
Kenzo, Zahira dan Sadam, tiga orang ini sedang menonton bagaimana Prakoso dihujat sana sini disemua media sosial. Seluruh media memberitakannya. Vidio persidangan viral bahkan sampai melibatkan kepolisian luar negeri. Dimana seluruh anak yang berhasil di lacak dijual.
Menurut kesaksian beberapa tersangka yang telah di tangkap, termasuk prakoso yang tidak bisa mengelak. Mereka setidaknya sudah menjual ratusan anak dibawah umur selama delapan tahun terakhir.
"Sungguh kasus yang memalukan untuk orang yang selalu dihormati seperti dia." gumam Zahira. Mereka sedang berada di ruang rapat khusus pasukan milik Kenzo.
"Sampai saat ini tidak ada kemungkinan presiden terlibat. Kecuali menutupi kebenaran, itupun jika dia mengakui kalau dia tahu. Karena sampai saat ini tidak ada bukti yang aku temukan." kata Sadam.
"Dia bermain cerdik, bahkan setelah organisasi Red wine terungkap. Dia bisa lepas begitu saja. Prakoso benar-benar menjaganya selama ini." sahut Zahira.
"Kamu benar, satu-satunya bukti yang kita miliki hanya Jeykey."
Sadam menoleh cepat pada Kenzo. "Kita harus bicara dengannya terlebih dahulu. Jangan sampai membuat mentalnya tertekan. Dia harus siap untuk kasus ini." pinta Sadam.
"Apa ini? Kamu benar-benar menjadi ayah untuk anak musuh kita?" sinis Kenzo.
"Ck! Ini kemanusiaan oke! Tidak peduli dia anak kriminal manapun, dia hanyalah korban." jawab Sadam.
"Sadam benar, Jey hanya korban. Dia sudah cukup menderita dengan traumatik masa kecilnya. Dia juga masih di bawah umur. Jangan berlebihan, Ken. Kita harus menahan kasus ayahnya. Kecuali dia yang menginginkannya." respon Zahira, setuju dengan Sadam.
"Aku tidak suka dia terus berada disini."
Baik Zahira maupun Sadam menatap Kenzo dengan pandangan mencemooh. Terutama Zahira yang terlihat lebih geram karena sikap Kenzo.
"Jangan berlebihan! Dia hanya anak kecil! Pokoknya aku tidak setuju kasus presiden kalian buka sekarang. Aku lebih suka kalian fokus pada Dursley."
Kenzo tidak bisa membantah istrinya lagi. Sadam sampai tertawa senang melihat wajah sahabatnya itu. Saat-saat dia kalah dalam perdebatan memang sangat menarik. Karena Kenzo terlalu susah dikalahkan, hanya Zahira yang bisa membuatnya mengalah.
"Dursley ini ... siapa yang bisa membuatnya kabur degan cepat. Bahkan SS guard belum bisa mendeteksi keberadaannya. Dia tidak menggunakan data pribadinya dimanapun. Tidak ada di daftar penerbangan manapun, pembelian tiket kereta api bahkan tiket bus. Dia juga tidak terdeteksi menggunakan jalan tol. Benar-benar licin." gumam Sadam.
"Tikus besar itu tak akan lari terlalu jauh. Sepertinya dia memiliki orang jenius di bawah kakinya." terka Kenzo.
Sejak Prakoso di tangkap dan nama Dursley ikut terseret, dia menghilang ketika polisi akan menjemputnya paksa.
Kasus terbesar dalam sejarah kelam ini menunjukkan betapa kekuasaan itu sangat mengerikan. Dibalik senyum ramah, tindakan yang terkesan merakyat, para pejabat ini bermain dengan halus dibalik layar.
Zahira yang terus menerus diperlihtkan kebusukan-kebusukan yang ada di sekitarnya. Merasa bahwa masih banyak lagi orang-orang seperti mereka disunia ini. Lingkaran setan yang tak akan pernah putus. Ketika satu pion tertangkap, maka pion lain akan muncul mengisi kekosongan.
.
Sementara itu, presiden yang berhasil mengamankan diri dibantu berbagai pihak yang telah ia pengaruhi, duduk termenung diruang kerjanya. Istrinya cukup membuatnya tsrtekan, memintanya jujur apakah ia juga pernah bermain dengan gadis belia yang dijual ayahnya. Sang presiden meskipun sangat berambisius dengan kekuasaan dan uang, namun dia masih menjaga moral di dalam hatinya. Apa yang dilakukan mertuanya tentu saja tidak bisa ia bantah, dia hanya boneka. Namun dibalik itu, dialah yang menyelamatkan dirinya sendiri sehingga namanya tidak ikut terseret.
Anaknya juga terkena imbas karena hal ini. Sangsi sosial akibat kekejian yang mertuanya lakukan berimbas pada lingkungannya juga. Anaknya yang masih sekolah dasar tertekan karena teman-temannya menanyakan hal yang seharusnya tidak ditanyakan. Membuat ia menangis setiap kali pulang sekolah.
"Anda baik-baik saja, Pak?" tanya ajudannya yang baru masuk.
__ADS_1
"Aku baik, terima kasih." sahutnya dengan tenang.
"Ada paket untuk anda pak, itu datang ke kediaman pribadi anda pagi ini. Saya telah memeriksanya dan itu sebuah salinan ... sebuah salinan akta kelahiran." Ajudannya tampak ragu. Namun perlahan dia tetap melangkah lebih dekat dan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
Presiden terdiam menatap lembaran itu. "Ada sebuah note kecil yang disertakan." lanjut ajudannya sembari meletakkan sebuat kertas note bewarna kuning. Disana tertulis sebuah nomor telepon.
"Siapa saja yang tahu mengenai ini?"
"Hanya saya, karena saya langsung yang memeriksanya sendirian." jawab ajudannya.
"Aku akan mengirim sejumlah uang ke rekeningmu untuk menutupi ini. Sekarang kembalilah ketempatmu." suruhnya.
"Terima kasih pak, saya permisi."
Presiden mengeraskan rahangnya. Dia mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor itu.
'Anda terlalu lama pak presiden." sahut sebuah suara yang amat dikenalnya.
"Kamu?"
'Ya, ini saya.'
"Dimana Dursley? Kemana kalian lari?"
'Anda bertanya seolah anda masih menjadi pemimpin. Jika anda sangat takut pada bukti yang ada padaku, saya bisa bernegosiasi.'
Presiden terlihat frustasi dan juga takut. "Apa yang kalian inginkan?"
'Siapkan kapal tampa diketahui siapapun. Aku tidak kawatir dengan polisi, yang aku kawatirkan adalah orang-orang Kenzo. Jika anda bisa membuat kami pergi tampa diketahui, aku akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat.'
Panggilan ditutup sepihak. Presiden, dengan segala upaya yang telah ia lakukan. Tentu saja dia tidak akan membiarkan posisinya goyah. Karena itu dengan segala cara dia akan mengusahakan apa yang di minta kepadanya.
Sementara itu, disebuah rumah sederhana Dursley menghisap cerutunya. Rumah itu adalah milik orang tua asistennya yang sudah ia tinggalkan sejak kecil. Ketika Dursley memungutnya ditengah kejamnya tangan-tangan preman yang menyiksanya saat itu. Rumah yang menjadi saksi bisu kematian kedua orang tuanya.
"Kamu dari mana?" tanyanya saat asistennya kembali masuk ke dalam rumah, membawa dua bungkus makanan.
"Anak anda mengambil alih perusahaan yang saat ini sedang goyah. Sekali saja Kenzo menepuk tangannya, maka perusahaan anda akan bangkrut. Apa yang akan anda lakukan, Tuan?" sahut asistennya, mengabaikan pertanyaan Dursley.
"Saat ini aku aku tidak punya pilihan. Kenzo pasti sedang mengejarku untuk menjebloskanku ke penjara. Dia tidak pernah membiarkan musuhnya lepas selama ini. Kita harus pergi jauh, aku tidak peduli pada anak tidak berguna itu. Aku sudah menyelamatkan seluruh uang pribadi dan uang perusahaan kerekening baru. Anak bodoh itu hanya akan jadi gelandangan dan kembali pada ibunya yang miskin."
Asistennya tersenyum, dia mengurungkan niatnya memberi tahu mengenai rencana yang telah ia susun.
"Lalu apa yang akan anda lakukan sekarang? Negara mana tujuan anda? Mengingat Kenzo sangat teliti, kita tidak akan mudah keluar begitu saja."
Dursley tersenyum, "Bukankah itu pekerjaanmu? Kamu yang harus memikirkan caranya. Apapun itu, aku harus selamat dari tangan Kenzo!"
__ADS_1
Asistennya meletakkan makanan yang sudah ia susun rapi di atas piring di atas meja. Tersenyum simpul kemudian.
"Tentu tuan, saya akan melakukan semuanya untuk anda. Sekarang makanlah dulu. Saya akan pergi untuk mengurus beberapa hal untuk misi ini." katanya dengan sopan.
Ketika sampai diluar pintu, wajahnya berubah menjadi datar dan tidak bersahabat. Dia menatap pintu dengan wajah tidak suka sebelum pergi dengan menghunakan mobil. Baginya yang jarang muncul di layar ataupun foto wartawan, tidak sulit untuk bersikap santai dimanapun ia pergi.
.
Jeykey duduk di bangku taman belakang setelah latihan. Wajahnya murung seperti biasa. Sadam yang baru pulang dari kantor Steven melihatnya dari jauh. Menghela nafas ketika akhirnya memutuskan untuk berbicara dengannya sebelum mandi sore.
"Kamu tidak rindu sekolahmu? Mau sampai kapan bolos?" tanya Sadam.
Jey menunduk, memainkan kakinya dengan cara di ayunkan.
"Tidak bisakah aku sekolah di sini?" tanya anak itu, sejak mulai berlatih bela diri dia sudah mau berbicara dengan bahasa Indonesia.
"Jika begitu, kamu harus siap berhadapan dengan ayahmu. Dia bisa mencelakaimu diam-diam. Ingat, kamu adalah satu-satunya saksi kematian ibumu."
Jeykey mengangkat kepalanya. Mendongak untuk bisa menatap Sadam yang juga menatapnya.
"Apakah dia benar-benar akan membunuhku?" tanyanya degan wajah polos. Namun Sadam tidak menjawabnya. Hanya sorot matanya sudah bisa membuat Jeykey mengerti. "Kalau begitu, aku mau masuk ke sekolah yang sama dengan anaknya. Adik tiriku." lanjutnya dengan penuh keyakinan.
"Jey ... kamu tidak bisa..."
"Kenapa tidak, Paman! Aku muak terus bersembunyi sementara dia hidup senang disana. Aku mau menunjukkan pada dunia bahwa aku anaknya yang ingin dia bunuh!" Dia menunduk lagi, menyembunyikan air matanya. "Kenapa aku tidak punya ayah yang normal seperti anak lain? Aku bahkan hampir mati saat itu ditangannya. Dia bukan seorang ayah, dia iblis!" Jey akhirnya tidak tahan lagi. Anak yang terpaksa menerima begitu banyak trauma dan tekanan. Sadam sangat kagum bagaimana anak ini berhasil melewatinya.
"Baik, aku akan mengurus hal itu. Untuk sementara, masuklah. Saatnya mandi dan bersiap untuk makan malam." suruh Sadam.
.........................
.
.
.
Hehehehehe...
Ini hanya tinggal dua atau satu chap lagi gays... mungkin endingnya biasa aja. Maklum belum pengalaman.
please dukung juga karya aku yang lain.
Aku sangat berterima kasih atas semua dukungan semuanya, apalagi yang berbaik hati vote, like dan komen.
see u nex chap gays! I love u all!
__ADS_1