
Jimi menatap punggung Kenzo yang menatap hamparan gedung dari dinding kaca ruangan kantornya. Beberapa kali layar ponsel tuannya menyala menandakan ada panggilan masuk. Jimi yakin tuannya mendengar bunyi getaran itu, namun memilih mengabaikannya.
Setelah pertemuan pemegang saham di perusahaan Adira, tuannya membatalkan semua jadwal hari itu. Setibanya kembali ke kantor, ia tidak mengatakan apapun dan tampak sedih. Meskipun Jimi tidak berani menanyakan penyebabnya, dia sangat yakin hal itu ada hubungannya dengan pembicaraannya dengan Zahira. Jimi tahu tuannya sangat mencintainya namun sayangnya tidak mendapatkan balasan yang sama.
"Aku selalu merasa dia memiliki rasa padaku. Tapi ternyata aku salah, dia bahkan tampak baik-baik saja di sana," kata Kenzo.
Kenzo membalikkan badannya dan memandang Jimi yang menatapnya juga.
"Perlukah saya mencari tahu melalui Tomi, Tuan?" Kenzo menarik sudut bibirnya sedikit sebelum menoleh ke pada ponselnya.
"Tidak perlu, biarkan dia melakukan tugasnya di sana dengan baik," jawabnya dan mengambil ponselnya. Melihat nama ibunya tertera di layar.
"Ya, ibu ... maaf tadi sedang ada rapat dan tidak mendengar telepon masuk," bohonhnya agar ibunya tidak kawatir.
Jimi memperhatikan tuannya yang masih berbicara dengan ibunya. Jimi tentunya juga tahu apa yang terjadi dalam keluarga yang di layaninya sejak dia masih kuliah dulu. Juga tahu seperti apa hubungan tuannya dengan satu-satunya sahabatnya. Terkadang Jimi sering mengasihaninya karena dia sering terlihat kesepian. Sejak jatuh cinta tuannya tampak lebih hidup, namun sayangnya tidak berjalan sesuai yang dia inginkan.
Kenzo meletakkan ponselnya di atas meja begitu saja dan kembali menatap gedung di luar.
"Tambahkan pengawasan pada kakak ipar dan keponakanku. Juga selidiki terus keterkaitan kakakku dengan ayah. Apa saja yang telah dia lakukan dan tambahkan pengawasan di sekitar ayahku. Aku ingin tahu
dia pergi kemana saja. Perintahkan mereka melaporkan langsung padaku jika ayah melakukan pertemuan dengan orang yang terkait organisasinya, pastikan orang pilihanmu setia padaku."
"Baik Tuan."
"Bagaimana dengan SS Guard?"
"Sedang dalam proses penyelesaiyan akhir Tuan, Arif sedang menyelesaikan sistem program keamanan tambahan agar data perusahaan tidak mudah di susupi. Selain itu kita memiliki masalah dengan ... itu__"
"Aku tahu, Sadam masih menguasai seluruh data dan sistem JJ. Kita tidak bisa mengaksesnya tampa sidik jari dan scan mata darinya, dia membuatnya dengan keamanan sangat baik. Sistem JJ harus menyatu dengan SS guard. Lakukan tugasmu untuk menemui si brengsek itu, aku bahkan ingin menghajarnya hanya dengan mengingat namanya."
Jimi tampak bergidik ngeri. Dia meneguk ludah dengan susah payah karena takut kemarahan Kenzo bisa berimbas kepadanya.
"Pastikan dia datang ke sini, setelah sistem data terbuka alihkan pengamanan dengan suaraku. Aku mau SS guard hanya akan mendengarkan perintahku. Singkirkan Arif jika pekerjaannya selesai. Bayar dia dengan harga pantas dan pastikan dia tidak banyak bicara. Kita harus memastikan dia tidak memasang apapun untuk bisa menembus pengamanan dengan cara lain. Awasi pergerakannya, dia mencintai uang dan tentu saja dengan mudah berkhianat padaku, jika itu terjadi kamu tahu apa yang di lakukan bukan?"
"Ya, Tuan," sahut Jimi dengan tegas.
"Tapi ... apa tidak sebaiknya Sadam di tarik kembali Tuan? dia sangat pintar dan pasti bisa menyempurnakan pekerjaan Arif. Saya yakin dia bisa__" Jimi langsung menutup mulutnya saat Kenzo berbalik dan menatapnya dengan wajah penuh amarah.
__ADS_1
"Sekali lagi kamu menyebut namannya ... aku pastikan kamu berakhir saat itu juga," desis Kenzo dengan suara beratnya. Entah kenapa setiap orang seperti bisa menerima apa yang dilakukan Sadam yang dia anggap penghianatan itu dan memaafkannya. Bahkan ibunya sendiri. Hal itu membuatnya semakin membenci Sadam dan akan langsung emosi jika mendengar namanya saja.
"Ba ... baik Tuan, kalau begitu saya permisi," jawab Jimi dengan takut. Dia segera keluar dan langsung mengelus dadanya saat pintu tertutup.
.
Kenzo sedang berjalan menuju sebuah dinding di sebelah lift lantai paling tinggi di kantornya. Lantai ini di pergunakan untuk menyimpan berkas perusahaan dan hanya memiliki akses untuk orang-orang tertentu.
Kenzo menekan tombol ke atas dan kebawah dengan pola tertentu dan dinding terbelah begitu saja. menunjukkan lift tersembunyi di sana dan ia masuk ke dalam. Kenzo menekan sidik jari pada detektor kunci sebelum menekan tombol angka 19. Kemudian suara seorang pria yang merupakan suara sistem robotik dari SS guard memberitahukan bahwa sidik jari di kenali dan dia akan di antarkan ke pusat kendali SS guard. Lift mulai berjalan, namun bukan ke lantai 19, karena tidak ada lantai 19 pada gedung itu. Lift meluncur turun dan terus turun menuju bangunan bawah tanah di bawah gedung ini. Dimana saat pembangunan gedung memang sudah di rancang sedemikian rupa sehingga Kenzo memiliki dua lantai ruang bawah tanah yang luasnya menyamai luas gedung. Semuanya di isi oleh perangkat lunak dan ruang penyimpanan super rahasia yang hanya bisa di akses oleh Kenzo sendiri.
Ruang kendali masih bisa di masuki oleh beberapa orang yang di izinkan seperti Jimi dan Arif, namun satu ruang yang di desain hanya bisa di masuki oleh Kenzo sendiri dan tempat itu akan menjadi ruang pribadinya saat program SS guard yang di ciptakannya rampung secara keseluruhan. Dimana dia bisa memerintahkan sistemnya untuk melacak secara otomatis data orang lain. SS guard ia ciptakan seperti kemampuan otak manusia yang bisa bekerja sendiri dan hanya akan mematuhi perintahnya. Hal itulah yang sedang berusaha di sempurnakan orang bayarannya Arif, tentunya dia juga ikut berperan karena dia harus mengawasi apapun yang dilakukan Arif.
Sesampainya di sana, Kenzo melihat arif yang tampak frustasi. Pria dengan kulit sawo matang dan tingginya hanya sedagu Kenzo itu mengusap wajahnya beberapa kali.
"Ada masalah?"
Arif sontak menoleh ke belakang dan langsung berdiri. Memberikan hormat sebelum duduk kembali menatap beberapa layar monitor di hadapannya.
"Keamanan JJ sangat kuat. Saya tidak bisa menembusnya. Kita harus membuat JJ menerima SS dan ikut masuk dan melebur di dalamnya. Saya juga tidak bisa menutupnya, JJ juga menghalangi SS guard untuk mengakses data informasi yang harus saya masukkan. Otak SS tidak bisa bekerja saat JJ tidak terbuka, JJ ibarat ... sebuah kunci untuk semua akses. Saya sangat takjub dengan sistem JJ anda tuan. Ini pertama kalinya saya menemukan program seperti ini. Tidak tertembus." Ada begitu besar kekaguman dalam suaranya saat membicarakan program yang di ciptakan Sadam.
"Tentu saja itu hebat, karena itu aku membentuk SS Guard yang merupakan lanjutan JJ. Tapi ... melihat dari kekagumanmu, aku bisa simpulkan bahwa kemampuanmu jauh di bawahnya," kata Kenzo, dia sepertinya sedikit lega karena Arif hanya memiliki sedikit peluang untuk mengacau.
"Orang yang membuat JJ, dia memang jenius dan aku yakin jika dia mau dia bisa menghancurkan sistem intelejen negara terkuat sekalipun dengan mudah."
Kenzo menatap layar monitor dengan wajah datarnya, mengingat bagaimana mereka dahulu selalu mengacau untuk bersenang-senang. Dari Sadam Kenzo banyak belajar tentang bagaimana menembus sistem data orang lain, berselancar di dunia maya dan menghapus banyak akun mafia politik para pejabat dan mengacaukan hari mereka.
"Saya jadi ingin mengenal orang itu," kata Arif dengan semangat, membuat Kenzo kembali dari dunianya sendiri.
"Kamu memang akan bertemu dengannya, karena dia harus membuka sistem keamanan yang ia buat agar kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu," kata Kenzo sebelum berlalu dari sana. Membuat Arif melongo dengan mulut terbuka. Arif bukannlah bodoh, dia juga sangat pintar, hanya saja Sadam memang tidak bisa di defenisikan seberapa jeniusnya dia dalam bidang IT. Siapapun akan terkejut dengan apa yang bisa ia lakukan.
.
Sementara itu, Zahira menatap ponselnya dengan ragu. Dia memiliki keinginan untuk berbicara dan meminta maaf pada Kenzo namun dia juga ragu kalau nanti mereka hanya akan bertengkar lagi.
Pintu terbuka dan Sadam masuk dengan kopi di tangan kanan dan sekantong snack di tangan kiri. Dia bahkan tidak menoleh dan langsung duduk di kursinya.
"Aku rasa kamu perlu memberikan aku meja baru khusus untuk makananku," kata Sadam dengan cengiran bodohnya. Namun saat Zahira tidak meresponnya, dia sedikit mengernyit.
__ADS_1
"Apa yang mengganggumu?"
Zahira menoleh dan menatapnya ragu.
"Apa ini mengenai mantan pacarmu itu?" tanyanya lagi dengan nada jahil.
"Sejak kapan Kenzo jadi mantanku?" sahut Zahira dengan cemberut.
"Ooh ... kalian belum putus? ah ... kenapa rasanya hatiku jadi sakit." Sadam berpura-pura sakit dan menekan dadanya.
"Berhenti bertingkah konyol, jelek sekali."
Sadam terkekeh sebentar sebelum kembali menggodanya.
"Tapi tadi aku tidak bilang nama mantanmu Kenzo, hmm ... apa aku salah ingat?"
"Ih! apa sih. Berhenti bercanda dan bantu aku ...."
"Apa ... membujuknya agar tidak marah lagi padamu? kamu tahu sendiri dia akan langsung memukulku saat aku menemuinya."
"Karena itu berhentilah memancing kemarahannya!"
"Bagaimana ya ... itu seperti hiburan kecil di dalam hidupku yang hampa ini." Lagi-lagi Sadam membuat ekspresi konyolnya dengan nada sangat drama sekali.
"Tapi santai saja ... cepat atau lambat dia akan memanggilku, nanti aku akan bicara padanya," kata Sadam kembali ke dirinya yang biasa.
"Maksudmu?"
Sadam hanya tersenyun kecil dan melanjutkan apa yang sedang ia lakukan sebelum tadi pergi membeli makanan.
"Katakan padaku ... " protes Zahira.
"Duduk manis saja ... lagi pula kenapa kamu memihakku saat itu?" tanya Sadam meskipun sebenarnya dia sudah bisa menebak jawabannya.
"Karena pendapatku memang kamu tidak berhianat, walupun kamu belum menjelaskan tentang foto itu meskipun kamu sudah janji," sindir Zahira.
"Itu? aku menemuinya karena kak Lutfi yang meminta. Dia memintaku untuk menutup mulut dan tidak membocorkan apapun yang sudah aku dapat kepada adiknya. Dia menyayangi Kenzo tapi dia berada di jalan yang salah." jawab Sadam.
__ADS_1
Zahira terdiam, sangat rumit dan entah kenapa dia mengasihani Kenzo yang banyak di bohongi oleh keluarganya, bahkan satu-satunya sahabatnya juga menutupi hal itu darinya meskipun tujuan Sadam karena tidak ingin dia menggila. Kenzo sangat emosional dan Zahira yakin saat ia belum dewasa emosinya tidak stabil. Karena itu Sadam memilih menutupi apa yang ia tahu.