
Zahira sekarang sedang duduk di depan meja kerja Wewen dikantornya. Sedari tadi ia diabaikan. Wewen sibuk berdiskusi dengan Anton. Detektif yang meminta bantuan Zahira dulu.
"Apa anda sudah berhasil mendekati wanita itu?" Tanya Zahira tiba-tiba menyeletuk. Membuat kedua pria itu menoleh padanya.
"Kenapa? kamu berubah pikiran? " Sahut Anton.
"Ck, yang benar saja. Kalian lamban sekali. Wewen kan bisa mendekatinya. Pura-pura saja tertarik padanya, dia dulu menyukai pria tampan."
Wewen melemparkan tatapan protes yang diacuhkannya. Siapapun tahu payahnya Wewen dalam mendekati wanita. Dia tipe pria yang kaku dan membosankan.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa disini? bukankah sekarang kamu sangat sibuk?"
"Aku bosan mengikutinya, dia ada pertemuan didekat sini jadi aku kabur kesini. "
Kenzo memiliki pertemuan privat dengan rekan bisnisnya. Rekan bisnisnya hanya ingin mereka saja yang ada didalam ruangan itu. Zahira tidak paham hubungan bisnis apa diantara mereka, selagi ia dan Jimi menunggu diluar dia pergi dari sana dengan dalih perlu ke toilet. Tidak peduli sedari tadi Jimi menelfonnya.
"Aku sarankan jangan bermain-main dengan kemarahan bosmu, Aku pernah melihatnya marah sekali kepada bawahannya yang berhianat padanya, saat itu dia mematahkan kakinya. Dia hampir saja membunuhnya jika tidak sedang dikantor polisi. Dia terlihat seperti psikopat. Tapi aku tahu dia bukan. dia hanya terlalu tidak punya belas kasihan. "
Anton berbicara sambil meneliti foto-foto yang ada diatas meja.
"Kenapa anda tidak menangkapnya? "
Anton mendelik angkuh padanya sesaat sebelum mendengus, kelihatan sekali sangat jengkel. Tapi Zahira tahu kejengkelan diwajah itu tidak ada hubungannya dengannya.
"Uang membungkam hukum! Polisi sialan itu tutup mulut, apa yang bisa kulakukan."
Zahira terhenyak, dia mungkin selama ini hanya baru melihat permukaan dari bos nya itu. Melakukan pelanggaran di kantor polisi dan tidak didakwa?
"Waaah....Aku terharu sekali mendengar anda mengumpat untuk rekan anda. "
Wewen terkekeh yang dihadiahi tatapan kesal dari Anton.
"Dia sebenarnya meminta bantuanku karena kasus ini ditutup. Kami harus menemukan bukti agar kejahatan semacam ini bisa dibongkar. "
Zahira menaikkan sebelah alisnya sesaat tampak tertarik atas perkataan Wewen. Jadi itu alasannya kenapa kemarin ia diminta bekerja sama?
"Kenapa ditutup? "
__ADS_1
"Seseorang membayar mereka pastinya. Apapun alasan diatas kertas yang mereka karang, Aku yakin ada keterlibatan beberapa pejabat. Karena itu kasus yang sempat mencuat itu tiba-tiba hilang ditelan bumi. "
Zahira menatap Anton dengan pandangan berbeda. Dia bisa mengerti sekarang, dibalik pembawaan angkuh itu sebenarnya Anton adalah detektif yang baik. Yang bekerja pada kebenaran, bukan kepada uang seperti kebanyakan lainnya. Melihat dia sendirian tampa ada rekan tim nya, Zahira yakin tidak ada yang bisa ia percayai selain diri sendiri di divisinya.
Lagi-lagi ponselnya bergetar, kali ini Zahira mengalihkan atensinya kepada ponselnya. Dilayar bukan nama Jimi lagi, melainkan nama Kenzo tertera disana. Zahira menggigit bibirnya sebelum menggeser layar menerima panggilan. Setelah mendengar informasi dari Anton, ada sedikit ketakutan di hatinya. Zahira berdehem sekali sebelum mengangkat, membuat Wewen menatapnya dengan kening berkerut.
"Ha.. Halo. "
"Jika aku tidak melihatmu dalam 5 menit aku akan menghukummu."
Zahira total merinding mendengar suara Kenzo yang terdengar marah. Sambungan terputus begitu saja saat Zahira akan menjawab.
"Mana mungkin aku sampai dalam 5 menit. Dia sudah gila. " gumam Zahira jengkel sambil meletakkan ponselnya asal diatas meja.
"Kamu dapat masalah? "
Wewen tampak kawatir, Zahira hanya mengangguk acuh. Dia bahkan tidak berniat beranjak dari sana.
"Lagi pula jam kerjaku sudah selesai 30 menit yang lalu. Aku tidak harus menuruti perintahnya. "
"Gadis ini cari susah saja. Sudah kuberitahu bos mu itu bukan orang yang mudah ditangani. " kata Anton sambil menggelengkan kepala.
Tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan, membuat Anton dan Wewen tampak terkejut dengan harapan jelas tercetak diwajah mereka.
"Kamu benar-benar mau membantu? " Tanya Wewen penuh antusias.
"Aku juga punya permintaan ngomong-ngomong"
Mendengar itu baik Anton maupun Wewen menurunkan antusiasme mereka. Namun tetap penuh harap tentu saja.
"Cari tahu siapa pengirim paketnya. Jika kalian menemukannya, Aku juga akan menemukan informasi yang kalian butuhkan dari wanita itu. "
"Wanita itu bernama Dona omong-omong. "
Sindir Anton karena sejak awal tampaknya Zahira enggan menyebutkan namanya dari bibirnya meski ia mengenalnya dengan baik.
"Tidak penting! Setuju atau tidak? "
__ADS_1
"Apa kami seperti menolak? "
Zahira tersenyum miring sebelum bangkit. Menyambar ponselnya dan memasukkannya kedalam kantong.
"Kirim pesan dimana wanita itu biasa datang, Aku pergi dulu."
Kata Zahira sambil berlalu dari sana.
Ditempat lain, tepatnya didalam mobil Kenzo. Pria itu tampak luar biasa kesal. Dia tahu Zahira tidak akan datang mengingat perangai gadis itu. Karena itu ia memutuskan untuk langsung pulang.
"Sudah kamu dapatkan kemana dia pergi? "
Tanya Kenzo dengan nada dingin kepada Jimi yang tampak gusar di tempat duduknya.
"Su.. sudah tuan. Dia datang ke sebuah kantor detektif swasta. Menurut informasi, ada satu mantan detektif kepolisian yang berhenti yang mendirikan biro itu. "
"Aku tahu dia."
Jimi tidak berani bersuara lagi. Dia tahu atasannya itu sedang marah besar. Apapun itu, ia harap tidak akan terjadi apapun pada gadis pemberontak itu.
Zahira baru saja sampai rumah ketika dia menyadari ada yang aneh. Dia baru menyadari lampu yang menyala. Dia ingat sebelum berangkat ia mematikan semua lampu. Dengan tergesa dia berjalan menuju ruang tamu. Disana, ia terpaku pada kakinya saat melihat Kenzo sudah duduk disana dengan kaki menyilang dan tangan berlipat. Menatapnya tajam penuh kemarahan.
"Duduk! "
Perintahnya mutlak.
Zahira buru-buru berjalan dan duduk di sofa tepat berhadapan dengannya.
"Bukankah aku sudah melarangmu menemuinya? Kamu berani menentangku? "
Zahira menatapnya dengan wajah datar, meskipun ia sedikit gentar, ia tetap mempertahankan wajah tenangnya.
"Apa alasanmu melarangku? Tuan Kenzo yang terhormat_ Kalaupun aku bekerja padamu, bukan bearti kehidupan pribadiku juga kamu atur. Wewen adalah orang yang membantuku selama ini mencari orang yang membuangku. bagaimana bisa aku tidak boleh menemuinya? juga... apa-apaan yang kamu katakan kepadanya kemarin malam? pacar? sejak kapan aku jadi pacarmu? "
Kenzo menyeringai sebelum bangkit dan mengungkung Zahira dikedua lengannya. Membuat Zahira terkejut bukan main dan jelas sekali tidak menyangka akan penyerangan psikis seperti ini.
"Mulai sekarang kamu akan jadi pacarku, Ah... lebih tepatnya calon istri. Jadi jangan coba-coba menemui pria manapun lagi. Sekali lagi... sekali lagi kamu menemui pria lain. Aku akan membunuh siapapun yang kamu temui itu. "
__ADS_1
Zahira terpaku ditempatnya, tubuhnya bergetar mendengar nada rendah penuh ancaman itu tepat di samping telinganya. Saat kedua lengan itu ditarik. Ia bahkan masih tidak bisa berkata apapun. Saat terdengar pintu menutup, barulah Zahira tersadar dan menarik nafas sedalam-dalamnya.