Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Terbongkarnya rahasia


__ADS_3

Pagi harinya, Danu yang sedang mendampingi tuannya yang semakin lemah sedang berbaring di kasurnya. Gunawan tampak sudah susah berdiri, tangannya bergetar saat menyaksikan berita ditelevisi yang sengaja dinyalakan oleh Danu atas perintah Kenzo. Sang istri yang tadi membuatkan susu hangat untuk suaminya datang bersama Adel yang sedang sibuk bercerita. Mereka yang menemukan Danu didalam kamar memandangnya dengannya bingung.


"Papa kenapa? "


Tanya istrinya begitu menyadari suaminya terlihat syok, Gunawan tidak menjawab. Dia menunjuk televisi. Istrinya yang tampak bingung melihat televisi yang sedang menayangkan iklan.


Adel menatap Danu curiga sebelum menghampiri sepasang suami istri itu dan berusaha menggenggam tangan ayahnya. Namun tangan itu segera ditepis oleh Gunawan. Adel dan istrinya tentu terkejut.


Melihat hal itu, Danu merogoh ponselnya dan segera menunjukkan berita-berita yang ada di internet. Kemudian mengganti siaran televisi yang sekarang menunjukkan berita yang sama namun sudah ditayangkan secara live. Dimana bambang dan sang istri ditangkap dikediaman mereka. Keduanya menundukkan wajah agar wartawan tidak menangkap wajah mereka.


'Maaf Nona Adel... Sandiwara Nona berakhir sampai disini. ' kira-kira seperti itulah yang ingin dikatakam Danu dengan wajah tenangnya menatap Adel sesaat.


Adel menatapnya dengan pandangan membunuh. Dia segera bangkit berdiri dan memandang kedua orang tua yang selama ini membesarkannya.


"Papa.... Mama. Adel Enggak tahu apapun. Berita itu bohong! Adel tidak mungkin mau menyakiti orang tua Adel sendiri! "


"Lalu kenapa mereka juga mengatakan Adel bukan anak kami? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Kata Istri Gunawan pada Danu yang hanya diam. Mengabaikan perkataan Adel saking syoknya.


Adel meneteskan air matanya, Namun sayangnya bukan Air mata sedih. Melainkan air mata ketakutan dan frustasi. Dia berusaha mengenggam tangan wanita yang selama ini ia panggil mama.


"Ma...mama percaya Adel kan? Adel mana mungkin menyakiti kalian. "


Gunawan yang melihat rekasi Adel tentu saja tidak bodoh untuk membedakan mana yang reaksi terkejut alami dan mana reaksi orang yang sedang berkilah dan mencari pembenaran untuk membela diri. Gunawan memegang dadanya yang terasa semakin sakit. Tidak berapa lama ia pingsan dan tidak sadarkan diri.


Danu yang terkejut segera membopong tubuh tuannya dan membawanya kemobil. Istrinya segera melepaskan tangan Adel dan ikut menolong Danu membawa suaminya. Kini tinggallah Adel yang sedang bersimpuh dilantai dengan air mata ketakutannya.


.


Ditempat lain, diruang tunggu sebuah laboratorium, Sadam sedang bermain game diponselnya dengan santai tiduran disana. Kakinya bahkan naik ke dinding untuk membuat posisinya nyaman. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan dia diberitahu hasil pemeriksaan akan keluar dalam beberapa saat lagi melalui telfon, karena itu dia datang.


Sadam mengantarkan sampelnya ditengah malam dan memaksa temannya yang bekerja disana untuk memeriksanya. Para karyawan sudah mulai berdatangan dan memandangnya aneh sembari melewatinya. Sadam tidak perduli, dia sedang sibuk dengan game onlinenya sebelum sebuah map coklat menimpa wajahnya.


"Ck! Kamu membuatku kalah tahu!" Protes Sadam sambil bangkit dari acara berbaringnya, mengambil map yang tadi sempat terjatuh.


"Masih untung aku mau menolongmu! Sana lakukan pembayaran dan segera enyah dari sini. Ini masih masa cutiku dan kamu harus membayarku setelah ini!" Ucap temannya dengan nada sewot. Dia segera meninggalkan Sadam yang menatapnya dengan senyum polos andalannya.


Setelah melakukan pembayaran Sadam segera menuju tempat sepi disudut gedung itu dan memotret hasil tes DNA itu satu persatu. Kemudian dengan sangat lihai, hanya dalam waktu beberapa menit saja hasil DNA itu sudah tersebar disitus-situs resmi berita dan tentu saja ke link kepolisian.


Untuk hasil asli tentu saja dia akan menyerahkannya kepada Kenzo.


.

__ADS_1


Kenzo sedang melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya direstoran sebuah hotel ketika berita yang dikirim Sadam pagi ini disiarkan oleh pembawa berita televisi. Nama-nama disana dengan jelas sampai ketelinganya. Kabar yang lebih mengejutkan lagi ketika ponselnya menerima pesan dari Danu.


"Maafkan saya pak Juan, Bisakah kita akhiri pertemuan ini lebih cepat. Saya benar-benar memiliki keperluan pribadi yang mendesak. " ucap Kenzo dengan nada minta maaf.


"Tentu saja, pembicaraan kita sudah selesai. Saya juga akan segera pergi. "


Kenzo tersenyum kecil sebelum bangkit dan segera pergi dari sana diikuti Jimi yang sejak tadi mendampinginya.


"Jimi pergilah naik taksi kerumah sakit Pelita, Urus wartawan yang mungkin akan mengganggu orang tua Zahira."


Titah Kenzo sambil jalan.


"Baik tuan. "


Jimi berbelok ke kiri menuju lobi sementara Kenzo menuju parkiran dimana mobilnya terparkir. Kenzo merogoh ponselnya dan segera menghubungi Sadam.


"Sadam, perketat penjagaan Zahira. Awasi Adel dan Danu. Jangan sampai keduanya kabur. " kata Kenzo.


Begitu sampai dimobilnya Kenzo buru-buru menyalakan mesin dan segera pergi dari sana. Tujuannya adalah apartemen Zahira. Dia yakin Zahira sudah menonton televisi saat ini karena berita tadi malam akan membuat dia selalu menanti berita yang lainnya.


Sesampainya didepan pintu apartemen Zahira, Kenzo segera menekan pasword dan segera masuk. Ia segera menuju ruang tengah dimana ada televisi. Keningnya mengernyit heran saat suasana rumah begitu sepi. Dia berjalan kearah dapur, namun Zahira tidak ada disana, hanya ada secangkir kopi yang masih terasa hangat. Kenzo segera naik kelantai dua dimana kamar Zahira berada. Dia mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada sahutan. Dengan tidak sabaran dia membuka pintu dan matanya mengedar keseluruh ruangan. Hembusan nafas lega terdengar saat matanya menangkap sosok yang dicarinya sedang berbaring disana.


"Tatap aku. " Titahnya dengan tegas.


"Za tatap mataku! "


Kali ini Kenzo sedikit membentak dan mencengkram bahu itu. Sepertinya cara itu berhasil. Karena akhirnya Zahira menatapnya. Perlahan air matanya turun, setetes demi setetes.


"Maaf tidak memberitahumu sejak awal, Beginilah cara aku bekerja. Pak Gunawan dan istrinya adalah orang tua kandungmu seperti yang ada diberita. Sadam sudah melakukan tes DNA. Bicaralah! Apa kita akan menemui mereka sekarang? Kamu sudah siap? "


"Me... mereka yang membuangku? "


"Mereka tidak membuangmu, Danu lah orang yang menukarmu dengan Adel. Dia yang meletakkanmu dijembatan." jawab Kenzo yang sekarang berganti posisi duduk disamping Zahira.


"Danu? yang mengirimiku paket? "


Suara Zahira serak dan air matanya masih mengalir meski dia terus menghapusnya.


"Hmm" gumam Kenzo dengan sabar. Dia tahu Zahira sedang terpukul, jika disamai dengan rekor muri, maka dia sudah mendapatkannya karena ini adalah saat-saat dimana Kenzo menjadi sangat sabar selama hidupnya.


"Kenapa? "

__ADS_1


Kenzo tidak menjawab, dia hanya menghapus air mata itu dengan tangan besarnya.


"Aku... selama ini membenci mereka dalam hatiku. Aku mengharapkan mereka berlutut minta maaf. Aku berniat tidak akan memaafkan mereka. Aku begitu menanamkan kebencian karena mereka membuangku. Aku mengira..."


Perkataan Zahira terhenti saat Kenzo membungkamnya dengan pelukan hangat. Memberikannya elusan menenangkan dikepalanya.


"Tenangkan dirimu. Orang tuamu tidak seperti yang ada dikepalamu. Mereka orang baik. Seseorang yang membuatmu menderita selama ini akan aku buat menerima pembalasannya. Sekarang tidurlah, Aku akan disini menemanimu. "


Kenzo melepaskan pelukannya dan membaringkan Zahira. Setelah ia memasangkan selimut Kenzo bangkit dan hendak menuju dapur karena tenggorokannya terasa kering, namun Zahira menggenggam tangannya erat.


"Jangan pergi, kamu bilang mau menemani. "


"Aku hanya ingin kedapur. Tak apa, aku bisa menundanya." jawab Kenzo.


Dia segera melepas sepatunya dan naik keatas kasur dari sisi lain. Duduk disana dan bersandar kekepala tempat tidur. Sebelah tangannya mengenggam tangan Zahira dan mengelusnya dengan ibu jarinya, berusaha menenangkan. Perlahan ia lihat kedua mata Zahira tertutup. Dia tahu Zahira belum tidur, karena itu ia belum melepaskan genggamannya. Matanya memandang wajah itu namun ia sedang berfikir apa langkah yang akan diambilnya nanti.


Ponsel Zahira berbunyi diatas meja. Saat itulah Kenzo bisa melihat beberapa foto dan sebuah surat ditempel dikaca. Kenzo melepaskan genggamannya. Dia bangkit dan meraih ponsel itu. Nomor tidak dikenal, namun ia bisa menduga siapa yang menelfonnya. Dia segera mengangkatnya dan berbalik menatap Zahira yang kembali membuka matanya namun tidak menatapnya.


"Za... aku lihat berita di TV dan juga kabar dari Anton_ Apa itu benar kamu? Maafkan aku tidak bisa membantumu lebih baik. Aku... aku kawatir padamu. Kamu baik-baik saja? Apa aku perlu datang? "


Benar seperti dugaannya, yang menelfon adalah Wewen. Suaranya terdengar sangat kawatir melebihi seorang teman dan Kenzo sama sekali tidak menyukainya.


"Dia bersamaku, apa yang kamu kawatirkan? " Jawab Kenzo dingin.


"Kenapa kamu yang angkat telfonnya? Lalu bagaimana keadannya? "


"Berhenti kawatir pada calon istriku!"


Jawab Kenzo berang dan memutus sambungan. Dia mendengus kesal sebelum naik lagi keatas kasur.


Dia melirik Zahira dan terkejut gadis itu tertawa kecil.


"Apa yang kamu tertawakan? "


"Apa kamu benar-benar jatuh cinta padaku? cemburumu lucu sekali. " Jawab Zahira pelan. Setelah itu ia kembali memejamkan matanya.


"Tolong selamatkan orang tuaku." gumam Zahira dengan mata tertutup.


"Aku percaya padamu. " lanjutnya.


Kenzo tergugu ditempatnya, memandangnya dalam diam, hatinya entah kenapa bergejolak aneh dan tiba-tiba saja ia merasakan kesenangan luar biasa. Hal-hal yang belum pernah dirasakannya karena ini pertama kalinya ia jatuh cinta, membuatnya takjub dengan sensasi-sensasi baru yang membuatnya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2