
Aku melihat punggung ibuku yang sedang memeluk ibu Kenzo. Kami memutuskan untuk tinggal sementara di rumah orang tuaku karena Sadam harus melindungi ibunya dan juga bersikeras tidak membiarkanku sendiri.
Sadam sedang berenang di kolam renang belakang saat kedua ibu kami sedang mengobrol di halaman rumah. Seluruh sudut rumah di jaga bodyguard. Kenzo juga membatasi pergerakanku. Ini sudah dua hari sejak hari dimana dia memukul Sadam. Aku kawatir pada keadaannya. Sadam tidak memiliki keluarga lagi. Dia sendirian dan selama ini Kenzo yang menjadi alasannya menjalani hidupnya. Itulah yang aku simpulkan dari cerita Kenzo mengenai hubungan mereka.
Aku menghampiri pria itu di kolam berenang. Namun dia sudah tidak ada. Aku menatap salah satu bodyguard yang berjaga di sudut namun mendapatkan gelengan. Aku segera menghampiri kamar tamu yang di tempatinya, di sana dia sedang duduk di atas kasur sambil memutar ponsel di tangannya. Kedua matanya menatap lurus ke depan. Aku bisa mnebak apa yang dipikirkannya, pria egois sepertinya sudah pasti memiliki harga diri yang tinggi.
"Aku kawatir pada Sadam, izinkan aku menjenguknya." Kenzo melirik padaku sesaat sebelum membuang nafas kasar.
"Coba saja, aku akan merantaimu," ancamnya, namun aku tahu dia tidak serius.
"Coba saja, ini rumahku dan aku yang menjadi tuan di sini." Aku segera berbalik dan pergi.
Aku yakin dia akan mengejar dan menghentikanku. Kami akan bertengkar setelahnya. Tapi aku harus melakukan hal ini.
Kenzo membanting pintu depan yang sudah aku buka menjadi tertutup kembali. Dia menghimpitku dari belakang dan aku bisa merasakan hembusan napasnya yang menggebu. Dia sedang berusaha menahan amarahnya.
"Jangan kesana," katanya.
"Sadam sendirian. Dia hanya memilikimu tapi kini kamu membencinya. Kamu bahkan menghajarnya hingga nyaris mati. Dia bisa saja sekarat sekarang, sendirian ... apa kamu akan menjenguknya saat dia sudah jadi mayat?" Aku tetap pada posisiku. Sebelah tangan Kenzo mencengkram pintu hingga kukunya memutih.
"Aku membencinya," ujar Kenzo dengan nada dingin. Aku akhirnya berbalik dan menatap matanya. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Kamu menyayanginya, kamu bahkan tidak tidur dengan nyenyak karena kawatir. Tolong jangan keras kepala dan ayo jenguk sahabatmu," bujukku dengan wajah memelas.
"Aku tidak bisa!"
"Setidaknya suruh seseorang memeriksanya," bujukku lagi, aku tahu kenapa dia bilang tidak bisa. Kenzo masih menyimpan kemarahan besar dan itu terlihat di pancaran matanya. Dia membenci dan menyayangi sahabatnya secara bersamaan.
"Aku akan kesana jika kamu tidak mau mengirim orang," paksaku. Aku sudah akan berbalik ketika dia menahan lenganku dengan cepat.
"Aku akan kirim orang jadi jangan kesana!"
"Apa terjadi sesuatu?"
Tiba-tiba kami dikejutkan dengan kedatangan ibu Kenzo. Dia memandang kami bergantian dengan wajah curiga.
__ADS_1
"Oh ... Kami hanya sedang berdebat biasa. Za ... ke kamar dulu." Aku berdehem biasa dan memilih meninggalkan mereka dengan pandangan heran dari ibunya.
"Istirahatlah bu, Saya akan pergi sebentar. Jangan ke mana-mana dan tetaplah dalam jangkauan bodyguard dimanapun ibu berada."
Aku bisa mendengar samar Kenzo bicara pada ibunya sebelum pergi. Kemana dia akan pergi?
.
Hari sudah malam dan Kenzo sedang menonton rekaman yang di berikan Sadam beberapa hari lalu saat pengintaian mereka. Kenzo sedang berada di apartemennya. Dia akan menunggu kabar dari Tomi. Orang yang dipercayainya untuk menjenguk Sadam tampa di curigai bahwa dia yang menyuruh. Pasalnya Tomi pernah sekali kesana karena Sadam mempercayainya.
Vidio rekaman itu sudah ia lihat berulang-ulang. Kenzo hanya ingin mendapatkan petunjuk lain yang membuat ia yakin pada pemikirannya. Dia hanya ingin mendpaatkan bukti.
Pintu kantornya terbuka dan dia langsung berdiri saat melihat siapa yang masuk. Di sana, Sadam berdiri di depan pintu dengan Tomi yang memapahnya. Tubuhnya nyaris tumbang dan dia tampak sangat kesakitan.
"Kenapa kamu membawanya ke sini?" tanya Kenzo dingin, menatap Tomi marah.
"Dia memaksa Tuan," kata Tomi. Dia membawa Sadam duduk di sofa.
"Dia demam tinggi tapi menolak ke dokter," lanjut Tomi, memandang Sadam dengan prihatin.
"Aku ingin kamu mengerti. Aku takut kamu akan berbuat sesui emosimu saat kamu tahu kebenarannya. Ayahmu ... sangat jauh terlibat, aku akui ... juga sangat busuk dan kotor, karena itu ... aku tidak ingin merusak keluargamu. Ibumu yang terlihat lebih bahagia ...."
Sadam menatap sendu ke mata Kenzo yang menatapnya tampa ekspresi.
Kenzo mematikan laptopnya dan memasukkan ponsel ke saku dan keluar dari sana.
"Antar dia ke rumah sakit, seret jika menolak," kata Kenzo tampa menoleh. Setelah itu benar-benar pergi.
Sadam terkekeh dan merogoh sakunya. Dia memberikan sebuah flasdist ke pada Tomi sebelum menutup matanya. Dia tidak tahan lagi akan sakit kepalanya, dia pingsan di atas sofa dengan air mata yang menetes di pipinya. Tomi menatapnya sendu, meskipun ia baru dua tahun bekerja pada Kenzo, dia sudah sangat paham hubungan persahabatan keduanya yang seperti tom dan jerry. Kenzo yang dingin dan pemarah sementara Sadam yang ceria dan usil.
.
Zahira sedang berada di kamarnya ketika mendengar jeritan ibu Kenzo di lantai bawah. Dia segera keluar dan berlari menuruni tangga. Terkejut melihat bodyguard ibunya tertembak di perutnya. Sementara bodyguard lain yang berjaga di depan sudah membentuk barisan brikade menutupinya dan ibunya ketika ia turun.
Zahira menghampiri ibu Kenzo dan ibunya. Menariknya kebelakang dirinya sementar dia menjadi tameng ke dua. Zahira menerobos bodyguarnya dan menatap tamu tak di undang mereka dengan wajah dingin.
__ADS_1
"Mengacau di rumah orang. Siapa kalian?" tanya Zahira kepada seorang pria tua yang saat ini duduk di sofa mereka. Sedang tersenyum santai memandang Zahira dengan ramah. Zahira tentu saja tahu bahwa senyum itu palsu. Siapapun pria tua itu Zahira yakin memiliki kekuasaan sehingga dengan santai masuk ke rumahnya bahkan melukai para penjaga. Zahira yakin penjaga di depan rumahnya sudah terluka semua.
"Di mana calon menantuku? Aku datang ingin memperkenalkan diri tapi sepertinya aku datang di rumah yang salah. Apa aku salah?" katanya dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya.
Zahira mengernyit bingung. Dia melirik belasan pengawal pria tua itu. Mereka semua memegang senjata. Zahira tidak bisa bergerak leluasa. Satu-satunya jalan hanya mengikuti permainannya.
"Siapa anda sebenarnya?" tanya Zahira.
"Dursley ... dia Dursley Tomson," desis ibu Kenzo, dia menyeruak dari belakang dan berdiri di samping Zahira.
"Siapa yang anda panggil memantu? aku tidak sudi sama sekali anakku menikah dengan anakmu," kata ibu Kenzo dengan wajah menahan amarah. Zahira meliriknya, jelas sekali wanita di sampingnya itu ketakutan tapi masih berani untuk melawan.
Dursley tertawa pelan seakan-akan perkataan ibu Kenzo adalah candaan. Namun ada kesan menakutkan dari suara tawa itu. Membuat ibu Kenzo sedikit bergetar pada kakinya.
"Anakmu akan menjadi milikku. Aku sudah memilihnya. Dan dia mau tidak mau akan menurutiku," kata Dursley, kemudian matanya beralih kepada Zahira.
"Sebelum aku menghancurkan perusahaanmu, ada baiknya kamu menghilang dari kehidupan calon memantuku," lanjutnya dengan seringaian jahat.
"Dalam mimpimu." Bukan Zahira, itu adalah suara Kenzo yang baru saja datang dan mendemgr percakapan terakhir.
Dursley bangkit berdiri dan tersenyum senang, jelas sekali dia tampak bersemangat. Wajah tua itu tampak berseri saat melihat Kenzo.
"Ini pertama kali kita bicara. Kamu persis diriku saat muda," kata Dursley. Seolah bangga dengan apa yang sedang di lihatnya.
"Enyah dari hadapanku, apapun tujuan anda jangan harap aku akan membiarkannya. Calon menantu? apa aku tidak salah dengar? apa kamu adalah Tuan dari ayahku? anjing kecil yang selalu mengikutimu kemana-mana? maka aku akan memberitahumu satu hal," Kenzo menjeda perkataannya. Dia melangkah lebih dekat dan berhenti tepan selangkah di hadapan Dursley.
"Ayahku mungkin menjadi anjingmu, tapi aku akan menjadi singa yang menggigitmu. Sentuh sedikit saja dia dan ibuku, maka aku akan langsung mencarimu untuk memenggal kepalamu," lanjut Kenzo. Dia berbicara dengan nada rendah yang tajam seperti seorang psikopat gila.
Senyum Dursley hilang begitu saja. Dia juga maju selangkah dan tepat menatap mata Kenzo. Sebelah tangannya merogoh saku jasnya. Mengeluarkan senjata yang langsung di arahkan kepada Zahira tampa menoleh. Kedua matanya masih menatap Kenzo, memperhatikan bagaimana reaksinya.
"Psikopat gila, turunkan senjatamu atau aku akan patahkan leher tuamu," desis Kenzo tajam.
"Lihat seperti apa singa akan menjadi anjing saat aku menghabisinya tepat di depan matamu." Dursley memberi kode ke orangnya untuk menahan Kenzo. Sementara yang lain menodongkan senjata ke pemgawal Kenzo yang tadi membentuk brikade. Termasuk ibu Zahira di belakang. Kenzo menatap Zahira dan berusaha melepaskan diri dari empat orang yang memahannya. Sementara Zahira mematapnya datar tampa ekspresi. Tapi Kenzo bisa melihat sirat ketakutan di matanya.
"Patuhi aku atau dia mati," kata Dursley dan kini moncong senjata itu sudah menempel di pelipis Zahira.
__ADS_1