Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Langkah akhir atau awal?


__ADS_3

Zahira, Kenzo, kedua ibu mereka dan pihak penghulu sudah bersiap dalam lingkaran. Suasana sedikit mencekam dengan ruangan yang di kelilingi penjaga. Bahkan diluar rumah juga di jaga ketat agar tidak ada penggu jikalau saja rencana mereka bocor.


Karena ayah Zahira sudah tiada dan adik ayahnya, satu-satunya saudara ayahnya sedang ada di dalam penjara. Maka sosok yang menjadi walinya adalah dari pihak KUA atas persetujuan ibunya dan tentunya tanda tangan pamannya yang di ambil dengan sedikit ancaman.


Acara hanya di hadiri oleh mereka, bahkan yang bertugas merekam adalah Endru. Sadam sebagai sutradara dadakan. Bahkan setelah ijab kabul, pihak penghulu segera di antar kerumah mereka masing-masing dan di minta untuk menjaga rahasia. Jimi sebagai pengatur bagian dapur untuk seluruh pengawal dan tentunya keuarga besar, sementara Tomi yang ikut hadir kebagian mengawasi pusat kontrol CCTV karena Endru lebih mahir menggunakan kamera dari pada siapapun orang-orang Kenzo. Anggap saja dia memang memiliki bakat itu selain bakat bela diri dan otak cerdiknya saat menghadapi musuh.


Zahira tampak sangat cantik dengan gaun putih yang terlihat elegan dan sangat pas di dirinya. Membuat siapapun menatapnya terpesona. Bahkan sang ibu menggodanya sejak pagi. Yang bertugas merias adalah para ibu, karena ini bersifat rahasia, terlalu beresiko jika mereka mengundang penata rias.


"Lelah?" tanya Kenzo saat semua sudah pada kembali.


Para ibu sudah kembali ke bungker untuk sementara. Bahkan Sadam mengikuti para ibu ke tempat aman karena ia juga menjadi incaran. Tomi kembali ke rumahnya dan Jimi juga kembali kerumahnya. Tinggallah Endru dan para pengawal lain. Endru tentu saja berada di pusat kontrol CCTV.


Kenzo membelai pipi istrinya, metapanya dengan pandangan memuja. Ia jelas sadar ada gurat kesedihan di sana.


"Kenapa?" tanya Kenzo


Sayangnya, hanya diam yang ia dapatkan. Membuat ia memutar otaknya untuk mendapatkan jawaban.


"Katakan sesuatu sayang, apa kamu merasa takut?" Zahira menggeleng sebagai jawaban.


"Aku ... aku ... " Zahira mengangkat kepalanya, ia menurunkan tangan besar Kenzo dari pipinya dan berakhir saling genggam.


"Aku sedih ibu panti tidak hadir, dia yang membesarkanku. Selain itu ... temanku satu-satunya yang sudah seperti saudara, Wewen. Dia pasti akan marah saat tahu tidak di undang."


Kenzo terdiam sesaat, dia sadar selama ini hanya dia yang selalu membuat keputusan tampa memikirkan perasaan Zahira. Dia bahkan tidak pernah bertanya apa yang diinginkannya untuk pernikahan mereka. Zahira akhir-akhir ini memang menjadi lebih penurut. Hal itu membuat Kenzo lengah dan malah jadi egois. Melihat wajah sedih itu, membuat hatinya tidak nyaman. Merasa tidak becus menjaga belahan jiwanya.


"Maaf, Maafkan aku," bisik Kenzo bersamaan dengan ia menarik tengkuk Zahira sehingga kepala istrinya berada dalam dekapannya. Membelai kepalanya lembut.


"Aku berjanji, setelah ini semua selesai, kita akan membuat resepsi dan mengundang siapapun yang mau kita undang. Bahkan jika kamu meminta ibu panti tinggal bersama, aku akan menyetujuinya."


"Dia tidak akan mau meninggalkan adik-adik," jawab Zahira dengan suara serak menahan tangis. Kedua tangannya meremat jas Kenzo hinga kusut.


"Kalau begitu adik-adik itu bisa ikut," sahut Kenzo asal. Zahira terkekeh pelan dan meninju lengannya main-main.


"Mana bisa begitu!"


Mereka tertawa bersama dan saling melepaskan pelukan. Kenzo menatapnya dalam. Sementara Zahira menunduk karena merasa sangat malu. Perlahan Kenzo memegang tengkuknya kembali dan menariknya dalam ciuman yang hangat. Itu adalah ciuman pertama mereka. Membuat perasaan kawatir di hati Zahira lenyap begitu saja dan di gantikan perasaan bahagia yang membuncah.


.

__ADS_1


Pagi ini Zahira kembali ke kantor diikuti puluhan pengawal. Baik yang menjaganya terang-terangan maupun yang diam-diam. Tomi menyambutnya dengan senyuman lega luar biasa. Tentu saja karena beban di pundaknya berkurang separuh. Dia tidak harus menjalankan perusahaan sendirian.


"Cerah sekali!"


Zahira hanya tersenyum, tentu saja bahagia. Pagi ini ia di antar Kenzo dan seluruh dunia yang tadinya menggosipkan hubungan mereka dibuat melongo saat Kenzo muncul di perusahaan dan memperlakukannya seperti putri sebelum ia pamit ke perusahaannya.


"Bagaimana perusahaan? "


"Berjalan lancar, permasalahan langsung teratasi oleh pangeranmu,"


Zahira terdiam sesaat, ada rasa terima kasih dan kesal secara bersamaan ia rasakan. Mengingat pertemuan terakhir dengan Susan, ia tahu harusnya sejak awal mendengarkan Kenzo.


"Bagaimana kasus ibu Wewen yang bersangkutan dengan perusahaan?" tanya Zahira, mengalihkan atensinya.


"Kenzo sudah menyuruh beberapa pengacara untuk mengatasinya. Sudah memasuki sidang akhir minggu ini. Aku rasa perusahaan kita tidak begitu di rugikan, Kenzo mengatasinya dengan baik," jawab Tomi.


Zahira terkekeh, ia akhirnya bersandar dan melipat tangannya di dada. Menatap Tomi yang berdiri di sisi mejanya dengan wajah datar.


"Apa aku jadi ibu rumah tangga saja? hanya ke salon, berbelanja dan liburan? rasanya duduk di sini tidak cocok denganku."


Tomi jelas gelagapan. Matanya menatap ke sembarang arah sebelum dengan enggan melirik Zahira yang masih menatapnya. Jelas perkataan tadi hanya bentuk sindiran dan sarkasme karena kekesalannya.


"Nyonya Kenzo ... anda butuh kopi?"


Zahira ikut tersenyum, namun terlihat mengerikan karena tatapannya yang mengancam.


"Bawakan berkas kerja sama seluruh rekan bisnis kita ... dalam 15 menit aku ingin kita sudah membahasnya ulang."


Tegas dan datar. Zahira kembali serius. Tomi mengangguk dan segera keluar. Mereka berakhir dengan bertumpuk-tumpuk berkas yang di bahas. Zahira banyak belajar kembali pada Tomi yang sangat tahu seperti apa cara Kenzo memimpin. Zahira memang ingin belajar menjadi sekuat suaminya itu.


.


Di tempat lain, Kenzo sedang berkutat dengan tumpukan berkas di mejanya. Keningnya berkerut sesekali dan Jimi yang was was berdiri di sampingnya. Berkas itu adalah seluruh laporan setiap divisi. Kenzo berdecak dan melempar asal beberapa berkas yang menurutnya layak jadi sampah. Setelah menyelesaikan berkas terakhir, ia menggebrak meja dengan kuat. Membuat Jimi terlonjak.


"Suruh setiap kepala bagian yang menyerahkan berkas sampah itu sekarang juga," desis Kenzo dengan urat kepala menonjol. Ia jelas sangat marah.


Jimi segera berlari keluar dan memerintahkan kepada resepsionis membantunya menelfon mereka. Total ada 5 orang yang di panggil dan Jimi menelfon dua di antaranya.


Dalam waktu 15 menit, seluruhnya sudah berkumpul di dalam ruangan Kenzo. Terlihat sekali mereka masih berusaha mengatur nafas karena berlari. Bahkan beberapa tampak berantakan entah sedang apa saat di panggil. Wajah mereka pucat dan jelas suasana di dalam ruang itu membuat mereka semakin takut.

__ADS_1


"Jadi ... apa saja yang kalian lakukan selama hanya Tomi yang mengawasi?"


Tenang dan datar, meski begitu Kenzo membuat atmosfir terasa menusuk dan membuat oksigen terasa sulit di raih.


"Ketimpangan antara laporan kalian jelas ada yang bermain dibelakangku. Jadi ... sebelum aku menemukan sendiri pelakunya, mengakulah."


Tidak ada yang berani bicara, mereka hanya menunduk dalam. Jimi yang juga berkeringat dingin berdoa dalam hati agar ada salah satu yanh mengaku, karena jika tidak tuannya akan semakin mengamuk.


Kenzo terkekeh pelan, terdengar mengerikan dalam suasana seperti itu. Ia bersandar di kursi dan menekan sebuah tombol merah di bawah mejanya. Tidak lama tiga orang masuk. Mereka adalah kaki tangan Kenzo di luar perusahaan.


"Aku ingin jari kelingking mereka semua," kata Kenzo santai.


Mendengar hal itu ketiga pria tadi mendekati kelima karyawannya. Melihat apa yang akan mereka terima, kelimanya segera berlutut dan memohon ampun.


Kenzo berdecak, ia memutar-mutar pena di tangannya sampai sebuah Email masuk ke komputernya dari Sadam. Ya, sebelum memerintajkan Jimi memanggil ke kima orang itu, ia sudah menyuruh Sadam mencari tahu siapa yang berbuat curang di perusahaannya. Hanya 20 menit dan semua data sudah ia dapatkan beserta nama si pembuat keonaran.


"Jari kelingking kepala keuangan, jari kelingking kepala pemasaran, aku ingin itu dalam 1 jam. Bukankah hukuman pencuri adalah potong tangan?"


Dua orang di tarik dari lima orang keluar dari ruangan itu. Sisa tiga orang yang berdiri dengan ketakutan.


"Meskipun kalian bukan dalang utama, tapi kalian menerima suap mereka. Jimi__"


"Ya, Tuan!" sahut Jimi cepat.


"Pastikan mereka tidak muncul lagi di perusahanku, aku juga ingin nama mereka di black list dari seluruh cabang dan perusahaan rekanan."


Ketiga orang itu memohon-mohon namun Kenzo menulikan telinganya. Baginya sekali berhianat adalah kehancuran. Kenzo bangkit berdiri dan keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan Jimi dengan mereka.


Kakinya melangkah menuju lift khusus. Lift yang sudah lama tidak di aktifkan. Ia meraih ponselnya dan menelfon Sadam yang sedang ada di markasnya.


"Ada apa lagi?"


Kenzo memberi jeda sesaat sebelum menjawab.


"Aktifkan SS Guard, aku menunggumu di lantai bawah," katanya.


Kenzo tahu Sadam sedang berfikir, tentu saja ia ragu karena beresiko di susupi oleh orang yang selama ini mengawasi Sadam. Bahkan SS guard sudah pernah di bobol sekali.


"Ingin bermain?" tawar Kenzo lagi.

__ADS_1


Terdengar decakan malas dari seberang.


"Anak singa sedang bosan ternyata, baiklah ... ayo kita mulai bermain lagi."


__ADS_2