Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Rasa iba


__ADS_3

Disebuah ruangan, seorang berdiri menatap sebuah foto usang. Foto sebuah keluarga kecil yang terlihat bahagia. Dia mengelus foto itu dengan tatapan tajam. Seakan orang yang ada didalam foto merupakan musuh besarnya.


Dia mendengar ketukan pintu, lalu dengan cepat ia menyimpan kembali foto itu dalam tempat persembunyiannya. Berjalan kebelakang meja dan duduk dibangku kerjanya.


"Masuk." katanya sedikit keras.


Seorang pria dengan pakaian resmi staf kepresidenan masuk. Berdiri dihadapan sang presiden. Memberikan sebuah berkas. Hanya laporan biasa mengenai urusan negara. Namun jelas dari pandangan mata mereka berdua, bukan itu yang menyebabkan pria itu datang padanya.


"Ada penyerangan drone besar-besaran. Pihak militer mengatakan itu seperti pengalihan, mereka menduga ini pekerjaan teman salah satu napi. Mereka sedang memeriksa apakah ada napi yang mencoba kabur." Presiden itu mengangguk.


"Cari tahu apakah itu benar hanya teman salah satu napi atau ini ulah anggota Kenzo. Perketat penjagaan mereka."


"Saya mengerti."


Setelah kepergiannya, presiden tampak gusar. Dia pintar dan licik, namun untuk strategi tentu saja dia tidak menguasainya.


"Mentri itu bisa jadi kendalaku." katanya. Lalu menelfon seseorang untuk mengurusnya.


.


Sementara itu, Zahira yang sudah ada dimarkas bertemu dengan anak yang bernama Jeykey itu.


'Anak ini bukan orang Jerman?' tanya Zahira dalam hati.


Anak itu berkeliaran sendirian melihat orang-orang yang sedang sibuk hilir mudik. Hanya beberapa yang menguasai bahasa inggris sehingga anak itu kesal karena tidak ada yang mengerti apa yang ia ucapkan.


Zahira melangkah mendekatinya. Menepuk pundak anak itu pelan. Zahira tidak bisa berbahasa Inggris dengan lancar, tapi dia mengerti saat seseorang berbicara. Hal itu karena Zahira tidak terbiasa menggunakan bahasa itu.


"Kenalkan, namaku Zahira. Siapa namamu?"


Anak itu cukup tinggi dari anak seusianya. Dia menatap Zahira datar sebelum menepuk tangannya dengan kasar. Zahira mengernyit namun tidak marah, dia menarik tangannya kembali.


"Siapa kamu?" tanyanya dalam bahasa inggris.


"Zahira, aku sudah bilang tadi."


"Aku tahu, tapi apa posisimu disini? Aku bertanya pada orang-orang dimana Sadam tapi tidak ada yang menjawabku. Kamu tahu?"


Zahira mengerti anak ini terbiasa dengan budaya barat, sehingga dia memanggil yang lebih tua hanya dengan sebutan nama saja. Tentu saja jika di sini hal itu terdengar sangat tidak sopan.


"Aku pikir dia dibawa kesini, aku dengar dia terluka. Sial dimana Kenzo menyembunyikannya!" Dia mengumpat dengan kesal. Zahira cukup terkejut bagaimana anak seusianya sudah bisa mengumpat. Kehadiran Zahira sama sekali tak di anggap. Ia malah berlalu pergi menuju area gerbang.


Tentu saja dia langsung di hadang. Zahira hanya memperhatikan Jey dari jauh. Ingin melihat seberapa jauh anak itu bertindak. Billi menghampirinya dan memberikan sapaan hormat. Menanyakan mengapa dia ada diluar.


"Kenapa? apa aku tidak boleh jalan-jalan diluar gedung ini?"


Billi sedikit gelagapan, nada bicara Zahira terdengar dingin dan mengancam. Dia sering mendengar bahwa istri pimpinan mereka, adalah wanita yang menguasai berbagai teknik bela diri. Bukannya Billi tidak bisa menang melawannya, tentu saja dia tidak akan berani melawannya.


"Apa yang kamu pikirkan? kamu pikir aku akan memukulmu?"


"Tidak...saya tidak berpikir begitu. Saya hanya menjalankan amanah Tuan, anda lebih baik berada di dalam saat tuan tidak ada. Karena kita tidak tahu siapa yang akan berhianat Nyonya."


"Aku bisa melindungi diriku sendiri, lagi pula__"


"Oi kamu!" Zahira maupun Billi menoleh kearah yang sama. Dimana Jey berjalan kembali kearah mereka. "Kamu kayak pemimpin, suruh orang-orang itu membiarkanku lewat!" suruhnya pada Billi.


"Kembalilah kekamar anda, tidak ada yang diizinkan keluar oleh tuan Kenzo." jawab Billi dengan bahasa inggris yang lancar.


Jeykey berdecih, terlihat sangat tidak puas. "Kalau gitu telepon dia, kenapa dia mengurung aku disini. Orang tua itu bilang akan membawaku pada Sadam tapi dia bohong!" teriaknya dengan penuh amarah. Orang tua yang dia maksud adalah pengawal sekaligus pengasuh yang menyusulnya ke Indonesia.

__ADS_1


Zahira bukan wanita yang lembut, dia mandiri dan kuat sejak kecil karena lingkungannya. Jadi saat mendapati sikap tidak sopan Jey lagi dan lagi, Zahira menjadi tidak sabar. Apalagi bawaan hamil membuat emosinya tidak stabil.


"Anak ini, apa bubunganmu dengan Sadam? aku tidak akan mengizinkanmu menemuinya sebelum kamu belajar sopan santun!"


Jeykey mengalihkan pandangan padanya, dia menatap Zahira tajam lalu maju selangkah. Dengan cepat Billi menghadangnya dan mengucapkan kalimat peringatan yang membuat Jey terdiam.


"Jangan pernah menyentuh Nyonya Zahira kalau kamu masih ingin hidup, dia bukan orang yang bisa kamu remehkan."


Jey mundur, kepalan tangannya terurai. Jeykey sejak dulu memang suka memukul siapapun yang tidak disukainya. Namun ia hanya melakukannya pada yang lebih lemah. Yang menurutnya tidak bisa melawan.


"Siapa dia?" tanyanya dengan angkuh.


"Istri tuan Kenzo. Kamu harus memberi hormat dan meminta maaf, kalau tidak aku pastikan tuan Kenzo tahu sikap kurang ajarmu."


Jeykey sesaat terdiam, kepalanya tertunduk. Dengan enggan ia mengucapkan maaf lalu pergi begitu saja. Kembali pada kamar yang disediakan untuknya didalam gedung.


"Kamu yang ditugaskan Kenzo disini?"


"Ya, Nyonya. Panggil saya Billi." Zahira mengangguk.


"Nah Billi, bisa antarkan aku pada ibu dan mertuaku. Dimana mereka kalian sembunyikan? Aku tidak melihat mereka dimanapun."


Billi tersenyum, "Kami tidak nyonya, mereka hanya sedang istirahat di ruangan mereka. Saya akan mengantar anda."


.


Kenzo masih berada di dalam kapal. Misi drone berhasil dan penyusup sudah mengirimkan titik koordinat dimana keluarganya disekap. Namun, sayangnya, mereka kehilangan jejak beberapa menit setelah penyusup yang ditugaskan memberikan informasi itu.


"Apa dia tertangkap?" tanya Gana was-was.


"Belum tentu, dia sangat terlatih. Tidak mungkin semudah itu tertangkap. Kemungkinan besar dia mematikan sinyal demi keamanan dirinya." jawab Endru.


Setelah SS guard mendapatkan lokasinya, Kenzo segera keluar dari kapal menuju mobilnya. Endru yang bingung mengikutinya dari belakang. Bersama beberapa pengawal mengikuti Kenzo dengan mobil lain.


Kenzo sampai pada sebuah taman bermain yang kosong. Seseorang muncul dari balik seluncuran anak-anak. Wajahnya penuh luka dan Kenzo tentu mengenalinya dengan sangat baik. Dia adalah Muzakir yang seharusnya ada di dalam penjara.


"Apa yang dilakukan narapidana disini?" tanya Kenzo, memperhatikan sekujur tubuh Muzakir yang tidak baik-baik saja.


"Aku ingin melakukan pertukaran." katanya. Matanya tidak fokus, ia sangat waspada pada sekitarnya.


Entah dimana ia mengganti baju tapi Kenzo yakin dia mendapatkannya dengan cara mencuri jemuran seseorang karena itu tampak lusuh. Kenzo tertawa sinis. Dia sangat ingat tangan itulah penyebab awal Sadam koma hingga sekarang.


"Aku bisa saja mengambil nyawamu saat ini tapi kamu masih berani bernegosiasi?"


Muzakir menggeleng, terlihat sangat gusar, dia mendekati Kenzo dan berlutut padanya. Kenzo mundur dan memandangnya dengan jijik. Seakan Muzakir adalah benda kotor yang sangat menjijikkan.


"Aku mohon... beri aku perlindungan dan aku akan memberikan informasi padamu. Presiden berusaha membunuhku di penjara. Dia juga mengancam keluargaku. Aku mohon..." Muzakir menangis, dia terlihat sangat putus asa.


"Informasi apa yang bisa ditukar dengan nyawamu? aku bahkan juga ingin membunuhmu."


"Ini tentang ayahmu... tentang kakakmu, juga tentang presiden sendiri. Tentang Red wine... "


"Aku tidak tertarik, aku sudah tahu segalanya tentang organisasi kotor itu."


Kenzo berbalik pergi, tapi Muzakir menahannya dengan memegang kakinya, bahkan ia terjatuh ketanah dan bersujud. Dengan rasa benci Kenzo menendangnya sehingga tangan Muzakir terlepas.


"Aku mohon! Aku mohon dengarkan aku! selama ini Dursley juga tertipu! Presiden memerintahkan kami untuk membawamu kedalam organisasi bukan sebagai penerus. Tapi agar dia bisa membunuhmu. Saat ayahmu tahu... dia menangkapnya. Tapi Dursley yang setia tetap disisinya. Aku mohon... aku bisa membantumu menyelamatkan mereka."


Kenzo menatapnya tampa ekspresi, "Terima kasih informasinya, anggap itu tebusan karena menyakiti temanku." kata Kenzo, dia mengibaskan tangannya.

__ADS_1


Endru muncul bersama yang lain, menghalangi Muzakir yang akan mengejar Kenzo. Menyuntikkan sesuatu hingga ia pingsan dan memasukknnya kedalam bagasi mobil.


.


Kenzo memikirkan ayahnya. Kebencian kepadanya mengalahkan rasa belas kasihnya. Tujuannya mencari mereka dan menyelamatkan mereka hanya karena kakak ipar dan dua keponakannya. Kalau tidak Kenzo tidak akan sudi menyelamatkan mereka. Meskipun pada akhirnya ia tahu, ayahnya berakhir menjadi alat untuk mendapatkannya. Sejak Kenzo menyembunyikan Jeykey beberapa tahun yang lalu. Tidak mengherankan Dursley sangat berkeras mendapatkannya sebagai menantu. Karena itu perintah presiden dengan niat tersembunyi.


Kenzo sampai pada markas besar miliknya. Sementara Endru membawa Muzakir pada tempat biasa mereka menahan musuh. Meletakkan Muzakir disana seperti tahanan dengan penjagaan ketat. Setelah itu ia kembali menyusul tuannya.


Saat Kenzo masuk kedalam gedung dan menekan lift menuju banker dibawah tanah. Jeykey ikut masuk dan memberikannya tatapan tajam. Tapi anak itu tidak mengatakan apapun. Sepertinya ia juga takut pada Kenzo, namun karena egonya yang sangat besar, dia berusaha terlihat kuat dan berani.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kenzo datar.


"Bawa Sadam kesini! kenapa dia tidak menemuiku? apa dia dirumah sakit?"


"Ya, dia dirumah sakit. Bawahan ayahmu menyerangnya."


Jeykey memerah karena marah, rahangnya mengeras dan dan sekuat tenaga dia berteriak. "Dia bukan ayahku! Bajingan yang membunuh ibuku bukan ayahku sialan! orang tuaku hanya Sadam!" lagi-lagi anak ini mengumpat.


Dia menerikakan itu bertepatan dengan pintu lift yang terbuka, berada di lantai 3 dan Zahira sedang berbicara di sofa bersama ibu dan mertuanya. Mereka seketika menoleh mendengar teriakan Jeykey.


Kenzo keluar diikuti Jeykey yang masih marah. Memeluk Zahira yang berdiri menyambutnya dan memberikan kecupan ringan dikeningnya. Hal itu membuat mata Jeykey memerah. Adegan itu mengingatkannya pada Sadam yang menyayanginya dulu sebelum Kenzo mengirimnya ke Jerman.


Zahira melepaskan pelukan Kenzo dan menatap Jeykey yang terpaku di tempatnya. Zahira menghampirinya dan menarik tangannya untuk duduk. Ajaibnya, Jeykey hanya patuh tampa mengucapkan kalimat kasar. Air matanya sudah jatuh dan ia mulai menangis.


Zahira menatap Kenzo sesaat sebelum menarik Jeykey kedalam pelukannya. Entah perasaan dari mana, Zahira merasa kasihan padanya. Dia mendengar teriakan Jey dan langsung bisa menyimpulkan sesuatu.


"Aku ingin bertemu Sadam, aku ingin menemuinya." isaknya.


"Nanti, kamu akan dibawa ke Sadam. Diluar sedang tidak aman dan Sadam masih dirumah sakit. Bukan hanya kamu, kami juga ingin dia cepat kesini."


"Kenapa tidak dibawa kesini? disini juga ada dokter!" Jeykey menarik diri dan menatap Zahira memohon. Kesan anak nakal sama sekali tidak ada lagi. Hanya wajah anak yang kehilangan kasih sayang orang tuanya.


"Tidak bisa, dia butuh rumah sakit. Mengertilah." sahut Kenzo dingin. Zahira menghadiahinya tatapan penuh peringatan. Kenzo mendengus lalu masuk pada kamar yang digunakan Zahira untuk istirahat.


Jeykey menatap bingung kepada ibu Zahira dan ibu Kenzo. Seperti bertanya siapa mereka ini.


"Ini ibuku dan itu ibu mertuaku. Kamu bisa memanggilnya nenek. Hanya saja mereka tidak mengerti bahasa inggris, kamulah yang harus belajar bahasa Indonesia." kata Zahira, memperkenalkan mereka.


"Aku bisa bahasa Indonesia, tapi aku tidak ingin menggunakannya lagi."


Zahira tertegun, bertanya-tanya kepedihan dan trauma seperti apa yang ia alami sehingga anak dihadapannya ini mengatakan hal itu.


"Kamu... lahir di sini?"


Jeykey mengangguk, "Ibuku dibunuh saat usiaku 7 tahun. Saat aku berhasil kabur, Sadam menemukanku dan membawaku kerumahnya. Lalu merawatku selama setahun. Aku dikirim ke Jerman dan sekolah disana. Sadam bilang aku akan lebih aman disana. Tapi dia tidak mengunjungiku sejak dua tahun yang lalu. Hanya mengirimi email. Aku berusaha kabur tapi orang tua itu selalu menangkapku."


Zahira sangat kagum akan kepintaran Jeykey. Diusianya yang masih 7 tahun dia sudah tahu apa yang menimpanya saat itu.


"Za... sebaiknya kamu menemui Kenzo dulu. Urusi suamimu dulu nak." tegur ibunya.


Zahira mengangguk dan menyuruh Jeykey istirahat dikamarnya. Membujuk anak itu dengan kata penghiburan agar ia mau menurutinya. Setelahnya, dia baru melangkah masuk menuju kamarnya. Tentu setelah permisi kepada dua ibunya.


"Jangan banyak bertanya padanya sayang," kata Kenzo saat Zahira membantunya melepaskan kemejanya, Kenzo ingin mandi. Zahira terdiam, lalu mendongak mempertemukan netra mereka.


"Kenapa? aku hanya ingin mengenalnya saja. Dia anak yang malang. Kamu tahu aku besar di panti dan aku tahu rasanya tumbuh tampa orang tua. Kebencianku pada orang tuaku saat itu hampir sama dengan Jeykey. Tentu saja kasusnya berbeda, tapi saat itu... aku seperti dia."


Kenzo menarik Zahira dalam pelukannya. Mengelus lembut kepalanya. "Aku mengerti, hanya jangan terlalu dekat. Bagaimanapun dia anak musuhku." kata Kenzo. Suaranya tenang namun terdengar penuh emosi.


"Aku mengerti." jawab Zahira.

__ADS_1


Sesungguhnya Zahira tidak setuju dengan perkatan Kenzo. Baginya, tidak ada anak yang bisa memilih dari orang tua mana mereka dilahirkan. Menjauhkan anak dari kasih sayang hanya akan menjadikannya hidup dalam kebencian. Sama seperti dia dulu. Besar di panti dengan memendam rasa benci, menjauhi anak lain dan kesulitan bersosialisasi.


__ADS_2