Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Cemburu


__ADS_3

Kenzo duduk dikursi kebesarannya seperti biasa. Tumpukan pekerjaan menunggunya pagi ini. Zahira yang sudah lebih baik memilih untuk kembali bekerja. Dia bosan hanya di rumah karena Kenzo tidak mengizinkannya keluar tampa pengawasan.


Dibhadapan mereka saat ini duduk ayah Kenzo dengan wajah datarnya. Namun Zahira dapat melihat bahwa ada banyak tekanan dari pandangan matanya. Seperti seorang yang sedang memikul beban berat yang bila ia tidak lakukan, ia akan berada dalam masalah besar.


"Tetap di tempatmu, Za ... " kata Kenzo saat Zahira hendak keluar untuk memberikan mereka privasi.


"Duduklah, hal ini juga akan berkaitan denganmu," ujar ayah Kenzo tampa memandangnya.


Akhirnya Zahira kembali duduk di kursinya. Memperhatikan kedua pria di sampingnya itu saling melempar pandangan tajam. Kenzo baru saja menerima laporan dari Sadam saat ia bermalam di rumah Zahira tadi malam. Menerima tiga rekaman berbeda lokasi. Di salah satu vidio dia menyaksikan bahwa salah satu orang yang menerima pesanan gadis belia itu adalah salah satu orang kepercayaan dari ayahnya. Karena itu ia ingin bertemu. Namun ayahnya ternyata juga punya hal yang ingin dibicarakan dan sedang menuju kantornya.


"Aku memiliki rekan bisnis yang sangat berpengaruh. Dia menginginkanmu menjadi menantunya. Kamu bisa saja menolak, aku tidak akan melarangmu kali ini. Hanya saja kamu harus siap dengan apa yang akan kamu dapatkan dari keputusanmu. Mungkin perusahaanmu cukup kuat, tapi tidak dengan perusahaan pacarmu. Dia bisa saja menghancurkannya."


Ayah Kenzo melirik kepada Zahira yang masih tampak tenang. Tidak terpengaruh sedikitpun pada apa yang disampaikannya.


"Bukankah kemarin ayah sangat keras kepala menjodohkanku dengan anak almarhum sahabat ayah?"


Kenzo melirik Zahira sekilas sebelum melanjutkan.


"Cepat sekali ayah merubah keputusan, apa orang di belakangmu itu menyuruh ayah melakukan hal ini? ... kalau begitu katakan padanya aku siap melawannya. Dia hanya pria tua yang hampir mati, benar?"


Ayahnya tampak tidak heran dari mana ia mendapatkan informasi tentang siapa orang yang menyokongnya selama ini. Kenzo sudah menyindirnya sejak lama tentang hal ini. Alasan dia menolak bergabung dengan perusahaan.


"Kamu masih muda dan tidak tahu apapun. Aku mungkin bisa melindungimu. Tapi orang lain yang akan mennggungnya. Sebentar lagi dia akan datang ke sini. Aku yang memintanya untuk berkenalan denganmu disini karena pastinya kamu akan menolak bertemu diluar."


Benar saja, hanya beberapa saat setelah ia mengatakan hal itu, seorang wanita yang sangat cantik dan juga berpakaian sangat anggun dan berkelas memasuki ruangannya diikuti Jimi yang tampak menyesal dibelakangnya. Jimi segera menutup pintu setelah wanit itu masuk. Dia menarik kursi di depan meja Zahira dan duduk disamping ayah Kenzo.


"Ayahku menyuruhku datang ke sini. Jadi ... dia anak anda? sangat tampan. Aku akan menyetujui perjodohan ini. Dia kelihatan sangat panas," kata wanita itu sambil menatap Kenzo dengan mata berbinar.


"Perkenalkan dia adalah Susan dan Susan ... dia adalah Kenzo anakku."


Susan tampak antusias, berbeda dengan Kenzo yang tidak meliriknya sama sekali. Kenzo malah menoleh pada Zahira yang tampak santai-santai saja. Kenzo melayangkan tatapan kesalnya karena Zahira tampak tidak cemburu sama sekali. Hal itu membuatnya entah kenapa menjadi sakit hati.


Zahira hanya mengangkat kedua alisnya menjawab pandangan itu. Menyuruh Kenzo menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Kenapa kamu malah memperhatikannya bukan aku? " protes Susan yang tampak murka karena tidak mendapatkan atensi dari pria yang langsung membuatnya jatuh cinta itu.


Kenzo menoleh padanya dan menatapnya sinis.

__ADS_1


"Kenapa aku harus memperhatikan orang asing sepertimu?"


"Aku calonmu sekarang," jawab Susan santai.


"Dalam mimpimu, aku hanya punya satu calon dan dia adalah calonku." Kenzo kembali menatap Zahira yang kini pura-pura sibuk dengan berkas di tangannya. Berpura-pura tidak mendengar percakapan mereka.


Susan ikut menatap Zahira sebelum beralih ke pada Kenzo lagi. Kemudian dia tersenyum sangat manis.


"Aku suka tantangan. Aku tidak pernah tidak mendapatkan apa yang aku inginkan ... bahkan ini pertama kalinya aku ditolak. Kamu membuatku semakin ingin mendapatkanmu. Ternyata ayahku benar, kamu adalah pria yang paling pantas mendampingiku." Susan bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Kenzo. Mengecup cepat sebelah pipinya.


"Selamat bekerja, aku akan pergi sekarang," lanjut susan dengan gerakan ringan dia meninggalkan ruangan itu.


Ayah Kenzo yang melihat anaknya menahan amarah dengan tangan mengepal dan rahang mengeras hanya menarik nafasnya pelan. Ada rasa bersalah dari sorot matanya sebelum beranjak dari sana. Membiarkan Kenzo dan Zahira menyelesaikan urusan mereka. Karena kini bukan hanya Kenzo yang sepertinya menahan amarah.


Zahira yang awalnya tampak tenang langsung merasakan panas dihatinya saat melihat Susan mendekati Kenzo dan mencium pipinya. Rasanya ia ingin berteriak padanya karena berani menyentuh miliknya. Namun kesadaran tiba-tiba menghantamnya sehingga ia terdiam di tempat. Zahira bingung kenapa dia bisa merasa sangat marah dan malah mengakui pria di sampingnya itu menjadi miliknya.


"Aku ingin kopi," katanya tiba-tiba berdiri dan bejalan cepat keluar dari sana sebelum Kenzo bisa mencegahnya.


Kenzo mengacak surainya dengan kesal. Belum selesai masalah satu datang masalah baru yang lebih rumit. Dia tahu dalam sekali lihat bahwa Susan bukan wanita yang mudah ditangani.


Kenzo menyusul dan mendapati wanita yang dicintainya itu sedang mematung menatap dinding dengan kening berkerut dan sebelah tangan memegang sendok dan tangan lain memegang gelas kopi. Kenzo segera menyingkirkan gelas dan sendok di tangannya sebelum memegang kedua pundak Zahira dan menatapnya.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Sedang berfikir," jawab Zahira spontan.


"Apa?"


"Aku ... tidak tahu, kepalaku terasa kosong tapi hatiku terasa ... seperti ... ada yang menekannya."


Kenzo tersenyum menatapnya. Membuat Zahira bingung. Kemudian dia mendapatkan ciuman di pipinya cukup lama. Membiat pipinya terasa panas. Kenzo tertawa sangat manis. Zahira bahkan belum pernah melihat tawa bahagia seperti itu.


"Ada apa denganmu?" tanya Zahira tampak semakin bingung.


"Kamu pintar dan memiliki insting yang kuat. Bahkan bisa membaca pikiran orang hanya dari wajah mereka. Tapi kenapa polos sekali dalam masalah cinta. Sedang cemburu saja tidak tahu," kata Kenzo.


"Aku tidak cemburu, " jawab Zahira cepat sambil menepis kedua tangan Kenzo di kedua lengannya.

__ADS_1


"Kamu cemburu."


"Aku tidak!" sangkal Zahira.


Kenzo berdecak dan segera menggandeng tangannya keluar dari sana menuju ruangannya kembali. Mengabaikan kopi yang sudah dibuat di atas meja. Sesekali mereka masih saling berdebat siapa yang benar. Kedua bodyguard yang selalu mengikuti Zahira bertukar pandang dan tersenyum sesudahnya. Mereka ikut senang saat melihat interaksi manis kedua atasan mereka.


.


Ibu Kenzo melangkah ke dalam rumahnya dengan lunglai. Wajahnya pias dan tampak air mata sudah mengering di pipinya. Lutfi yang baru saja pulang dari kantor dan akan segera masuk ke kamar berhenti dan segera menghampiri ibunya. Lutfi dan istrinya memang sengaja menetap di rumah besar mereka atas permintaan ibunya. Ibunya bilang ia akan kesepian jika mereka pindah juga seperti adiknya.


"Ibu ... ibu ada apa?" Ibunya melihatnya dengan pandangan kosong.


"Dia berbohong lagi, ayahmu berbohong lagi," ujar ibunya. Lutfi sudah bisa menebak apa yang terjadi jika ibunya bilang ayahnya berbohong lagi.


"Ibu akan tinggal dengan Kenzo saja. Jika kalian ingin pindah juga tidak apa. Ibu tidak ingin tinggal di sini lagi," kata ibunya sambil melangkah menuju kamarnya.


Lutfi mengikuti ibunya dari belakang, memperhatikan apa yang dilakukan ibunya. Ibunya sedang memasukkan beberapa pakaian kedalam koper besar. Dia tampak sibuk dengan wajah piasnya memasukkan barang yang perlu ia bawa.


"Kenapa kamu berdiri di sana?" Tampa berbalikpun Lutfi tahu suara itu adalah suara ayahnya. Dia tidak menjawab, namun segera berbalik dan menatap ayahnya dengan penuh kemarahan.


"Sudah saya katakan jangan menyakiti ibu lagi. Lalu di mana janji ayah yang kemarin?" desis Lutfi tajam.


Sebelum ayahnya bisa menjawab, ibunya sudah keluar terlebih dahulu. Melihat ayahnya sang ibu tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Ada apa denganmu? Kemana kamu dengan koper itu?" tanya ayahnya.


"Mulai sekarang kamu bebas. Aku tidak akan menjadi pengganggumu lagi. Kamu sekarang bebas bersama gadis-gadis mudamu."


Ayahnya mematung mendengar penuturan ibunya. Lutfi segera mengambil alih koper di tangan ibunya dan menggandeng tangan ibunya pergi dari sana.


.


Sesampainya di apartemen Kenzo, Lutfi menekan kode pasword dan segera menggandeng ibunya masuk. Sejak keluar dari rumah mereka, ibunya tidak berhenti menangis.


"Ibu istirahat di kamar tamu saja jangan di sini. Sepertinya dia belum pulang. Saya akan menghubunginya." Lutfi segera menelepon Kenzo.


Kenzo yang saat ini masih dalam perjalanan mengantarkan Zahira menyuruh supir memutar arah setelah menerima telepon dari kakaknya. Meskipun Lutfi tidak mengatakan kenapa ibunya pindah ke rumahnya, Kenzo yakin ada sesuatu yang fatal terjadi sehingga ibunya pergi dari rumah. Kenzo jadi teringat akan perdagangan manusia yang melibatkan tangan kanan ayahnya. Apa yang sesungguhnya terjadi akan ia dapatkan jawabannya setelah mendengar penjelasan ibunya nanti. Zahira yang duduk di sampingnya sudah tertidur sehingga tidak tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2