bukan jawaban, Kenzo sedang menunda jawabannya.
"Masih marah?" tanya Kenzo tampa melepas pelukan karena Zahira tidak membalasnya.
"Aku hanya tidak suka di remehkan, Ken ..."
"Aku tidak meremehkanmu__"
"Kamu ia! kamu meragukanku dengan tidak membiarkanku mengurus sendiri masalahku. Bahkan tadi__"
Kenzo melepaskan pelukannya tiba-tiba dan memegang kedua pipi Zahira. Menatap ke dalam matanya sehingga rasanya Zahira bisa tertembus begitu saja. Jantungnya bahkan sudah berdetak tak karuan.
"Dengar ... membiarkanmu terjun dalam bahaya artinya memberikanku satu tusukan dengan pisau. Membiarkan mereka mendapatkan cela bukanlah gayaku. Aku mempercayaimu, aku mengakui kemampuanmu. Yang tidak aku akui adalah diriku sendiri ... bahwa aku tidak mempercayai diriku yang akan tetap waras saat ada seseorang melukaimu. Kamu tahu nasib orang yang sudah melukai tanganmu ini?" Kenzo menjeda, matanya tidak lepas dari netra kelam di hadapannya. "Aku memerintahkan orangku untuk mematahkan kedua tangannya, karena kamu pasti akan membenciku jika aku membunuhnya kan?"
Zahira tidak mampu berkata apapun lagi, dia terlalu syok dengan perubahan kepribadian Kenzo yang menyeramkan seperti ini.
"Kamu cinta pertamaku dan akan menjadi satu-satunya di dunia ini. Jadi pastikan kamu siap untuk tetap di sisiku, menerima segala keputusanku. Seminggu dari sekarang ... kita akan menikah!"
Maka Zahira membolakan matanya. Kenzo menarik tangannya dari sana menuju sebuah pintu. Kenzo menekankan sidik jari pada detektor kode pintu. Saat pintu terbuka, Zahira kembali di kejutkan dengan semua yang ia lihat.
"Ini ... gila!" gumamnya.
Ruangan itu cukup besar dan berisi banyak senjata yang di susun di rak-rak dalam lemari dan beberapa di meja. Ada senjata laras panjang yang menggantung di dinding, tersusun dengn rapi.
"Ini hanya sebagian kecil, setiap ruang terkunci berisi senjata. Nah, ini cocok untukmu," Kenzo mengambil sebuah pistol kecil.
"Gunakan saat kamu terdesak," katanya dan menyodorkannya pada Zahira.
"Ini ilegal?"
"Tentu saja, mana mungkin sipil di biarkan memiliki senjata sebanyak ini?"
"Ta ... tapi untuk apa?" Kenzo mengangkat satu alisnya mendengar pertanyaan itu. "Untuk apa kamu menyiapkan semua ini? apa kamu juga anggota mafia?" Maka Kenzo tergelak mendengarnya.
"Aku tidak menjual barang terlarang atau sejenisnya sayang. Tapi musuhku kebanyakan dari kalangan mereka. Jadi tentu saja aku harus menyiapkan diri."
__ADS_1
Zahira menatap pistol yang saat ini sudah berada di tangannya. Dengan ragu memandang Kenzo yang masih setia mentap dirinya memuja.
"Soal menikah ... ka ... kamu serius?"
"Tentu saja!"
"Secepat itu?!" syok Zahira.
"Kamu tidak setuju?"
Ada jeda sebelum ia menjawab. Zahira harus memilih kata yang pas agar pria di depannya ini tidak salah paham.
"Bukan ... maksudku dalam situasi seperti ini ... "
"Justru karena situasi, aku ingin kamu berada dalam jangkauan mataku bahkan saat aku membuka mata di pagi hari."
Maka Zahira kehilangan kata-kata. Ia melirik kanan dan kiri untuk mengusir kecanggungannya sendiri. Menyadari hal itu Kenzo meraih tangannya dan kembali menyeretnya keluar.
"Ini hanya sebagian kecil kehidupanku yang lain, seiring berlalunya waktu kamu akan mengenalku dengan baik," ucapnya sambil jalan. Hati Zahira menghangat, dia menatap Kenzo lama, memikirkan betapa ia selama ini kekanakan.
"Bagaimana dengan ibu?" tanya Zahira saat mereka kembali naik ke atas untuk bergabung dengan Sadam.
"Segera akan di beritahu," jawabnya.
Setibanya di ruang pertama mereka tadi, Sadam sedang terbaring dengan tangan sedang menggenggam laptop. Terlihat sibuk di dunianya sendiri.
"Endru tadi mencarimu," kata Sadam.
"Well, dia tampak sedikit resah. Apa yang kalian rencanakan sepertinya tidak berjalan mulus." Keduanya saling bertatapan, mengabaikan Zahira yang menatap mereka bingung. Siapa itu Endru?
Pintu terbuka dan sosok Endru muncul di sana. Sadam mengalihkan perhatiannya kepada laptopnya lagi, terdiam beberapa saat sebelum tersenyum sinis.
"Kami mendapatkan sebuah bukti dari kesaksiannya Tuan, siapa si anggota ketujuh."
Bukan hanya Kenzo, semua mata mengarah kepada Endru. Endru mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah rekaman suara. Seseorang yang berbicara dengan Dursley. Namun mereka tidak bisa melihat sosok itu karena terhalang tiang bangunan. Rekaman itu juga tidak terlalu jelas karena sepertinya siperekam berada di situasi yang sulit.
"Tidakkah suaranya familiar?" bisik Sadam.
"Hmm ... seperti seseorang yang kita tahu," Sambung Endru.
"Pak presiden ... ?" tebak Zahira dengan nada ragu.
"Banyak yang memiliki tipikal suara sepertinya, selidiki sepatu yang ia pakai. Itu seperti barang limited edition," perintah Kenzo.
"Serahkan padaku," kata Sadam dan mulai duduk kembali di kasur meski dengan tertatih.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kasus kemarin?" tanya Kenzo pada Endru.
Endru melirik sesaat pada Zahira sebelum menjawab. Ia tampak enggan mengatakan jawabannya.
"Kerjasama Adira dengan MNC membuat Susan mengambil keuntungan Tuan, dia berusaha membuat Adira jatuh dengan kerjasama itu, anda benar ... Susan membuatnya seolah orang lain yang melakukannya. Sayangnya kita tidak memiliki celah apapun untuk membuatnya terpojok. Dia melakukannya dengan tangan orang lain."
Zahira yang tadi duduk mendengar hal itu kembali bangkit, menatap dua orang itu dan meminta jawaban ke pada Kenzo.
"Apa maksudmu? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Zahira.
Endru tampak tidak nyaman, dia tidak mau menatap balik Zahira dan lebih memilih menundukkan pandangannya. Terlebih Kenzo tampak tidak menyukai Zahira yang memberikan atensinya pada dirinya.
"MNC menderita kerugian besar dan terancam bangkrut, sayangnya Adira terkena imbasnya karena kerjasama itu. MNC adalah perusahaan baru yang sengaja di akuisisi oleh Susan dan menghancurkannya dalam sekejap mata." jawab Kenzo datar.
Zahira merogoh ponselnya dan dia baru menyadari bahwa ponselnya mati. Itulah sebabnya ia tidak menerima laporan apapun. Zahira hendak mengisi daya ulang ponselnya ketika Kenzo menghentikannya dan segera memeluknya. Zahira terlihat sangat frustasi dan tampak penyesalan diwajahnya.
"Jangan menyalahkan dirimu, Susan memang berpengalaman menghancurkan orang lain. Pemula sepertimu memang sasaran empuk baginya. Tenanglah ... aku tidak akan membiarkan Adira jatuh,"
Endru dan Sadam saling bertukar pandang sesaat sebelum keduanya melangkah keluar dalam diam. Meninggalkan keduanya dimana Zahira kini sudah mulai terisak.
"Aku bodoh sekali ... saat itu Tomi sudah mencurigai mereka tapi aku ... aku... " Zahira tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ia merasa sangat bodoh. Dia merasa bersalah kepada seluruh karyawannya jika Adira jatuh.
"Jangan menangis ... aku janji akan memperbaikinya, hmm?"
Zahira menggeleng, ia melepaskan diri dan menatap Kenzo dengan wajag basah dan mata merahnya.
"Bolehkah aku ... aku yang menghadapinya?"
Kenzo menatap mata polos itu. Tidak kuasa menolak permintaan Zahira apalagi di saat suasana hatinya sedang kacau. Namun Susan bukanlah suatu yang bisa di hadapi dengan mudah terutama Dursley di belakangnya. Zahira tentu akan terluka.
"Tolong percaya padaku," pinta Zahira meyakinkan. Dia sepertinya ingin memperbaiki kesalahannya dan ingin menunjukkan ia mampu menjadi pemimpin perusahaan mendiang ayahnya.
Kenzo menghela napas dan menarik Zahira kembali ke dalam pelukannya. Mengelus belakang kepalanya dengan lembut.
"Izinkan aku ... Ken__"
"Maafkan aku," jawab Kenzo lirih.
Zahira berhenti sesegukan dan melepaskan diri dengan cepat. Menatap Kenzo dengan terluka sebelum berlari keluar.
Kenzo memijit pangkal hidungnya. Melirik sesaat Sadam dan Endru yang kembali masuk ke dalam , ia memerintahkan Endru mengawasi kekasihnya itu dalam diam.
Sadam yang paham situasi hanya kembali duduk di kasur.
"Kali ini aku setuju denganmu, Za bisa terluka melawan wanita ular itu, dia psikopat gila seperti ayahnya!" ujar Sadam.
__ADS_1
Kenzo tidak menjawab, Sadam dan Endru memang hanya berdiri diam di depan pintu tadi, tentu saja mereka bisa mendengar percakapan di dalam. Tampa berkata apapun Kenzo keluar bermaksud mencari calon istrinya itu.