
Kenzo dan Zahira sampai di apartemen dan di sambut oleh tatapan pias sang kakak dan ibu di atas sofa ruang tamu. Kenzo melangkah mendekati ibunya dan duduk di sampingnya. Zahira yang tidak ingin mengganggu pergi ke dapur dan membuatkan minuman.
"Ibu ada apa?" tanya Kenzo. Ibunya menoleh dan menatap anaknya penuh kesedihan.
"Awalnya ... ibu sangat senang setelah kejadian saat SMA kamu tidak terjadi lagi. Beberapa kejadian sempat membuat ibu curiga tapi ayahmu pandai bicara. Ibu dengan bodohnya percaya. Tapi ... nyatanya dia tidak berubah. Dia tetap bermain dengan gadis muda dan masih menjadi pengikut Dursley. Orang yang dia ikuti saat masih muda dulu sebelum kami menikah, dia mengikutinya seperti anjing jinak yang akan selalu setia pada majikannya," mulai ibunya.
Kenzo menatap sesaat kakak satu-satunya yang tampak tidak bisa berkata-kata. Dari wajah itu Kenzo bisa melihat rasa sakit yang sama, bahkan melebihi ibunya. Dari sana Kenzo tahu bahwa kakaknya selama ini tahu kebusukan ayah mereka tapi menutupinya dari dia dan ibunya.
"Ibu tahu dari siapa?" tanya Kenzo, mengalihkan lagi atensi pada sang ibu.
"Ibu mendengarnya langsung. Ibu mendengarnya berbicara dalam suatu ruangan di kantor. Dia sedang berbicara dengan rekan lainnya dalam organisasi itu."
Zahira datang dengan teh di tangannya dan meletakkannya di atas meja. Ibu Kenzo menarik tangannya lembut untuk duduk di sisinya yang lain.
"Ibu juga mendengar rahasia gelap mereka. Mereka bukan hanya orang-orang gila uang dan jabatan. Lingkaran mereka sangat kuat mengendalikan pemerintahan. Para pejabat berada di bawah kaki mereka."
"Cukup ibu ... Sebaiknya ibu istirahat. Jangan memikirkan apapun. Ibu akan terlindungi di sini," bujuk Kenzo. Dia memberi kode pada Zahira untuk membawa ibunya ke kamar.
"Ibu ... ayo istirahat, Za akan mengantar ibu," kata Zahira membujuk. Ibunya memberikan tatapan memohon pada kedua anaknya sebelum bangkit, menggenggam kedua tangan Zahira kuat. Tubuhnya bergetar dan dia nyaris limbung kalau Zahira tidak segera menahan dengan cara merangkulnya.
"Semua akan baik-baik saja, Ibu akan baik-baik saja," ujar Kenzo menenangkan. Namun ibunya menggeleng kuat.
"Mereka berbahaya, jika mereka tahu ibu tahu rahasia mereka, maka mereka akan membunuh ibu," kata ibunya dengan lirih.
"Kami tidak akan membiarkan itu terjadi ibu, tenanglah dan sekarang istirahatlah ...."
Kenzo melirik kakaknya yang sedari tadi diam akhirnya bicara.
Setelah bujukan demi bujukan akhirnya ibunya mau beristirahat di kamar di temani Zahira. Kenzo menatap kakaknya tajam.
"Kakak tahu ini sebelumnya bukan?" tuduh Kenzo lalu tertawa sinis setelahnya.
"Apa kakak juga menjadi anjing mereka?"
"Tutup mulutmu! aku bukan anjing mereka." Marah kakaknya karena tuduhan itu.
"Aku memang tahu, tapi aku tidak bisa melakukan apapun saat ayah bahkan mengancam anaknya sendiri. Aku punya anak dan istri yang harus aku jaga. Mereka bahkan rela membunuh. Meskipun ayah anggota mereka, ayah tidak akan bisa melindungi kita dari organisasinya."
Kenzo menatap kedua mata kakaknya yang tampak gusar.
"Aku menempatkan mata-mata di perusahaan ayah. Jika mereka sering bertemu di sana dan kakak juga tahu, bagaimana aku bisa tidak tahu? Tomi bukanlah orang bodoh. Dia sangat cerdas begitu juga dengan Robi. Kakak yang memerintahkan mereka untuk tutup mulut?" tanya Kenzo lagi.
"Aku tidak melakukannya. Mereka orangmu dan hanya setia padamu. Aku tidak melakukan apapun," Sangkal kakaknya.
__ADS_1
"Tentu saja dia hanya menurut padaku, tapi ada seorang lagi yang bisa memerintah mereka. Kakak yang membujuk Sadam, benar?" Kakaknya tidak bisa menjawab. Membuat Kenzo menatapnya dengan wajah merah padam.
"Dua orang terdekatku sedang menipuku."
"Kami tidak menipumu, kumohon mengertilah, Ken!" sahut kakaknya dengan wajah frustasi. "Kami hanya melindungimu, Kami menyayangimu__" Lutfi tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena Kenzo yang berjalan cepat kepadanya dan langsung mencengkram kerah bajunya sehingga ia langsung berdiri. Satu pukulan mendarat di rahang kanannya sehingga ia tersungkur kembali ke atas sofa.
"Ken hentikan!" Zahira datang dan langsung menahan lengan Kenzo dan menariknya ke belakang.
Kenzo melepaskan diri dan segera pergi dari sana. Zahira yang bingung memanggilnya namun tidak dihiraukan.
"Tolong cegah dia, ikuti dia." Zahira menoleh pada Lutfi dan menatapnya tidak mengerti.
"Dia pasti sedang menuju ke tempat Sadam. Kenzo sedang dalam kemarahan dan kekecewaan. Dia bisa membunuh sahabatnya sendiri," lanjut Lutfi.
Mendengar hal itu dan melihat kejadian yang sudah-sudah, Zahira segera berlari keluar. Berusaha menghentikan Kenzo. Namun saat ia sampai di bawah Kenzo sudah pergi. Zahira tidak tahu rumah Sadam, nomor telfon pria itu juga dia tidak punya. Akhirnya dia kembali ke atas dan meminta alamat Sadam. Namun Lutfi juga sama sekali tidak memilikinya. Sadam adalah orang yang tidak memiliki nomor telfon tetap. Dia juga tidak punya alamat yang di berikan ke pada siapapun. Hanya Kenzo yang tahu alamat pria serba rahasia itu.
Sementara itu, di sebuah bangunan tua hampir roboh. Kenzo menghentikan mobilnya di sana dan masuk ke dalam. Melewati beberapa tumpukan rongsokan barang dan naik melewati tangga yang sudah tua. Gedung tiga lantai itu lebih mirip ruko tidak jadi dan di tinggalkan begitu saja. Namun nyatanya di lantai paling atas, di sebuah ruangan yang pintu depannya kayu hampir roboh, Kenzo masuk. Di dalam pintu itu ada pintu lagi yang perlu memasukkan kode untuk membukanya. Hanya Sadam yang tahu kodenya. Karena itu Kenzo menekan bel di sana.
Sadam membukakan pintu dan di sambut dengan tendangan di perutnya sehingga ia terdorong ke belakang dan menghantam kursi di belakangnya. Kenzo menghempaskan pintu dengan kuat dan berjalan cepat sebelum Sadam bangkit, menendang tulang keringnya kemudian berjongkok untuk memcekiknya.
"Beraninya kamu menghianatiku!" desis Kenzo dengan mata yang memerah.
"Menipuku selama ini, Hah!" teriaknya, lalu meninju wajah dan tubuh Sadam bertubi-tubi tampa mendapat perlawanan.
"Menyayangiku katamu ... menyayangiku, Hah!" Kenzo lagi-lagi melayangkan tinjunya hingga Sadam memuntahkan darah.
"Aku harus melakukannya agar kamu tetap aman," kata Sadam dengan wajah babak belurnya. Tubuhnya terbaring lemah dengan mata yang menatap Kenzo penuh ketulusan.
Kenzo berdiri di sampingnya yang terbaring, menatapnya dengan kemarahan berapi-api. Matanya menatap bangku yang tadi di tabrak Sadam dan mengambilnya.
"Sejak kapan kamu membohongiku?" tanyanya. Sadam menutup matanya sebelum menjawab, mencoba menekan rasa sakitnya.
"Sebelum wisudamu, maaf."
Kenzo menatapnya dengan mata berlinang, dengan tangan yang gemetar ia mengangkat tinggi-tinggi kursi itu dan bersiap memukul Sadam dengan itu sebelum sebuah teriakan menghentikannya.
"Hentikan!" Kenzo menoleh ke arah pintu dan mendapati Zahira dan dua bodyguarnya sedang terengah-engah di depan pintu.
Zahira segera berlari ke arahnya dan menurunkan tangan Kenzo yang memegang bangku. Kemudian ia membantu Sadam bangun.
"Lepaskan dia ... jangan menyentuhnya," desis Kenzo. Matanya tajam menatap Zahira yang sedang memegang lengan dan bahu Sadam untuk membantunya bangun.
Zahira segera melepaskan tangannya dan segera bangkit. Dia segera menggenggam tangan Kenzo yang bergetar dan berusaha menatapnya meski sebenarnya dia juga sedang ketakutan.
__ADS_1
"Te ... tenanglah. Tolong tenang," katanya.
Kenzo memejamkan matanya dan membukanya lagi perlahan. Ia sedang berusaha menurunkan kemarahannya.
"Kenapa bisa di sini?" tanya Kenzo, suaranya mulai tenang.
"Aku ... melacak ponselmu. Maaf, hanya kawatir kamu akan melukai Sadam lebih jauh."
Kenzo menggertakkan giginya. "Kamu kawatir pada penipu ini?" katanya, amarahnya mulai lagi.
"Bukan begitu, jika dia sekarat bahkan mati ... kamulah orang yang akan merasa paling sakit. Kak lutfi bilang kalian sangat dekat. Sadam menyayangimu, tolong mengertilah."
Zahira menatap mata Kenzo yang juga mematapnya.
"Tidak ada saudara yang menipu saudaranya. Aku ... sudah tidak punya saudara lagi, baik kandung maupun tidak."
Kenzo melepaskan tangan Zahira dan pergi dari sana. Zahira menoleh pada Sadam yang kini sudah duduk.
"Susul dia, jangan biarkan dia salah paham. Aku bisa tidak apa-apa. Pastikan saja bodyguardmu tutup mulut," kata Sadam, berusaha bangkit dan dengan tertatih berjalan ke atas sofa santainya dan membaringkan diri di sana sementara Zahira berlari menyusul Kenzo.
Sesampainya di luar gedung, Kenzo berbalik dan menatapnya.
"Apa yang dia katakan saat menemuimu hari itu?" tanya Kenzo. "Apa kamu juga mengetahui hal yang di rahasiakan mereka?"
"Dia hanya mengatakan agar aku tetap di sampingmu. Dia bahkan memohon padaku. Dia tidak memberitahu alasannya. Hanya ... hanya memintaku tetap di sisimu." Zahira maju selangkah dan memeluknya.
"Aku tidak berniat membelanya. Aku hanya realistis. Dari sudut pandangku bahwa Sadam hanya menjaga perasaanmu. Dia hanya terlalu menjagamu seperti seorang kakak. Dia tidak ingin melihatmu terluka," kata Zahira dengan lembut. Kenzo perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan itu. Menarik tubuh mungil itu lebih erat.
Zahira tentu saja gelagapan, itu diluar dugaannya. Dia bahkan bisa mendengar suara jantung Kenzo yang bersetak sangat kuat. Entah kenapa pipinya terasa panas.
"Hmm ... ki ... kita pulang, ya. Ibumu ... menunggu," kata Zahira gugup. Dia bahkan merutuki suaranya yang tiba-tiba gagap begitu.
"Jika aku pulang, aku tidak akan bisa memahan diri untuk menghajar kakakku."
"Di ... dia mungkin sudah pulang."
Zahira mendongak, menatap Kenzo yang juga menunduk memandangnya dengan posisi yang masih sama.
"Bagaimana kalau belum?" Zahira mengerjap sesaat sebelum menjawab.
"Aku akan menahanmu," katanya. Kenzo tersenyum.
"Terimakasih," kata Kenzo tulus.
__ADS_1
"Ayo pulang," ajak Zahira dan segera melepaskan diri. Berjalan duluan ke dalam mobil Kenzo dengan wajah memerahnya. Kenzo menatap punggungnya sesaat sebelum menyusulnya.