Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Kehilangan


__ADS_3

Zahira belum di temukan. Baik Kenzo maupun pihak musuh benar-benar kehilangan jejak. Kenzo sendiri tidak yakin bahwa Zahira benar-benar ada pada pihak musuh. Tidak ada bukti apapun. Dia sudah menerima pesan ancaman dua kali. Namun saat Kenzo meminta bukti, mereka tidak memberikannya.


Saat ini, Kenzo sedang duduk di ruang kerja mension barunya. Sejak Zahira menghilang 2 hari yang lalu. Dia tidak makan dengan benar. Tidak tidur serta perusahaan di ambil alih oleh Jimi dan Sadam.


Sadam yang baru saja pulang menghampirinya. Masih dalam mode penyamaran, ia duduk di hadapan Kenzo. Jey yang menghampirinya bahkan di usir keluar dalam diam. Jey cemberut, dia kesal karena Sadam tidak ada waktu untuknya lagi.


"Aku memastikan mereka tidak mendapatkan Zahira. Aku yakin saat itu Zahira melawan sehingga kecelakaan. Rumor yang beredar di rumah sakit, dua orang itu menerima jahitan akibat tusukan pisau juga." Kata Sadam, dua hari ini dia mengamati rumah musuh dengan meretas sistem keamanan rumah mereka. Meretas rekaman cctv yang tersimpan di komputer, namun tidak ada tanda-tanda mereka menyekap seseorang.


Kamera tersembuyi yang ia letakkan di markas sudah di temukan pihak musuh, sehingga Sadam tidak bisa mengintai lagi.


"Aku baru saja meletakkan kamera di mobil pak tua itu. Aku mencoba pada mobil pribadi presiden, tapi cukup sulit karena paspampres. Endru juga tidak menemukan apapun. Rumah warga terdekat dari lokasi... kami sudah mengintai satu persatu. Bahkan melakukan penggeledahan paksa."


Kenzo mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk. Menatap Sadam dengan mata memerah. Sadam yang melihatnya benar-benar terenyuh. Ikut hancur melihat sahabat yang sudah ia anggap saudara itu begitu kacau dan sedih.


"Aku bahkan tidak tahu apakah dia dalam keadaan baik atau tidak." Kenzo tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dia seperti menahan tangis. Sadam memahaminya, betapa sahabatnya itu sangat mencintai Zahira. Bahkan rasa cinta yang Kenzo miliki sudah berada pada tahap obsesi.


Sadam bangkit, memutari meja dan berlutut. lalu memeluk Kenzo dari samping sambil menepuk bahunya selayaknya seorang kakak. Seluruh keluarganya masuk. Orang tuanya, kakak dan kakak iparnya. Ibu Zahira sendiri sedang di kamar, sejak mengetahui Zahira menghilang. Ibunya berulang kali pingsan. Dia juga terus menangis dan menolak makan.


"Ken... maafkan kami tidak bisa membantumu." kata ayahnya. Namun Kenzo tidak menjawabnya.


Sejak penyelamatan itu, ayahnya memang tidak diizinkan kemana-mana. Kenzo belum mempercayainya meskipun dia mengaku menyesali semua perbuatannya. Begitu juga Lutfi, mereka seperti tahanan rumah disana. Sementara itu, perusahaan ayahnya mengalami kerugian besar karena para investor yang memutuskan kerja sama. Semua rekan bisnis ayahnya berbalik badan. Kenzo juga tidak mau repot-repot mengurusinya. Baginya, ayahnya lebih baik bangkrut dari pada memiliki kekuasaan. Cukup kejam, namun hal itu tentu saja bukan tampa alasan.


Kenzo melepaskan pelukan Sadam. Dia bangkit berdiri lalu keluar begitu saja. Mereka semua mengikutinya, jelas semua orang sangat menghawatirkan dirinya.


Wewen tiba di mension Kenzo bersama Anton. Mereka berdua seperti orang yang sangat terburu-buru. Mereka bahkan tidak bisa menunggu saat Endru menyuruh mereka tetap di ruang tamu. Keduanya langsung menghampiri Kenzo yang terlihat dari lorong menuju lift mension itu.


"Ken!" panggil Wewen.


Kenzo berhenti, begitu juga Sadam dan seluruh keluarga yang mengikutinya.


"Aku bertemu seorang ibu dan seorang anak kecil di pasar sekitar rumah penduduk yang tidak jauh dari area kecelakaan. Keduanya sangat aneh saat aku menunjukkan foto Zahira." kata Wewen.


Wajah Kenzo yang semula suram berubah menjadi lebih bewarna. Dia yang tadinya memang berniat kembali mencari Zahira sendiri, tiba-tiba seperti menemukan harapan.


"Bawa aku menemui mereka."


Wewen menggeleng, dia juga terlihat bingung bagaimana cara menjelaskannya. Anton yang berdiri di belakangnya membantunya bicara.


"Kami kehilangan mereka."


Kerutan muncul di perempatan keningnya, Kenzo terlihat mulai tidak senang. "Jelaskan!" perintahnya dengan tegas.


"Kami bukan anak buahmu, tolong jaga sikapmu." protes Anton. Namun saat Kenzo menatapnya dengan tajam, dia meneguk ludahnya dengan susah payah.


"Kedua orang itu lari. Mereka bahkan seperti ketakutan saat melihat kami." kata Anton, wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan namun juga pasrah secara bersamaan.


"Kami kesini ingin minta bantuan mencari identitas mereka. Aku tahu Sadam akan cepat mendapatkannya." lanjut Wewen dengan cepat.


"Ada fotonya?" tanya Sadam.


"Itu... tidak terlalu jelas. Sangat buram karena jarak yang agak jauh. Kami mendapatkannya dari cctv toko yang mereka lewati saat berlari."


Sadam mengambil foto itu. Memang sangat buram. "Apa rekamannya kalian ambil?"


"Oh, ada. Aku akan kirim ke nomormu."


"Tidak perlu, ikut aku langsung." jawab Sadam, Ketiganya mengikuti Sadam yang berjalan cepat menuju kamar pribadinya. Dimana semua komponen komputer dan berbagai alat untuk mendukung dia melakukan pekerjaannya berada. Kamar itu bahkan tidak seperti kamar tidur. Sepertiga dari ruangan itu berisi perangkat lunak.

__ADS_1


"Sadam berhenti mendadak saat di depan pintu, dia teringat komputernya terhubung dengan sistem SS guard. Seluruh layar menampilkan hasil pengintaiannya.


"Ah...kalian berdua tunggu sebentar. Kenzo bantu aku."


Wewen dan Anton saling pandang, mempertanyakan sikap Sadam yang seolah menyembunyikan sesuatu. Lima menit, pintu terbuka dan mereka di persilahkan masuk.


"Wah...ini kamar atau apa?" komentar Wewen. Menyapu pandangannya keseluruh ruangan.


"Jangan menyentuh apapun, cukup lihat saja." perintah Kenzo.


Keduanya tidak menjawab, tapi melakukan sesuai perintahnya. Hanya memperhatikan satu layar komputer dimana Sadam sedang bekerja. Wewen menganga, ingin rasanya protes. Namun mengingat situasi dia akhirnya hanya pasrah. Bagaimana tidak, ponselnya diretas dengan seenaknya.


"Hanya segini, tidak terlalu jelas tapi masih bisa diidentifikasi. cctv itu terlalu buram. Kualitasnya sangat rendah." keluh Sadam.


Mereka sama-sama memperhatikan wajah dua orang berbeda usia itu. "Identitasnya." kata Kenzo, tentu saja itu sebuah perintah bagi Sadam. Karena itu dia mulai meretas sistem milik dinas kependudukan.


"Ini akan cepat saat aku menggunakan anakku, tapi masalahnya ada dua tupai jantan." gumamnya.


Kenzo tentu saja paham artinya. Berbeda dengan Wewen dan Anton yang mematap Sadam dengan aneh. Mereka merasa tersindir meskipun tidak mengerti apa yang Sadam maksud.


"Mereka tidak terdaftar, aku yakin mereka tidak tinggal di kota. Aneh sekali, siapa mereka ini?" tanya Sadam.


Kenzo menutup matanya sejenak sambil menghela nafas. Jalan buntu lagi. Dia merogoh ponselnya lalu menelfon Endru yang berada di lantai bawah.


"Suruh beberapa orang mengintai di sekitar pasar xxx, Sadam akan mengirimkan foto dua orang. Jika kalian melihat, ikuti saja dan temukan dimana rumahnya."


"Kami juga harus pergi, kami juga sedang menangani sebuah kasus. Semoga Zahira cepat ditemukan." kata Wewen.


"Terima kasih." jawab Kenzo.


Ketiganya tentu saja terkejut. Seorang Kenzo bersikap ramah dan mengucapkan terima kasih adalah hal langka. Sadam bahkan tersenyum, namun Kenzo hanya mengabaikannya.


.


Ibu itu keluar dari apotik dengan menenteng sebuah kantong berisi anti septik, perban luka dan beberapa obat-obatan. Dua orang yang mengintainya terus mengikutinya dalam diam. Sampai mereka masuk ke dalam gang kecil berkelok dan menembus jalan setapak. Ibu itu terus berjalan sampai pinggiran sungai di tepi hutan. Disana ada sebuah rumah kayu cukup usang.


"Apakah kita harus melihat dari dekat?" kata salah seorang dari mereka kepada Timi. Orang Kenzo yang sangat ahli dalam menyusup.


"Ayo langsung masuk ke dalam." jawab Timi.


Mereka berdiri di depan pintu yang tertutup. Sangat rapuh, sekali tendang dipastikan akan langsung roboh. Namun Timi mendorongnya, seperti perkirannya. Pintu itu tidak dikunci.


Mereka masuk dan mendapati wajah terkejut dua orang yang ada di sana. Seorang anak dan ibu. Mereka duduk di sisi kasur usang yang ditempati seseorang. Ibu itu mengganti perban di dahi dan lengan orang itu. Ketiganya menoleh saat menyadari ada orang lain.


"Nyonya!" panggil Timi pelan.


Benar, itu adalah Zahira. Dia berpaling, Zahira sadar bahwa orang itu adalah bagian dari anak buah suaminya. Pikirannya mulai berkecamuk. Melihat reaksi Zahira, ibu itu tentu saja ketakutan. Mengira mereka adalah orang jahat.


"Ka...kalian siapa? mau apa?" tanya ibu itu. Dua anak dan ibu itu bahkan saling berpegangan satu sama lain untuk merasa lebih aman.


"Nyonya... mari pulang. Kami akan mengabari Tuan. Dia akan sangat lega anda selamat."


"Tidak! tidak mau! pergi dan jangan kembali. Aku tidak ingin bertemu dia. Aku... aku ingin disini saja." sahut Zahira cepat. Dia bahkan menangis setelahnya.


"Nak... kamu mengenal mereka?" tanya ibu itu. Tampaknya dia sudah tidak takut lagi setelah mendengar pembicaraan mereka.


Zahira menggeleng keras, "Tolong suruh mereka pergi!" pinta Zahira.

__ADS_1


Ibu itu memberi gekstur untuk Timi dan temannya agar mengikutinya. Meninggalkan Zahira dan anak laki-lakinya.


"Saat aku menemukannya dia banyak sekali mengeluarkan darah dari bawah, aku curiga. Tapi aku tidak berani membawanya ke rumah sakit. Kami tidak punya uang untuk itu. Aku hanya memanggil bidan yang aku kenal baik. Dia mengatakan wanita itu keguguran. Saat sadar, dia di periksa kembali dan bidan menjelaskan keadaannya, dia langsung menangis. Terus menangis dan tidak menjawab apapun yang kami tanyakan."


"Kenapa kalian tidak mengantarnya pulang?"


"Kami tidak tahu siapa dia. Dia hanya berkata beberapa kalimat. Dia bilang jangan memberi tahu siapapun jika ada yang bertanya tentangnya, ada orang yang ingin membunuhnya. Setelah itu dia tidak bicara apapun lagi sampai tadi kalian datang."


Timi memijit kepalanya. Dia bingung sekarang, maka ia mengirim pesan pada Sadam. Karena dia tidak berani menyampaikan keadaan Nyonya mereka secara langsung kepada tuan mereka. Alasan sebenarnya adalah, tidak tega. Karena ini anak pertama mereka. Namun mereka kehilangan anak mereka karena musuh.


.


Sadam tertegun di tempatnya saat menerima pesan Timi. Dia berlari menuju ruangan Kenzo. Ketika sampai disana, dia menemukan ruangan itu kosong. Maka dia menghubungi Endru.


Sadam berlari sampai di depan mobil Kenzo yang akan keluar. Dia bersama Endru ternyata akan ikut mengintai dan mencari Zahira lagi.


"Ayo ke sana, Timi sudah menemukan Zahira. Dia sudah mengirim lokasinya." Kenzo melebarkan matanya.


"Endru, CEPAT!" perintah Kenzo dengan wajah penuh kekawatiran.


"Bagaimana dia? bagaimana keadaanya?" tanya Kenzo dengan wajah penuh harap. Sadam sendiri sebenarnya tidak tega, namun dia tidak punya pilihan.


"Zahira sudah sadar, dia terluka cukup banyak. Timi tidak bisa memastikannya. Karena Za... dia... karena Zahira..."


Kenzo mengerutkan kening, dia menunggu dengan tidak sabar namun Sadam malah kelihatan ragu. Dengan wajah sendu, Sadam akhirnya mengatakannya.


"Ken...Timi bilang kemungkinan besar Zahira mengalami stres berat. Dia terguncang karena... karena kehilangan anak kalian."


Kenzo masih menatapnya. Tidak mengatakan apapun untuk beberapa saat. Sadam berusaha memanggilnya namun Kenzo seperti tidak mendengarnya.


"Ken...?" panggil Sadam untuk kesekian kalinya.


Kenzo akhirnya bereaksi, dia memperbaiki posisi duduknya dan menatap lurus kedepan. "Percepat Endru," katanya datar.


Sepanjang perjalanan baik Sadam maupun Endru tidak ada yang berani bersuara. Keduanya, terutama Sadam ikut merasakan kesedihan yang di rasakan Kenzo. Kenzo sendiri hanya diam sambil menatap kosong kearah luar. Dia sendiri seperti tidak percaya pada apa yang baru di dengarnya.


Sesampainya di sana, semua orang menunggu di luar. Endru menyuruh tim A dan B menyiapkan kepulangan dengan aman, namun Sadam menyela dan mengambil alih ponsel Endru.


"Siapkan helikopter segera, aku akan kirim titiknya." Sadam menyapu pandangannya. "Disini terlalu rimbun, bersiap berhenti tampa mendarat." lanjutnya sebelum memutus sambungan.


Sementara itu, Kenzo menghampiri Zahira yang kini menoleh padanya. Lalu dengan penuh kerinduan dan kekawatiran dia memeluk istrinya dengan erat.


"Za...maaf... maaf membuatmu dalam bahaya. Maaf saat itu aku lalai. Maafkan aku karena lama menemukanmu." kata Kenzo. Pria yang terkenal dingin, tangguh dan kejam itu menangis di pundak istrinya.


Zahira sendiri lebih terpukul, selama beberapa hari ini selalu menyalahkan dirinya. Selalu mengatakan pada diri sendiri 'Kalau saja saat itu dia tidak nekat melawan dan memikirkan kehamilannya. Dia mungkin tidak akan kehilangan bayinya'.


Zahira menangis, dia bahkan terisak-isak. Kenzo mengelus punggungnya dan memperbaiki posisi mereka. Kini dia membawa Zahira masuk ke dalam dekapannya. mencium puncak kepalanya dengan lembut sambil mengucapkan kalimat penenang.


"Aku... aku minta maaf. Aku nekat dan kehilangan bayi kita. Aku... aku..." Zahira terisak lebih kuat. Wanita yang dikenal cuek dan kuat ini benar-benar berada dititik paling rapuh.


Air mata yang tadi sempat berhenti kini kembali mengalir. Kenzo lebih hancur saat melihat Zahira seperti saat ini. Tempat hatinya bergantung, kekuatannya, nyawa dan hidupnya. Kenzo lebih memilih kehilangan apapun dari pada melihat Zahira hancur.


"Tidak sayang, kamu sudah menjaganya dengan baik. Kamu ibu yang baik. Aku tidak apa-apa, maka kamu juga harus merelakannya. Dia... dia pasti sangat mencintaimu juga. Dia hanya pergi lebih dulu. Tidak apa...tidak apa... tetaplah kuat sayang."


Zahira masih terisak, dia bahkan tidak mengidahkan apa yang dikatakan Kenzo. Dia masih tidak bisa menerima kehilangan anaknya. Berulang kali dia membenturkan kepalanya ke dada Kenzo. Dia bahkan berusaha memberontak dengan tenaganya yang masih lemah itu.


"Tenanglah... tenang ya. Jangan begini kumohon." mohon Kenzo, dia hampir tidak sanggup lagi menahannya melihat Zahira seperti ini.

__ADS_1


Kenzo mengerutkan keningnya, Zahira menjadi diam. Bahkan tubuhnya jatuh begitu saja di pelukannya. Menyadari Zahira pingsan, Kenzo segera mengangkat dan membawanya keluar.


Bertepatan dengan itu, helikopter juga tiba. Sadam membantu Kenzo yang menggendong Zahira. Setelah keduanya berhasil naik. Sadam juga ikut naik. Sementara yang lain kembali dengan mobil.


__ADS_2