Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Rahasia kelam


__ADS_3

Sadam berhenti tertawa dengan tiba-tiba dan menatap Zahira dengan pandangan serius. Tidak ada lagi kesan jenaka atau pun kesan main-main di wajahnya.


"Aku serius tentang Kenzo tidak akan membiarkanmu. Jangan coba-coba melakukan hal gila diluar pengetahuannya."


Suara Sadam menjadi lebih dingin dan dalam. Zahira bahkan sedikit terkejut dengan kepribadian yang ditunjukkannya sekarang.


"Itu bukan hal gila. Kami juga akan memberikan perlindungan penuh. Ini mengenai kasus serius,menyangkut keselamatan banyak orang." Potong Wewen dengan tegas.


Sadam melirik sebentar sebelum kembali menatap kedua mata Zahira. Dia seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tidak ingin diketahui siapapun. Zahira yang memang memiliki insting yang kuat memahami arti pandangan itu dan menoleh pada Wewen dan Anton secara bergantian.


"Aku akan menghubungi kalian nanti," kata Zahira dengan pandangan tidak ingin dilanjutkan.


"Baiklah, kami akan permisi sekarang. Jaga kesehatanmu."


Usai berkata demikian Wewen beranjak dari sana diikuti Anton yang memberikan anggukan sekali padanya untuk pamit.


Sekarang tinggal mereka berdua. Zahira tidak berkata apa-apa. Ia menunggu Sadam yang ingin menyampaikan keperluannya datang diluar sekedar mengucapkan belasungkawa.


"Maaf menyampaikan hal ini saat kamu sedang dalam keadaan seperti ini. Tapi aku bukan orang yang suka menunggu untuk hal yang mendesak."


Zahira tidak menjawab, dia hanya menanggapi dengan anggukan singkat.


"Kenzo dalam masalah besar. Ada hal-hal yang akan terjadi di masa depan dan itu akan membuatnya terpuruk. Aku tidak yakin apakah ia akan mengambil keputusan yang tepat. Meski aku sudah mengenalnya selama 10 tahun lebih. Aku masih belum bisa menebak apa yang akan ia lakukan. Dia memiliki sifat random yang mengikuti suasana hati. Dia bukan orang yang mudah dipengaruhi dan sangat percaya pada pemikirannya."


Sampai di sini Zahira masih belum paham. Karena itu ia masih belum berkomentar apapun.


"Sebenarnya aku sudah mengetahui ini selama bertahun-tahun. Tapi aku tidak pernah membahasnya. Aku hanya membuatnya memisahkan diri dari bisnis keluarganya. Sampai baru-baru ini kami memyelidiki sebuah kasus karena rekan bisnisnya yang mencoba menipunya. Dia orang yang suka bermain dengan nasib orang lain, membalas orang dengan menjatuhkannya sampai ke dalam keputus asaan adalah caranya balas dendam. Namun hal itu juga akan membuatnya mengetahui hal yang selama ini aku tutupi."


"Aku masih tidak paham apa masalahnya. Kenapa kamu mengatakan hal ini kepadaku?"


Sadam terdiam sesaat sebelum menjawab.


"Karena suatu hari nanti hanya kamu yang akan ada di sisinya. Kemungkinan besar dia tidak akan mempercayai siapapun juga kecuali kamu."


Zahira terdiam, mata itu mengatakan kepadanya bahwa masalah ini sepertinya akan menghancurkan hubungan Sadam dengan Kenzo juga.


"Masalah apa itu?"


Sadam tidak menjawab, dia melihat jam tangannya dan segera bangkit berdiri.


"Saatnya aku pergi. Sebentar lagi dia pasti akan meneleponmu ... Saat itu akan tiba cepat atau lambat. Aku harap aku bisa mengandalkanmu. Bahwa aku melakukan semua untuk kebaikannya. Kenzo adalah kakak bagiku. Dia sangat berharga dan aku sudah cukup melihat kehancurannya sekali. Aku minta tolong padamu."


Sadam menatapnya dalam dan dengan penuh kesedihan. Hal yang belum pernah ia lihat dari pria di hadapannya ini. Zahira bahkan tidak bisa membantah atau pun bertanya lebih jauh lagi. Dia seakan mengerti betapa hal itu juga berat bagi Sadam sendiri.

__ADS_1


Setelah kepergian Sadam, benar saja ponselnya berdering dan Kenzo yang menghubunginya.


"Halo."


"Mereka sudah pergi?"


"Hmm."


Kenzo terdiam beberapa saat di seberang sana.


"Ada apa denganmu? Apa salah seorang di antara mereka mengatakan hal yang membuatmu terganggu?"


Zahira terkesiap sesaat betapa Kenzo sangat peka terhadap perubahan nada suaranya. Dia menghembuskan nafasnya pelan sebelum menjawab.


"Aku hanya merasa sangat lelah. Aku butuh tidur."


Kenzo tidak mengatakan apapun sehingga Zahira memeriksa layar ponselnya apakah sambungan telepon terputus. Namun setelah memeriksa ia melihat sambungan tidak terputus, ia mengernyit bingung.


"Ha__ halo? "


"Jangan banyak bersedih. Aku akan kerumah mu setelah masalah di sini selesai. Sekarang tidurlah dan jangan menerima tamu manapun lagi!"


"Ya," jawab Zahira singkat.


"Ada apa sebenarnya?" gumamnya pelan sebelum beranjak dari sana menuju kamarnya. Tujuannya saat ini hanyalah tidur.


.


4 orang pria duduk di sebuah ruangan privat sebuah restoran mewah. Satu diantaranya sudah tampak tua dengan uban hampir memenuhi kepalanya. Dua yang lainnya berusia sekitar kepala empat dan lima sementara satu yang lain masih muda.


"Aku dengar pesanan mainan kalian kemarin diganggu." Ucap yang paling tua.


Ketiga dari mereka tampak saling bertukar pandang namun tidak berniat menjawab. Pria tua itu terkekeh pelan sebelum mengangkat gelas tehnya ke mulut.


"Ada tikus kecil yang harus kalian urus. Aku yakin dia memiliki bukti kelakuan kalian dan itu sedikit mengangguku." Lanjut pria tua.


"Kami akan mengurus hal ini. Tolong jangan kawatir." Ucap salah satu pria paruh baya.


Pria tua tersenyum sinis. Dia meletakkan gelas teh di tangannya dan menatap pria paruh baya itu dengan senyum penuh arti.


"Aku dengar anakmu yang bungsu membongkar kedok bambang terhadap sahabatmu. Bahkan rahasia kecil kecoak sepertinya saja tidak bisa kamu ketahui."


Semua orang terdiam mendengar penuturan pria yang paling tua itu. Tampaknya mereka bertiga sangat menghormati dan takut kepadanya.

__ADS_1


"Aku sangat menyukai anakmu itu. Bukankah aku pernah mengatakannya padamu? Sayangnya kamu membuatnya membencimu. Akan sangat menguntungkan menjadikan anak itu penerus kepemimpinanku. Sekarang buat dia menerima perjodohan dengan anakku dan singkirkan wanita yang ada di sisinya saat ini. Kamu membuat kesalahan bodoh dengan menjodohkan nya dengan anak sahabatmu. Kamu pikir aku tidak mengetahui rencana busukmu. Sudah aku katakan sejak dia kecil, Aku menginginkan dia menjadi tangan kananku. Senjataku yang berharga. Saat ini waktunya sudah tepat. Dia sudah matang dan tumbuh sesuai yang aku inginkan."


Pria tua itu tersenyum dengan wajah liciknya. Mengangkat gelas teh nya kembali dan mengajak yang lain untuk bersulang dengannya.


.


Kenzo tiba di depan halaman rumah orang tua Zahira dengan wajah letihnya. Ia sengaja menyetir sendiri karena sedang ingin sendirian beberapa saat. Dengan langkah gontai dia turun dan segera menuju pintu. Menekan bel rumah dan menunggu.


"Di mana Zahira?" Tanyanya saat pelayan sudah membukakan pintu.


"Nona masih tidur Tuan." Jawab pelayan.


Kenzo mengangguk dan melangkah masuk. Dia langsung menuju kamar Zahira dan perlahan membuka pintunya.


Di sana dia melihat Zahira tertidur dengan damai dan terlihat sangat polos. Kenzo melangkah masuk dan duduk disisi kasur. Tersenyum menatap wajah itu. Sebelah tangannya terangkat mengelus rambut Zahira dengan pelan dan hati-hati agar tidak membangunkannya.


"Ibu pikir Zahira yang bangun karena ibu dengar pintunya terbuka. Dia sudah cukup lama tidur. Bisakah kamu membangunkannya dan menyuruhnya mandi? Dia belum makan sedari tadi."


Ibu Zahira berdiri di pintu dan tersenyum saat Kenzo menoleh dan mengangguk padanya.


"Kamu juga ikut makan malam disini saja sebelum pulang."


"Bisakah saya menginap?"


Ibu Zahira yang sudah hendak berbalik kembali menatapnya sesaat sebelum menjawab.


"Kalau begitu ibu akan menyuruh pelayan menyiapkan kamar tamu," jawab ibu Zahira sebelum beranjak dari sana.


Kenzo kembali menatap Zahira dan sedikit terkejut ternyata wanita itu sudah membuka matanya.


"Sepertinya aku tidak perlu membangunkanmu lagi," candanya.


"Suara kalian cukup keras," jawab Zahira dan segera duduk.


Kenzo menatapnya dalam sebelum kedua tangannya menggenggam kedua sisi wajahnya dan mengusap kotoran mata Zahira yang menumpuk di sudut matanya dengan lembut. Kemudian ia menurunkan tangannya ke kedua lengan Zahira dan menariknya kedalam sebuah pelukan hangat.


"Aku merindukan mu," bisiknya pelan.


"Aku masih bau," kata Zahira dengan nada polos yang membuat Kenzo terkekeh pelan.


"Hmm... kamu memang bau. Aku juga bau karena belum mandi. Mau mandi bersama?" Goda Kenzo.


Kenzo mendapatkan pukulan yang cukup menyakitkan di perutnya setelah mengatakan kalimat candaan itu. Zahira segera beranjak dari kasurnya dan masuk kedalam kamar mandi. Kenzo menghentikan ringisan pura-puranya setelah Zahira masuk kesana. Pukulan itu memang cukup keras tapi dia masih bisa menahannya. Kenzo tersenyum penuh kebahagiaan. Lelahnya jadi hilang dan dia melangkah keluar dengan langkah ringan menuju ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2