
Sadam mengontrol misi penyelamatan dari markas bawah tanah gedung perusahaan Kenzo. Sementara Kenzo sendiri ikut terjun kedalam misi. Dialah yang mengomando di dalam kapal. Sementara nahkoda untuk misi mereka adalah salah satu teknisi dari perushaan yang menciptakan kapal ini. Semua itu tentu saja tidak murah, ancaman saja tidak bisa mengendalikan orang ini. Dia meminta bayaran diluar aturan perusahaan. Karena tentu saja,dia sama sekali tidak ikut campur dalam drama perusahaan dan Kenzo. Dia hanya memandang apapun dari segi bisnis. Saat dia bisa mendapatkan uang, apapun akan ia lakukan.
Kenzo bergerak bersama tim yang di pimpin oleh Endru dan Billi. Gana bertugas menjemput mereka saat mereka selesai. Kenzo menatap jam di tangannya, Sadam hanya memberi waktu 1 jam. Karena akan sulit lebih dari itu saat mereka menyadari telah disusupi.
Setelah sampai, Dua tim bergerak secara terpisah. Kenzo tinggal bersama dua orang lainnya. Mengawasi dari kapal selam. Juga ikut mengawasi si nahkoda karena Kenzo tidak mempercayainya sama sekali.
Endru bersama 5 anggotanya mulai masuk melewati pagar kawat berlapis. Memotong dengan alat yang mereka bawa. Sumber listrik yang melindungi pagar itu sudah dimatikan oleh tim yang dipimpin oleh Billi.
Memasuki wilayah yang di jaga ketat tentu saja tidak semudah itu. Baru saja beberapa puluh meter melangkah mereka sudah bertemu tiga tentara yang berpatroli. Endru dan timnya tentu saja harus mengerahkan kemampuan mereka.
Kenzo melarang membunuh, karena mereka akan mendapat masalah jika ada yang mati. Karena itu mereka harus berhati-hati saat menyerang.
"Bius mereka," perintah Endru saat mereka kembali berhadapan dengan empat tentara.
Mereka tidak boleh menghabiskan banyak waktu, karena itu cara tercepat adalah menembak mereka dengan peluru bius. Setelah mereka tumbang, Endru masuk ke dalam sistem pertahanan kedua. Dimana pintu di kunci dengan kode tertentu. Endru menghubungi Sadam, memintanya meretas kode pintu. Tidak butuh waktu lama, Endru sudah mendapatkan kodenya.
Mereka mengikuti peta yang diberikan Timi tempo hari. Endru terpaksa berpisah dengan dua anggotanya yang kembali melawan dua tentara pengawal yang menghadang.
Ketika Endru sampai di ruang penjara bawah tanah, ternyata Billi sudah sampai disana sendirian, sedang memotong kunci besi untuk membebaskan keluarga Kenzo.
"Dimana tim mu? mereka dalam keadaan lemah, kita butuh tambahan untuk melawan yang lain." tanya Endru.
"Mereka sedang mengecoh di sisi kiri, ada banyak tambahan pasukan yang datang, mereka sudah menyadari ada penyerangan." jawab Billi.
"Sial! kita harus cepat!"
Setelah mereka berhasil membuka pintu, semua anggota keluarga Kenzo keluar. Ayah Kenzo yang memiliki luka yang cukup serius, sedang demam. Lutfi dan Karin masih bisa bertahan namun kedua anak mereka sudah sangat lemas.
Hanya ayah Kenzo yang di gendong oleh dua anggota tim secara bergantian. Karin dan Lutfi masih bisa berjalan sambil menggendong anak kembar mereka.
Setelah mencapai tangga paling atas, mereka bertemu dengan seluruh tim yang sudah bergabung kembali. Perlahan mulai bergerak kearah jalan keluar.
"Tunggu, ini terlalau hening." kata Billi. Mereka berhenti sesaat sebelum benar-benar keluar dari pintu kedua.
"Benar, kemungkinan mereka menunggu di depan, berencana mengepung kita." sahut Endru.
"Tapi tidak ada jalan lain, Timi mengatakan hanya ada satu jalan keluar."
Endru menggunakan alat komunikasi cadangan mereka untuk menghubungi Sadam. Sementara Billi menghubingi Kenzo.
"Ke... keluar saja Tuan?" tanya Billi ragu saat Kenzo memerintahkan hal itu.
Sementara Sadam juga memerintahkan hal yang sama pada Endru. "Sepertinya tuan dan Sadam sudah punya rencana cadangan. Ayo jalan!" kata Endru.
Benar saja, saat mereka keluar dari pintu utama, mereka disambut oleh puluhan tentara bersenjata lengkap. Mereka tetap maju, berdiri dengan berani di barisan depan, menghalangi keluarga Kenzo dari pandangan.
Baru saja mereka akan saling menyerang, barisan tentara paling belakang tumbang satu persatu. Kenzo sudah berdiri disana berasama dua anggota lain, menembaki mereka dengan peluru bius. Sisa pasukan yang masih melawan tim Billi dan Endru juga akhirnya berhasil di tumbangkan. Dengan cepat mereka kembali ke kapal selam saat dari jauh mereka melihat ada puluhan tentara datang dengan kapal.
Nahkoda yang mereka tinggal ternyata di borgol oleh Kenzo agar dia tidak mengacaukan rencana. Setelah dia kembali, pria yang lebih tua darinya itu mengumpat dengan kasar dalam bahasa inggris.
Kenzo tentu saja tidak peduli, dia memerintahkan segera pergi dengan cepat sambil mengacungkan senjata padanya.
Kapal bantuan dari tentara itu tiba saat kapal selam mulai melaju. Sehingga mereka terlambat untuk mengejar. Sinyal pendeteksi mereka juga masih lumpuh total.
Kenzo menatap datar ayahnya yang masih tidak sadarkan diri. Lalu beralih pada Lutfi dan Karin. Keduanya menatap Kenzo dengan linangan air mata. Kedua keponakan Kenzo tidak bersuara lagi, mereka sudah sangat lemas dan nyaris pingsan.
"Terima kasih, aku... aku hanya ingin anak dan istriku selamat. Ken... aku minta maaf." lirih Lutfi.
__ADS_1
Kenzo tidak menjawab, dia berbalik dan kembali fokus pada rencana. Sudah lewat satu jam. Sistem sudah kembali beberapa menit yang lalu, sepertinya pihak mereka memperbaikinya lebih cepat. Sementara pihak Kenzo masih belum sampai pada tujuan.
"Bergeraklah secara acak," perintah Kenzo. "Endru, suruh Gana mengikuti sinyal yang dikirim sadam padanya. Dia harus menemukan titik kita berhenti dengan cepat." Endru segera menghubungi Gana. Menyampaikan perintah Kenzo.
Setelah mereka berhenti, kapal perlahan kembali naik ke atas. Seluruh anggota kecuali nahkoda naik ke atas. Keluar dari kapal dan menunggu kapal yang dibawa Gana untuk menjemput mereka. Mereka berada tidak jauh dari bibir pantai, sehingga Gana tidak kesulitan menemukan mereka.
Sayangnya, setelah mereka semua berpindah kapal dan mulai kembali menuju daratan, ada satu kapal datang dan mulai menembaki kapal mereka. Seluruh tim Kenzo tentu saja berlindung sebisa mungkin. Keluarga Kenzo sudah ada di dalam. Kenzo tidak memperkirakan hal ini. Sehingga dia harus memutar otak untuk menghadapi mereka yang sampai saat ini masih menembaki. Beberapa anggotanya terkena tembakan namun beruntung tidak fatal. Tampaknya mereka bukanlah penembak jitu.
Ada sekitar 5 orang anggota bersenjata api. Kenzo tidak tahu apakah mereka bagian dari tentara atau hanya preman bayaran. Yang pasti, Kenzo harus siap melawan mereka.
Terjadi pertarungan sengit. Beberapa anggota, dengan perintah Kenzo akhirnya menggunakan senjata api. Menembaki mereka namun bukan organ vital. Saling tembak menembak terjadi, beberapa orang yang melompat ke kapal mereka berhasil dilumpuhkan. Selebihnya terluka di atas kapal musuh.
"Kita pergi," perintah Kenzo.
Setibanya dibibir pantai, dengan cepat tim lain membawa mereka ke dalam mobil-mobil yang sudah disiapkan. Seluruhnya dibawa ke rumah sakit.
.
Zahira sedang mondar mandir diluar area gedung markas mereka. Dia sedang menunggu Kenzo dengan kawatir. Sudah larut malam tapi belum ada kabar apapun.
"Nyonya... sebaiknya anda masuk kedalam dan beristirahat." kata Tomi. Dia adalah orang yang bertanggung jawab di markas saat ini bersama anggota yang tersisa.
"Kenzo belum mengabari... aku kawatir."
"Endru mengabari mereka sudah ada dirumah sakit. Yang terluka sedang_"
"Ada yang terluka?" potong Zahira. "Kenzo... bagaimana dia?"
Tomi tersenyum tipis dan menggeleng sekali. "Tuan tidak apa-apa, yang terluka adalah anggota pengawal dan juga keluarganya."
"Siapa yang sakit?" Keduanya menoleh kebelakang, dimana kedua ibu ada disana.
"Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?" tanya ibu Kenzo.
"Tidak ada, Bu, Za hanya kawatir sama Sadam. Ingin menjenguknya, Kenzo ada disana saat ini." bohongnya.
Ibu Zahira tentu saja menyadari anaknya sedang berbohong, namun karena dia tidak ingin menimbulkan kekawatiran berlebihan, dia memilih diam.
Pintu gerbang terbuka, belasan mobil masuk dan parkir dengan rapi. Seluruh pasukan yang terluka telah diobati dan dibawa oleh yang tidak terluka masuk ke dalam. Dimana pada lantai satu dari atas adalah kamar-kamar mereka.
"Endru... dimana Kenzo?" tanya Zahira saat Endru membawa Gana yang teluka di bagian kakinya.
Endru melirik sesaat pada ibu dan mertua Zahira. Dia mendekatkan diri dan bergumam pelan, "Masih mengurus mereka, keadaan tidak terlalu baik, nyonya."
Zahira berbalik, mengajak kedua ibunya itu kembali masuk. Namun keduanya tampak enggan dan mulai memprotes karena tampaknya menyadari sesuatu tidak beres.
"Ada yang terjadi kan, Za? apa yang terjadi? mereka banyak yang terluka..." tanya ibunya.
"Kita bicara di dalam." jawab Zahira pasrah.
Kedua ibunya, terutama sang mertua langsung menangis. Bagaimanapun semua yang diculik adalah keluarganya. Meskipun saat ini hubungannya buruk dengan sang suami dan anaknya, tapi seorang ibu akan tetap kawatir.
Endru muncul di saat yang tepat. Zahira bingung mau menjawab apa saat ibu Kenzo bertanya masalah sebenarnya. Karena itu saat Endru datang ke ruang tamu lantai 3 itu, Zahira segera menatapnya untuk meminta tolong.
"Maafkan saya, tapi tuan Kenzo melarang memberitahu siapapun. Mohon pengertian anda sekalian nyonya." kata Endru dengan sopan. Dia berbicara lebih kepada ibu Kenzo sendiri.
"Tapi itu anak dan cucu-cucuku! setidaknya beritahu aku bagaimana keadaan mereka saat ini!"
__ADS_1
"Saya tidak juga tahu, saya terlalu fokus pada anggota lain yang terluka. Tuan Kenzo dan Billi yang mengurus keluarga anda," jawab Endru.
"Ibu, tenang ya. Za akan coba menghubungi Kenzo," bujuk Zahira.
.
Sementara itu, di dalam kamar pribadinya didalam istana negara. Presiden sedang menggeram marah. Seluruh wajahnya memerah. Dia bahkan sampai melayangkan pukulan pada ajudan yang menyampaikan berita buruk kepadanya.
Dia frustasi dan marah, rencananya gagal. Satu-satunya senjatanya untuk menaklukkan Kenzo lepas begitu saja. Dia merasa marah pada dirinya sendiri karena terlalu mempercayai bawahannya untuk mengurus Kenzo. Dia salah menilai, ternyata Kenzo jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk tertera di layar. Setelah membaca pesan itu, dia semakin terlihat frustasi.
"Keluar! siapkan mobil aku akan pergi ke pertemuan organisasi sekarang!" perintahnya.
Sesampainya di tempat yang sudah ditetapkan, dengan penyamaran dan pengawalan khusus, presiden masuk ke dalam sebuah rumah megah bernuansa biru dan putih.
Dia diantarkan pada satu ruangan dimana semua orang ternyata sudah berkumpul. Termasuk Dursley yang terlihat sangat santai.
Anggota red wine, bersama petinggi partai terbesar di indonesia sedang berkumpul bersama. Saat presiden duduk, sang pemimpin partai sekaligus sosok mafia sebenarnya, memulai rapat dadakan mereka.
"Aku memerintahkan kalian menangkap tangan kanan Kenzo. Tahukah kalian dia adalah biang masalah!"
"Setahu saya dia masih koma pak, dia tidak akan menjadi gangguan." jawab Dursley.
Karena jawabannya itu, dia mendapatkan luka memar di keningnya akibat lemparan asbak dari pemimpin partai itu. Dia tampak sangat marah.
"Idiot! kamu sungguh idiot bisa dibohongi anak ingusan seperti mereka!" bentaknya. "Rumah sakit berada dibawah kekuasaan Kenzo, apa yang ia katakan pada orang-orang kamu percaya begitu saja! Kalau begitu kamu pikir siapa yang mengacaukan sistem pertahanan disana!"
Semua orang terdiam. Sebagian mereka tampak panik. Anggota organisasi dan partai bukanlah kalangan intelektual. Dari mereka semua, kebanyakan hanya boneka partai. Termasuk Dursley yang merupakan seorang pengusaha juga.
"Lakukan apapun untuk menghalangi mereka. Temukan tempat persembunyian mereka. Kalau kamu jatuh, kita semua akan ikut terseret. Pastikan orang disekeliking Kenzo mati. Bila perlu... bunuh dia sekalian."
"Akan sulit membunuhnya, Pak. Kenzo memegang..."
Semua ponsel mereka mendapatkan satu rekaman vidio. Dimana rekaman itu adalah saat mereka mengadakan pesta privat bersama disalah satu villa. Mereka tentu saja bukan hanya berpesta biasa, ada banyak gadis dibawah umur dipaksa untuk melayani mereka. Gadis yang mereka dapatkan dari jaringan prostitusi online. Dimana kebanyakan dari mereka dipaksa setelah dijual atau diculik.
Semua orang terlihat panik kecuali presiden sendiri. Karena dia sama sekali tidak ada disana. Sebagai presiden tentunya dia tidak bisa mengikuti acara seperti itu ditengah banyak pasang mata yang mengawasi gerak geriknya. Ajudannya tidak semua setia padanya, kebanyakan mereka hanya patuh karena di gaji. Bukan berdasarkan loyalitas yang akan dengan suka rela menutupi aibnya.
Di dalam gedung SS guard, Sadam tertawa keras. Dia sangat senang melihat ekspresi wajah panik mereka. Ya, Sadam juga memerintahkan seseorang meletakkan kamera tersembunyi di ruang rapat mereka. Sadam memang meretas ponsel ketua partai itu. Sehingga dia akan tahu apa yang mereka lakukan.
"Ini sangat menyenangkan," kekehnya.
Sadam juga mengirim vidio yang sama kepada Kenzo. Kenzo langsung menelfon Sadam.
"Pastikan kamu jangan keluar dari sistem keamanan SS. Tetap didalam sampai aku mengizinkanmu keluar."
"Aku tahu, Ken. Jangan kawatir. Mereka sudah menyadari aku telah sadar. Mereka akan berusaha membunuhku. Kosentrasi saja menjaga keluargamu."
"Kamu dalam bahaya," kata Kenzo dengan nada fruatasi. Dia cukup pusing karena banyak anggotanya yang terluka.
"Hanya tetap dalam tempat yang aman, kumohon... kumohon jaga dirimu." pinta Kenzo.
Sadam terdiam sesaat, dia tersenyum tipis. Sangat terharu saat Kenzo benar-benar menghawatirkan dirinya. Sadam merasa Kenzo selalu menjadi bagian dari hidupnya. Mereka saling menghargai dan menyayangi satu sama lain dengan cara mereka sendiri. Membuat hubungan yang erat melebihi saudara kandung.
"Aku tahu, brother! kamu juga. Saat ini... kamu juga target mereka. Walaupun akan sulit membunuhmu, karena Kenzo adalah mesin pembunuh yang sesungguhnya, benar?" jawab Sadam di akhiri dengan kekehan pelan.
Kenzo adalah mesin pembunuh yang sebenarnya. Ungkapan itu bukan tampa alasan. Kenzo memang belum pernah membunuh dengan tangannya sendiri. Membunuh disini hanya secara kiasan. Karena defenisi membunuh versi Kenzo adalah penyiksaan sehingga mereka akan lebih memilih mati dari pada hidup.
__ADS_1