Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Perpisahan?


__ADS_3

Zahira sudah duduk di samping Sadam saat Kenzo masuk. Tentu saja ia langsung melayangkan tatapan kesalnya ke pada keduanya. Membuat Zahira memutar bola matanya sebelum pindah ke sofa singgle. Sadam tertawa mengejek karena fakta bahwa Zahira menurutinya meski dengan kesal.


"Jadi untuk apa kalian ke sini?" Tanya Kenzo dengan caranya yang khas. Tegas dan penuh karisma. Wewen bahkan melirik Sadam yang tampak mulai serius. Kenzo masih bediri di posisinya.


"Hanya silaturrahmi," kata Sadam dan melempar senyum manis pada ibu Kenzo.


"Kalau aku mengantar Zahira, menjamin keselamatannya," sahut Wewen.


"Kawatirkan saja keselamatanmu sendiri. Zahira dibawah pengawasanku," kata Kenzo dengan nada mengancam.


"Posesif sekali," gumam Wewen namun di dengar oleh Kenzo yang memang berdiri di samping kursinya.


Kenzo tidak ambil pusing, dia berjalan ke arah Zahira dan duduk di sampingnya, di bagian tangan sofa.


"Apa yang kalian coba lakukan di belakangku?" tanya Kenzo, menatap bergantian ketiganya.


"Kenapa kamu bertanya begitu?" tanya ibunya dengan nada tidak suka.


"Aku tahu mereka bertemu bukan untuk sekedar ramah tamah, ******** itu tidak melakukan hal seperti itu," jawab Kenzo, tatapannya mengarah ke pada Sadam.


"Kamu tahu saja, tapi jika dengan Zahira tentu saja berbeda."


Keduanya saling melempar pandangan, Kenzo dengan aura membunuhnya dan Sadam dengan pandangan menantang. Kenzo sudah akan bangkit jika saja tangan Zahira tidak menghentikannya. Zahira menahannya dengan mencengkram lengannya. Zahira tidak mengerti mengapa Sadam suka sekali memancing kemarahan Kenzo.


"Jangan mulai perkelahian," Zahira beralih ke pada Sadam.


"Jangan mencari masalah baru, Sadam."


Dengan begitu keduanya tampak lebih terkendali.


"Apakah kita jadi pindah?" tanya Ibu Zahira memecah keheningan yang menegangkan itu.


"Tentu saja, ibu," kawab Kenzo.


"Pindah kemana?" tanya Wewen.


"Bukan urusanmu," sewot Kenzo dengan kejam. Karena hal itu ia mendapatkan cubitan kecil di perutnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Zahira.


"Kenapa sih!" protes Kenzo, menunduk menatap Zahira.


"Berhenti marah-marah, dia temanku," jawab Zahira kesal.


"Siapa pemilikmu?"


"Apa?"


"Pe-mi-lik-mu," eja Kenzo dengan sorot tajam.


"Ap ... apa sih!" elak Zahira dengan wajah mulai memerah. Tentu saja dia malu, Kenzo mengingatkannya tentang ia yang hampir salah bicara tadi di depan semua orang.

__ADS_1


"Jawab saja kalau jawabanmu salah aku akan menciummu di hadapan mereka dan ibu kita," bisik Kenzo, total membuat Zahira tidak berkutik.


"Ka ... kamu," jawab Zahira pelan.


"Aku tidak dengar," kata Kenzo lantang.


"Ish! aku milikmu! puas!" bentak Zahira dengan kesal dan bangkit berdiri, hendak meninggalkan ruang tamu. Namun Kenzo menahan tangannya.


"Tetap di tempatmu, aku serius ...."


"Kalian lucu sekali, kenapa tidak cepat-cepat menikah saja. Itu akan membungkam Dursley," Kata Sadam dengan wajah tampa dosa. Puas melihat perubat perubahan raut wajah Kenzo.


"Dari mana kamu tahu soal Dursley?" tanya Kenzo. Matanya mulai mengarah ke Zahira di sampingnya. Namun Zahira bergeming dengan sikap acuhnya.


"Kenapa kamu selalu mencurigaiku?" tanya Sadam, wajahnya berubah serius. Tidak ada kesan jahil seperti tadi.


"Karena penghianat tidak patut di percaya,"


Keduanya kembali saling melempar pandangan tajam. Zahira sadar Sadam memendam kesedihan, sikap kerasnya hanya di luar saja.


"Aku tidak pernah berkhianat, kamu tahu tapi kamu terus menyangkal, hanya karena aku tidak jujur bukan bearti aku mencoba menyepelekan kamu. Kenapa harga dirimu lebih penting dari pada kebenaran?" kata Sadam.


Kenzo bangkit dan langsung mencengkram kerah bajunya hingga Sadam terbangun dari posisinya. Tidak ada pancaran ketakutan di mata Sadam, dia bahkan semakin memandang Kenzo dengan mata mencemooh.


"Aku sudah mengatakan ke padamu dari awal, jika kamu lupa akan aku ingatkan ... bagiku tidak ada teman yang berbohong dengan temannya. Sejak awal kamu juga bekerja denganku tapi kamu akhirnya bekerja sama dengan kakakku untuk menipuku, menutupi bejatnya ayah dan kakakku agar aku tetap tenang. Bukan karena memikirkanku, kamu melakukannya karena Lutfi membayarmu. Membungkammu dengan uang," kata Kenzo dengan nada rendah penuh kebencian.


"Bahkan aku membuat rekening lain!" lanjut Sadam dengan nafas terengah-engah. Cengkraman Kenzo memang tidak main-main.


"Kamu pikir aku percaya?"


"Itu urusanmu! marahlah sesukamu tapi kamu tidak bisa menahanku untuk terlibat dalam hal ini! Aku memegang banyak bukti dan kamu tahu hal itu!"


Kenzo tertawa sinis.


"Kita membutuhkannya, aku mempercayainya."


Kenzo berbalik, menatap Zahira tidak percaya dan juga dengan pandangan kecewa mendengar pernyataannya.


"Kenzo ... tenanglah. Ibu ... ibu juga mempercayai Sadam, dia sahabatmu tidak mungkin dia menghianatimu," kata ibunya. Sadam menghembuskan nafasnya perlahan. Berusaha mengatur emosinya.


Wewen yang tidak terlalu paham pokok permasalahannya hanya diam saja. Dia bahkan tidak ingin ikut campur. Sedangkan ibu Zahira yang juga tidak memiliki hak mengomentari ikut diam dan hanya menyimak.


Kenzo berbalik lagi dan dengan cepat di meninju rahang Sadam dengan kuat sampai Sadam jatuh ke sofa, menghasilkan jeritan ibu Kenzo yang terkejut. Dengan tatapan sinis dia melempar sebuah foto yang di ambil dari saku pengawal Zahira yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari mereka. Foto Sadam sedang berbicara dengan Lutfi dua hari yang lalu.


"Itu hanya salah satu bukti bahwa kamu masih berhubungan dengan kakakku. Aku bahkan tidak tahu kalau kamu juga bermuka dua," kata Kenzo.


Sadam mengambil foto itu sambil menyapu darah di sudut bibirnya dengan ibu jarinya. Terkekeh pelan melihat foto itu. Zahira melangkah mendekatinya dan merebut foto itu. Kemudian menatap Sadam dengan pandangan bertanya.


"Yang pasti bukan seperti tuduhannya. Aku akan memberi tahumu di waktu dan tempat terpisah," kata Sadam santai.

__ADS_1


Mendengar hal itu Kenzo kembali melayangkan tinjunya namun kali ini di tahan oleh Zahira.


"Tolong ... ada ibu kita. Mereka sangat kawatir. Jangan pertontonkan kekerasan lagi," bisik Zahira.


Kenzo menurunkan tangannya. Melirik ibunya yang sudah sangat pucat. Dia jadi teringat pertengkaran dengan ayahnya ketika SMA. Saat itu ibunya pingsan karena ayahnya memukulnya.


Kenzo mendekati ibunya dan menuntunnya memasuki kamar. Berulang kali membisikkan kata maaf.


Sementara itu Zahira mengambil kotak P3, jendak mengobati sudut bibir Sadam. Namun dengan cepat Wewen merebutnya.


"Aku saja, dia bisa semakin marah jika kamu yang melakukannya. Tenangkan saja ibumu," kata Wewen dengan lembut seperti biasa layaknya seorang kakak.


Namun sebelum Zahira bangkit, Sadam menahan tangannya. Membuat atensinya kembali padanya.


"Terima kasih," kata Sadam.


"Lukamu harus__"


"Karena mempercayaiku," potong Sadam dengan tulus. Zahira memberi anggukan singkat dan senyum kecilnya.


"Hanya jangan memancing kemarahannya terus, kamu suka sekali kena pukul." Sadam terkekeh pelan.


"Anggap saja sebagi balasan karena melukai harga dirinya," Zahira menggeleng pelan dan pergi menuju ibunya.


Ibunya hanya menggenggam tangannya lembut sebelum mengatakan dia tidak apa-apa dan menyuruh Zahira berbicara baik-baik dengan Kenzo di tempat terpisah.


.


Kenzo keluar dari kamar ibunya dan menutup pintu pelan. Ketika dia berbalik, Zahira sudah berdiri di hadapannya. Menuntunnya menuju halaman belakang, sedikit jauh dari dua pengawal di sana.


"Jika aku memohon apa kamu akan mengabulkannya?"


Kenzo tidak bergeming, dia bahkan menatap datar Zahira. Sepertinya kekecewaannya sangat besar karena Zahira mempercayai orang yang saat ini di bencinya.


"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Tidak mengenal banyak dirimu sebaik Sadam mengenalmu. Tapi aku yang bahkan baru mengenalnya bisa melihat bahwa dia tulus. Sadam hanya mencoba melakukan sesuatu dan meskipun ia terlihat seperti berkhianant taoi dia tidak. Kamu__"


"Jika kamu hanya ingin melakukan pembelaan untuknya sama sekali tidak perlu, Aku bahkan ragu padamu sekarang," potong Kenzo dingin. Zahira bahkan sangat terkejut dengan perubahannya.


"Aku__"


"Aku memiliki beberapa bukti yang menunjukkan bahwa dia menghianatiku, tapi dengan bodohnya kamu mempercayainya. Kamu pikir aku sepicik itu menuduhnya hanya karena satu perbuatannya saja? Ah ... tentu saja dia selalu baik di matamu karena dia orang yang membuatmu nyaman. Meskipun aku mengatakan aku mencintaimu dan berkali-kali menyatakan kamu milikku ... aku tahu aku hanya melakukan kebodohan saja." Zahira tidak tahu harus mengatakan apa, di dalam hatinya dia menyangkal keras semua pernyataan Kenzo tapi lidahnya seakan kelu.


"Mulai saat ini aku akan menarik diri, bukankah kamu bilang kamu akan aman jika aku pergi dari hidupmu? maka mulai saat ini aku akan pergi," lanjut Kenzo, mata itu memancarkan luka dan dia tidak repot-repot menyembunyikannya.


Dalam keheningan yang canggung itu, Zahira tidak mengucapkan sepatah katapun. Membuat Kenzo semakin menertawakan dirinya sendiri. Dengan langkah beratnya ia meninggalkan Zahira sendirian di sana. Meskipun dia bisa melihat wajah Zahira yang jelas terlihat bingung dan bimbang, Kenzo tidak ingin mengubah keputusannya kali ini. Sesuatu di dalam kepalanya memaksanya untuk meninggalkan wanita yang di cintainya itu.


Setelah punggung itu menghilang dari penglihatannya barulah Zahira tersadar bahwa dia sudah melukai Kenzo dengan sikapnya. Dia menarik nafasnya dengan berat lalu duduk di salah satu kursi taman. Keningnya mengernyit saat melihat dua pengawal milik Kenzo yang seperti menerima perintah dari earphone yang di pakai mereka.


Lebih mengejutkan lagi keduanya pergi begitu saja setelah melirik Zahira sesaat. Namun Zahira tidak ambil pusing, dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2