Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Kepercayaan


__ADS_3

Zahira mengenali wajah yang muncul di layar. Seorang laki-laki yang disebut-sebut sebagai korban. Terlihat dari juru bicara fraksi partai mereka yang menjelaskan kepada media mengapa mayat pria itu dikirim ke kediaman Prakoso. Mereka tidak mengakui adanya keterkaitan Prakoso dengan kasus yang melibatkan organisasi Red wine,dimana dalam vidio yang disebarkan Sadam, beberapa anggota membicarakannya. Terutama atas kasus Muzakir yang berkembang menjadi kasus perdagangan manusia dan senjata ilegal.


Kasus penculikan Zahira dan penculikan pada keluarganya sama sekali tidak disebar oleh Kenzo. Zahira tidak tahu apa rencana suaminya, karena Kenzo tidak menjelaskan padanya. Hal itu cukup membebaninya, namun Zahira masih bisa menahannya untuk tidak mendesaknya saat ini.


Zahira mengepalkan tangannya, kebencian merasuki pikirannya. Dia ingin membalas apa yang telah di renggut darinya. Namun sang ibu, yang terus menasehati Clara sejak pagi. Seperti saat ini, dia masih menasehati Clara agar dia bisa meredam dendamnya.


"Za, kendalikan dirimu. Jangan bertindak terlalu jauh. Biar hukum yang akan mengadili mereka. Apakah ... mayat yang dikirim itu orang yang menculikmu? kamu terlihat sangat membencinya ketika fotonya di tampilkan. Apakah ... Kenzo yang melakukan itu?" tanya ibunya. Dia sejak tadi menduga-duga, namun baru sekarang berani menanyakannya.


"Aku tidak pernah menyuruh Kenzo membunuh mereka. Aku hanya ingin membalas perbuatan mereka." Jawaban Zahira membuat ibunya mematung sesaat. Dia sungguh terkejut mengetahui menantunya bisa melakukan hal seperti itu.


"Tapi lihat yang dilakukan suamimu. Hal itu ibu pikir karena dia sangat memikirkanmu. Tolong kendalikan dirimu agar Kenzo tidak melangkah lebih jauh."


Zahira menatap ibunya, ketidak sukaan terpancar dari sorot mata itu. "Ibu ... apa ibu baik-baik saja saat aku kehilangan anakku?" Sang ibu menampilkan raut terkejut. Tidak menyangka bahwa anaknya akan salah paham padanya.


"Ibumu tidak begitu, Za. Kita semua sedih, tapi membalas dengan mengambil nyawa tidaklah benar. Lalu apa bedanya kita dengan mereka?" sahut ibu Kenzo, ternyata sedari dari dia menyimak di depan pintu. Dia akhirnya ikut duduk, bergabung dengan keduanya. Suaminya dan Lutfi ikut bergabung juga karena ada diluar pintu sejak tadi.


"Jangan menyalahkannya. Meskipun tampa pengaruh Zahira, aku yakin Kenzo tetap akan membalas mereka. Aku sangat mengenal cara dia membalas musuhnya. Meskipun kuakui, ini adalah nyawa pertama yang hilang ditangannya. Sebelumnya dia tidak pernah membunuh musuhnya." kata ayah Kenzo.


"Ini harus dihentikan, dia tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan posisinya. Jika kepolisian tahu, dia bisa dipenjara." lanjut ibu Kenzo.


"Maka aku akan membuat siapapun tidak tahu."


Semua orang menoleh pada arah suara yang baru saja datang. Kenzo masuk bersama Sadam. Kenzo langsung duduk disamping Zahira dan memberikan kecupan pelan pada pelipisnya.


"Jangan kawatirkan apa yang aku lakukan, hanya duduk tenang dan jangan melakukan apapun." lanjut Kenzo, menatap lebih pada ayah dan kakak laki-lakinya. Orang yang menurutnya berpotensi mengacaukan rencananya.


"Jangan kawatir, aku bahkan tidak punya apa-apa sekarang. Aku hanya akan menjadi ayah yang baik untuk kalian." jawab Ayahnya. Terdengar datar dan pasrah secara bersamaan.


"Tentu saja, ayah harus membayar seluruh perbuatan busuk yang ayah lakukan. Hiduplah dalam penyesalan, lakukan perbuatan baik atau aku akan membuatmu membusuk di penjara."


"Ken..." tegur Zahira. Bagaimanapun dia tetaplah ayah Kenzo. Zahira sangat tidak nyaman mendengar kalimat kasar itu.


"Bersiaplah untuk makan malam, maaf jika aku terlalu kasar." katanya, lalu bangkit dan pergi dari sana untuk membersihkan diri.


"Sadam?" panggil Zahira. Menatapnya meminta penjelasan.


"Aku tidak bisa mengatakan apapun Za, maaf. Aku juga akan ke kamarku, sampai jumpa di meja makan." katanya, lalu pamit pada semua orang dengan sopan.


Zahira menghembuskan nafas. Dia memijit kepalanya pelan. "Maafkan Za, Za ingin ke kamar. Mungkin saja Kenzo butuh sesuatu." kata Zahira, dia ikut pergi dari sana.


"Aku akan kedapur." kata ibu Kenzo, terlihat jelas dia sama sekali tidak nyaman satu ruangan dengan suaminya.


"Maafkan kehadiran kami, semua jadi tidak nyaman." kata Lutfi pada ibu Zahira.


"Jangan sungkan, yang lalu biarkan berlalu. Kita keluarga sekarang." sahut ibu Zahira, dia tersenyum tulus. Membuat Lutfi merasa terharu dan malu sekaligus.


.


Zahira menunggu Kenzo yang sedang mandi. Dia duduk di atas ranjang sambil menyalakan televisi. Fokus melanjutkan menonton berita yang terus membahas mengenai kasus yang sedang berlangsung. Kasus mereka dan segala dugaan-dugaan dari beberapa ahli. Zahira bahkan mendengus beberapa kali karena kesal dengan beberapa orang yang terlihat paling tahu mengenai dalang di balik semua ini. Menghubung-hubungkan yang tidak ada dan membuat teori sendiri.


"Apa yang menarik dari sana?" tanya Kenzo yang ternyata sudah berdiri di sisi kasur, mengeringkan rambutnya.


Zahira meletakkan remot di atas bantalnya lalu beranjak turun. Dia mengambil handuk dari tangan Kenzo dan menyuruhnya duduk di tepi kasur. Sementara dia mengeringkan rambutnya, Kenzo dengan usil memainkan tangannya ke sana kemari.


"Hentikan, Ken. Itu geli." kata Zahira. Dia meletakkan handuk dan membuka laci, mengambil pengering rambut.


"Aku merindukanmu," kata Kenzo ketika tiba-tiba dia memeluk istrinya itu dari belakang.

__ADS_1


"Hmm? kita baru bertemu pagi tadi." sahut Zahira.


"Kamu tahu apa yang aku katakan, sayang." Kenzo mengecup pipinya dan membalik tubuh Zahira.


"Ken, aku ingin membahas tentang apa yang baru saja kaku lakukan." kata Zahira, dia berusaha tidak terpengaruh akan kecupan-kecupan ringan suaminya.


"Ken..."


"Nanti, setelah aku mendapatkan apa yang aku mau." Zahira pasrah akan jawaban suaminya. Membiarkan Kenzo melakukan apapun yang ia inginkan. Padahal tubuhnya masih terasa lemah. Dia hanya berharap Kenzo sedikit lebih lembut.


.


Makan malam kali ini terasa bising dengan kehadiran si kembar untuk pertama kali. Sebelumnya mereka makan bersama sang ibu dikamar karena masih terlalu lemah. Keduanya yang masih polos dan tidak tahu apa-apa, terlihat kembali bermain satu sama lain. Sepertinya mereka perlahan melupakan apa yang menimpa mereka.


Kehadiran mereka sedikit mengubah suasana yang biasanya dingin. Kenzo sedikit lunak apalagi saat si kembar mengajukan banyak pertanyaan dan permintaan lucu padanya dan Zahira.


Bahkan Jeykey yang biasanya diam, bersuara karena terus diajak bermain. Akhirnya karena sudah selesai makan, ketiganya pergi meninggalkan orang dewasa yang masih belum selesai.


"Ini terasa sangat bagus, sangat nyaman dengan banyak orang." kata ibu Zahira. Dia melebarkan senyum pada semua orang.


"Tentu, kita akan terus seperti ini asal tidak ada yang mulai bertingkah Bu," sahut Kenzo, jelas menyindir ayah dan kakak laki-lakinya.


Zahira menyentuh paha suaminya, menepuknya pelan untuk mengingatkan. Kenzo menghela nafas. Dia meminum air putihnya lalu bangkit dari sana. Meninggalkan meja makan setelah pamit pada kedua ibunya.


"Akan lebih baik jika kalian meminta maaf, maafkan aku ... jika terdengar tidak sopan. Tapi Kenzo akan selamanya seperti itu jika kalian tidak memulainya dari awal." kata Zahira, menatap bergantian ayah mertua dan abang iparnya.


"Hanya jika mereka benar-benar menyesal Za, karena yang terlihat tidak seperti itu. Mereka diam karena sedang lemah." sahut ibu mertunya. Dia juga ikut bangkit dan pergi dari meja makan.


"Wah ... sepertinya bukan hanya pada Kenzo, tapi juga ibu." sahut Sadam, dia masih makan dengan raut tampa rasa bersalah.


"Aku akan kembali ke kamar, terima kasih idemu." jawab ayah Kenzo.


Sadam berhenti mengunyah saat menangkap sinyal itu, lalu menoleh pada Lutfi yang masih menatap makanannya yang tidak banyak berkurang.


"Kenzo tidak membenci kalian, dia hanya terlalu kecewa dan marah. Minta maaf dan bicara padanya. Sesali perbuatanmu dan jangan mengulanginya. Aku pikir itu akan sedikit menyelamatkan hubungan kalian." katanya.


"Kak Karin?" panggil Zahira, karena sejak masuk ke rumah ini, kakak iparnya itu tidak bicara seoath katapun saat mereka berkumpul. Padahal dulu dia sangat cerewet saat menjadi bosnya. "Kakak baik-baik saja?" tanya Zahira lagi.


Karin menatapnya dengan wajah sendu, lalu perlahan mengangguk dan menunduk. "Aku ... aku akan menemani anak-anak dulu." pamitnya dengan suara pelan.


"Aku juga ingin istirahat. Terima kasih atas saran kalian, aku akan memikirkannya." kata Lutfi dan ikut pergi.


Kini tinggal Zahira bersama Sadam. Keduanya saling bertukar pandang. Lalu sama-sama menghela nafas.


"Za, aku senang kamu terlihat jauh lebih baik." kata Sadam. Dia meminum air putihnya lalu hendak ikut pergi.


"Jangan mencoba untuk menghindariku, aku punya banyak pertanyaan untukmu." kata Zahira datar.


Sadam meliriknya, lalu berdehem cukup keras sebelum duduk kembali dengan wajah pasrah. Terlihat sangat tidak ingin diinterogasi.


"Za ... sahabatku yang baik. Tolong jagan membahayakan leherku. Kamu kan bisa minta suamimu untuk menjelaskan apa yang ingin kamu ketahui. Aku masih belum menikah lho." katanya setengah mengiba.


"Jangan banyak alasan! kalau Kenzo jujur untuk apa aku bertanya padamu!"


"Nah, kamu tahu dia tidak ingin kamu tahu, lalu kenapa kamu membahayakanku? dia akan marah padaku. Please..."


Zahira melipat tangannya di dada, melemparkan tatapan tajam khas miliknya jika sudah kesal.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan pada pria satu lagi?"


"Pria yang mana? aku tidak mengerti apa yang kamu tanyakan."


Zahira mengeraskan rahangnya, menghembuskan napasnya perlahan, berusaha mengendalikan diri.


"Kamu sama saja dengannya, kenapa semua pria itu menyebalkan. Sudah dapat yang di mau lalu pergi begitu saja!" Tentu saja Sadam tidak mengerti, bukan pura-pura, namun dia benar-benar tidak paham pada perkataannya yang ini.


"Apa maksudmu?" tanyanya.


"Jangan banyak tanya! katakan saja apa yang kalian lakukan pada penculik yang satu lagi. Aku tahu Kenzo yang mengirimkan mayat itu kerumah Prakoso! Aku mengenalinya dari fotonya di media."


"Ah... itu! Kenzo mengirimnya pada bosnya."


Zahira mengernyit, "Mengirim?" ulangnya.


"Ah ... itu ... kamu tanyakan lengkapnya pada Kenzo, selamat malam."


Sadam bangun berjalan cepat untuk bisa kabur dari Zahira. Dia mengelus dadanya saat tahu Zahira tidak mengikutinya.


"Aku bisa mati ditangan Kenzo kalau dia tahu dariku." gumamnya pelan.


"Apa yang dia tahu?"


"WOW! Oh my god!" Sadam hampir terjengkang oleh langkahnya sendiri karena terkejut. Kenzo muncul begitu saja dari arah samping dimana itu adalah jalan menuju perpustakaan. "Kamu membuatku terkejut! kenapa datang seperti hantu begitu?" protesnya.


Kenzo tidak menanggapinya. Dia menunjukkan sesuatu melalui tablet yang sejak tadi ia pegang. Sadam mengambilnya, menunduk untuk melihat apa yang ditunjukkan oleh Kenzo.


"Ini ... apa dia mencoba menghianati mertuanya sendiri?" Sadam dan Kenzo saling menatap satu sama lain dengan wajah serius.


"Dia ingin menyelamatkan dirinya sendiri," kata Kenzo, bersandar pada dinding dengan tangan dilipat di dada. "Aku rasa dia menyesal sekarang. Ini bisa menjadi celah untuk kita, kirim rekaman itu pada Prakoso, buat mereka saling serang satu sama lain."


"Dengan senang hati," sahut Sadam. Keduanya segera berjalan berlawanan arah menuju tujuan masing-masing, sebelum Sadam mengatakan sesuatu yang membuat Kenzo merutukinya dengan keras.


"Ken, maafkan aku! tapi Zahira terlihat sangat marah. Apa kamu mengabaikannya?" Kenzo mengerutkan kening, otak jeniusnya sedang bekerja untuk mengingat sesuatu, setelah ia ingat wajahnya menjadi pias. Membuat Sadam menertawakannya. "Semoga kamu tidur nyenyak!" ejeknya sebelum pergi.


.


Benar saja, sesampainya Kenzo di dalam kamar mereka, Zahira terlihat sangat mengerikan. Dia duduk di atas ranjang dengan tangan terlipat dan kaki bersila. Menatapnya dengan wajah marah luar biasa.


"Jujur padaku atau aku akan keluar dan mencari tahu sendiri! kita sudah sepakat tidak ada rahasia!" cerca Zahira.


"Sayang, tenanglah. Sekarang bukan saatnya..."


"Jangan membuatku seperti barby yang hanya diberi baju mewah dan di pajang. Seperti boneka mahal yang tidak boleh lecet! Dengan tanganku aku bisa menghajar mereka, kamu lupa aku menguasai bela diri?"


"Bukan begitu, aku hanya terla..."


"Jangan berlebihan, Ken. Aku bukan anak kecil untuk dikuatirkan sebesar itu. Mungkin beberapa hari yang lalu aku syok dan sedih karena kehilangan bayiku. Tapi bukan bearti aku akan depresi berkepanjangan! Aku tidak selemah itu! Kamu tidak mempercayaiku itulah masalahnya!"


Kenzo kehabisan kata-kata. Dia menatap istrinya dengan wajah minta maaf. Perlahan ikut naik ke atas kasur dan duduk di hadapannya. Meraih tangan Zahira dan menggenggam telapak tangannya.


"Maaf, aku belum terbiasa juga berbagi segalanya padamu. Sejak dulu aku terbiasa tidak melibatkan banyak orang. Aku benar-benar minta maaf."


Zahira menarik tangannya. beringsut mundur dan membringkn diri. Menutup tubuhnya dengan selimut. Dia marah dan kecewa karena nyatanya Kenzo masih tidak melibatkannya dalam segala hal. Dia merasa Kenzo tidak mempercayainya. Dia lelah karena selalu menebak dan menebak apa yang coba suaminya lakukan. Yang terpenting dari semuanya, Zahira tidak ingin Kenzo mengotori tangannya.


Dulu Zahira sudah mengingatkan Kenzo akan hal ini, namun Zahira memahami kenapa suaminya melakukan hal itu. Dia menyalahkan dirinya karena kemarin tidak bisa mengontrol diri. Sehingga Kenzo berpikir berlebihan dan melakukan hal diluar batas. Dia hanya ingin menghentikan tindakan Kenzo pada penculik satu lagi. Sudah cukup satu nyawa baginya. Bahkan sejak awal dia tidak ingin seperti itu. Dia memang ingin membalas mereka, tapi bukan bearti membunuh.

__ADS_1


Perlahan, air mata Zahira keluar. Dia menangis dalam diam. Kenzo tidak bodoh untuk menyadari istrinya menangis. Maka dia ikut berbaring dan memeluk Zahira dari belakang. Saling diam karena Kenzo tahu dia tidak memiliki argumen pembelaan. Mereka hanya berada pada posisi itu sampai keduanya tertidur.


__ADS_2