Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Presiden direktur Adira grup


__ADS_3

Sudah berjalan dua minggu di mana Zahira dan Kenzo tidak saling bertemu. Kenapa bisa tidak saling bertemu?


Jawabannya karena Zahira tidak pernah ke kantor Kenzo lagi. Dia tidak menjadi asisten pria itu lagi saat Jimi memberitahu bahwa dia tidak perlu datang lagi. Saat ini, Zahira dihadapkan dengan para pemegang saham perusahaan ayahnya yang sekarang kepemimpinan masih di pegang oleh Tomi. Dua minggu itu Zahira menyelesaikan masa belajar cepatnya dengan Tomi dan Sadam banyak membantunya. Rapat ini di adakan untuk menyerahkan kembali tampuk kepemimpinan direktur utama grup Adira kepada penerus sebenarnya dari Gunawan. Dimana Zahira akan memperkenalkan diri secara resmi dan mempresentasikan pencapaian perusahaan saat ini.


Mengenai penyelidikan mereka terhadap Dursley, Sadam yang selalu melakukannya di sela-sela mengajari Zahira di dalam kantornya. Bahkan sering sekali dia memonopoli ruangan itu untuk dirinya dengan segala perangkat lunak yang di pakainya. Zahira bahkan harus membeli komputer-komputer baru dan merombak ruangannya untuk di bagi dengan Sadam yang tidak mau melepaskan pengawasannya dari Zahira. Meskipun tidak ada pergerakan dari Dursley, tapi Sadam dan Zahira tahu bahwa dia selalu di awasi. Bahkan Zahira membayar beberapa orang untuk melindunginya diam-diam saat pergi kemanapun. Wewen juga beberapa kali datang dengan tujuan berdiskusi. Namun dia akan datang setelah kantor tutup dan semua karyawan sudah pulang.


Zahira menggigit bibirnya karena ini pertama kalinya ia akan berhadapan dengan para pemegang saham. Yang lebih membuatnya gugup adalah ini kali pertama pertemuannya dengan Kenzo setelah 2 minggu tampa kabar.


"Jangan gugup, mereka akan menyerangmu jika kamu terlihat lemah," kata Tomi.


"Aku tahu, maaf."


"Perlu ku pesankan kopi?" tanya Tomi lagi. Sadam yang merasa terusik melepas earphone dari telinganya dan menoleh ke pada Zahira dari sudut tempatnya bekerja.


"Telepon saja ibumu," katanya kalem. Zahira menatapnya sesaat sebelum tersenyum.


"Terimakasih," katanya lalu beranjak keluar.


Tomi dan Sadam saling bertukar pandang sesaat sebelum Sadam menarik napas dan menghembuskannya perlahan.


"Kapan dia akan menarikmu kembali?" tanya Sadam.


"Tuan bahkan tidak pernah menghubungiku. Saat aku menelfon Jimi ... Jimi bilang Tuan tidak pernah membahas apapun tentang Nona ataupun perusahaan ini. Tapi untuk rapat kali ini ... Jimi bisa memastikan kalau Tuan akan hadir."


Kedunya terdiam untuk beberapa saat.


"Aku tidak tahu apa yang sedang dia rencanakan. Meskipun aku tahu cara dia mengambil keputusan, terkadang aku seperti bermain teka-teki dengan pikirannya. Aku selalu berusaha menebak ... terkadang aku benar, tapi terkadang juga salah."


Tomi menatapnya sesaat sebelum menanggapi.


"Bolehkah aku tahu kenapa kamu membantu Nona? ini ... bukan dirimu sekali kalau aku boleh menilai."


Sadam tergelak sesaat dengan pandangan kosong. Memutar-mutar pena di jarinya.


"Menurutmu?" katanya dengan senyum penuh arti sambil menoleh. Menatap langsung mata Tomi yang juga menatapnya. Agaknya Tomi sedang menerka-nerka apa yang dipikirkannya.

__ADS_1


"Aku harap bukan seperti yang aku takutkan, meskipun Tuan terlihat melepaskan Nona, aku tahu dia tidak. Aku bisa melihat perasaan tulusnya ke pada Nona," kata Tomi dengan nada tegas. Hal itu membuat Sadam tersenyum dan mengangguk setuju.


Zahira membuka pintu dan dengan itu pembicaraan merekapun berakhir. Keduanya menatap Zahira dengan wajah bertanya.


"Aku rasa aku sudah siap, ayo berangkat." Zahira memandang mereka bergantian dengan senyum manis.


Sesampainya di ruang rapat, sudah ada beberapa yang hadir. Namun saat Zahira mengedarkan pandangannya setelah duduk di samping Tomi, dia tidak melihatnya. Sadam memilih duduk di sudut ruangan untuk mengawasi, karena sebenarnya dia bukanlah karyawan ataupun pemegang saham. Dia hanya seseorang yang selama ini mendampingi Zahira seperti pengawal, atau itulah yang diketahui semua orang.


Sampai ruang rapat penuh, Kenzo belum juga muncul. Membuat Zahira jauh lebih gugup dan sedikit kawatir. Karena yang sesungguhnya dia menunggu pria itu untuk membuat keputusan akhir. Bagaimanapun saat ini Kenzo adalah pemegang saham terbesar.


"Sebaiknya kita mulai," bisik Tomi. Zahira melirik sedikit dan mengngguk setuju.


"Selamat pagi dan kami sangat berterimakasih dengan kehadiran anda semua." Tomi memulai dengan wibawanya seperti biasa.


"Seperti yang anda tahu, saya hanya sebagai pengganti sementara sampai Nona benar-benar siap. Saat ini ... perusahaan berada dalam keadaan stabil bahkan mengalami peningkatan sekitar 20%. Dan saya yakin akan terus berkembang dengan kepemimpinan pemiliknya yang sah."


Beberapa orang mengangguk setuju dan sebagian yang lain melirik Zahira dan menunjukkan pandangan meremehkan. Tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian Tomi bahkan Zahira sendiri.


"Pertemuan kali ini adalah mengenalkan secara resmi, penerus Adira dan presiden direktur yang baru."


"Lanjutkan," perintah Kenzo.


"Terimakasih atas kedatangan Tuan, jadi ... selanjutnya akan di ambil alih oleh Nona Zahira."


Zahira mengerjapkan matanya dengan gugup. Tomi menatapnya dan memberikan senyum tipis sebagai bentuk dukungan. Zahira tidak tahu kenapa tapi ia menolehkan kepalanya ke belakang dan menangkap senyum tipis Sadam dengan anggukan pelannya sebagai bentuk ucapan penyemangat bahwa dia bisa melakukannya. Tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian orang di sana terutama Kenzo yang diam-diam mengepalkan tangannya di atas lutut, namun ia tetap memasang wajah datarnya seolah tidak melihat apapun.


"Terimakasih ... Saya tahu saya tidak punya pengalaman apapun. Saya juga belajar dengan sangat singkat dan sampai saat ini saya terus mengasah kemampuan. Tapi ... ayah saya yang dengan sekuat tenaga dan membangun perusahaan ini dari nol dan karena perusahaan ini juga ia kehilangan nyawanya ... saya bertekat untuk mempertahankan dan membuat impian ayah untuk membuat perusahaan lebih kuat lagi terwujud. Saya tahu saya masih muda ... butuh banyak belajar. Karena itu saya membutuhkan dukungan dari semua pihak, saya berharap anda sekalian mau membantu dan dengan tulus mengoreksi saya jika sekiranya saya melakukan kesalahan." Zahira mulai membuka berkas yang ada di depannya.


"Aku dengar kamu beberapa bulan bekerja pada Tuan Kenzo, bahkan kalian menjalin hubungan. Tentu saja itu sangat membantu ... hanya jika kamu benar-benar belajar," kata seorang pemegang saham yang Zahira sudah kenali dari Tomi bahwa dia adalah penerus perusahaan Jaya Abadi yang memiliki umur tiga tahun di atasnya bernama Abdi mahendra.


Semua orang tentu saja tahu hal itu, namun cara Abdi menyudutkannya membuat beberapa orang tampak was - was terutama karena hal itu berkaitan dengan Kenzo.


Kenzo sendiri tampak tidak terganggu, dia diam saja menunggu tanggapan Zahira atau siapapun yang ingin berpendapat. Baginya belum saatnya dia berbicara.


"Saya belajar banyak dari Tuan Kenzo tentu saja, juga dari sekretaris beliau yang banyak berjasa. Terimakasih atas__"

__ADS_1


"Tapi aku juga dengar kamu hanya tamatan SMA, apa menurutmu kamu mampu? bukankah lebih baik perusahaan di pimpin oleh orang yang lebih berkopeten," potong seorang wanita paruh baya yang Zahira ketahui adalah tante dari abdi dan memegang sebagian kecil saham. Tentu saja Zahira tahu mereka ingin menjatuhkannya demi tujuan mereka. Karena semua orang sekarang tampak saling berbisik.


"Benar, saya tidak pernah menginjak bangku universitas manapun. Meskipun saya mendapatkan banyak undangan tentu saja. Namun ... jika anda ragu dengan pengetahuan saya dalam bidang ini ... anda bisa menanyakan apapun dan saya dengan senang hati akan menjawabnya," kata Zahira dengan penuh keyakinan. Bahkan rasa gugup yang tadi hinggap di hatinya lenyap tak bersisa. Kepercayaan dirinya kembali begitu saja saat ia di remehkan seperti itu. Ia kembali ke pada sisi dirinya yang sebenarnya.


"Tidak ada yang ingin mencoba?" tanya Zahira dengan nada menantang. "Kalau begitu dengarkan apa yang akan saya sampaikan tentang pencapaian perusahaan dua bulan terakhir," lanjut Zahira dengan tegas dan dingin khas dirinya. Membuat dua orang yang meremehkannya tadi terkesiap. Tampaknya mereka menyangka Zahira hanyalah wanita lemah dan bodoh yang baru saja di temukan dari panti asuhan karena siapapun tahu tentang konspirasi pamannya yang bahkan menginginkan kematiannya saat baru lahir.


Tomi dan Sadam tersenyum kecil saat Zahira mulai menunjukkan kejeniusan otaknya. Beberapa orang disana tampak kagum dengan cara pemaparan dan pengetahuan yang disampainkan Zahira. Berbeda dengan Abdi dan tantenya yang tampak tertampar secara tidak langsung.


Usai persentasi yang di lakukannya, sebagian besar dari mereka memberikan anggukan tanda paham dan mendukung. Bahkan mereka tidak sungkan untuk memujinya.


"Sepertinya kamu sudah siap dan itu artinya Tomi akan aku tarik kembali ke perusahaanku," kata Kenzo tiba-tiba setelah pertemuan selesai dan semua orang sudah keluar kecuali dia, Zahira, Tomi, Sadam dan Jimi yang masih di sana.


Baik Zahira maupun Tomi tampak terkejut.


"Bisakah Tomi menjadi wakilku?" tanya Zahira. Kenzo tersenyum sinis dan bangkit berdiri.


"Tomi akan menyelesaikan semua pekerjaannya dalam seminggu. Bukankah itu cukup adil? lagi pula bukankah kamu memiliki pahlawanmu yang siap menolongmu 24 jam?" sindir Kenzo di akhir perkataannya.


Zahira terdiam begitu saja. Kenzo bahkan menatapnya seolah dia sudah menghianatinya.


"Jangan kawatir, aku akan membantunya 24 jam seperti perkataanmu. Bahkan jika memungkinkan aku akan menemaninya bahkan saat dia tertidur, menjadi pria yang menjaga wanitanya," sahut Sadam yang masih santai duduk di tempatnya.


Semua orang di sana tentu saja tahu Sadam hanya memanasi keadaan. Mencoba melawan Kenzo yang menyudutkan mereka.


"Kalian benar-benar sangat cocok ... saling mendukung satu sama lain." Usai berkata demikian Kenzo meninggalkan mereka dengan raut dinginnya. Jimi memandang Zahira sesaat dengan pandangan iba sebelum menyusul Tuannya.


Lalu apa yang terjadi dengan Zahira? dia masih terdiam menunduk di tempatnya. Kebingungan menggerogoti pikirannya akan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di hatinya. Bahkan dia tidak sadar saat air matanya jatuh dan Tomi mengulurkan sapu tangan ke padanya. Dengan wajah bingung dia memandang sapu tangan itu dan Tomi bergantian.


"Kenapa kamu baru menangis sekarang?"


Perkataan Sadam baru menyadarkannya akan air matanya yang terus turun. Zahira meraba pipinya dan menertawai dirinya sendiri. Dengan cepat dia mengusap wajahnya dengan sapu tangan Tomi dan bangkit dari sana. Meninggalkan mereka berdua yang saling melempar pandang.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Tomi.


"Apa lagi? tentu saja melakukan apa yang harus dilakukan. Setelah seminggu ... itu tugasmu. Aku punya banyak pekerjaan dan di sini aku hanya akan berperan sebagai aktor antagonis," jawab Sadam dengan seringai kecil di sidut bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2