
Zahira mendapat pesan dari Kenzo bahwa ia akan menemukan karyawan yang melarikan diri itu. Hal itu tentu saja membuatnya muak. Dia yakin bisa menyelesaikan masalahnya sendiri namun kekasihnya itu selalu saja ikut campur. Dia merasa tidak memiliki andil apapun dan merasa tidak di percayai. Zahira tahu dengan cepat Kenzo tentu akan tahu masalah perusahaan apalagi media membuat berita buruk mengenai hal itu.
"Sudah sarapan?" tanya Tomi saat ia mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Tomi menyerahkan seluruh laporan dari semua divisi pagi ini.
"Aku di telfon tuan Kenzo ...,"
"Aku tahu, dia mengirimiku pesan," potong Zahira.
"Kalian bertengkar?"
Zahira hanya melirik Tomi dengan wajah frustasi. Kalau di pikir-pikir semua orang yang mengelilinginya adalah kaki tangan Kenzo. Dia tidak masalah karena ia mencintai pria itu, hanya saja Zahira tidak menyukai bagaimana masalahnya berusaha di ambil alih dan tidak di biarkan menentukan keputusannya sendiri.
Zahira menatap ponselnya yang sejak tadi berdering dan menerima notifikasi pesan secara bergantian. Sejak pulang dari kantor Kenzo kemarin, ia tidak menanggapi panggilan dan pesan Kenzo. Mungkin ia membacanya namun hanya mengabaikan tampa membalas.
Tomi menatap ragu dari ponselnya ke Zahira yang mulai fokus ke pada berkas di hadapannya. Mengangkat telepon pada akhirnya dengan suara kecil.
"Ya ... Tuan?"
Zahira melirik sesaat dan kembali acuh, ia tahu siapa yang sedang mebelfon. Si posesifnya yang pada akhirnya menghubungi Tomi untuk bisa berbicar padanya.
"Tuan ... ingin bicara," kata Tomi dan menyodorkan ponselnya.
Zahira mendengus, ia memang mengambil ponsel Tomi namun bukannya berbicara, ia malah memutus panggilan. Tomi yang syok tentu saja gelagapan saat ponselnya kembali berdering, namun lagi-lagi Zahira menolak panggilan.
.
Di tempat lain, tepatnya di kantor Kenzo Sadam yang sudah mampu duduk walaupun masih bersandar di bad pasiennya tertawa keras melihat wajah frustasi sahabatnya. Membuat Kenzo mendelik jengkel.
"Keruanganku segera!"
Tidak lama setelah panggilan terputus Jimi masuk ke ruangan.
"Aku tidak bisa meninggalkan dia di sini sendirian karena tidak ada dokter Yuan, pergi ke kantor Zahira dan seret ia ke sini!"
"Se ... seret tuan?" tanya Jimi ragu. Pasalnya dia tidak bisa berkelahi sementara Zahira menguasai bela diri. Lagi pula mana mungkin dia berani menyeret Zahira apalagi statusnya sekarang adalah direktur sekaligus pemilik Adira.
"Kasihan sekali kamu Jim! bolehkan aku bersedih untukmu?" ledek Sadam.
Jimi menunjukkan wajah masamnya sebelum menatap memohon pada atasannya.
__ADS_1
"Tuan ... biar saya saja yang menjaga tuan Sadam, sa ... saya ..."
Jimi bungkam seketika saat sorot mata tajam Kenzo menatapnya.
"Berani memerintahku?" katanya dalam suara rendah.
"Sa ... saya akan segera menjemput nona Zahira, permisi!"
Maka saat pintu tertutup Sadam kembali meledakkan tawanya. Sungguh ia sangat menyukai saat Zahira marah seperti ini. Ia jadi bisa melihat wajah frustasi sahabatnya yang selama ini tidak menunjukkan ekspresi lain selain datar. Hanya jika ada Zahira dia merubah mimik wajahnya.
"Diam atau ku potong tenggorokanmu!" kesal Kenzo.
"Hei! lagi pula kamu tahu apa yang membuatnya marah padamu? carilah alasannya dan jelaskan baik-baik!"
"Bagaimana menjelaskan kalau dia saja tidak mau bicara!"
"Kamu tahu apa salahmu?"
Kenzo menggeleng pelan
"Mungkin karena aku tidak mau bercerita kemarin tentang banyak hal yang ingin di ketahuinya?"
Kenzo tidak mengerti. Dia tidak begitu memahami wanita apalagi membujuk. Dia tidak ahli dalam percintaan. Jatuh cinta saja baru sekali. Dia benar-benar tidak punya pengalaman apapun. Dulu saat mereka sedang salah paham sebelum menjalin hubungan, lalu berbaikan karena ikut campur Sadam juga. Jika tidak Kenzo mungkin masih mengira bahwa Zahira lebih memilih sahabatnya ketimbang dirinya saat itu.
"Wanita rumit sekali, aku bisa dengan mudah membaca pikiran musuhku tapi saat dia marah ... pikiranku jadi kosong seperti idiot," kata Kenzo dengan wajah lelahnya.
Sadam tersenyum, dia memahami Kenzo seperti memahami seorang adik. Maka ia segera mengambil ponsel yang sejak tadi di sisi bantalnya dan mengirim pesan pada Zahira.
Za ... macanmu kacau sekali, maafkan dia dan segera temui dia. Aku pusing melihatnya, tidak mau makan dan tidak menyentuh pekerjaannya. Sedari tadi hanya menatap ponsel.
Sadam segera menekan tombol kirim dan dengan segera. Pesannya langsung di baca, namun sayangnya tidak di balas.
.
Wewen sedang mengikuti sebuah mobil yang ia yakini adalah kariawan Zahira yang menghilang bernama Deri, namun yang membutnya terkejut adalah bahwa dia menyadari bukan hanya dia yang mengikuti Deri sejak pria itu keluar dari hotel. Ada tiga mobil di sisi dan depannya yang kini menghalagi jalannya.
Mobil Deri berhenti mendadak di pinggir jalan tol saat dua mobil di depannya tadi menyalip. Wewen otomatis ikut berhenti namun memilih tidak turun karena dua mobil di depannya mengeluarkan senjata api dan menodongkannya kepada mobilnya.
"Sial! Aku bisa kehilangan dia. Siapa orang-orang ini?"
__ADS_1
Baru saja Wewen terkejut saat Deri di paksa keluar, ia di kejutkan lagi dengan rombongan motor yang langsung menyerang orang yang hendak membawa Deri. Wewen bahkan baru sadar bahwa mobil di sampingnya tadi juga terparkir di belakangnya dan pemiliknya keluar.
Dengan mudah beberapa orang yang menyerang Deri tadi di lumpuhkan dan Deri kini di paksa ikut ke dalam mobil di belakangnya.
Mobil itu berlalu tampa menghiraukannya dan belasan motor tadi mengikutinya. Salah seorang dari mereka mengetuk jendelanya sebelum pergi dan menempelkan note kecil di sana. Wewen menurunkan kaca mobilnya sedikit dan segera meraih note tersebut sebelum pergi dari sana. Ia bisa melihat kawanan yang di lumpuhkan tadi sudah mulai bangkit kembali. Tidak lucu kalau dia terlibat hal yang berbahaya sendirian.
Di tengah perjalanan ia membaca note tersebut yang berisi satu nama. Wewen tertawa mengejek diri sendiri sambil melempar asal note itu. Menambah laju kecepatan mobilnya.
"Sialan kekasihmu selalu menyelesaikan dengan cepat, Za! tau begini aku tidak perlu repot-repot bergadang dan mengintai sampai kepalaku sakit!" katanya kesal.
.
Kenzo masih menatap pomselnya dan mengabaikan pekerjaannya saat ponselnya berdering. Menghela napas saat bukan dari kekasihnya atau Jimi yang sedang membujuknya. Ia mengangkat telepon dari kaki tangannya yang lain.
"Kenapa Joe?"
"Hmm ... bawa dia langsung ke hadapanku!"
Kenzo meletakkan kembali ponselnya.
"Apa yang Joe dapatkan?" tanya Sadam.
"Tikus kecil yang sedang di buru Wewen dan mengganggu perusahaan Zahira."
"Zahira tahu kamu membantunya?" tanya Sadam lagi.
"Sudah aku katakan tadi pagi tapi dia mengabaikan pesanku."
Sadam berdecak dan menggeleng pelan.
"Kamu meremehkannya," kata Sadam.
Kenzo mendelik tidak suka atas pernyataan itu. Dia tidak pernah meremehkan kekasihnya. Itu menurut pemikirannya.
"Kamu ia Ken ... Zahira tidak mengatakan tentang masalah perusahaan karena ia mempercayai dirinya bisa mengatasinya sendiri. Selain itu kreadibilitasnya sebagai pemimpin bisa di ragukan pesaingnya jika kamu terus membantunya," kata Sadam panjang lebar. Berusaha membuka pemikiran Kenzo yang sempit itu.
"Aku tidak meragukannya, lagi pula dia tidak perlu susah-susah mengurus masalah seperti itu. Lagi ... saat ini siapa yang berani mengganggunya? menyerangnya bearti menyerangku!"
Lihat! Kenzo dengan segala pemikirannya yang tidak bisa di bantah. Sadam menghela napas, dia bisa melihat akan ada banyak pertengkeran kecil di masa depan karena kedunya sama-sama keras kepala.
__ADS_1